SATU JAM SAJA REBORN

SATU JAM SAJA REBORN
Prolog 1


__ADS_3

FATHARANI


Ku hela nafas panjang sambil sesekali mataku menelisik setiap sudut ruangan rumah tersebut, ada sebuah kesedihan dan kerinduan didalamnya. Dimana tempat ini menyisakan banyak sekali kenangan ku bersama orang-orang terkasih.


Ayah, Bunda, Aku dan Adik, kami memulai segala cerita didalam rumah ini. Rumah yang berukuran tidak terlalu luas namun cukup nyaman dan penuh dengan kehangatan cinta kasih didalamnya, membuat siapapun yang menjadi penghuni rumah ini merasakan ketenangan dan kenyamanan didalam nya.


****


Malam ini aku sedang berkemas barang kebutuhan yang akan aku bawa untuk tinggal di asrama nanti. Fatharani Shanata adalah nama yang di berikan kedua orang tua ku sejak lahir. Rani sapaan akrab ku selalu membuat list kebutuhan untuk setiap perjalanan yang akan ku lalui hanya untuk memastikan tidak ada satu barang pun yang tertinggal.


Didepan pintu ruang yang sudah terlihat lusuh itu sedang berdiri seorang perempuan paruh baya yang selama 15 tahun ini sudah memberikan kehidupan untuk ku dengan pinuh cinta kasih dan perhatian.


"Nak, kamu yakin akan mengambil beasiswa itu dan meninggalkan bunda sendiri disini ?" Tanya bu Irma dengan lirih.

__ADS_1


Dengan menghela nafas panjang Rani menatap kedua mata Ibundanya dengan sendu dan sangat dalam.


"Bun... Rani tidak meninggalkan Bunda, Rani hanya sedang mengejar cita-cita, lagi pun dengan Rani mengambil beasiswa itu sedikit banyaknya Rani bisa mengurangi beban pikiran Bunda."


Mata bu Irma berkaca-kaca mendengar anak sulungnya yang terbilang masih kecil namun sudah mempunyai pemikiran yang cukup dewasa. Matanya kembali menatap dengan sendu.


"Maaf kan Bunda ya sayang karena tidak bisa memberikan kehidupan yang layak seperti anak-anak sebaya mu pada umumnya."


"Bunda, Rani sangat bersyukur lahir dari rahim Bunda yang sangat kuat dan tangguh, selama ini hidup Rani sungguh sangat bahagia, meskipun tidak berlebih tetapi setidak nya cukup untuk memenuhi segala kebutuhan sehari-hari kita."


Aku dan bunda saling berpeluk dan menitikan air mata satu sama lain bukan karena lemah atau cengeng tapi hanya untuk sekedar melepas segala beban yang selama ini bersarang di pundak masing-masing.


****

__ADS_1


Aku seorang anak yatim, ayahku meninggal sejak aku kelas 6 SD. Sebelum beliau meninggal kehidupan kami cukup terjamin dengan penghasilan seorang pengusaha yang cukup sukses membuat kehidupan kamipun terbilang mapan, segala kebutuhan primer sampai tersier bisa sangat mudah kami dapatkan.


Hanya saja beberapa bulan sebelum ayah meninggal, beliau mengalami kebangkrutan usaha sampai membuat beliau stroke dan akhirnya meninggal. Sejak saat itu kehidupan kami berubah drastis, segala harta benda yang dulunya ada kini perlahan menjadi tiada, semua habis di pakai untuk melunasi hutang-hutang ayah, pengobatan dan tentunya kebutuhan sehari-hari.


Melihat kondisi seperti ini membuat bunda tidak bisa tinggal diam, beliau memutar otaknya, berpikir keras bagaimana caranya untuk bisa meneruskan kehidupan dan memberikan penghidupan yang layak untuk aku dan juga adik yang kala itu usianya masih 2 tahun.


Dengan bermodalkan sisa tabungan yang ada, beliau nekat untuk membuka sebuah warung nasi yang akhirnya mampu mempertahankan kehidupan kami sampai dengan saat ini.


Akupun yang terbilang masih kecil secara takaran usia namun cukup paham dengan kondisi yang ada mengharuskan aku untuk hidup berbeda dari kebanyakan anak-anak seusia ku pada umumnya.


Aku mengurusi adik yang masih kecil, bersekolah, membersihkan rumah dan sesekali membantu bunda di warung menjadi rutinitas ku sehari-hari, meski dalam hati kecil ada rasa iri dengan teman-teman yang masih bisa dengan bebas bermain sesuka hati namun aku cukup sadar diri dengan kondisi yang ada dan tidak membuat aku malu ataupun jadi mengeluh.


******

__ADS_1


__ADS_2