
"Kamu udah yakin mau sekolah lagi de ?" Ka Wani memandangi ku dari atas kebawah yang sudah siap dengan seragam sekolahnya.
"Iya ka aku sudah sangat sehat berkat kakak dan juga ka Ridho, makasih banyak ya ka sudah peduli pada ku, maaf jika aku merepotkan mu, aku sangat berhutang budi sama kalian."
"Sudah lah tidak usah terlalu difikirkan, kita kan tinggal di asrama yang notabene jauh dari keluarga, yang ada disini semua adalah keluarga jadi sudah sewajarnya kita saling menjaga dan peduli satu sama lain. Pun dengan kamu nanti jika suatu saat berjumpa dengan teman satu asrama mu dan dia membutuhkan mu maka jangan segan untuk membantunya." Wani berucap dengan senyuman yang terlihat sangat manis.
Mata ku terbelalak mendengar segala ucapannya meski aku tetap menyimaknya dengan baik hanya saja jaih didalam lubuk hati ku yang oaling dalam masih menyimpan keanehan terhadap sikap Wani yang kini berubah 180° lebih baik di banding saat satu hulan lalu aku menginjakkan kaki ku di tempat ini.
"Heiii... de kamu melamun ?"
"Ahhh... E...Engga ka siapa yang melamun ?" Aku berusaha menutupi keterkejutan ku.
"Sudah lah tidak usah berbohong kamu pasti sedang memikirkan perubahan sikap ku yang berubah drastis kan ?"
Aku hanya bisa nyengir mendengar apa yang di lontarkan nya sama persis dengan apa yang aku pikirkan.
__ADS_1
"Emhh...Anu..Ka, Emh apa aku boleh tanya sesuatu ?"
"Tanyakanlah, selagi aku bisa jawab ya aku akan menjawab nya."
Aku berusaha mengumpulkan keberanian ku. "Itu.. anu... emmhhh kaka kenapa tiba-tiba bisa berubah sehangat ini sekarang ?" Aku bertanya dengan sedikit ragu.
Wani hanya tersenyum mendengar pertanyaan ku.
"Oh itu, baiklah aku akan menjawab nya. Sedari kecil aku banyak sekali mendapat kekecewaan dari orang-orang yang berada di sekitar ku, ya terlebih teman-teman dekat ku, mungkin karena melihat latar belakang ku dari kalangan menengah ke atas sehingga tidak jarang semua orang mendekati ku karena ada maksud tertentu saja, sampailah pada satu momen dimana aku sudah sangat jengah dengan topeng dan segala kepalsuan mereka sehingga setelah aku mulai beranjak dewasa aku semakin tidak mudah oercaya dan dekat dengan orang terlebih itu adalah orang baru. Aku butuh beberapa lama untuk bisa menilai seseorang yang dekat dengan ku itu apakah tulus atau hanya sekedar ada maunya saja, makanya salah satu cara aku memproteksi diri ya dengan muka jutek ku itu. hehe." Jelasnya oanjang lebar
"Oh gitu..." Aku mulai mengerti dengan situasi yang dialami Wani. "Terus sekarang ka Wani percaya sama aku ? hehe." tanya ku penasaran.
"Wah syukur deh kalo gitu aku seneng denger nya ka, jadi aku ga sendirian lagi deh, sekali lagi terimakasih banyak ya ka sudah sudi merawat ku ketika sakit."
Wani hanya tersenyum dan akhirnya kami memutuskan untuk sarapan bersama sebelum akhirnya kita pergi sekolah.
__ADS_1
Ketika langkah ku berada di lorong penghubung ruang makan dan kamar, tiba-tiba aku menginjak sesuatu yang membuat aku tergelincir jatuh, untungnya belum sampai jatuh mengenai lantai ada orang baik dari arah belakang yang menangkap dan menahan tubuh ku.
Kembali adegan bertatap mata memulai pagi ku, aku melihat sorot mata yang biasanya paling menyebalkan sekarang berubah menjadi sendu dan terlihat lebih hangat, membuat aku merasakan sesuatu yang lain yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, perasaan yang tidak sama seperti yang aku rasakan terhadap Ridho, mungkin ini beberapa kali lipatnya dari itu.
"Kamu tidak apa-apa ?" Suara ka Wani membuyarkan semuanya.
"E... euh aku.. aku baik -baik aja ka." jawab ku dengan gugup.
Sorot mata yang tadi nya sendu kini berubah kembali menjadi sangat galak.
"Makanya punya mata itu di pake bukan cuman di jadikan pajangan doanh, dasar bodoh." Gian berucap seolah memujuk kembali genderang perang yang selama seminggu ini tidak di perdengarkan.
Namun sayangnya aku tidak sama sekali terpancing dengan celotehan yang keluar dari mulutnya, aku malah berjalan menuju pintu gerbang dan mengurung kan niat ku untuk sarapan.
"Ran... mau kemana ? kamu ga sarapan dulu ? Wani sedikit berteriak memanggil ku.
__ADS_1
Aku menghentikan langkah dan menoleh nya sebentar, "Tidak ka nanti saja di sekolah, kaka kalau mau sarapan, sarapan lah aku berangkat duluan yah. Sampai jumpa."
Kini aku benar-benar berlalu pergi meninggalkan dua orang yang sedang mematung memperhatikan ku dengan penuh tanda tanya besar di kepala nya