Sebuah Rasa (Berganti)

Sebuah Rasa (Berganti)
28. Amarah Lian


__ADS_3

Cindy mencoba menelpon Lian berkali-kali, namun nihil tidak ada jawaban dari seberang sana.


" Aduuuuhh lo kemana sih Li? sebenernya ada apa sih? Kok perasaan gue gak enak! " Cindy bergumam kecil sambil matanya terus fokus menatap jalanan di depan nya.


Bip bip Hp nye berkedip-kedip tanda sebuah pesan masuk.


Gue ada urusan Cin, Lu sampek in sama Yoga ya? ~ Lian.


Membaca pesan dari Lian, Cindy langsung menepikan mobil nya.


Lu dimana? Lu gapapa kan? Gue udah gak di Restoran. Gue di jalan nih, Gue susulin lu ya? ~ Cindy


Gak usah Cin, nanti gue pasti cerita sama lu. Sekarang gue lagi ada urusan. ~ Lian


Cindy mengerutkan keningnya heran. Mencoba menerka-nerka apa yang terjadi.


********


Sementara itu Lian sedang berada di dalam sebuah taxi. Tangan nya meremas-remas Hp di tangan nya.


Puluhan pesan masuk dari Yoga bertubi-tubi membuat Hp nya bergetar. Namun Lian tak ingin membukanya apalagi membalasnya.


" Sorry Yo, aku janji aku sendiri yang akan kasih tau kamu. Tapi sekarang ada hal yang lebih penting yang harus aku selesaikan. " Lian bergumam, lalu memejamkan matanya dan menyenderkan kepalanya kebelakang.


Setelah kurang lebih 1 jam berkendara, taxi yang di tumpanginya berhenti di depan sebuah rumah mewah, dengan pagar yang menjulang tinggi di depan nya.


Lian segera melangkahkan kakinya menuju pos penjaga yang terdapat di depan rumah megah itu.


" Selamat siang. Ada yang bisa di bangu Nona? " Seorang penjaga berdiri dari duduk nya menghadap langsung kearah Lian.


" Saya sudah membuat janji dengan bapak Wiguna. Tolong katakan nama saya Berlian. " Lian

__ADS_1


" Baik Nona tolong tunggu sebentar. Saya akan tanyakan terlebih dahulu. " Penjaga itu berbicara lewat interkom lalu membukakan gerbang dan mempersilahkan Lian untuk masuk.


Sampai akhirnya Lian duduk di sofa yang terdapat di ruang tamu. Lian mengitarkan pandangan nya menyapu setiap sudut ruangan itu, benda-benda mahal dan mewah memenuhi ruang tamu itu.


Sampai akhirnya seseorang membuyarkan pandangan Lian.


" Waahhh coba lihat siapa yang berkunjung!!! " Seorang pria paruh baya berkaca mata muncul diikuti oleh seorang wanita di belakangnya. Melihat kehadiran mereka seketika Lian berdiri dari duduknya.


" Apa kau datang untuk mengunjungi paman dan bibi? Sejak ayah dan ibumu meninggal kenapa kau tidak pernah datang berkunjung? kau tahu paman mu sangat khawatir dengan keadaan mu!! " Wanita itu menampilkan mimik muka sedih. Memandang Lian dengan dahi berkerut.


" Benarkah? Apa paman mengkhawatirkan aku? " Lian menjawab dengan tenang.


" Tentu saja. Kau keponakan ku satu-satunya!! Sedari kecil aku sangat menyayangi mu. " Jawab lelaki itu yang tak lain ialah wiguna paman Lian.


" Baiklah. Apa aku juga harus beracting sedih dan menyesal? Haruskan aku memelukmu? PAMAN? " Seringai kecil muncul di bibir Lian.


" Tentu saja kemarilah!! Apa kau tidak merindukan paman dan bibi? " Wiguna membuka lebar kedua tangan nya seakan mengundang Lian masuk kedalam pelukan nya.


" Oohhh maafkan aku paman! sepertinya aku tidak bisa memelukmu. Karena aku takut mengotori pakaian mu yang mahal itu dengan keringatku. " Lian.


" Tidak usah paman, kalau hanya minuman saja aku masih sanggup untuk membelinya. Aku sekarang tetap bisa menghasilkan uang karena aku bekerja keras paman. " Lian berkata dengan penuh penekanan.


" Ooohhh sungguh malang nya nasibmu keponakan ku. Kau harus bekerja keras sekarang, padahal dari kecil kau terbiasa bergelimang harta! " Wiguna kembali menunjukkan wajah sedih nya. Cih harusnya ada yang memberiku penghargaan karena aku tidak muntah disini, melihat tingkah laku mereka.


" Ya mau bagaimana lagi paman. Begini lah hidup. Kadang kala segelintir orang pemalas akan berbuat culas dengan jalan pintas agar bisa merebut hak milik orang lain. Orang-orang itu bahkan menghalalkan segala cara termasuk dengan menipu dan berhianat. Seperti seekor anjing kelaparan yang di pungut dari jalanan untuk di pelihara. Tapi ternyata malah menggigit balik sang penolong!!! " Lian menjawab dengan lugas. Kata-kata Lian membuat senyum Wiguna dan istri nya sirna seketika.


" Apa? Apa kau mau mengatakan kami ini angjing? " Wiguna mulai menunjukkan sifat aslinya.


" Pamaan !!! Tenanglah dulu. Apakah paman merasa kata-kata ku tadi itu untuk paman? " Lian tersenyum dan menjawab dengan santai.


" Dasar! Kau sudah jatuh miskin juga masih saja sombong!!! Benar-benar seperti ibunya. " Lastri istri wiguna tak mau kalah.

__ADS_1


" Jaga bicaramu Nyonya!! Jangan menyebut ibuku sembarangan!!! Kalau bukan karena kebaikan hati ibuku, kau hanya seorang pengemis. " Lian mengarahkan jari telunjuk nya kearah Lastri.


" Jaga sikapmu. Kau tau sekarang kau tak akan bisa melawan kami bocah tengik! " Wiguna yang geram karena Lian menunjuk-nunjuk istrinya pun membentak kearah gadis itu.


" Hahahha bahkan kau yang sepertinya sangat takut padaku Paman!! Kau bahkan mengusik Rumah kecil peninggalan nenek yang sekarang aku tempati!!! " Lian


" Itu adalah milikku jadi bukankah terserah padaku. " Wiguna


" Itu milik ibuku! Seperti juga rumah ini juga milik ibuku yang kalian manipulasi. " Lian meninggikan suaranya karena merasa geram dengan perkataan Wiguna.


" Hey bocah terserah apapun yang kau katakan! Yang jelas rumah itu adalah milik ku. Dan aku sudah menjualnya pada seorang pemilik baru. Jadi kalau kau ingin rumah itu datangilah orang yang membelinya. " Wiguna


" Huh!!! Baiklah ambillah semua yang menjadi milikku dan keluargaku Wiguna!!! Kau kan memang tidak berguna dan tidak bisa menghasilkan harta sendiri. Jadi memang lah kau harus pandai menipu orang bukan?? " Lian


" Jaga mulutmu!! Atau aku akan melakukan sesuatu yang bahkan tidak akan bisa kau bayangkan!! " Wiguna


" Lakukan lah apa yang ingin kau lakukan selagi kau bisa. Karena aku akan membalaskan dendam ku pada kalian semua! " Lian


" Hahahahahahahaha.... Dasar bocah sinting!!! Kau tau kau itu sama bodoh nya dengan ayahmu itu. Sebelum kau balas dendam pada kami mungkin saja kau akan mati bunuh diri seperti ibu mu karena tak bisa melawan kami. Di tambah kau sudah memprovokasi seseorang yang bahkan tidak sebanding dengan mu!! " Wiguna


" Kau boleh sombong sekarang Wiguna!!! Tapi aku Berlian Putri Leksmana bersumpah atas nama Ayah dan Ibu ku, Aku akan membalas kan kalian semua perbuatan kalian pada keluargaku. " Setelah berkata seperti itu Lian langsung berbalik badan dan berjalan dengan cepat meninggalkan Rumah Wiguna.


" Huh!!! Dasar bocah tak tau diri, apa dia pikir bisa melawanku? " Wiguna berkata dengan sombong nya.


Sementara itu Lian yang sudah keluar dari rumah Wiguna berjalan tak tentu arah dan tak tau hendak kemana. Pikiran nya berkecamuk, memikirkan banyak hal yang menimpanya belakangan ini.


" Yoga!!! Aku butuh kamu Yo. Tapi kalau kamu tau semuanya, apa kamu masih sudi berada di dekatku??? "


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2