
Acara pernikahan mewah pengusaha muda yang tengah naik daun karena kabar pernikahannya membuat heboh dunia bisnis.
Bagaimana tidak seorang Devan pewaris Addison Grup yang mereka kenal tidak pernah membawa seorang perempuan sebagai kekasihnya, ataupun memperkenalkan salah satu perempuan sebagai calon pendampingnya, tiba-tiba saja kini tengah berdiri di atas pelaminan dengan setelan tuxedo hitam dan dasi kupu-kupu yang melingkar di lehernya.
Berdiri gagah dengan seorang perempuan cantik dengan gaun putih dan kerudung jenis Elbow yang menghiasi rambut hitam Bia yang di tata sedemikian rupa.
Dan yang lebih mengejutkan adalah perempuan yang menjadi pengantin dari Devan sendiri adalah putri dari keluarga Subagja, bukankah selama ini Doni Subagja dan Lisa hanya memiliki seorang putri? Pertanyaan itu yang pertama kali tamu undangan tanyakan dalam hati setelah tau anak siapa yang Devan nikahi.
Pertanyaan demi pertanyaan dari para pewarta yang diizinkan meliput di luar hotel sedari tadi terus saja mendera orang-orang dengan wajah datar yang berjaga di luar hotel, siapa lagi kalau bukan tim pengawalan khusus milik Devan, satuan pengaman yang jarang sekali muncul ke permukaan selain kalau ada acara penting seperti ini.
Kembali kepada sepasang pengantin baru yang sudah mengucapkan janji suci pernikahan pagi tadi, mereka berdua tengah memaksakan senyuman mereka untuk menyambut tamu-tamu yang datang memberikan selamat.
Kerabat dan kolega dari kedua belah pihak yang merupakan keluarga besar sepertinya menjadikan acara pernikahan Devan dan Bia ajang berkumpul.
'****, tidak bisakan acaranya sederhana saja?' tanya Devan mulai jengah dengan undangan yang seperti lingkaran, tidak ada ujungnya dan tidak ada putusnya.
"Dev, tidak bisakan kita kabur dari sini?" Satu pertanyaan bodoh lolos dari perempuan yang baru beberapa jam sah sebagai istrinya.
Devan menghembuskan nafasnya lelah, "Nama baikku dan ayah kamu jadi taruhannya," balasnya tak kalah berbisik.
"Teruslah tersenyum, jangan sampai ada yang tahu kamu terpaksa dengan pernikahan ini," bisik Devan lagi, sebelum kembali menerima ucapan selamat dari para undangan. 'Oh Kean sebanyak apa undangan yang kau sebarkan?'
Bia tertegun mendengar perkataan Devan barusan yang seakan mengingatkan kalau laki-laki yang tadi mengucap janji pernikahan dengan tulus ternyata menikahinya benar karena terpaksa dan hanya demi bisnis semata. Ada perasaan sesak di dada Bia saat kembali menyadari pernikahan apa yang dia jalani kedepannya.
'Tidak bisakah kita saling membuka hati kita satu sama lain? Tidak bisakah kita seperti pasangan pada umumnya yang saling mencintai?'
Bia melirik ke arah orang tuanya yang tengah berbincang dengan seseorang yang baru saja naik ke atas pelaminan. Melihat pemandangan itu dada Bia terasa semakin sesak, orang tuanya seakan tidak terjadi apa-apa dengannya beberapa hari lalu. Saat dia pergi dari rumah dengan dijemput Devan.
'Dasar penjilat!' batin Bia saat melihat tawa lepas Lisa yang dengan mesra merangkul lengan Doni, sedangkan ayahnya. 'Kenapa wajah ayah seperti murung?'
"Apa yang kamu lihat?" tanya Devan tiba-tiba.
"Para penjilat, yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan," balas Bia spontan. Devan mengikuti kemana arah mata Bia memandang.
__ADS_1
'Manis, tapi terlalu banyak menyimpan teka teki. Sepertinya menikahimu secara mendadak bukanlah pilihan yang tepat dan aku sudah melakukan hal yang paling ceroboh dalam hidupku,' batin Devan saat matanya melihat pemandang orang tua Bia tengah melobi pengusaha tambang asal Kalimantan.
"Ya begitulah para pengusaha, tidak pernah melewatkan kesempatan yang ada di depan matanya," balas Devan dengan mengedikan bahunya.
"Ironis!"
Devan menatap cepat kearah Bia yang terdengar mengucapkan satu kata tapi dengan menggebu-gebu.
"Kamu akan tahu kalau kamu terjun langsung ke dunia bisnis."
"Aku tidak tertarik sama sekali, lebih baik hidup susah tapi hati dan pikiran tenang," balas Bia lirih di akhir kalimat, sepertinya ketenangan yang dia harapkan tidak akan pernah terealisasikan.
Bagaimana mungkin bisa hidup tenang setelah menjadi seorang istri dari pengusaha muda yang sukses dengan julukan miliarder mudanya.
Devan mengangkat satu alisnya saat mendengar kalimat ketus yang berakhir lirih keluar dari bibir Bia, Devan melewatkan banyak hal tentang Bia. Devan kini menyesali keputusan yang dianggap gegabah.
'Seharusnya aku melakukan pendekatan terlebih dahulu, ternyata perempuan ini terlalu banyak menyimpan misteri.'
Devan berusaha menahan amarahnya agar tidak mencuat ke permukaan, bagaimana juga kesan bahagia harus didapatkannya di depan para kolega yang menghadiri undangan pernikahan Devan ini.
Kean benar-benar luar biasa dalam mempersiapkan semuanya dengan matang dalam waktu yang singkat, dua minggu. The real power of money.
Laki-laki yang mampu mengimbangi kinerja Devan itu tengah sibuk menyambut tamu VIP.
"Kamu undang berapa banyak orang?" tanya Bia lebih ke keluhan, saat tubuhnya baru saja duduk di kursi yang disiapkan di atas pelaminan.
"Entahlah, Kean yang mengurus semuanya," balas Devan yang merasakan kedua kakinya kebas dan kram.
"Tidak bisakah kamu mengadakan acara sederhana saja?"
"Maunya begitu."
"Lantas bukannya kamu bisa lebih mudah mempersiapkannya? Tak perlu buang-buang uang seperti ini."
__ADS_1
"Saya ingin dunia luar tahu siapa istri dari Devan Addison."
"Apakah itu penting?"
"Tentu saja."
Bia tidak meneruskan kalimat yang sudah berada di ujung lidahnya, lebih baik waktu singkat ini digunakan untuk meluruskan kakinya yang begitu pegal. Sepatu hak dengan tinggi tujuh sentimeter itu cukup menyiksa dirinya yang tidak terbiasa menggunakannya.
Waktu berlalu dengan penuh perjuangan, pukul 16.00 Devan akhirnya membawa Bia keluar dari ballroom yang sudah di sulap dengan riasan sedemikian indah. Walaupun pernikahan mereka semata karena bisnis dan keterpaksaan, tapi Devan ingin membuat satu kesan yang tidak akan dia, Bia dan semua orang lupakan.
"Dev ka-kamu, mau a-apa?" Bia tergagap saat tubuh tinggi itu memeluk tubuhnya dari belakang.
"Aku butuh sesuatu yang menyegarkan!"
Gesekan tubuhnya dan tubuh Bia yang saling menempel menciptakan sengatan aneh di kedua tubuh manusia berbeda jenis itu.
"Ma-u man-di?" suara Bia semakin sulit keluar saat di rasa hangat bibir Devan menyapu kulit lehernya.
"Mandi bareng?"
Astaga!
Bia terbelalak mendengar ucapan vulgar dan frontal itu, bagaimana dirinya yang jelas masih suci mampu menanggapi permintaan Devan dengan benar.
"Dev apa yang-" Ucapan Bia terpotong saat Devan menggendong tubuhnya secara tiba-tiba, Bia reflek menjerit saat merasakan tubuhnya melayang ke udara.
"DEV!!"
'Oh, Bia sadarlah!' batin nya saat merasakan serangan bertubi-tubi yang diberikan Devan untuknya, setelah sebelumnya laki-laki itu dengan perlahan membaringkan tubuhnya di ranjang kamar president suit di hotel bintang lima itu.
Gelenyar aneh perlahan menjari tubuh keduanya, Bia untuk pertama kalinya selama 22 tahun usianya merasakan sentuhan seorang laki-laki dan Devan yang sudah lama tidak menjamah perempuan merasakan sesuatu yang berbeda, hasratnya menggelora, tubuhnya panas seperti terbakar dan inti tubuhnya sudah menegang sempurna.
Hal yang selama ini begitu menyulitkan para wanita untuk menuntaskan hasratnya.
__ADS_1
"Uhm!"
Bersambung…