SATU JAM SAJA REBORN

SATU JAM SAJA REBORN
R&G Eps 2


__ADS_3

Ruangan itu terletak di sudut bangunan, cukup sederhana dengan 2 buah meja panjang dan deretan kursi khusus untuk seluruh siswa asrama yang akan menyantap makan. Ruangan ini menyatu dengan dapur, dimana ketika siswa merasa bosan dengan menu yang tersedia, maka mereka bisa memasak apapun sesuai dengan keinginannya, tentu dengan bahan yang tersedia di dapur tersebut.


Ido yang sedari tadi setia menemani ku menjelaskan segala hal yang belum aku ketahui tentang asrama ini, membuat aku merasa disini tidak lagi sendiri, akhirnya aku punya seorang teman, teman pertama ku di asrama ini.


Aku diperkenalkan kepada ibu kepala dapur yang bertanggung jawab atas segala makanan yang disiapkan disini, orangnya sangat baik dan beliau menjadi teman kedua ku disini, karena memang pembawaan nya yang ramah dan bersahaja membuat siapapun yang berada disampingnya merasa sangat nyaman, sehingga tidak heran jika ibu Siska ini sering kali menjadi tempat curhat siswa-siswi yang sedang bersusah hati.


"Neng kalo perlu apa-apa bilang saja sama ibu ya, jangan sungkan, anggap saja aku seperti ibu mu sendiri." dengan tatapan yang sangat hangat dan bersahaja


Aku menjadi sangat terharu, seketika bayangan Bunda kembali datang di pikiran ku membawa air mata yang tidak berhasil aku bendung, melihat bu siska aku seperti melihat ibu ku sendiri, sebab umur mereka terlihat tidak terlalu jauh.


"Neng jangan menangis, wajar setiap siswa yang baru datang kesini pasti akan sering merindukan keluarga nya, tapi nanti pun lama kelamaan tidak akan serindu sekarang, akan sedikit terobati dengan banyak nya kegiatan dan juga teman-teman baru." Kembali bu sisk memperlihatkan tatapan yang penuh kehangatan seraya mengusap pucuk kepala dan air mata ku dengan jarinya.


"Ia Ran bu Siska betul, akupun laki-laki pada awal nya menangis karena rindu orang tua, tapi lama kelamaan sudah tidak lagi, malah sekarang mendekati masa kelulusan jadi sebaliknya, berat hati sekali akan meninggalkan asrama." Idho seperti tidak ingin kalah dari bu Siska untuk memberikan motivasi dan semangatnya untuk ku.


"Iah terimakasih ya ka, bu, jangan sungkan memberiku teguran jika aku melakukan kesalahan. Mohon bimbingannya dari kaka dan ibu." Aku hanya bisa tersenyum dan sedikit menunduk menerima perlakuan baik mereka.


Setelah bersedih kami memutuskan untuk tidak melanjutkan perbincangan yang akan mengundang air mata lagi, kami lebih memilih bercerita seputar hal-hal yang akan mengundang gelak tawa diantara kami.


Hampir satu jam kami berjibaku dengan banyak cerita, kini saat nya kita kembali pada aktivitas masing-masing. Aku dan ka Ido berjalan menuju pintu keluar dapur namun masih tetap hanyut dalam percakapan diatas meja makan sebelumnya, tiba-tiba.


Bruuuugggggkkkkkkk


Aku kini berhadapan dengan seorang laki-laki yang ntah dari mana datangnya, sepersekian detik jantungku terasa berhenti berdetak, menatap matanya yang begitu menghipnotis jiwa mampu melumpuhkan seluruh fungsi tubuh untuk sementara.

__ADS_1


Sungguh sempurna mahluk ciptaan mu, matanya, hidungnya, alisnya, dagunya, ahhh semuanya sungguh sangat sempurna, hampir tidak ada cacat sedikitpun dengan paras wajahnya, kulit yang putih mulus membuat nyamuk pun seakan enggan untuk hinggap di kulit bersihnya.


Aku masih memaku dalam pelukannya, sebab ketika bertabrakan tadi aku yang hampir terjatuh kemudian langsung di tariknya dan kemudian terjatuh dalam pelukannya dengan posisi yang sedikit memiring ke bawah.


"Halllooooo....." Lelaki itu bersuara.


Suaranya membuat jantungku sepersekian detik berhenti berdetak, kedua mata kami terus beradu pandang.


Posisi ku kini berada di atas lengan pria tampan itu, berada dalam dekapannya, mencium bau aromanya membuat badan ini melayang seakan tidak pada tempatnya. Aku berusaha keras untuk menutupi kegugupan ku, namun rona merah di wajahku keluar tanpa meminta izin kepada si pemilik muka seakan tidak ingin berkompromi terlebih dahulu membuat siapapun yang melihat sudah pasti mengetahui apa yang sedang aku rasakan.


"Ran kamu tidak apa-apa ?"


Tiba-tiba suara itu membuyarkan semua imajinasi yang sudah tersusun rapih dalam bayangan. Suara yang dalam beberapa jam terakhir memenuhi gendang telingaku, suara yang sudah tidak asing lagi. Ridho menghancurkan kerajaan lamunan ku dalam sekejap.


"Auuuuuu...." aku meringis kesakitan.


"Sha..." Ridho kaget melihat ku terjatuh.


"Lain kali matanya di pakai untuk jalan bukan untuk menatap genit laki-laki." Suara yang tadi membuat jantungku berhenti kini terdengar sangat ketus dan menyebalkan.


Paras nya tidak mencerminkan sikapnya, kekaguman ku akan mahluk tuhan yang tadi aku bilang sempurna kini berbalik dengan pandangan kesal dan juga marah.


"Lain kali kalo punya mulut tolong dijaga jangan berbicara sesuka mu tanpa fakta " Aku bergegas berdiri dengan ekspresi yang penuh dengan kemarahan dan kekesalan dalam waktu yang bersamaan.

__ADS_1


"Kamu anak baru belum 24 jam disini aja laganya udah berani nantangin senior." Laki-laki itu kembali tersulut emosi karena perkataan ku.


"Sudah-sudah jangan berantem, kenal juga belum udah berantem aja." Ridho berusaha untuk melerai pertengkaran kami.


"Mendingan kenalan dulu deh. Rani kenalin dia Gian temen ku, dan Gian kenalin dia Rani temen ku juga anak baru disini." Ridho melanjutkan perkataannya


"Ogah....." Tanpa sadar aku dan Gian mengucapkan satu kata itu dengan bersamaan. Gian kemudian menatap ku dengan sangat lekat, lalu aku tidak mau kalah dengan membuang muka ku ke sembarang arah, berusaha menghindari tatapan tajam nya.


Ridho hanya menatap aku dan Gian secara bergantian dengan tatapan yang heran juga frustasi dalam waktu bersamaan.


"Heii ayo lah bukannya ada pepatah yang mengatakan tak kenal maka tak sayang, makanya biar sayang ayo kenalan duku." Ridho terus meyakinkan kami untuk berkenalan.


Aku dan Gian kembali bertatapan dengan penuh ke marahan.


"Idih sayang sama cewe begini ? Gian menatap ku dari ujung kaki sampai ujung kepala. " Jangan mimpi." Dia melanjutkan ucapannya yang sempat tertunda.


Mendengar itu seketika emosi ku kembali tersulut kemudian aku langsung berkecak pinggang da mata ku melotot ke arahnya.


"Heh siapa juga yang mau di sayang sama cowo yang menyebalkan kaya kamu ? sorry jangan harap deh ya. Bye..." Tanpa aba-aba aku menabrakkan bahu ku ke badannya kemudian berlalu pergi meninggalkan Gian dan juga Ridho yang mematung melihat tingkah ku.


"Heh cewe sialan awas kamu yah..." Gian membalikkan badannya menatap aku yang tidak menghiraukan nya.


Aku tidak bergeming dengan segala ancaman dan umpatannya, kaki ku terus berjalan dengan penuh emosi menyusuri lorong menuju kamar ku.

__ADS_1


__ADS_2