
" Lalu apa anda tau siapa selingkuhan Pak Hadi Wijaya? dan kenapa dia melakukan ini semua? Eh maksud saya menipu Ayah anda? " Wartawan
" Saya tidak tau! Saya juga tidak yakin Papa saya punya selingkuhan! Biar saya jelaskan apa yang saya tau. Apakah ada bukti jika Papa saya punya selingkuhan? Misalnya sebuah foto! yang saya tau sebelum Papa saya meninggal memang beliau sedikit murung karena masalah di perusahaan. Kemudia pada tanggal 12 September tahun lalu saya di beritahu kalau Papa saya terkena serangan jantung dan meninggal. Saya dan Mama sangat terpukul kami berdua menangis bersama sampai saya berkali-kali pingsan Mama masih menemani saya. Tapi ntah apa yang terjadi tiba-tiba Mama saya bunuh diri dan meninggalkan sebuah surat untuk saya. " Lian menghela nafas sejenak karena merasakan air mata nya akan membuncah ketika mengingat kejadian yang sangat menyakitkan itu. Setelah bisa mengendalikan diri, dia lalu melanjutkan perkataan nya. " Dari surat itu saya mengetahui kalau Mama saya baru saja sangat terpukul karena mengetahui Heri asistent Papa saya mengubah seluruh hampir sebagian besar saham perusahaan Papa saya dengan modal kepercayaan Papa saya. Dengan harapan dia akan melindungi saya dan Mama. Dan Saham atas nama Mama dan atas nama saya juga sudah di kuisi oleh Paman saya sendiri adik satu-satunya dari Mama saya. Itu membuat Mama saya kecewa dan memutuskan menyusul Papa saya. Beliau juga mengatakan kalau beliau masih merawat Rumah masa kecil nya yang juga merupakan Rumah peninggalan Nenek saya. Jadi saya bisa pulang kesana kalau Heri dan Wiguna mengusir saya. "
" Jadi apa tujuan anda datang kesini sekarang Nona? " Wartawan
" Rumah kecil yang sekarang saya tempati itu, ternyata tidak luput dari sasaran mereka. Mereka tiba-tiba mengatakan saya harus meninggalkan Rumah itu karena mereka sudah menjualnya kepada seseorang. Saya sebenarnya sudah tidak akan membuat masalah dan bahkan saya sudah berkemas untuk pindah ke sebuah Rumah kontrakan sore ini. Tapi melihat berita yang beredar tentang Papa, Saya merasa tidak terima. Pesan saya untuk kalian semua, Silahkan nikmati harta yang bukan milik kalian. Yang kalian rebut dari keluargaku, tapi ingat suatu hari kalian akan menerima balasan yang setimpal. " Lian berkata dengan mantap lalu menangkupkan kedua tangan nya. " Sudah cukup! Maaf saya harus pergi. " Gadis itu kemudia segera berlalu.
Para wartawan bahkan tidak sempat berekspresi atau mengejar karena sibuk mencerna keterangan Lian dan mencatat nya.
Sementara itu Heri yang tau Lian sedang di wawancara oleh para wartawan, sebenarnya ingin menghentikan gadis itu. Namun sang asisten menghentikan nya karena hal itu bisa menimbulkan kecurigaan banyak orang. Bila dirinya terlihat takut. Apalagi beberapa diantara para wartawan itu berasal dari stasiun Televisi dan acara Live.
" Gadis itu mengira dengan menggiring opini public bisa mendapatkan dukungan untuk melawan ku? Yang benar saja! Memang nya kenapa kalau orang tau aku merampas ini semua dari Hadi! Bukan kah tetap saja sekarang aku lah pemilik sah Leksmana Grup. " Ucap Heri pada dirinya sendiri.
*******
Yoga baru saja memasuki Rumahnya, di sambut oleh beberapa pelayan yang lalu mengambil kuliahnya.
__ADS_1
" Mama dimana pak sam? " Tanyanya pada kepala pelayan itu.
" Nyonya sedang berada di Ruang Keluarga Tuan Muda. "
Mendengar jawaban sang pelayan, Yoga segera melangkahkan Kakinya menuju ke Ruang yang di maksud pak sam. Ketika sampai Yoga mendapati sang Mama tengah sangat berkonsentrasi dengan Tayangan di Tv. Yoga awalnya berniat mencium Pipi Mamanya lalu pergi, tapi melihat tayangan di Tv mebuat nya mematung di tempat.
Layar televisi besar itu menampilkan Sosok Gadis yang beberapa hari ini resmi menjadi Kekasihnya, Lian. Terlihat Lian menjawab setiap pertanyaan Wartawan dengan suara tercekat dan ekspresi yang sangat kentara kalau Gadis itu berusaha terlihat tenang.
Yoga mendengarkan dengan seksama setiap perkataan Lian. Membuat sekujur tubuh nya menegang. Yoga mengepalkan tangan nya erat.
" Tua muda......" Pak sam yang melihat Yoga terus berjalan dengan tergesa-gesa tanpa memperdulikan perkataan nya pun merasa terheran-heran. Pria tua itu mengeleng-gelengkan kepalanya.
Sedangkan Yoga sama sekali tidak memperdulikan hal-hal disekitarnya. Dia segera melajukan Mobilnya keluar dari pekarangan Rumah mewah itu. Yoga melajukan mobil nya dengan sangat kencang tidak memperdulikan makian dari para pengguna jalan lain.
Setelah Sekitar satu jam mobil Yoga memasuki daerah perumahan kecil didaerah K. Lelaki itu terlihat mengengok kanan kiri, sibuk menajamkan penglihatan nya mencari sesuatu. Hingga akhirnya matanya menangkap sosok Lian yang tengah menyeret koper besar dengan susah payah menuju sebuah taksi. Yoga tidak bergeming, dia hanya terus memandangi Lian yang sibuk bolak balik memindahkan beberapa barang dari sebuah Rumah kecil kedalam taksi. Hingga akhirnya gadis itu pergi bersama taksi itu. Yoga pun memutuskan mengikutinya dari belakang dengan jarak aman, agar tidak terlihat.
Taksi itu berkendara selama 30 menit dan berhenti di sebuah Rumah yang jauh lebih kecil dan buruk dari Rumah pertama tadi. Terlihat Lian turun dari taksi kemudian membuka kunci Rumah itu. Dan Lian dibantu seorang laki-laki yang merupakan supir taksi mulai sibuk mengeluarkan barang-barang yang tadi di bawanya dari Rumah pertama.
__ADS_1
Yoga hendak beranjak keluar dari mobil nya namun gerakan nya berhenti seketika. Ntah apa yang terjadi dengan nya. Hingga sampai Lian menyelesaikan semuanya dia tetap tak bergeming. Memandang Rumah yang baginya sangat tidak layak itu dengan Tatapan yang sulit diartikan.
Hingga akhirnya dirinya dikejutkan dengan dering telpon nya. Terlihat Nama Papa muncul di layar ponsel Yoga, membuatnya segera menekan tombol hijau dan mendekatman benda itu ke telinganya.
" Hallo! Iya Pa? "
" APA???? "
" Oke oke Pa Yoga pulang sekarang! "
Yoga segera meninggalkan tempat itu setelah menerima telpon dari Papanya. Tanpa menyadari Seorang Gadis mengintainya dari balik jendela Sebuah Rumah kecil yang sejak tadi di perhatikan nya. Ya Gadis itu adalah Lian.
Lian sudah menyadari keberadaan Yoga sejak di perjalanan tadi. Lian sangat mengenal mobil Yoga itu. Dirinya tidak tau pasti sejak kapan Yoga mengikutinya. Dia sengaja pura-pura tidak tau dan bersikap biasa saja. Ada sedikit harapan di hatinya, bahwa Yoga akan turun dari mobil nya dan memeluknya. Mengatakan kalau dirinya sudah tau semua dan tidak mempermasalahkan semua nya. Namun harapan nya pupus, karena bahkan sampai akhir Yoga hanya melihat nya dari kejauhan dan tak menghampirinya.
" Apa kamu kecewa Yo? Apa setelah ini kamu akan ninggalin aku? " Air mata Lian yang di tahan nya sejak tadi tumpah sejadi-jadinya.
Gadis itu merosot kebawah dan memeluk lututnya erat. Menenggelamkan kepalanya disana, menumpahkan air matanya yang sudah tak bisa di bendung lagi.
__ADS_1