
Sesampai nya di depan pintu ruangan manager Restoran X, Lian menghela nafas panjang. Menata kembali keberanian nya yang berlarian sejak dari tadi.
Tok tok tok
Lian mulai mengetuk pintu. " Masuk!! " Terdengar seseorang menyahut dari dalam.
Lian membuka pintu perlahan " Permisi pak!! " Ucapnya.
" Silahkan duduk!!! " Ujar sang menager pada Lian.
Lian mendudukan dirinya tepat di kursi yang berhadapan langsung dengan sang manager.
" Kamu tau kenapa saya memanggil mu kesini? " Pak Doni bertanya dengan tegas.
" Ma-maafkan saya pak!! " Lian menunduk kan kepalanya.
" Saya tidak butuh kata maaf dari kamu!! Saya tidak peduli dengan aktifitas kamu di luar jam kerja kamu di Restoran ini. Kalau pun kami datang kesini saat diluar jam kerja kamu, saya tidak masalah! Tapi kamu meminta ijin kepada saya untuk tidak bekerja, lalu kemudia kamu datang sebagai tamu disini? Apakah kamu tidak ingin memundurkan diri saja? " Perkataan itu dilontarkan sang manager dengan nada penuh penekanan.
" Tidak pak! Tidak!! Saya tidak mau memundurkan diri pak. Maafkan saya pak! Saya masih mau bekerja disini pak!! " Lian sudah sangat cemas mendengar perkataan sang manager.
" Saya tidak bisa menentukan apakah kamu bisa tetap bekerja disini atau tidak. Tapi ada seseorang yang bisa menentukan hal itu. "
" Hah?? Maksud bapak? " Lian bertanya kebingungan.
Tok tok tok
" Ah itu dia! Sebentar. " Sang menager lalu berdiri dari duduk nya, membukakan pintu untuk seseorang yang menunggu di balik pintu.
" Silahkan masuk Nona! " Ucapnya kemudian.
Lian yang melihat siapa yang masuk ke ruangan itu membelalakkan matanya. " Aline!! Anggi!! "
" Sopan lah sedikit. Nona Anggi ini adalah putri dari bapak Johan pemilik Restoran ini. " Sang manager menatap Lian tajam.
" Apa??? " Lian tak bisa mempercayai apa yang ia dengar. Betapa bodohnya dia, sampai-sampai dia lupa kalau campus nya adalah campus Elit. Tempat anak-anak orang kaya raya di negara nya melanjutkan pendidikan. Tentu saja tidak heran kalau Restoran-restoran besar, Gedung-gedung menjulang, Hotel-hotel berbintang di kota nya mungkin saja merupakan milik salah satu keluarga teman nya.
" Kenapa Lian? Lu kaget? " Anggi berkacak pinggang kearah Lian.
" Sok-sok an lu ngedektin Yoga! Ternyata lu cuma pelayan? " Timpal Aline kemudian.
Lian hanya terdiam, seakan tak dapat mencerna apa yang diucapkan oleh kedua gadis di hadapan nya itu.
" Pak Doni, bisa tinggalkan kami bertiga? " Anggi berbicara kepada Doni.
" Tentu saja Nona. Saya permisi. " Ucap Doni lalu berlalu meninggalkan Ruangan itu.
__ADS_1
Setelah kepergian Sang Manager Restoran, Aline dan Anggi langsung menyerang Lian mulut tajam mereka.
" Heh!! Lu itu bener-bener gak tau malu ya? Pantes aja lu sama teman lu itu aneh banget. Ternyata emang ada sesuatu yang kalian sembunyikan ya? " Ucap Aline.
" Gimana kalau kita panggil temen-temen kesini? " Ucap anggi.
" Oke. Kayaknya akan jadi tontonan menarik. " Timpal Aline. " Gue pingin liat ekspresi Yoga! " Sambungnya kemudian.
Mendengar nama Yoga, Lian segera tersadar dari lamunan nya.
" Tapi tunggu!! Kayaknya ini gak akan seru lagi kalau kita bocorin. Gimana kalau kita tetap Rahasiain aja " Ucap Aline.
" Ngapain kita rahasiain sih Line? Kita langsung buka aja topeng cewek kecentilan ini!! " Anggi menunjuk Lian dengan jari tengahnya.
" Tenang dong Anggi. Kita bikin persepakatan aja sama dia. Gimana? Ucap Aline sembari menunjuk Lian dengan gerakan kepalanya. " Gimana Lian? " Ucapnya melempar pertanyaan kearah Lian.
" Kalian mau apa sebenernya? " Balas Lian tegas.
" Du du duh.... Udah miskin masih aja sombong lu! " Aline mencibir Lian. " Eh waktu keluarga lu masih kaya aja gak bisa nandingin keluarga gue. Apalagi sekarang! Jadi jangan belagu!! "
" Iya apalagi orang tua lu udah mati! " Sahut Anggi membuat Lian semakin terpana. Mereka sudah tau semuanya! Ya tuhan bagaimana nasibku selanjutnya? Lian berujar dalam hati.
" Kenapa? Lu kaget kita tau? Eh buat orang kaya semua hal itu gampang! " Ucap Aline lagi.
" Gue mau lu jauhin Yoga! " Ucap Aline.
" Kalau gue gak mau? " Lian.
" Hahahaha....Gue bisa jamin lu gak akan berani nolak!! Atau lu mau kehilangan rumah kecil lu itu juga? " Aline.
" Apa??? Maksud lu apa? " Lian.
Aline mengeluarkan sebuah kertas dari dalam tasnya, dan menyodorkannya di hadapan Lian. " Lu liat aja sendiri. " Walaupun ragu, Lian meraih kertas tersebut tersebut.
Setelah melihat apa yang ada di kertas itu, wajah Lian memucat. Tangan nya bergetar hebat hingga kertas itu terjatuh ke lantai.
" Sekarang lu tau kan? Lu bukan tandingan gue. Gue kasih lu dua pilihan, tinggalin Yoga atau tinggalin rumah itu!! " Aline
" Lu? Gimana bisa? " Lian tak bisa berkata-kata. Pikiran nya dipenuhi banyak pertanyaan dan bayangan-banyangan mengerikan tentang kehidupan nya di masa depan.
" Lu bisa pikirin dulu. Gue kasih waktu lu sampai besok! Oke. " Aline mengajak Anggi untuk keluar dari ruangan itu. Namun tepat ketika Aline membuka pintu, Hp ditangan Lian berdering. Tertulis nama Yoga di panggilan masuk.
Aline membalikkan badan nya menatap Lian yang juga sedang menatap nanar layar Hpnya.
" Siapa? Yoga??? " Tanya Aline kemudian. Lian hanya diam saja tak berniat menjawab pertanyaan Aline.
__ADS_1
" Pikirin perkataan gue! Gue akan minta Anggi ngurus ijin lu, jadi lu bisa libur kerja hari ini. Tapi saran gue lu gak perlu balik lagi ke tempat temen-temen ngumpul. Atau gue bakalan bikin lu gak punya muka lagi buat pergi ke kampus. " Aline tersenyum penuh kemenangan. Lalu berlalu meninggalkan Lian yang mematung sendiri di ruangan itu.
*******
Sementara itu
Yoga dan Cindy yang merasa aneh karena Lian sangat lama pergi keluar memilih menyusul Lian. Karena tidak menemukan Lian di luar, Yoga meminta Cindy memeriksa di toilet dan tetap saja nihil. Mereka berdua kebingungan. Apalagi Lian sama sekali tidak mengangkat telpon dari mereka berdua. Kini mereka sudah kembali mondar mandir di depan Ruangan VIP tempat teman-teman mereka berkumpul.
" Aduh si Lian kemana sih? " Cindy berkata dengan cemas. " Yo lu sadar gak sih? Si Anggi sama Aline juga gak ada dari tadi? Di toilet juga mereka gak ada. Apa mereka nyulik Lianya? " Ucap Cindy pada yoga.
" Jangan aneh-aneh deh lu. " Yoga menjawab dengan ketus. Cindy membuatnya semakin khawatir.
" Apa dia pulang ya? Soalnya kan dari tadi dia kayak gelisah gitu? Lu kan deket tuh sama dia, apa mungkin orang tua dia gak ngijinin dia keluar? " Yoga bertanya kearah Cindy.
" Enggaklah! Orang tua dia kan udah gak ada. " Cindy yang sedang konsentrasi mengetik pesan di hp nya pada Lian tanpa sadat membalas ucapan Yoga.
" Apa???? Maksud lu? " Yoga memekik kearah Cindy. Tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan sahabatnya itu.
" Eh? Enggak! Anu maksud gue..... Ehh itu Aline sama Anggi!!! " Cindy menunjuk dua orang yang berjalan kearah mereka.
" Eh ngapain kalian di luar? " Ujar Aline setelah berada di hadapan Yoga dan Cindy.
" Lu dari mana? " Tanya Yoga yang malah melemparkan pertanyaan balik kearah mereka.
" Eh gue.... "
" Kalian pasti yang nyebab in Lian ngilang? " Belum sempat Aline menjawab pertanyaan Yoga, Cindy sudah menghujaminya dengan tuduhan mutlak.
" Eh? Apaan sih lu? Gue gak tau Lian kemana? Emang Lian kemana? Gue sama Anggi tadi dari Ruang Manager kalik. Lu gak tau kalau Restoran ini punya kakak nya Anggi? " Ujar Aline pada Cindy.
" Hah????? Serius Lu??? " Cindy tanpa sadar berteriak histeris kearah Aline.
" Apaan sih lu? lebay banget! " Ucap Anggi.
" Yo gue cabut dulu deh!!! Gue ada urusan mendadak. " Cindy dengan segera berlari kedalam Ruangan mengambil tas nya yang tadi ia tinggalkan. Lalu secepat kilat berlari menuju Parkiran. Yoga yang melihat hal itu ingin mengejar Cindy, namun di hentikan oleh Aline.
" Eh yo, ayo ah masuk. Nanti juga si Lian balik. " Ujar Aline menghadang Yoga.
.
.
.
.
__ADS_1