SATU JAM SAJA REBORN

SATU JAM SAJA REBORN
R&G Eps 16


__ADS_3

POV AUTHOR


Sudah hampir dua minggu ini Rani menjalani aktivitas pasca sembuh daei sakitnya, meski masih belum pulih 100% namun kegigihan Rani untuk tidak bersekolah membuat nya selalu berusaha untuk sembuh demi mengejar ketertinggalan selama satu minggu terakhir.


Semenjak kejadian di kantor bu Wati juga Rani selalu menjaga jarak dengan Gian, dia selalu berusaha untuk menghindari kontak langaung dengan Gian, ketika Gian selalu berusaha memancing nya dengan berbagai celetukan atau tingkahnya yang menyebalkan, Rani memilih untuk diam dan meninggalkan nya membuat Gian merasa bahwa kesempatan nya untuk bisa dekat dengan Rani semakin tertutup rapat.


Jam makan yang mengharuskan mereka bertemu pun disiasati oleh Rani, setiap pagi dia tidak pernah sarapan, makan siang yang diantar ke sekolah serta makan malam yang juga kadang dia lewatkan atau makan diatas jam makan malam menunggu suasana dapur yang sudah sepi. Semua itu dilakukan supaya Rani terhindar dari masalah yang akan sangat merugikannya berada di asrama ini.


Selama itu juga Gian merasa sangat tersiksa dengan situasi yang mereka jalani saat ini, perasaan nya yang semakin hari semakin bertambah besar pada Rani membuatnya tidak kuasa lagi untuk membendung semua rasa itu sendiri. Selama dua minggu itu Gian selalu memperhatian Rani secara diam-diam, Gian tau jika setiap pagi Rani selalu melewatkan sarapan paginya segingga dia berinisiatif untuk membawakan makan dan menyimpannya kedalam kelas Rani secara diam-diam.


Rani yang menerima perlakuan manis itu mengetahui siapa yang mengirimkan makanan tersebut, sehingga dengan senang hati dia akan memakannya dengan perasaan yang amat sangat bahagia. Bak diperlakukan seperti tuan putri dirinya merasa sangat special, selain di bawakan sarapan, Ridho, Rani juga Wani selalu berangkat ke sekolah bersama-sama, tidak jarang Ridho selalu membantu Rani dalam segala hal termasuk dalam pembelajaran yang kurang Rani mengerti.


Ridho terbilang siswa yang cukup cerdas sehingga semakin hari perasaan yang di rasakan Rani pada Ridho semakin bertambah besar, rasa kagum juga tidak pernah henti-hentinya dia ucapkan untuk Ridho. Sebuah lingkaran cinta yang cukup rumit dimana Gian menyukai Rani sedang Rani menyukai Ridho namun tanpa sepengetahuan Rani ternyata Ridho memendam rasa untuk Wani begitu juga sebaliknya sampai suatu hari.


"Raaaannnniiiiii......" Wani sedikit berteriak kegirangan membuka pinta kamar yang memang tidak terlalu di tutup rapat.


"Ya ampun ka Wani apaan sih bikin aku kaget saja, untung aku ga punya penyakit jantung, kalo punya aku kan bisa mati disini, nanti aku hantui ka Wani baru tau rasa loh." Ucap Rani dengan sewot akibat dikagetkan oleh suara teriakan Wani.


"Hehe iaia deh maaf, lagian kamu kan punya nyawa banyak jadi ga mungkin lah mati cuman gara-gara aku kagetin gituh hihihu..."


"Eeehhhh enak aja bilang nyawa ku banyak emangnya aku kuncing apa..." Rani merajuk dan sedikit memonyongkan bibirnya.

__ADS_1


"Uduh uduh adik kaka kenapa jadi cemberut gitu sih ? sini-sini mending denger cerita bahagia kaka biar kamu juga ikut merasakan kebahagiaan yang sedang kaka rasakan sekarang." Wani menarik tangan Rani dengan sangat antusias dan menyuruhnya mendengarkan cerita yang akan dia katakan.


"Emangnya ka Wina lagi bahagia kenapa, kepo dong...." Rani sedikit kepo dengan isi cerita yang akan Wani sampaikan.


"Bener pengen tau ? eeemmmhhh kasih tau ga ya haha.." Wani sedikit menggoda Rani yang di lanjutkan oleh gelak tawa Wani namun sikap cemberut oleh Rani.


"Ich tu kan nyebelin, ya udah kalo ga mau ngasih tau jangan bikin orang penasaran." Rani masih sewot.


"Hahha iaia kaka kasih tau deh, jadi yang bikin kaka sangat bahagia sekarang itu adalah...."


Rani memperhatikan dengan seksama dan penuh rasa penasaran.


Duuuuuuaaaaaaaaarrrrrr


Badan Rani terasa sangat rontok bagai tidak bertulang, pikirannya melayang-layang, matanya mulai berkaca-kaca, hatinya sungguh sangat hancur berkeping-keping mengingat semua kebaikan dan perhatian yang sudah dia terima selama ini ternyata hanyalah klise, pengharapan Rani tidak ubahnya seperti orang yang sedang mengejar-ngejar bayangannya sendiri, semu dan sulit di tangkap. Ntah ekspresi apa yang harus Rani perlihatkan dengan berita yang di bawa oleh Wani tersebut.


"De.. de... kamu kenapa ko malah bengong gitu sih, kamu ga seneng ya kaka jadian sama Ridho ?" Wani berusha menggoyangkan badan Rani dengan wajah yang heran melihat ekspresi yang di perlihatkan Rani.


"Eh ah ia gimana ka ? oh itu anu seneng ko ka aku seneng banget denger beritanya, lagian ka Ridho itu kan orang baik jadi pasti akan bisa membahagiakan ka Wani dan memperlakukan kaka dengan sangat baik. Selamat ya ka." Rani berusaha menutupi keterkejutan dan kesedihannya dengan berpura-pura tersenyum juga bahagia didepan Wani.


Sungguh sangat situasi yang amat sulit bagi Rani, berpura-pura bahagia itu ternyata sangat menguras energy, dan sangat sulit berakting demikian.

__ADS_1


Rani tersenyum getir, dia harus berpura-pura bahagia diatas kehancuran hatinya yang tidak mungkin akan terselamatkan lagi. Tanpa pikir panjang saat itu juga Rani memutuskan untuk kembali pada sebiasaan yang beberapa minggu ini mulai ditinggalkan yaitu menyepi di taman belakang asrama, menceritakan semua keluh kesahnya pada rumput dan membiarkan angin membawanya berlalu pergi begitu saja.


"Aduh ka, aku tiba-tiba ingat kalau ada yang harus cari untuk bahan besok ulangan di perpustakaan, aku keluar dulu ya, sekali lagi selamat yah, aku selalu mendokan kebahagiaan untuk kalian berdua." Rani kembali berpura-pura bahagia sambil kemudian memeluk tubuh Wani san menggenggam kedua tangannya.


"Makasih banyak ya adek ku sayang, kamu memang adek ku yang paling baik deh." Imbuh Wani sambil mencubit pipi kiri Rani.


Rani berlalu pergi keluar kamar meninggalkan Wani dengan segala perasaan bahagianya, Wani tidak tahu jika Rani sedang mengalami kehancuran dibagian hatinya, kebahagiaan telah menutupi kepekaan nya terhadap perasaan orang lain.


Sudah lah aku menyadari diri yang tak mungkin akan menggapai bintang yang indah.


Biar lah aku hanya mampu menikmati nya tanpa bisa memilikinya.


Biarkan aku menangisi segala sesal yang salah dalam mengartikan sebuah isyarat,


Biarlah aku merenungi setiap kejadian yang tidak dapat ku cerna dengan akal sehat


Sudah lah aku ingin menyudahi perasaan yang sesat.


Mengubur semua harap dan segala hasrat,


Membiarkan luka yang kelak akan kembali sehat.

__ADS_1


__ADS_2