
Masih dengan ketegangan yang dirasakan Rani, dia masih mencoba untuk menetralisir hati dan perasaannya, mencoba mencerna apa yang sedang terjadi saat itu, setelah semua di rasa aman Rani perlahan mulai memandangi kepala yang masih bersandar nyaman di pundak nya. Rani memandanginya sejenak melihat ketenangan di wajah laki-laki tersebut, kemudian tanpa sadar nalurinya sebagai perempuan menggerakkan tangannya untuk membelai bagian wajah yang kini sedang terlelap tersebut.
Perlahan namun pasti kini telapak tangan rani sudah berada persis diatas pipi Gian, laki-laki yang selama beberapa bulan ini di hindari nya, laki-laki yang memberikan kesan pertama sangat menyebalkan pada dirinya kini terlihat sangat damai bersandar di pundaknya.
Rani membelai setiap lekuk mukanya, matanya, hidungnya bibirnya tidak luput dari sentuhannya membuat si pemilik wajah terbangun dari tidurnya dan dan menikmati setiap belaiannya. Gian sengaja membiarkan Rani melakukan hal yang ingin dia lakukan tanpa berniat melarang atau membuat nya berhenti, dalam hatinya Gian tersenyum dengan perlakuan yang Rani berikan, ada perasaan bahagia terasa disisi hatinya yang lain, berharap semua ini tidak akan pernah ada akhirnya.
Setelah beberapa saat kemudian Gian mencoba menggerakkan badannya yang sedikit pegal, Rani yang melihat pergerakan tersebut seketika menjadi terkejut dan segera memindahkan tangannya ke tempat semula, namun dengan sigap Gian menarik tangan Rani dan menyimpannya kembali pada wajahnya. Rani tersentak dengan perlakuan Gian, merasa sangat bersalah karena sudah ikut larut terbuai dalam perasaannya.
Gian kini mendongakkan kepalanya, pandangan mereka kini saling beradu kembali, dengan sedikit berbisik Gian mendekatkan bibirnya pada telinga Rani membuat perasaannya semakin tidak karuan.
"Jangan berubah biarkan seperti ini, aku menyukainya."
Bisik Gian dengan sedikit senyumannya membuat siapapun yang melihat akan dengan mudahnya terhipnotis oleh tatapannya.
Mata yang menangkap senyuman itu mulai di hiasi embun kebahagiaan, rasa haru dan tidak percaya dengan situasi yang ada membuatnya tanpa sadar ikut tersenyum pada Gian dan telinganya yang mendengar bisikan itu seakan meminta diulang kembali bisikan manja tersebut.
Benarkah ini nyata, aku tidak bermimpi, ? oh Tuhan jika ini hanya mimpi cepatlah sadarkan aku jangan biarkan perasaan ku terhanyut terlalu dalam dengan keadaan ini.
Gian kembali membenamkan kepalanya dengan tangan yang saling berpegangan pada pipi Gian, sepersekian detik Rani membiarkan semua itu terjadi, membuat perasaan keduanya terbang keawang-awang terutama Gian, dia sangat menikmati momen tersebut hingga rasanya dia ingin menghentikan waktu agar bisa menikmati moment tersebut dengan lebih lama lagi.
Tuhan Satu jam Saja biarkan semuanya seperti ini, aku hanya ingin berdua menitipkan rasa yang sudah dihadirkan oleh semesta. Tuhan aku tak ingin berakhir satu jam saja izinkan aku untuk mulai mengukir asa yang perlahan kini telah mulai mencair.
Doa Gian dalah hati.
__ADS_1
******
POV RANI
"Ran.... Ian bangun kita istirahat dulu."
Kalimat itu membangunkan ku dari tidur. Aku mulai mengedipkan kedua bola mata yang sudah sangat lengket karena lelah. Aku melihat kesekitar pintu mobil yang telah terbuka semua penghuni nya kini sudah duduk di tepi warung kopi, kini hanya ada aku dan Gian di dalam mobil. Aku sangat terkejut mendapati diri yang kini berada sangat dekat dengan Gian.
Gian masih dalam posisi bersandar di bahu ku, dan aku yang ternyata tertidur menumpu diatas kepalanya dengan tangan yang sudah bersilangan, seketika aku kaget dan menghempaskan tangan itu membuat sang pemilik tangan ikut terhentak.
"Dasar cewek kasar, bisa ga sih banguninnya pelan-pelan aja." Bentak Gian.
Rani hanya bisa melotot mendapati Gian kini kembali pada sifat aslinya "Heh cowok nyebelin apa yang udah kamu lakukan ?" Bentakan Rani tidak kalah tinggi.
"Heh cewek setres, gimana mau ngelakuin sesuatu orang akunya juga tidur."
"Ih setres yah namanya orang tidur mana sadar apa uang udah di lakuin nya." Gian masih tetap dengan pembelaannya.
Pertengkaran kami terus berlanjut membuat ketiga orang yang sudah duduk diluar belingsutan kembali masuk kedalam mobil untuk memastikan apa yang sedang terjadi.
Flashback on
Wani tersadar dari tidurnya, dia merasa perutnya sangat sakit dan hendak meminta pak Yus (Supirnya) untuk menepi sejenak. Wani menggeliat kan badannya kemudian mulai mengumpulkan kesadaran pasca tidurnya.
__ADS_1
Ketika ia menoleh kearah sampingnya, alangkah terkejutnya dia melihat adegan gang saat ini sedang terjadi secara live di depan matanya, namun keterkejutan tersebut tidak berlangsung lama dan seketika wajahnya langsung berubah dihiasi senyuman yang merekah. Tanpa pikir panjang Wani membangunkan Ridho yang duduk di kursi depan.
"Yank sayang bangun, cepet bangun.." Panggil Wani sambil mencolek-coleh pinggang Ridho dari samping.
"Eeeemmmmmhhhhhh apa si..?" Ucap Ridho yang menggeliat dan masih mengumpulkan kesadarannya.
"Itu...itu liat kebelakang cepetan." Wani tidak sabar untuk memperlihatkan tontonan yang baru saja dia lihat.
Kemudian Ridho mengikuti instruksi Wani dan menolehkan pandangannya ke belakang. Seketika Ridho terkejut dan mulai mengembangkan senyum manisnya.
"Belum pernah aku liat Gian senyaman dan selelap itu sebelumnya." Gumam Ridho.
"Iya ya keliatan nyaman banget... eh yank foto-foto cepet." Pinta Wani.
Ridho menuruti titah Wani dan mulai membuka layar ponselnya serta mengambil beberapa foto mereka berdua yang sedang tertidur saling bertumpu dengan berpegangan tangan.
"Lagi tidur aja pegangan tangan kaya orang mau nyebrang aja..." Protes Ridho.
"Ihhh sirik aja kamu, kita aja yang pacaran kayanya kalah romantis deh dari mereka..." Wani ikut protes melihat adegan tersebut.
"Kamu mau yank ???" Tanya Ridho.
"Ih apaan sih kamu ? Udah ah yuk biarin aja, kita turun duluan, aku udah kebelet pengen kebelakang nih." Ajak Wani
__ADS_1
Dan mereka pun satu per satu mulai keluar meregangkan otot-otot yang kaku akibat perjalanan yang panjang.
Flashback off