Sebuah Rasa (Berganti)

Sebuah Rasa (Berganti)
26. Menjatuhkan Lian (Part 1)


__ADS_3

Sesampainya di Restoran X, Lian belum beranjak untuk keluar dari mobil. Gadis itu meremas kedua tangan nya dan menggigit bibir bawahnya.


Ya tuhan aku tau cepat atau lambat hari ini akan datang, tapi aku sangat takut. Lian bergumam dalam hati.


" Sayang!!" Ntah sejak kapan Yoga sudah berdiri di luar mobil, membuka pintu di sebelah Lian dan menatap Lian heran.


" Eh??? eh iya. " Lian pun menarik nafas kemudian beranjak turun.


" Eh udah pada dateng semua? " Ucap Yoga ke arah teman-teman nya yang juga baru saja tiba.


" Udah lu terakhir emang. " Jawab salah satu diantar mereka.


" Oke deh yukk masuk, tadi gue udah reservasi. " Yoga menggenggam tangan Lian dan membawa nya masuk kedalam.


Sesampainya di dalam seorang gadis Pramuniaga menghampiri mereka. Lian menundukkan kepala berharap dia tidak terlihat. Cindy dengan sigap maju kedepan menutupi Lian agar tidak terlihat dengan gerakan yang sekiranya tidak membuat teman-teman nya curiga.


" Selamat Siang!! Ada yang bisa di bantu Tuan? " Sapa sang gadis Pramuniaga.


" Siang! Saya sudah reservasi tempat atas nama Yoga. " Tukas Yoga.


" Ooohhh baik mari saya antar ke ruangan nya. " Merekapun diantar menuju ke ruangan mereka. Lian dan Cindy masih berada di posisi yang sama, dengan Cindy yang berada tepat di depan nya. Semua itu tidak luput dari perhatian Aline.


" Heh, dasar sister complex! Lu mau coba nipu semua orang ya? " Gumam-gumam kecil karena merasa risih.


" Lian!!!" Dengan sengaja Anggi memanggil Lian dengan suara yang cukup kencang dan di dengar semua orang.


" Emmm?? " Lian, Cindy, Yoga dan semua teman-teman mereka menoleh kan pandangan kearah Anggi. Termasuk sang pramuniaga yang juga mengenal Lian.


" Eh, hehehe enggak kok tadi lu mau nginjek tali sepatu Cindy tuh!! Ngeri keserimpet deh gue si Cindy. ". Ujar Anggi.


" Iya lagian kalian ngapai sih? Jalan dempet-dempetan banget kayak apa aja!! " Sambung Aline menimpali.


" Eh??? " Semua orang menolehkan pandangan nya kearah Lian dan Cindy.


Sorot terkejut muncul di wajah sang gadis resepsionis yang bisa melihat wajah Lian dengan jelas kini.


" Loh?? " Pekik sang gadis resepsionis.


Lian menolehkan kepalanya dan melayangkan sorot mata memelas kearah teman seprofesinya itu, membuat gadis itu membungkam.


" Kenapa mbak? " Tanya Aline kearah sang pramuniaga.


" Ah? gak apa-apa Nona! " jawab gadis itu.


" Eh kalian ini masalah gituan aja di permasalahin!! kirain ada apa? " Yoga akhirnya membuka suara, karena sangat tidak penting menurutnya apa yang sedang terjadi ini. " Ayo mbak lanjut antar kami ke ruangan! " Sambung Yoga lagi.


" Ya!! Mari tuan. "


Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju ke ruangan yang sudah di reservasi oleh Yoga.

__ADS_1


" Silahkan Tuan-tuan dan Nona-nona!! Silahkan melihat-lihat menunya. " Ujar sang gadis pramuniaga kemudian. Dia melirik kearah Lian, membuat Lian semakin gusar.


" Sayang mau pesen apa? " Ucap Yoga lembut kearah Lian.


" Temen-temen pada pesen gih!!! Atau mau santai dulu. " Yoga berbicara kearah teman-teman nya.


" Pesen aja deh, nanti cepet pindah ke ruangan karaoke nya. " Salah satu teman mereka menimpali.


" Ruang karaoke ada di lantai 2 Tuan. " Sambung sang Pelayan.


Mereka pun sudah memesan makanan masing-masing.


" Nggi kapan? " Aline berbisik ke arah Anggi.


" Iya sabar! Gue keluar dulu deh! " Ucap Anggi. Kemudian gadis itu berdiri.


" Gue ke toilet dulu ya Line. " Ucap nya mengeraskan suara agar terdengar oleh yang lain.


" Iya. " Balas Aline singkat pura-pura terlihat biasa saja.


Anggi berjalan keluar dari ruangan itu. Menjauh dari sana dan mencari tempat sepi yang aman menurutnya. Saat sudah berada di Ujung Koridor yang berbatasan dengan taman kecil di tengah Restoran Anggi menelpon seseorang.


" Hallo!! "


" Yaudah cepetan kak!! Di Ruangan VIP Room Xxx "


Ucapnya lalu mengakhiri panggilan telpon. Dan berjalan kembali kedalam Ruangan tempat teman-teman nya berada.


" Gimana? " Aline bertanya kearah Anggi dengan berbisik, menunjukkan ketidak sabaran nya.


" Beres!! " Ucap anggi tak kalah pelan nya.


Mereka berdua tersenyum penuh arti.


Sedangkan Lian setelah melihat ekspresi teman nya atau pelayan tadi, dia menjadi semakin gusar. Tangan nya berkeringat meski berada di ruangan yang ber AC.


" Lu kenal sama pelayan tadi Li? " Tanya Cindy kearah Lian.


" Kenal lah Cin, itu temen gue!! " Ucap Lian. " Gimana dong? Harus nya begitu jadian gue langsung cerita nih sama Yoga. " Sambung Lian memelas.


" Udah Lu tenang aja! kita cepet-cepet makan aja. Nanti cepet ngajak Yoga balik. Biarin aja yang lain karaokean!! Nah nanti lu jelasin deh tuh sama si Yoga. " Cindy


" Iya deh!! Gue juga gak suka bohong gini Cin. " Lian berkata dengan mantap. " Berasa kayak pencuri tau gak? takut ketahuan. "


" Kalian ngomongin apaan sih? bisik-bisik aja dari tadi. " Ujar Yoga tiba-tiba.


" Hehehe enggak sayang biasalah soal perempuan. " Lian nyengir kikuk.


" Sayang aku habis makan mau langsung pulang ya? " Lian

__ADS_1


" Hah? kenapa sayang? kan diajakin karaokean sama yang lain? " Yoga bertanya dengan heran.


" Ehhh " Lian kembali menggigit bibir bawahnya, kebiasaan yang dia lakukan bila sedang bingung.


" Sayang stop gigit bibir! Nanti luka loh. " Ucap Yoga sembari menyentuh tangan Lian. " Kenapa mama papa kamu nyuruh pulang ya? "


Pertanyaan Yoga membuat Lian tersentak kaget, bahkan Lian tidak pernah mengatakan sejujurnya tentang mama dan papanya pada Yoga dan yang lain nya.


" Sayang!!!" Yoga semakin dibuat heran oleh kelakuan Lian. " Yaudah kalau kamu emang gak mau ikut anak-anak karaoke, gapapa!! Nanti aku anter kamu pulang dulu ya? "


" Iya sayang!! Maaf ya? " Ucap Lian.


" Gapapa sayang!! " Yoga mengelus pipi Lian lembut.


" Eheemmmm....Suwe lu mesra-mesraan muluk. " Steve membuyarkan suasana.


" Ganggu aja lu. " Ujar Yoga sewot.


" Ehh gua baru sadar. Si Eky kemana? " Pertanyaan Cindy yang tiba-tiba membuat Yoga dan yang lain juga tersadar bahwa Eky tidak ada.


" Gak tau!!! Katanya sih sibuk. " Steve menjawab cuek.


Saat mereka tengah mengobrol ngalor ngidul Hp Lian berdering, dan alangkah terkejutnya Lian bagai matanya akan mencelos keluar saat melihat siapa yang menelponnya.


Eh aduuhh kok pak manager telpon? apa dia tau aku ada disini dan gak masuk kerja?


" Eh Sayang aku keluar dulu ya? angkat telpon. " Lian kemudian keluar dari ruangan itu setelah mendapat kan persetujuan dari Yoga.


Setelah merasa aman Lian menekan tombol hijau untuk menerima telpon.


" Hallo!! Iya pak? " Lian berkata Lirih.


" Lian saya mau kamu ke ruangan saya sekarang juga!!. " Terdengar suara tegas pak Doni sang manager Restoran di seberang sana.


" Ta tapi pak.... "


" Tidak ada tapi tapian!! Apa kamu sedang menikmati bersantae dengan teman-teman mu? Kesini sebentar untuk mengambil pesangon terakhirmu. " Klik. Telpon di matikan sepihak oleh pak Doni.


Lian menyender kan dirinya ke tembok, kakinya sudah lemas dan hendak ambruk terjatuh. Mama.... Apa lagi ini? Lian capek. Air mata Lian jatuh tanpa bisa di tahan.


Secepat kilat dia membersihkan air matanya yang jatuh ke pipinya. Dan merapikan bajunya, lalu berjalan dengan cepat ke arah Ruangan Manager Restoran X.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2