Sebuah Rasa (Berganti)

Sebuah Rasa (Berganti)
22. Belum Terlepas


__ADS_3

Yoga,Steve,Lian dan Cindy sudah berada di dalam perjalanan hendek kembali ke kota.


" Yo dari semalam banyak banget panggilan masuk dari aline sama daniel. " Seru Steve yang memang baru mengaktifkan hp nya.


" Biarin aja lah! paling si Aline mau ngomel. Nanti aja gue ngomong di campus besok! " Ujar Yoga santai.


" Aline pasti sebel banget tuh yo, lu sih pakek ngintilin kita segala. " Cindy mencibir kearah Yoga.


" Cuek aja lah! lagian masak iya gue biarin Lian cuma sama lu bahaya lah. Lagian lu Steve juga ikut-ikutan. " Yoga lagi-lagi melempar kesalahan pada Steve.


" Yeeeee ada atau gak gue sih kagak begitu ngaruh buat Aline, lu tuh yang pasti bikin Aline sebel. Dari dulu kan Aline sukanya sama lu. " Balas Steve ke arah Yoga.


Mendengar perkataan Steve membuat Lian menatap Yoga bertanya-tanya, Yoga yang menyadari tatapan Lian pun menolehkan pandangan nya.


" Gak usah dengerin si Steve sayang, dia tuh emang suka ngaco kalau ngomong. " Yoga tersenyum kearah lian.


Namun senyum Yoga tidak mampu menenangkan hati Lian. Tentu Lian juga menyadari dengan jelas sikap Aline pada Yoga selama ini. Dan Lebih parahnya lagi Aline seperti sudah mengetahui rahasian yang disimpan Lian rapat-rapat selama ini.


Ketakutan mulai menjalari seluru jiwa dan raga Lian. Takut kalau Yoga sudah mengetahui kebenaran tentang apa yang terjadi pasa Lian saat ini, apakah yoga masih mau menerimanya?


~


Sore harinya mobil Yoga terlihat telah memasuki kawasan perkotaan, tempat mereka semua tinggal.


" Steve lu gue anter kemana nih? " Yoga bertanya kearah Steve.


" Turunin gue di depan ajalah gue bisa minta jemput supir. Kalau anterin gue kerumah bisa muter-muter lu. " Steve menjawab sok pengertian.


Setelah menurunkan Steve di sebuah caffe yang nyaman untuk menunggu, Yoga kembali melajukan mobilnya memecah jalanan kota yang terlihat sangat padat.


" Gue anterin lu dulu ya Cin? baru Lian. " Yoga berkata sembari melirik Cindy dari kaca spion depan.


" Ehh " Lian terkejut mendengar rencana Yoga.


" Yo turunin Lian di rumah gue aja!! Soalnya gue sama Lian mau ada bikin kue dirumah. Udah janjian sama Mommy gue. " Otak Cindy bekerja cepat untuk melindungi Lian. Karena Cindy tau Lian akan sangat gugup jika sedang bingung.


" Eh iya sayang. Aku mau bikin kue di rumah Cindy. " Lian membenarkan ucapan Cindy.


" Kamu gak capek sayang? kita kan baru pulang? kenapa gak di tunda aja sih sayang? nanti biar aku yang ngomong sama Tante Vina. " Yoga berkata dengan nada penuh perhatian kepada Lian.


" Mommy gue udah nungguin lama Yo. Lagian kan udah dari lama Lian janji sama mommy. " Cindy kembali menekankan ucapan nya.

__ADS_1


" Iya sayang, gak enak ah sama Tante Vina. Lagian aku udah janji sayang! Dan aku gak capek kok, cuma buat kue ini. Kan nanti cuma nunjuk-nunjuk aja yang ngerjain Tante Vina. " Lian berusaha meyakinkan Yoga sambil berkomat kamit dalam hati agar Yoga tidak memanjangkan pertanyaan lagi dan membuatnya terus berbohong.


" Yaudah deh. " Akhirnya Yoga menjawab pasrah.


Tak lama kemudian mereka sampai di kediaman mewah Cindy.


" Eh nanti kamu mau nginep? atau aku tungguin aja nanti aku anter kamu pulang gimana? " Tanya Yoga lagi kearah Lian.


" Gak usah deh sayang. Aku juga belum tau lama atau enggak nya. Lagian gak enak sama Tante Vina kalau kamu nungguin aku. " Lian menjawab dengan tegas setengah mengusir.


" Iya sih Yo, kalau Lian mau balik kan gue bisa anterin kali Yo. Lagian ini acara perempuan. Laki-laki dilarang mengganggu. " Cindy mendukung ucapan Lian tadi dengan wajah yang datar.


" Yaudah deh aku pulang duluan ya sayang? kamu ati-ati nanti jangan lupa kabarin aku. " Yoga tersenyum manis sembari mengusap kepala Lian sayang.


" Ehem " Cindy berbatuk kencang seolah mengatakan Woy ada orang disini.


" Yaudah Cin sama buat Tante Vina ya? Gue balik dulu. " Yoga pun segera meninggalkan rumah Cind, membuat Lian dan Cindy bernafas lega.


" Makasih ya Cin, lu udah bantuin gue mikir. Kalau enggak tadi gue pasti udah nyerah dan ngaku. Padahal gue sama sekali belum siap buat ngasih tau yoga. " Lian memandan Cindy dengan tatapan mengiba.


" Santai aja kali Li! yaudah masuk yuk. " Cindy


" Eh gue langsung balik aja deh Cin. Gue pesen taksi online aja. " Lian


~


Yoga melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Pemuda itu tengah sangat bahagia saat ini terlihat dari bibirnya yang selalu tersenyum, dan juga bersiul-siul ceria.


Tiba-tiba Hp nya berbunyi tanda sebuah panggilan masuk. Yoga melirik kearah hp nya yang teronggok di samping tempat duduknya.


" Aaah Aline. " Yoga mendengus kesal, dan dengan sangat terpaksa mengangkatnya.


" Hallo "


" Hallo Yo? kemana aja sih? dari semalem ngilang tiba-tiba, terus gak angkat telpon gue lagi. "


" O iya sorry gue cabut ngikutin Cindy sama Lian semalem. Gak mungkin kan gue biarin mereka cabut berdua. Bisa bahaya!!! gue juga bisa dicincang sama Om Richard kalau ngebiarin Cindy dalam bahaya. "


Terdengar helaan nafas panjang aline di seberang sana.


" Terus sekarang lu dimana? "

__ADS_1


" Di jalan baru mau balik kerumah. Tadi nganterin yang lain dulu. "


" Lu bisa ke rumah gue gak? "


" Aduh gimana ya? gue capek Line! pengen langsung istirahat rasanya. "


" Yaudah deh yo. Sampai ketemu besok deh kalau gitu. "


Aline mengakhiri panggilan nya sepihak.


" Gue mau liat kalau lu tau rahasia Lian, lu masih suka gak sama dia. " Aline meremas hp nya kuat, membayangkan bahwa yang ada di genggaman nya saat ini adalah Lian.


Aline kemudian menghidupkan Hpnya kembali dan menghubungi seseorang.


" Hallo!! Hubingi dia, katakan saya akan menemuinya. " Klik hanya satu kalimat yang diucapkan nya pada seseorang diseberang sana.


" Gimana apa kita langsung aja sebarin video nya? " Seorang pemuda terlihat duduk di hadapan aline.


" Gak usah! kita tahan aja dulu. Gue bakalan bikin dia ngejauhin Yoga dan membuat Yoga membencinya sendiri. Dan gue punya seseorang yang bisa bantuin gue. " Seringai licik muncul di bibir aline.


********


" Tuan, Putri dari Tuan Charles mengatakan ingin bertemu dengan anda. " Seorang pria terlihat berbicara kearah Heri.


" Tuan Charles? " Mengernyit heran kearah asisten pribadinya.


" Itu Tuan Charles dari VN corp Tuan. "


" Aahh apakah gadis yang dibicarakan si bodoh Wiguna? "


" Iya Tuan. " .


" Baiklah, kelihatan nya ini sangat menarik. Padahal aku sudah ingin berbaik hati melepaskan anak Hadi. Tapi apa boleh buat sepertinya nasib baik tidak berpihak pada gadis itu. " Heri menyeringai licik. " Katakan padanya untuk datang ke mansion ku. " Tambahnya lagi.


" Baik Tuan. " Asisten itu segera keluar dari ruangan heri.


" Santy kau lihat! bahkan anakmu sekarang harus menderita karena dia adalah anak Hadi. " Hahahahaha tawa puas terdengar keluar dari mulut Heri.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2