Sebuah Rasa (Berganti)

Sebuah Rasa (Berganti)
3. Ketakutan


__ADS_3

Lian berusaha tetap tersenyum dan menutupi hatinya yang kecut, melihat pemandangan yg tidak jauh darinya.


Yoga dan Aline terus saja bermesraan! bahkan Yiga mendudukan Aline di pangkuan nya, membuat Lian rasanya ingin menangis. *M*engapa kau sekejam ini yoga? Lian


Cindy yang mengerti perasaan sahabat nya pun menyentuh tangan Lian.


" Li kita pulang aja yuk! " ajak Cindy


" Gue gak papa kok Cin, lagian Yoga kan sepupu lu. Masak lu mau ninggalin acara dia sih! " sahut Lian berusaha tersenyum " Lagian gue yang salah kok, Yoga kan emang gak ngundang gue tapi gue! Yang keganjenan dateng tanpa mikir dua kali. " Tambah Lian.


Cindy yang mendengar ucapan sahabat nya pun merasa bersalah, Karena telah mengajak Lian datang. Dan karena itu, Lian harus menyaksikan pemandangan yang pasti membuat nya sangat sakit. Cindy sangat tau, bagaimana perasaan Lian pada Yoga.


Cindy yang geram pun beranjak dari tempat duduk nya.


" Lu tunggu disini ya Li, gue mau kesana dulu ." ucap Cindy pada Lian.


Lian yang memang pikiran nya sedang berkecamuk hanya bisa mengangguk tanpa berekspresi.


Cindy kemudian menghampiri Yoga dan menarik tangan nya.


" Permisi, lu berdiri dulu deh! gue mau ngomong sebentar sama Yoga. " seru Cindy pada Aline.


Aline yang juga tau kalau Cindy adalah sepupu Yoga, dan mereka sangat dekat pun berdiri. Setelah Aline berdiri Cindy segera menarik Yoga untuk mengikuti nya berjalan sedikit jauh dari keramaian teman-teman mereka yang lain.


" Yo lu apaan sih? ngapain coba lu mesra"an sama Aline di depan Lian? " Cindy bertanya dengan nada tak ramah.


" Lah emang kenapa Cin? emang Lian siapa gue? kenapa lu ngelarang gue mesra"an sama Aline cuma karena Lian? " sengit Yoga tak mau kalah.


" Lu kan tau Yo Lian itu suka sama lu dari SMA, lu hargain dikit kek perasaan dia !! lagian, lu sama Aline gak mungkin pacaran. Lu pasti cuma sengaja biar Lian cemburu dan sakit hati kan? " Seru Cindy pada sepupunya yang tengik itu.


" So what?? mau gue pacaran atau enggak sama Aline. Emang apa hubungan nya sama si Berlian palsu itu? mendingan lu kasih tau deh sama dia, gue muak liat muka dia! gak tau malu banget kemana-mana ngintilin gue. " ucap Yoga bengis " Lagian gue gak ada ngundang dia kan? ngapain lu bawa dia kesini? merusak suasana aja "


" Keterlaluan banget sih lu Yo, gue sumpahin lu bakalan nyesel dan bucin sama Lian ampek lu nguber-nguber Lian terus. " Ucap Cindy penuh penekanan, karena emosinya sudah di ubun-ubun.


" Jihhh najissss " Sentak Yoga.


Cindy kemudian berlalu meninggalkan Yoga dan menghampiri lian.


" Li, kita balik sekarang "Ujar Cindy menyaut tangan Lian.


" Loh kenapa Cin? " Tanya Lian kebingungan.


" Udah ayo, gue males disini " Jawab Cindy sambil terus berjalan menuju parkiran.


Cindy kemudian memasuki mobil diikuti Lian, mereka meninggal kan caffe Yoga denganperasaan jengkel.


Di jalan Lian sesekali melirik Cindy yang terlihat kesal. Lian tidak berani bertanya apa-apa, Karena Lian sangat tau sifat sahabatnya itu. Saat mereka tenggelam dengan pikiran mereka masing-masing, tiba-tiba ponsel Lian berdering.


" halo Ma " sapa Lian sesaat setelah mengangkat telpon.


" Sayang, cepat kamu ke rumah sakit Saint Peter, papa mu tiba-tiba pingsan. Sekarang mama ada di rumah sakit. " Santy berkata histeris.

__ADS_1


" Apa Ma? kok bisa Ma? yaudah Lian kesana sekarang, Mama tenang dulu ya ma? " sahut Lian tak kalah panik.


" Ada apaan Li?kok lu panik bgt? " tanya Cindy bingung


" Cin anterin gue ke rumah sakit Saint Peter sekarang. bokap gue di larikan kesana. " sahut Lian histeris.


" hah? Om Hadi kenapa Li? " Cindy


" Gue gak tau mama gak jelasin apa-apa " Lian


" Oke Li, kita kesana sekarang. Lu tenang dulu. " Cindy berusaha menenangkan Lian yang sudah sangat cemas dan panik


Setibanya di Rumah Sakit


Lian dan Cindy berlarian di lorong Rumah sakit menuju ke kamar tempat Hadi di rawat. Mereka mengetahuinya setelah bertanya pada resepsionis di depan.


" Ma " Ujar Lkan setelah sampai dan melihat mama nya duduk memegang tangan Hadi.


" Lian " Santy beranjak memeluk Lian sambil menangis.


" Papa kenapa Ma? " tanya Lian memandang Santy


" Kata dokter papa kamu kenak serangan jantung nak, untung papa mu cepat di larikan ke rumah sakit kalau tidak....." sahut Santy terpotong dengan tangisan nya.


" Shuuuuttt Mama jangan ngomong yang aneh-aneh Ma, yang penting papa udah baik- baik aja kan? Maaf tadi jalanan macet banget jadi Lian lama sampainya Ma. "


" Iya sayang, kata dokter papa udah lewatin masa kritis. Tapi papa belum juga sadar Li. " ucap Santy pada Lian.


" Paa....Pa ini Lian Pa " seru Lian lembut " Pa bangun Pa " lanjut Lian kembali.


Dan ajaib nya begitu Lian mengatakan seperti itu, Hadi mengerjapkan matanya kemudian tersadar dari tidurnya.


" Lian " ucap Hadi memandang putrinya.


" Papa , Papa bangun Pa? " jawab Lian senang.


" Papaa " sahut Santy juga


" Mama " Hadi


" Lian pencet tombol panggil Dokter nak! "


Lian segera memencet tombol di dinding atas hadi berbaring. Tak lama setelah itu dokter dan satu orang perawat memasuki kamar perawatan Hadi.


" Permisi nyonya, kami akan memeriksa keadaan Tuan Hadi. " Dokter


" Silahkan Dok " Santy


Dokter pun memeriksa Hadi dengan seksama menggunakan stetoskop seperti biasa.


" Syukurlah Pak Hadi sudah siuman dan Irama jantung nya sudah kembali normal, namun untuk sementara waktu Pak Hadi harus di rawat di rumah sakit agar bisa kami awasi. "

__ADS_1


" Baik Dok, lakukan yang terbaik. " Sahut Santy.


" Berapa lama saya harus di rawat Dok? " Timpal Hadi.


" Tergantung Pak! Malam ini kami akan mengawasi irama jantung Bapak, bila kami rasa normal mungkin besok Bapak sudah bisa pulang." sahut Dokter itu. " Sebaik nya jaga pola makan, dan jangan berpikir terlalu berat Pak! " sambung Dokter itu lagi.


" Baik Dok kami akan memastikan itu " sahut Lian meyakinkan.


" Baiklah kami permisi dulu "


Dokter itu berpamitan


Lian yang teringat Cindy, kemudian berjalan menghampiri Cindy.


" Cin sorry ya gue baru inget ada lu disini , dan makasih nganter gue kesini " Kata Lian


" No problem Li, gue ngerti lu panik. Yaudah gue permisi balik dulu ya? Tante, Cindy pulang dulu ya? Ujar Cindy pada Santy


" Iya sayang, makasih udah anter Lian ya? " Jawab Santy


" Kan tadi emang Lian lagi sama Cindy Tante, jadi santay aja. Om cepet sembuh ya?" Cindy


Hadi hanya tersenyum dan mengangguk


" Ayo gue anter Cin " Lian


" Udah gak usah. Lu disini aja! Gue gak akan nyasar keles , dah ahhh daaaaa. " Cindy


" oke deh! daaaa " Lian


Setelah kepergain Cindy Lian berjalan mendekati papanya


" Pa....Lian kan udah bilang papa kecapek an banyak kerja lembur! " Lian berkata seraya mengusap tangan papa nya


" Iya Pa bener kata Lian, Papa buat mama takut tadi pa!! " Kata Santy sambil kembali menangis.


Hadi tersenyum kepada anak dan istri nya


" Papa gapapa ko. Papa janji lebih perhatiin kesehatan kedepan nya. " Ucap Hadi meyakinkan.


" Janji ya Pa? jangan buat Lian sama mama ketakutan lagi?" Tanya Lian


" Iya sayang papa janji "


Hadi berusaha tersenyum, walaupun sebenernya dia sedang menyimpan beban dan sebuah ketakutan dalam hatinya.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2