Sasaran Balas Dendam

Sasaran Balas Dendam
Malam Resepsi


__ADS_3

Bia menutup rapat matanya, membiarkan rasa panas membakar wajah sampai daun telinganya.


Malu, Bia merasa sangat malu sekali dengan erangan yang barusan lolos tak tertahan d bibirnya.


"Kamu milikku!" ujar Deva suaranya serak.


Dengan mata yang masih terpejam Bia menganggukan kepalanya dan setelah itu matanya langsung terbelalak lebar saat Devan mulai menyesap bibirnya, meraup semua oksigen yang ada disekitarnya.


Pengalaman baru yang kembali Bia rasakan dan dapatkan, rasanya …


Memabukan!


"Ah, hah!"


Devan menyeringai saat melihat Bia kehabisan pasokan udara karena perbuatannya.


"Aku ingin sekali," ucapnya lirih.


Wajah Bia semakin merona dan itu semakin membuat jiwa kelelakian Devan kembali menggelora.


"Dan kamu tidak bisa menolaknya!" Sebuah kalimat bernada ancaman terdengar di telinga Bia.


"Dev, resepsi pernikahan kita belum usai." Bia memperingati Devan.


"Aku tau!"


Bia berubah khawatir, takut kalau Devan akan melakukan tugasnya sekarang, apalagi saat bagian perutnya merasakan sesuatu yang besar dan keras mengganjal. Bia tau apa itu, dia bukan gadis bodoh.


Apalagi sorot wajah Devan yang dipenuhi kabut gairah, Bia merasa merinding.


'Beginikah berhadapan dengan laki-laki yang tengah turn on?' tanyanya saat matanya memandang wajah tegang Devan yang begitu sayu dengan mata yang penuh damba.


Devan kembali membenamkan bibirnya ke bibir Bia.


"Bernafaslah!" kesal Devan saat Bia lagi-lagi kehabisan udara di tengah kecupan panasnya.


'Beginikah bermain dengan amatir?' kesal Devan yang menatap wajah penuh penyesalan Bia.


"Maaf," cicit perempuan itu.


Saat tadi setelah pengucapan janji suci, Bia juga malah mematung saat Devan menciumnya di depan tamu undangan.


Mengesampingkan rasa kesalnya, Devan kembali menyatukan bibirnya, kali ini Bia menuruti instruksi Devan yang tetap bernafas, tanpa sengaja Bia membuka mulutnya yang langsung digunakan Devan untuk mengeksplor bagian dalam mulut perempuan yang sudah sah menjadi istrinya itu.


Disaat hasratnya menggelora, melambung tinggi ke udara, Devan masih saja merutuki dirinya dalam hati yang malah hanyut dalam kenikmatan yang suguhkan gadis belia yang berada di bawah kukungan tubuhnya.

__ADS_1


Hampir saja Devan melupakan tujuan awalnya dan malah dia yang terlena.


'Peduli setan!' makinya dalam hati dan memilih menjilati leher jenjang Bia yang sedari tadi menggoda imannya.


Devan yang masa bodo dengan namanya dosa tidak peduli dengan tujuan awalnya saat ini, yang penting apa yang dia rasakan bisa membuatnya melayang tinggi ke udara. Itu lebih dari cukup untuk saat ini.


Masalahnya dengan Bia biarlah dia pikirkan nanti.


'Surga dunia lebih penting, toh nanti belum tentu di akhirat akan masuk surga juga.'


"Dev!" ujar Bia penuh damba.


Bia juga merutuki kebodohannya yang menginginkan lebih. Tapi dia bingung apa yang dia inginkan.


Devan menyukai wajah tersiksa Bia dan dia berniat untuk menyiksanya lebih lama lagi.


"Dev!"


"Hem."


Devan mengarahkan tangan Bia pada miliknya yang sudah siap di bawa ke medan tempur. Devan sebenarnya tidak yakin, sudah lama dia tidak menggunakannya miliknya sesuai dengan fungsi yang semestinya.


Bia mengikuti arah tangan Devan, wajahnya semakin memerah saat merasakan milik Devan. Dengan insting kewanitaannya Bia mengelus perlahan milik Devan yang masih berbalut pakaian lengkap sama seperti dirinya. Gerakan naik turun yang mampu menerbangkan hasrat Devan melambung jauh ke udara.


***


Resepsi mewah dimulai pukul 19.00, para tamu undangan mulai memasuki ballroom yang sudah disulap dengan sedemikian mewah.


Deretan para pengawal yang bukan hanya dari agensi perusahaan Devan, memenuhi setiap penjuru ruangan guna memastikan keamanan pesta pernikahan mewah dari salah satu miliarder muda di negeri ini yang memiliki pengaruh yang cukup besar di dunia bisnis.


Para undangan memenuhi pintu masuk dan tengah mengantri untuk menscan undangan digital yang ada di ponsel masing-masing.


Tak tanggung-tanggung Devan menyewa sebuah tim keamanan dan pasukan khusus dari salah satu agensi ternama di ibukota yang juga salah satu rekanan bisnisnya.


Sang bintang malam itu pun tiba di ballroom mewah itu, dengan Bia yang menggandeng salah satu tangan Devan. Gandengan di tangan kanan Devan semakin terasa erat saat keduanya mulai memasuki area ballroom saat hendak menuju pelaminan.


Sambutan meriah dari pembawa acara kondang terdengar menggema di ruangan besar itu.


"Kamu gugup?" bisik Devan saat dirasa tangan Bia semakin mencengkramnya erat.


Bia tidak menjawab, sebenarnya dia bukan gugup karena acara mewah malam ini. Melainkan lututnya masih sangat lemas karena permainan gila Devan sebelum datangnya tim make up artist tadi sore.


"Atau kamu belum puas dengan yang tadi?" bisik Devan lagi. "Tenang saja kita bisa mengulanginya lagi nanti malam."


Bia semakin dibuat gugup dengan perkataan Devan barusan. Tubuhnya terasa gemetaran, Bia takut jatuh pingsan sebelum acara usai.

__ADS_1


Balutan gaun mewah berwarna grey dengan taburan swarovski yang berkilauan sangat kontras sekali dengan kulit Bia yang seputih susu dan juga tampilan gagah Devan dengan balutan suit yang senada dengan yang dikenakan Bia membuat lensa kamera tidak henti-hentinya membidik ke arah mereka.


"Apa kamu melihat Devia dan Rinjani?" bisik Bia saat keduanya sudah tiba di pelaminan.


Devan menunjuk dengan dagunya, tingkah arogannya kembali mencuat ke permukaan. Bia menghembuskan nafasnya lega, ternyata kedua sahabatnya hadir dan tengah duduk di salah satu meja VIP.


Acara malam hari itu pun resmi di buka dan di siarkan langsung di salah satu stasiun tv swasta yang juga partner bisnis Devan.


"Akhirnya bujang lapuk kita sold out juga," terdengar ejekan dari orang yang sama sekali tidak peduli dengan tatapan tajam dari Devan.


"Heem, sold out bro," timpal satu orang lainnya yang berjalan menggandengan tangan mungil anak-anaknya.


Siapa lagi kalau bukan Anton dan Johan, dua orang yang bisa bertahan berteman dengan Devan sampai sejauh ini. Keduanya datang bersama anak dan istri masing-masing.


"Silahkan kalian nikmati pestanya, saya tidak ingin mendengar ejekan kalian berdua," balas Devan dengan merangkul pinggang Bia.


"Oke! Memang itu yang hendak kita lakukan, iya gak?" ucap Johan meminta pembelaan kepada Anton yang langsung dibalas dengan kerlingan di sebelah matanya.


Acara semakin meriah saat hari semakin malam, kedua sahabat Bia, Devia dan Rinjani barusan pamit pulang, karena merasa asing kalau berada lama-lama di acara meriah itu dan tentunya mereka berdua sudah puas dengan jamuan pesta malam ini.


Bia menghembuskan nafasnya dengan kasar, saat melihat orang tua dan adiknya sedang bercengkrama dengan beberapa orang penting.


'Dasar para penjilat,' batin Bia dan Devan bersamaan.


Sedari pagi sampai malam hari, Doni dan Lisa bersandiwara layaknya aktor senior yang tengah bahagia dengan pernikahan putrinya yang mereka sebut tidak suka berbaur dengan kalangan para pebisnis.


'Manis sekali mulut mereka.'


Padahal dari pagi sampai malam baik Doni maupun Lisa tidak ada satupun yang peduli pada Bia, mereka hanya menunjukan sebagai keluarga yang harmonis di muka umum dan di hadapan Devan saja.


Mereka kira Devan tidak tahu apa yang mereka lakukan di belakangnya, mereka melupakan mata Devan yang berada di mana-mana.


"Apa orang tuamu memang begitu?" tanya Devan pura-pura tidak tahu apa-apa. Devan penasaran ingin mengorek informasi dari Bia juga.


"Yah, kurang lebih seperti itu, bisa lebih parah bahkan," jawab Bia.


Devan mengerutkan keningnya. "Lalu ancaman apa yang diberikan ayahmu?"


"Tidak ada, hanya sebuah permintaan dan aku hanya kasihan pada nasib ratusan karyawan yang menggantungkan hidupnya di perusahaan," jawab Bia lagi, logis.


Devan tidak percaya begitu saja dengan ucapan Bia, mana mungkin Doni tidak menunjukkan taringnya sama sekali untuk memaksa Bia supaya mau menikah dengannya.


'Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya!'


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2