SATU JAM SAJA REBORN

SATU JAM SAJA REBORN
R&G Eps 15


__ADS_3

POV Author


Gian yang kini sedang terbaring diatas kasur nya kembali teringat dengan ucapan sahabatnya sore tadi.


"Hmmm.... Sudah lah kita ini sudah seperti sandal, saling mengerti dan melengkapi, aku sangat faham dirimu melebihi orang tua mu sendiri, aku tau dari semenjak kamu melihat gadis itu kamu sudah menyimpan ketertarikan padanya" Kembali Ridho menghujam ku dengan berbagai analisa menyebalkan yang lagi-lagi harus aku akui jika itu adalah benar adanya.


"Aku melihat ada perubahan yang terjadi semenjak kedatangan gadis itu, tawa yang sudah beberapa tahun ini tidak aku lihat, kini mulai bisa aku lihat lagi, kamu jadi punya semangat hidup kembali semenjak kedatangan nya."


Gian hanya bisa menghela nafas panjang, tidak menampikkan segala yang di ucapkan sahabat nya itu adalah benar adanya.


"Aku juga tidak mengerti sebenarnya apa yang sedang aku rasakan do, tapi yang pasti untuk saat ini aku hanya ingin melihatnya tersenyum lagi tanpa air mata yang secara tidak langsung juga melukai ku. Aku bukan orang yang pandai dalam memahami perasaan sehingga aku tidak mampu mengertinya, saat ini aku hanya melakukan hal yang menurut ku harus aku lakukan, selebihnya aku serahkan pada takdir yang akan membawa ku ntah kemana." Gian hanya berucap dengan sangat pasrah.


"Kalau memang kamu menyukai nya, sampaikan lah, jangan biarkan dia semakin menjauh dari mu dan membuat mu menyesal pada akhirnya, kejar lah, dia gadis yang spesial, cantik tidak hanya parasnya tetapi hati nya pun begitu indah." Ridho berusaha memprovokasi Gian untuk menyatakan cintanya pada Rani.


Mendengar sahabatnya memuji gadis itu seketika perasaan nya tidak terima dan kesal.


"Kalau begitu kenapa tidak kamu saja yang mendekati nya, lagian aku lihat kamu juga suka sama dia dan gadis itu oun menyukai mu." Gian berucao dengan sangat kesal.


Ridho menatap Gian dengan penuh tawa.


"Hahahaha kamu cemburu..?" Tanya Ridho meledek.


"Dih siapa yang cemburu ? aku lebih segala nya dari pada kamu, jadi buat apa aku cemburu dan lagi cemburu itu hanya untuk orang-orang yang ga percaya diri." Gian mengagulkan dirinya sendiri


"Dan kamu adalah memang orang yang paling tidak percaya diri jika sudah berurusan sengan cinta, benarkan ?"


"Sialan kau..." Gian kembali kesal dengan pernyataan sahabatnya itu meski benar adanya.

__ADS_1


"Hahhaa, Lagian aku ga ada perasaan apa-apa pada gadis itu, aku hanya menganggap nya seperti adik ku sendiri, karena kalau di perhatikan dia mirip sekali dengan alm Riri adik ku dan kalau sekarang masih ada ya seusia Rani, bener ga ?."


Gian terdiam sejenak seperti mencerna apa yang diucapkan oleh Ridho, seperti nya Gian merasa bersalah sebab mendapati dirinya sudah salah faham terhadap sahabatnya dan tanpa sengaja juga sudah membangkitkan memori luka lama tentang kematian adik tercintanya.


"Sorry Do bukan maksud ku untuk ke arah situ..."


Belum selesai Gian menutup kalimatnya, Ridho memotong pembicaraan nya.


"Sudah lah, kita kan sudah lebih dari sekedar teman dan sahabat jadi ya sudah sepantasnya untuk saling mengerti memahami dan memaafkan, jadi sekarang tunggu apa lagi ? kamu kejar cinta kamu sebelum semuanya terlambat dan kamu akan menyesali nya." Ridho menepuk bahu Gian.


Gian tersenyum ke arah Ridho dan memeluk nya dengan sangat erat.


Semenjak obrolannya dengan Ridho, Gian bertekad untuk merubah sikapnya pada Rani, dia ingin mendekatinya dengan baik bukan dengan cara menjahilinya yang akan membuat Rani justru semakin menjauh darinya.


*****


Satu minggu kemudian dari ujung lorong aku melihat ada dua orang perempuan yang sedang berjalan menuju ruang makan, dan tidak salah lagi aku sangat mengenal baik kedua perempuan tersebut.


Aku pun berjalan mengekor di belakang nya, tiba-tiba salah satu dari dua perempuan itu menginjak sesuatu yang licin dan menyebabkan nya terjatuh. Dengan sigap aku menangkap badannya dan membuat kami kembali bertatap dalam sebuah pelukan membuat jantungku berdetak sangat kencang, perempuan yang selama satu minggu ini tidak aku lihat dan sangat ku rindukan kini sudah berada dalam pelukan.


Aku menatapnya dengan sangat lekat, memperhatikan setiap lekuk wajahnya, sungguh sangat indah dan juga cantik, hidung yang tidak terlalu mancung, matanya yang belo pipinya yang sedikit berisi dan juga alis matanya yang pas membuat nya sangat terlihat manis.


Saat itu jauh di dalam hati kecil ku yang paling dalam aku sangat Ingin sekali mengungkapkan segalanya, menumpahkan isi hati yang sudah aku simpan satu bulan terakhir ini, namun ntah apa yang menghalangi nya sehingga aku sangat susah dalam berkata dan kembali aku mengeluarkan kalimat yang sebetulnya tidak ingin aku sampaikan.


"Makanya punya mata itu di pake bukan cuman di jadikan pajangan doang, dasar bodoh."


Astaga apa yang sudah aku ucapkan, ini pasti akan sangat melukai hati nya, dasar bodoh bodoh bodoh

__ADS_1


Gian mengutuki dirinya sendiri.


Namun di luar dugaan, Rani sama sekali tidak menunjukkan ekspresi marah ataupun kesal dia hanya menatap ku dengan tatapan yang ntah bagaimana sangat sulit aku artikan.


"Ran... mau kemana ? kamu ga sarapan dulu ? Wani sedikit berteriak memanggil Rani yang hanya berlalu meninggalkan aku dan Wani.


Rani terlihat menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah kami berdua, "Tidak ka nanti saja di sekolah, kaka kalau mau sarapan, sarapan lah aku berangkat duluan yah. Sampai jumpa."


Aku tau dia tidak sempat sarapan, makanya selesai aku sarapan bersama wani aku langsung mengambilkan sedikit makanan dan menyerahkannya pada Wani.


"Wan titip ini buat Rani yah." aku menyodorkan kotak berisi makanan.


Wani mengerutkan dahinya dan menatap ku dengan heran


"Kenapa tidak kamu saja yang memberikan nya ?"


"Tidak lah, kalau aku yang memberikannya dia pasti tidak akan mau memakannya." ucapku pasrah. "Dan lagi kelas ku dan dia kan jauhan kalau kamu kan kelasnya deket jadi bakal lebih mudah jika kamu yang memberikan nya." yahhh meski itu hanya alibi ku saja sih.


"Hmmmm ya sudah lah nanti aku berikan pada nya."


"Makasih ya Wan"


Wani hanya mengangguk dan kemudian berlalu pergi menuju sekolah.


"Wan..." Aku sedikit berteriak memanggilnya, dan wani hanya menoleh ku. "Jangan bilang kalau ini dari aku ya."


Wani yang seperti nya sudab faham dengan situasi yang aku alamai hanya mengangguk dan kemudian berlalu pergi.

__ADS_1


__ADS_2