SATU JAM SAJA REBORN

SATU JAM SAJA REBORN
R&G Eps 9


__ADS_3

Seketika setelah mendengar aku berkata demikian Gian langsung memelototi ku "Heh jangan ke GR an ya, kamu bahkan tidak sama sekali masuk dalam kriteria perempuan yang aku suka, jadi jangan pernah berharap apalagi mimpi kalau aku bisa suka sama wanita bar-bar kaya kamu."


Bu Wati yang berada di depan kami hanya bisa melirik kami secara bergantian dan kemudian tidak kalah naik pitamnya sebab mendengar pertengkaran kami secara langsung.


"Sudah sudah sudah hentikan ......" bu Wati berteriak sambil menggebrakkan tangannya ke atas meja.


"Kalian ini bisa akur ga sih, ibu tu pusing setiap hari mendengar laporan kalian yang selalu ribu, tidak di asrama tidak disekolah." kini bu Wati terlihat sangat marah pada kami berdua.


"Kamu Rani seharusnya sebagai anak baru kamu harus bisa lebih menjaga sikap kamu, disini bukan ring tinju, dan lagi kamu masih dalam masa pemantauan kalau kelakuan kamu masih seperti ini terus maka meski nilai kamu bagus tetap saja ibu akan mencabut beasiswa kamu."

__ADS_1


Duaaaarrrrrr


Bagai disambar petir disiang bolong, mendengar kata-kata bu Wati membuat hati ku seketika ambruk, mencabut beasiswa sama hal nya dengan membunuh ku secara perlahan, membayangkan bunda yang harus kembali banting tulang membiayai sekolah ku, tanpa terasa air mata ku keluar dari sarang nya.


"Bu tolong jangan cabut beasiswa ku, aku mohon, aku minta maaf atas setiap kegaduhan yang sudah aku perbuat aku janji tidak akan mengulangi hal itu lagi, aku mohon aku tidak ingin membebani Bunda dengan masalah ku disini bu, aku mohon." pinta ku dengan sangat lirih.


Suara ku terdengar begitu sangat bergetar dengan deraian air mata yang terus mengalir, wajah yang penuh kesedihan, kehancuran dan kekhawatiran yang menjadi satu didalamnya.


Aku hanya menatapnya dengan tatapan luka dan sedih yang menyatu, tidak ada kata yang terucap dari mulut ini, hanya linangan air mata yang menjadi saksi betapa aku sangat terluka dan ketakutan nya dengan ancaman yang bu Wati sampaikan.

__ADS_1


"Dan kamu Gian, sebagai anak pemilik yayasan dan juga kakak kelas seharusnya kamu memberikan contoh yang baik untuk adik kelas mu, kamu seharusnya membimbing dia bukan malah mengajak nya bertengkar terus, meski ayah kamu mempunyai wewenang penuh atas asrama dan sekolah ini, tapi ibu tidak akan segan-segan untun melaporkan kamu dan biar ayah kamu yang memberikan mu hukuman." bu Wati tidak kalah tegasnya pada Gian.


Perkataan bu Wati mampu membuat mulut Gian tertutup dan terkunci rapih, dia hanya bisa menunduk dan sesekali memandang ku yang masih berlinang air mata.


Mendengar nama pemilik yayasan aku yang masih berlinang air mata kemudian menatap Gian dengan penuh iba, aku baru tahu jika orang yang selama ini aku sering kata-katai itu ternyata adalah anak dari orang yang sudah memberi ku beasiswa, kenapa aku begitu bodohnya tidak mencari tahu siapa Gian sebetulnya sehingga membuat nya begitu di takuti di asrama juga di sekolah. Jika tahu begitu aku lebih memilih diam ketika dia selalu mengataiku dengan kalimat yang selalu berhasil membuat ku naik darah. Ah memang sungguh penyesalan selalu datang belakangan, ntah bagaimana lagi nasib ku setelah ini.


"Ibu kasih kalian satu kali lagi kesempatan, jika ibu masih mendengar hal ini lagi maka ibu tidak segan-segan untuk memberikan tindakan tegas pada kalian berdua, dan untuk sekarang kalian harus saling bermaafan." Ucap bu Wati yang berhasil membangun kan ku dari tangisan dan membangunkan Gian dari tundukannya.


Tanpa berbasa-basi meski masih diliputi rasa keraguan, aku sebagai adik kelas berusaha untuk mengalah dan bersedia mengulurkan tangan terlebih dahulu untuk meminta maaf.

__ADS_1


"Aku minta maaf..." Ucap ku singkat sambil menyodorkan tangan dan menunggu Gian untuk menyambut nya.


"Iya, aku juga minta maaf..." Ucap Gian singkat dan kami segera melepaskan tangan yang saling berpegang itu.


__ADS_2