Sebuah Rasa (Berganti)

Sebuah Rasa (Berganti)
32. Cinta Eky


__ADS_3

Keesokan harinya di kampus


Lian baru saja sampai di depan gerbang kampusnya. Seperti biasa Gadis itu datang menggunakan Ojek Online. Lian menghela nafas sejenak, meyakinkan diri. Saat dirinya memasuki area kampus, terdapat banyak mahasiswa yang berlalu lalang. Kehadiran Lian seketika membuat suasana berubah. Para mahasiswa itu memandang Lian dengan tatapan yang berbeda-beda. Beberapa diantara mereka saling berbisik dan bahkan tertawa. Lian berusaha mengabaikan hal itu dan tetap tenang, Namun nampaknya butuh usaha yang sangat keras.


" Wow!! Lihat siapa ini? " Ujar Aline yang tiba-tiba saja sudah menghadang di depan Lian. Wanita itu muncul bersama Anggi.


" Ini artis baru yang sedang Booming itu kan Line?? " Anggi menimpali ucapan Aline. Mereka berdua kemudian tertawa bersama.


" Eh muka lu lagi ada dimana-mana tuh sekarang. " Aline kembali menghardik Lian.


Lian berniat mengacuhkan mereka dan pergi begitu saja, namun lagi-lagi Aline menghadang tepat di depan nya.


" Eitss!! Mau kemana? Buru-buru amat sih? " Ujar Aline.


" Mau lu apaan sih? " Lian yang sudah kehilangan kesabaran pun akhirnya membuka mulut.


" Wah wah wah masih ada nyali lu? " Aline merasa tak terima karena Lian berteriak kearahnya.


" Emang nya kenapa gue harus takut sama lu? Gue gak ada urusan atau hutang sama lu! Dan soal bangkrutnya keluarga gue, gak ada untumg ruginya kan buat lu! Jadi jangan ganggu gue! " Lian berbicara dengan lantang kearah Aline, dengan sorot mata tajam.


" Eh!! Jelas ada lah ruginya buat gue. Karena kampus tempat gue belajar jadi gak steril! Kemasukan gembel kayak lu. " Aline mengarahkan jari telunjuknya kearah dada Lian. " Pakek sembunyi lagi kalau bangkrut!! "


" Eh Aline! Emang yang punya kampus ini Lu? Selama ini walaupun gue udah miskin gue tetep bisa kok bayar kuliah gue jadi gak ada masalah kok!! Masalah gue mau sembunyi-sembunyi kek, terang-terangan kek itu urusan gue. Minggir lu! " Lian kemudian berjalan meninggalkan Aline, menabrak pelan lengan wanita itu.


Melihat Lian yang mengacuhkan dan meremehkan peringatan nya, membuat Aline sangat geram.


" Awas aja lu Lian! Gue gak akan pernah biarin lu hidup tenang! " Ucapnya seraya mengepalkan kedua tangan nya.


~


Lian terus berjalan menuju ruang kelasnya. Tak peduli dengan para mahasiswa yang terus saja mengoloknya di sepanjang jalan. Gadis itu membanting dirinya diatas kursi yang terletak di pojok belakang. Merasa sangat lelah Lian menelungkupkan kepalanya keatas meja.


Cukup lama Lian tenggelam dengan pikiran nya sendiri. Hingga dirinya bahkan tidak sadar saat seseorang sudah duduk disebelahnya dan mengelus lembut kepalanya. Seketika Lian langsung berdiri dan meloncat karena terkejut.


" Sorry sorry!! Gue ngagetin lu ya? " Ucap Eky dengan panik sembari menangkupkan kedua tangan nya.


" Eky?? Ya ampun gue kira apaan!! "


" Sorry! Gue kira lu tidur!!! "


" Huuuuffft kaget gue!! " Lian kembali duduk sambil terus mengelus dadanya.


" Sorry ya Lian!! " Ucap Eky, sekali lagi meminta maaf.

__ADS_1


" Oke gapapa kok! " Sahut Lian sambil tersenyum tipis.


" Emmm Lian!! Gue baru tau kemaren pas liat di TV, soal orang tua lu! Lu yang sabar ya? Dan gue turut berduka. "


Lian terdiam sejenak mendengar ucapan Eky, menarik nafas sejenak dan kembali tersenyum.


" Makasih ya Ky!! Jujur gue surprise banget, karena ternyata masih ada yang mau ramah sama gue setelah tau yang sebenarnya. Dan makasih juga, lu mau ngucapin bela sungkawa buat ortu gue! "


Eky kemudia meraih tangan Lian, menggenggamnya dengan erat.


" Lian!! Gue sama sekali gak percaya sama skandal bokap lu. Gue yakin bokap lu cuma korban. Dan lu harus tau lu masih bisa nyari gue, kalau suatu saat lu butuh bantuan. " Ucap Eky, lelaki itu memandang tepat pada mata Lian.


Lian yang merasa tidak enak dan risih segera menarik tangan nya, agar terlepas dari genggaman Eky.


" E makasih ya Ky!! Makasih karena tetep mau temenan sama gue! "


" Lian!!! " Cindy berteriak kencang, gadis itu memasuki kelas dan segera menghampiri Lian.


" Lian! Lu gapapa? Gue telponin lu dari semalem, hp lu gak aktif-aktif!! Gila lu ya? kagak ada lu sama sekali ngabarin gue!! " Cindy terus saja memekik kearah Lian.


" Cindy gue baik-baik aja! Sorry semalem gue beneran pusing Cin!! "


Cindy berhambur memeluk Lian, merasakan kesedihan dan penderitaan yang di tanggung oleh sahabat baiknya itu. Cindy tanpa terasa meneteskan airmata.


" Gu-gue kessel sama lu, lu gak seharusnya nanggung semua beban lu sendiri! Lu masih nganggep gue kan Li? Kenapa lu gak dateng ke rumah gue? Gue juga gak tau sekarang tempat lu dimana? Lu sama sekali gak ngasih tau gue! " Cindy berbicara dengan terbata-bata karena tidak berhenti menangis.


" Ooohhh Cindy! Gue minta maaf. " Lian kembali memeluk Cindy. Merasakan betapa beruntungnya dirinya memiliki sahabat seperti Cindy. " Gue cuma gak mau bikin lu khawatir Cin! " Ucap nya kemudian.


" Lu malah bikin gue makin khawatir! Lu tau gak gue gak bisa tidur semaleman mikirin lu! "


" Makasih ya Cindy. " Mereka semakin mempererat pelukan mereka, tanpa peduli pada Eky yang merasa teracuhkan di dekat mereka.


" Eh udah dong pelukan nya, mana gak ngajak-ngajak lagi. Bentar lagi dosen masuk loh! " Ucap Eky.


Benar saja tak lama teman-teman mereka yang lain terlihat mulai memenuhi kelas dan dosen pun datang.


Lian menyapukan pandangan nya ke seisi kelas, mencari seseorang. Namun orang yang di carinya tak nampak batang hidung nya sama sekali hari ini.


" Ssst Lu nyari Yoga? " Cindy yang melihat Lian celingukan tak dapat menahan diri untuk bertanya.


" Iya! " Jawab Lian singkat.


" Kayak nya dia gak kuliah hari ini. "

__ADS_1


Lian menghela nafas panjang. Sangat jelas dia kecewa, karena Yoga tidak datang ke kampus.


" Pasti dia malu, dan yang jelas dia pasti menghindariku. "


Kelas berlalu. Lian terlihat enggan beranjak dari kursinya.


" Steve, Yoga kemana? " Aline berbicara dengan lantang kearah steve. Tentu saja dia sengaja berbicara dengan keras agar dapat terdengar oleh semua orang di dalam kelas.


" Gak tau gue! Dari kemaren kagak bisa di hubungi!! " Sahut Steve.


" Aduuhhh!! Pasti si Yoga lagi males ke kampus gara-gara seseorang deh Steve. Pasti dia malu!! Kita ke rumah dia aja yukk samperin dia! " Ujar Aline, berusaha membuat Lian panas.


" Boleh!! Gue juga emang pengen kesana! " sahut Steve.


" Eh gue ikut! " Daniel juga menimpali obrolan mereka.


" Oke!! Kita ketemu disana! "


Steve dan Daniel pun berlalu meninggalkan kelas. Aline menoleh kearah Lian, melemparkan senyum mengejek dan meremehkan. Lalu pergi menyusul Steve dan Daniel.


" Lu gak usah perduliin dia Li!! Gue yakin Yoga cuma ada urusan penting sekarang. " Ucap Cindy berusaha menghibur Lian yang terlihat sedih.


" Iya Lian, gue kenal banget sama Yoga. Dia bukan tipe cowok banci. Kalau pun dia udah gak mau sama lu lagi atau mau ngejauhin lu, dia pasti terang-terangan. " Eky menambahkan, berusaha membantu Cindy menghibur Lian.


" Kalian tenang aja. Gue gak papa kok. Gue mau pulang dulu ya? "


" Gue anterin lu ya? " Eky berusaha menawarkan diri.


" Gak usah Ky! Lian sama gue aja!! Ayo Li. " Cindy dan Lian berlalu meninggalkan kelaa meninggalkan Eky sendirian.


Eky memandangi punggung Lian sampai gadis itu menghilang di balik pintu kelas.


" Gue gak nyangka!! Awalnya Gue kira, gue cuma tertarik karena lu cantik! Tapi sekarang gue baru sadar kalau gue jatuh cinta sama lu Lian! Rasanya sakit banget pas liat lu sedih kayak gini. " Eky bergumam kecil. " Yoga!! Gue harap lu lepasin Lian! Jadi gue gak perlu sungkan lagi!! "


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2