SATU JAM SAJA REBORN

SATU JAM SAJA REBORN
R&G Eps 31


__ADS_3

Malam Harinya


Kelima Remaja yang sedang berlibur tersebut kini tengah menikmati malam nya di halaman belakang Vila, sebagian ada yang sedang menyiapkan makanan dengan membakar jagung sebagian lagi ada yang sedang menyiapkan hidangan minuman.


"Ian aku bpleh minta tolong ga buat ambilin tempat yang agak besar untuk jagung-jagung yang udah mateng ini" Ucap Wani.


Tanpa protes Gian pun mulai berjalan menuju dapur untuk mengambil barang yang diinginkan Wani.


"Eh ka Gian, mau ambil apa ka ? Tanya Claudia yang sedang membuat minuman hangat untuk diminum secara bersama.


"Ini aku mau ambil tempat untuk jagung mateng, kamu lagi ngapain ?" Tanya Gian.


"ini aku lagi bikin teh manis hangat untuk kita minum bersama jagung bakar nanti." Jawab Claudia.


Gian hanya mengangguk tanda mengerti, kemudian bergegas mengambil barang yang sedang dia cari, setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, Gian pun kembali berjalan memuju taman belakang, tentunya dengan melewati claudia yang sedang bersusah payah membawa air teh panas.


"Kamu sudah selesai buat minumannya ? Tanya Gian kembali.


"Eh ia udah ka, ini baru aku mau antarkan ke taman." Jawab Claudia masih dengan bersusah payah untuk menganggkat poci besar berisi teh panas.


Gian yang melihat Claudia sedang kesusahan akhirnya berinisiatif untuk membantu nya, dia berjalan menghampiri Claudia dan dengan cepat langsung meraih gagang poci yang sedang di pegang oleh Claudia. Seketika tangan Gian dan Claudia saling bersentuhan membuat jantung Claudia berdegup sangat cepat. Mata mereka pun saling beradu pandang untuk beberapa saat.


"Eh sorry aku ga bermaksud..." Ucap Gian yang sudah tersadar dari lamunannya dan bermaksud menjelaskan semuanya kepada Claudia, namun Caludia hanya tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya kekanan dan kekiri.

__ADS_1


"Ah sudah lah, sini biar aku saja yang bawa, kamu ambilkan nampan ini saja." Jelas Gian sambil kemudian mengambil gagang poci kemudian bergegas pergi meninggalkan Claudia yang masih mematung di balik meja sambil menatap punggung Gian.


Ah sepertinya aku mulai jatuh cinta


(Batin Claudia)


Di taman belakang


Seluruh penghuni Vila tampak sedang asyik menikmati malam mereka dengan kegiatan masing-masing, ada yang masih sibuk membakar jagung, ada yang bernyanyi ada yang bermain gitar ada juga yang sedang curi-curi pandang.


Iah betul Claudia diam-diam mencuri-curi pandang pada Gian yang sedang asik menikmati keindahan alam ditepi tebing tidak jauh dari tempat merek berkumpul.


Gian tidak menyadari akan hal itu, raganya ada disini tetapi pikirannya melayang ntah kemana, pesona Claudia tidak berhasil membuatnya berpaling dari sosok Rani. Iah sosok yang sudah mengambil hati Gian sejak pertama kali mereka bertemu.


(Batin Gian)


Ridho dan Kenan yang sedari tadi asik dengan lagu-lagu yang mereka dendangkanpun diam-diam memperhatikan sikap Gian yang sedari tadi menyendiri dan tidak ikut bergabung bersama mereka.


Dengan inisiatif penuh Ridho meyelesaikan satu lagunya kemudian berjalan menghampiri Gian dan tanpa dipersilahkan duduk Ridho sudah duduk disebelah Gian.


"Terkadang cinta itu butuh pengakuan, bukan hanya sebatas tindakan tapi ucapan pun kadang di perlukan untuk menyampaikan sebuah rasa." Ridho seolah mengerti dengan apa yang sedang mengganjal pikiran sahabatnya itu.


Gian hanya menatap Ridho beberapa detik sampai pada akhirnya dia memalingkan kembali pandangannya pada pemandangan lampu kota yang berada di hadapannya.

__ADS_1


"Sampai kapan kamu akan menyimpan rasa itu sendiri ? Aku tahu kamu sering menggoda Rani itu hanya untuk menutupi perasaan gerogi kamu ketika berada di samping nya kan ?"


"Apaan sih, so tau kaya dukun." Protes Gian singkat.


"Hey kau jangan lupa aku ini sahabat mu dari kecil, jadi aku sudah sangat faham sekali dengan sifat, sikap dan juga karakter mu, jadi kamu tidak bisa lag menutupi semuanya dari aku."


Gian kemudian menghela nafas panjang.


"Sebenernya aku juga bingung harus gimana, aku cuman belum siap aja dengan penolakan yang akan dilakukan Rani nantinya, fan itu hanya akan membuat aku kecewa, aku belum siap do."


"Darimana kamu tahu kalau Rani bakalan nolak kamu ? memang sebelumnya sudah di coba ?"


Gian terdiam sejenak.


"Ya pasti nolaknya secara kamu tahu sendiri komunikasi kami tidak pernah baik-baik saja, dia selalu kesal jika bertemu dengan au, jadi ya ga munkin jika tiba-tiba aku menyatakan perasaan ku padanya dan dia akan langsung menerimanya." Jelas Gian.


"Hati orang tidak bisa di tebak, coba saja dulu pendekatan dengan baik padanya, ubah pola komunikasi kalian secara perlahan, aku yakin Rani akan menerima mu dengan tangan terbuka, aku tahu siapa dan bagaimana Rani, tinggal sedikit usaha saja kamunya, dan lagi kamu juga tidak ingin orang lain mengambil Rani kan ?" Ridho mencoba memanas-manasi Gian supaya tidak gampang menyerah dengan perjuangannya mendapatkan gati Rani.


Gian mencoba mencerna setiap kata demi kata yang diucapkan oleh sahabatnya itu.


"Fikirin baik-baik ucapanku ini, semakin lama kamu menyimpannya sendiri maka akan semakin dekat kamu dengan kekecewaan, setidaknya rasa kecewa kamu ditolak tidak akan sebesar kekecewaan kamu ketika Rani meninggalkan mu dengan laki-laki lain tanpa tahu bahwa kamu menyukainya."


Gian hanya memandang sahabat nya tersebut sambil tersenyum, kemudian merangkulnya dengan sangat erat.

__ADS_1


__ADS_2