
Bia menatap Devan yang juga tengah menatapnya, untuk sesaat pandangan mereka saling beradu, berusaha menyelami pikiran masing-masing melalui bola mata yang saling bertemu.
Bia mendengus sambil memalingkan wajahnya, sungguh laki-laki yang akan jadi suaminya ini sangatlah arogan. Bia bukan perempuan bodoh, yang tidak bisa membedakan mana malaikat mana iblis.
Laki-laki dengan sikap diktatornya, Bia mulai bersiap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.
'Cukup tangguh untuk ukuran seorang perempuan, sepertinya ini akan jadi mainan yang sangat menyenangkan.' Devan menyeringai saat mendengar Bia berdecak.
"Jadi apa yang kamu inginkan?" tanya Bia tanpa ingin memandang ke arah Devan lagi.
'Aku suka ini, tentu akan sangat menyenangkan!'
"Cukup lakukan tugas kamu sebagai seorang istri, mengikuti semua aturan yang saya buat dan tau batasan." Devan menjeda kalimatnya, untuk mengetahui perubahan ekspresi dari Bia.
"Itu saja?" tanya Bia, menutupi keterkejutannya, sungguh menikah belum ada dalam daftar hidup Bia saat ini.
"Tidak."
Bia kembali menatap ke arah Devan yang masih menunjukan seringainya.
'Kenapa dia berubah menyeramkan!' Bia sedikit menelan ludahnya dengan kasar saat melihat Devan dengan seringainya yang dirasa sangat mengerikan.
Devan mulai menyadari lawannya mulai merasa terintimidasi dan itu membuatnya sangat senang.
'Ini belum seberapa nona.'
"La-lu?" tanya Bia sedikit terbata saat seringai Devan semakin lebar dan semakin menyeramkan.
"Lahirkan keturunan dan pewaris kerajaan bisnis saya!" ucap Devan tegas, terdengar penuh penekanan dan terdengar begitu dingin di telinga Bia.
Bia merasa ludahnya seperti sebongkah batu besar, sulit sekali untuk dia telan. Bia tanpa sadar menunjukan sisi lemahnya.
Melihat Bia yang mulai menunjukan kelemahannya, Devan semakin senang.
'Ini baru permulaan, sayang,' batin Devan dengan satu sudut bibir terangkat ke atas.
"Jangan bercanda." Bia berusaha menguasai dirinya.
"Aku serius," balas Devan.
Bia sedikit gelagapan untuk membalas perkataan Devan barusan.
"Aku sudah menggelontorkan uang dalam jumlah besar untuk perusahaan ayah kamu," ucap Devan. "Tidak hanya ayah kamu yang selamat dari kebangkrutan, tapi seluruh karyawan disana tetap bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Aku hanya minta lahirkan keturunan untukku, bukankah itu hal lumrah bagi setiap perempuan?"
Devan mencondongkan tubuhnya, membisikan kalimat panjang lebar di samping telinga Bia. Membuat Bia semakin merasa terintimidasi dan pertahannya mulai sedikit goyah.
"Dev!" ucap Bia lirih.
"Ya? Apa yang ingin kamu katakan?" Devan mencoba menggoda Bia, dengan kembali berbisik di samping telinga Bia.
"Em-"
__ADS_1
"Suaramu terdengar seksi dan menggairahkan, apalagi saat kamu memanggil saya dengan suara serak." Devan segera memotong kalimat yang akan keluar dari mulut Bia.
Bia semakin merasa keselamatannya terancam, apalagi jantungnya berpacu dengan begitu cepat dan tidak beraturan.
"Tidak ada lagi yang akan kita bahas?" tanya Bia buru-buru.
Devan menjauhkan tubuhnya dan kembali pada posisi semula.
"Sudah!" balasnya datar.
"Bisa kita kembali?"
"Tentu," balas Devan seraya merogoh saku celananya, mengambil ponsel miliknya yang berada di sana. "Tulis nomor ponsel kamu di sana." Perintah Devan mutlak.
Dengan gerakan cepat Bia mengambil ponsel pintar yang dia ketahui sebagai barang keluaran terbaru.
Bia dengan cepat menuliskan nomornya di ponsel milik Devan. Berada di dekat Devan sangatlah tidak baik, bagaimana juga Bia wanita normal. Dirinya ingin sekali keluar dari situasi yang begitu tidak menguntungkan untuknya itu.
"Tunggu!" Devan meraih pergelangan tangan Bia saat perempuan dengan gaun putih dan rambut yang diikat sebagian itu hendak turun dari mobil mewahnya.
"Kenapa?" tanya Bia heran sekaligus berusaha melepaskan diri dari cekalan Devan.
Devan masih menatap ke arah spion mobilnya, kemudian menggelengkan kepalanya saat penglihatannya jelas pada objek di belakangnya.
"Tidak," balas Devan membuka pintu untuknya keluar.
***
Devan bersama Gendis pamit undur diri dari kediaman Doni Subagja.
"Aku ke kamar duluan," pamit Bia kepada orang tua dan adiknya.
Ketiga orang itu hanya menganggukan kepalanya saja, tanpa ada niatan menimpali perkataan Bia.
Bia langsung mengunci kamarnya, kebiasaannya setiap malam selalu begitu untuk menghindari adik dan mama nya.
Bia menuju meja riasnya, mendudukan tubuhnya di sana.
Menatap pantulan wajahnya yang tadi sore di paksa Lisa untuk sedikit bersolek untuk menyambut tamu penting yang sudah menyelamatkan perusahaan keluarganya dari kebangkrutan.
Satu butir cairan bening meluncur mulus melewati pipinya. Bia tadi hanya mencoba tegar dengan bersikap datar dan berusaha menyembunyikan betapa rapuhnya dirinya di hadapan semua orang.
"Tidak bisakah, aku berjalan sesuai dengan arah yang aku mau?" tanya Bia di sela isak tangis nya, dengan sebuah pigura lusuh yang dia peluk erat di dadanya.
"Haruskah aku menyerah?" tanya Bia lagi, menatap pantulan wajahnya yang tampak begitu memerah di cermin riasnya.
Bia tidak ingin dikasihani, sebisa mungkin Bia menelan semua kepahitan dan kepedihan yang selama ini dia rasakan. Bahkan kepada dua sahabat karibnya sekalipun, Bia tidak terbuka seratus persen.
***
"Dev?" Oma Gendis menyentuh tangan Devan yang berada di atas lututnya.
__ADS_1
Devan sedari tadi tidak bersuara, netranya menatap jalanan malam ibu kota yang masih sangat padat.
"Ya?"
"Ada yang mengganjal dalam pikiran kamu?" tanya Oma Gendis yang menyadari perubahan cucu tertuanya itu.
"Banyak," balas Devan dengan hembusan nafas yang terdengar berat.
Oma Gendis ikut menghembuskan nafasnya juga, pikirannya juga sama. Terasa ada yang mengganjal, apalagi dengan keinginan Devan untuk menikah yang terkesan sangat tiba-tiba, dengan alasan pernikahan bisnis.
Padahal selama ini cucunya anti sekali terhadap sebuah ikatan, apalagi pernikahan.
Oma Gendis tidak mengerti apa yang sedang direncanakan Devan selama ini, cucunya berubah menjadi misterius sejak kejadian itu.
"Bagaimana Bia menurut kamu, Dev?"
"Aku gak tau," balas Devan singkat.
"Jadi kamu menikahi Bia benar karena urusan bisnis?" tanya Oma Gendis lagi, menyelidik.
Devan mengangkat kedua alisnya alih-alih menjawab pertanyaan Oma nya.
"Dev, pernikahan itu suatu ikatan yang sakral."
"Aku tau," balasnya cepat.
"Oma harap kamu tidak sedang bermain-main dengan pernikahan, Dev."
Main-main?
Devan kembali menghembuskan nafasnya berat, tidak ada niatan sama sekali untuknya mempermainkan yang namanya sebuah ikatan, apalagi pernikahan. Maka dari itu selama ini Devan selalu menghindarinya.
Tapi untuk sekarang, Devan tidak bisa mengelak lagi. Cukup lama dia menantikan waktu ini tiba.
18 tahun bukan waktu yang sebentar.
Devan menghabiskan separuh hidupnya hanya untuk menanti saat ini tiba.
Mengorbankan masa mudanya untuk belajar strategi, Devan bahkan rela menghabiskan masa remajanya dengan tumpukan buku-buku yang sangat berguna di masa sekarang.
Misinya satu demi satu sudah terwujud. Menjadi orang yang sukses, hebat, berkuasa, ditakuti dan disegani.
Tinggalah kini misi besarnya.
Misi besar yang baru saja akan dimulai.
"Dev, tidak bisakah kamu melupakannya?"
Devan menatap Oma Gendis dengan tatapan nyalang dan tajam. "Itu tidak mungkin, Oma!"
Bersambung…
__ADS_1
Holaaaa, masih sepi aja nih, lanjut gak???