
Satu bulan berlalu terasa begitu sangat lambat, hari-hari ku lalui dengan sangat horor, penghuni kamar yang belakangan aku tau namanya adalah Wani masih menunjukkan sikap yang sama seperti saat pertama kali bertemu, dingin dan menyeramkan membuat aku semakin tidak betah berada di kamar.
Setiap hari aku berusaha menyibukkan diri membuat badan menjadi selelah mungkin agar supaya ketika sampai ke kamar aku bisa langsung terlelap tidur dan meninggalkan hawa panas didalamnya.
Taman belakang asrama menjadi tempat favorit aku menghabiskan waktu, menjadi saksi bisu tempat pelepasan segala beban yang ada di pundak ku. Suasana yang sepi dan menenangkan menjadi alasan ku betah untuk berlama-lama disini.
Disini aku bisa menumpahkan segala kekesalan dan kerisauan yang aku alamai, aku bisa marah, sedih, menangis, tertawa sesuka nya tanpa takut ada seorang pun yang mendengar atau menggunjing ku. Malam ku habiskan di perpustakaan dan tidak jarang aku ketiduran sampai larut malam disana.
Dua tempat itu adalah sahabat terbaik ku selama aku bertahan hidup di asrama. Meski tidak menampikkan keberadaan Ridho sungguh sangat membuatku berasa tidak hidup sendiri disini. Setiap weekend dia tidak pernah absen untuk mengajak ku berkeliling kota yang baru aku jajaki itu meski hanya sekedar untuk joging atau mencari barang-barang yang aku butuhkan.
__ADS_1
Dia selalu ada dan menemani ku dalam melewati masa-masa sulit selama satu bulan aku berada di asrama. Sering sekali dia memberiku nasihat yang membuat aku semakin yakin jika segala hal yang terjadi akhir-akhir ini hanyalah sedikit kerikil kehidupan untuk aku bisa lebih kuat dalam menjalani setiap garis takdir yang sudah di goreskan untuk ku.
Berbeda dengan Ridho, Gian yang memang sejak awal tidak menunjukkan sikap bersahabat itu masih saja seperti bongkahan es di kutub utara, membuat aku sangat engga berurusan dengannya meski takdir selalu saja membuat aku selalu bertemu dengannya, dia masih sama dinginnya seperti Wina perempuan yang berada satu kamar dengan ku.
Selama ini belum pernah aku bertegur sapa dengan baik, setiap kali bertemu akan selalu ada keributan dan pertengkaran kecil yang membuat seisi asrama menjadi sangat berisik membicarakan kita. Tiada hari ku lewati tanpa bertengkar dengan nya, meski hanya hal-hal sepele yang menjadi pemicu nya.
"Kalian ini kenapa sih udah kaya Tom and Jerry aja, ketiap kali bertemu pasti aja selalu ribut." Ucap bu Wati dengan penuh kekesalan.
"Dia duluan yang mulai bu." Ucap Gian menunjuk ku dengan tatapan tidak suka.
__ADS_1
Mata ku terbelalak ketika dia menyalahkan ku atas segala kegaduhan yang terjadi.
"Enak aja, kamu yang duluan, seenaknya aja main nyalah-nyalahin orang." Suara ku tudak kalah tinggi dari Gian.
"Kalo kamu ga nyari gara-gara terus maka kegaduhan itu tidak akan pernah terjadi." Gian masih terus membela dirinya sendiri.
"Siapa yang cari gara-gara dulaun ? bukannya kamu ya, manusia sensitif kaya pantat bayi hal kecil bisa langsung jadi besar, dasar manusia aneh dan menyebalkan." Aku membuang pandangan ku dari Gian sambil terus mengupatinya.
"Ooohhh atau jangan-jangan... OMG jangan-jangan kamu suka ya sama aku, makanya kamu selalu buntutin aku dan nyari gara-gara sama aku biar ada bahan buat ketemu aku, bener kan ? ayo loh ngaku aja." Aku melanjutkan umpatan ku yang sebetulnya hanya sebuah sindiran untuk Gian.
__ADS_1