
Ridho yang sedari tadi mematung melihat aksiku pada Gian seketika terbangun dari keterkejutan nya, kemudian bergegas berlari menyusul ku.
"Sha...Sha Tunggu ..." Teriak Ridho dengan nafas yang tersengal-sengal.
Aku yang tidak tertarik dengan panggilannya masih terus berjalan menuju pintu kamar, dan sesampainya di depan kamar aku merasa ada yang menarik tanganku dari belakang. Seketika aku membalikkan badan.
"Kak Idho ada apa lagi ?" Aku masih dengan suasana hati yang sangat kesal.
"Emh anu.. aku mau minta maaf atas ucapan Gian tadi."
Aku menatap nya heran. "Cowo itu yang melakukan kesalahan kenapa harus kaka yang meminta maaf, harusnya dia dong yang minta maaf."
"Iah aku tahu cuman aku mewakili nya saja sebagai sahabat dan teman satu kamarnya, kamu mau kan memafkan nya ?"
Aku seperti kehabisan kata-kata ntah aku harus menanggapi nya seperti apa.
"Sudah lah ka lupakan saja, aku ingin masuk ke kamar, aku mau mandi dan juga istirahat duku." Aku berkata dengan sangat malas sekali.
__ADS_1
"Ya sudah kamu istirahat saja yah lain kali kamu mau kan aku ajak keliling lagi ?" Tanyanya dengan penuh harap. Aku hanya mengangguk dan kemudian bergegas masuk kedalam kamar ku.
*****
Selesai membersihkan seluruh tibuhku kini aku langsung membaringkan badan di atas ranjang, kemudian memandangi langit-langit kamar yang berwarna putih, pikiran ku tidak menentu melayang membayangkan kejadian-kejadian yang sudah aku lewati.
Usia ku boleh muda tapi pengalaman hidup ku mungkin jauh diatas usiaku. Bayang-bayang Bunda yang selalu bekerja keras tanpa kenal lelah, bayangan kehilangan ayah di usia muda, kebangkrutan dan tangisan adik nya merengek meminta dibelikan mainan menjadi pelengkap proses pendewasaan di usia dini ku.
Semakin jauh aku membayangkan sampai pada akhirnya aku berada di asrama ini jauh dari orang tua hanya untuk sebuah harapan kebahagiaan dan kehidupan lebih baik di masa depan.
Disela-sela imajinasi yang terlampau jauh, aku kembali mengingat moment yang baru beberapa jam lalu aku lewatkan, bertemu dan bertabrakan dengan laki-laki yang secara fisik amat sangat begitu sempurna namun berbanding terbalik dengan sikap dan perilaku nya. Dia begitu sombong dan dingin, tidak ada senyum diwajah tampan nya, hanya sorot mata tajam yang selalu dia pancarkan kesetiap orang.
Belum selesai aku bergulat dengan berbagai khayalan ku, tiba-tiba aku di kejutkan oleh suara pintu kamar ku yang terbuka. Aku yang sedari tadi dalam posisi berbaring kemudian dengan sedikit berloncat aku langsung berdiri dan menatap ke arah orang yang baru masuk ke dalam kamar itu.
Aku tertegun sesaat kemudian memberanikan diri untuk menatap nya dengan senyum yang sedikit dipaksakan. Perempuan itu hanya membalas tatapanku dengan sangat dingin seakan ingin menerkam ku. Tidak ada sepatah katapun keluar dari mulutnya, dia hanya sibuk menyeret kopernya masuk kedalam kamar kemudian langsung membaringkan diri ke atas kasur.
Ya tuhan cobaan apa lagi yang akan aku hadapi ini, masa ia aku akan sekamar sama orang menyeramkan begini
__ADS_1
Aku terus mengumpat nya dalam hati sambil terus menatapnya dengan senyum keterpaksaan.
Menyadari sedari tadi aku masih mematung dan menatapnya kemudian pada akhirnya dia bersuara.
"Ngapain kamu liat-liat begitu, ga diajarin sopan santun yah sama oranv tua mu ?" Ucapnya dengan sangat ketus.
Mendengar nya aku sangat terkejut dan juga sedikit emosi, pasalnya dengan kata lain dia sudah merendahkan kedua orang tua ku dengan mengatakan jika aku tidak di ajarkan sopan santun oleh kedua orang tua ku.
Aku tidak menyahuti ucapannya, aku berusaha untuk mengabaikan nya dan kembali mendudukkan badan diatas kasur.
"Maafkan saya ka, saya tidak bermaksud kurang ajar terhadap kaka, hanya saja saya merass ssngat kaget melihat ada orang yang tiba-tiba masuk setelah semalaman aku berada di kamar ini hanya sendiri. Sekali lagi aku minta maaf jika aku menyinggung kaka."
Aku berusahalah merendahkan diri ku di depan perempuan itu berharap untuk menghindari konflik, sebab akan sangat tidak nyaman jika berkonflik dengan orang yang akan menjadi teman satu kamar ku selama beberapa tahun kedepan.
Perempuan tersebut hanya melirik ku dengan tatapan sinis tanpa berkomentar lagi tentang ku lagi dan kembali fokus melihat layar hp nya lagi.
Ya tuhan kuat aku dalam melalui hari-hari ku yang sepertinya tidak akan mudah aku lewati kedepannya
__ADS_1