
Aline tiba di kampus dengan perasaan bahagia, bagai baru saja memenangkan jackpout miliyaran rupiah.
" Hoy Aline. " Terlihat Steve mengahmpiri Aline dari kejauhan memasang wajah tak berdosa.
" Apa? Masih nganggep gue temen lu ya? " Aline berdengus kesal.
" Hehehe apaan sih Line? Kita kan best friend!! "
" Apa? Apa? Ada ya best friend yang ninggalin acara penting sahabatnya cuma gara-gara seorang cewek. " Mendelik kesal kearah Steve.
" Sorry Line. Kan gue gak tega biarin Cindy malam-malam keluyuran gak ada yang ngelindungin. " Steve memasang tampang memelas dengan mata sayu memandang Aline.
" Gak asik lu! " Cindy segera berjalan cepat meninggalkan Steve.
" Eh tunggu Line. " Steve menyusul langkah kaki Aline. Berjalan mensejajari gadis itu, walau makian panjang keluar tanpa henti dari mulutnya.
Saat mereka sedang berjalan menuju tempat geng mereka berkumpul setiap hari sebelum jam perkuliahan di mulai seseorang menghampiri mereka dengan tergopoh-gopoh.
" Eh Line, telat sih lu. " Katanya menggantung sengaja membuat Aline penasaran.
" Telat apaan? " Tanya Aline cepat.
" Si Yoga lagi makan di kantin bareng Lian, pakai gandengan tangan lagi. Dari ta..." Belum sempat meneruskan kalimatnya Aline sudah terlihat berjalan setengah berlari menuju kantin.
" Yeeee dia malah ninggalin gue. " Mengumpat kesal karena merasa di telantarkan.
" Ehhhh kunyuk lu tuh ngapain sih pakek ngasih tau Aline yang begituan? bikin gempar dunia persilatan aja lu! " Steve tiba-tiba memaki kearah sang pembawa berita.
" Yeeeee meskipun gue kagak kasih tau Aline nanti juga bakalan ada yang ngasih tau dia. lu pikir yang ngeliat mereka cuma gue. Weeeekkk " Berlari meninggalkan Steve secepat mungkin.
Steve mendengus kesal, akan ada banyak masalah yang pasti melibatkan nya setelah ini. " Huuuft " menghela nafas panjang.
" Ikut ke kantin, atau pura-pura gak tau aja ya? " Gumam-guman kecil, memberi pertanyaan pada diri sendiri.
" Aaahhh bodo amat ah. Mending gue nungguin Cindy disini. " Ucapnya kemudian, senyum sudah mengembang di bibirnya.
*******
Aline melangkahkan kaki nya dengan cepat, dengan kemarahan yang menyala seperti kobaran api yang sulit untuk di padamkan.
Beberapa kali Aline bahkan bertabrakan dengan mahasisiwa yang bersimpangan jalan dengan nya, tapi Aline tidak menghentikan langkah nya. Mengacuhkan makian yang di lontarkan kepadanya.
Sesampainya di kantin Aline sudah melihat keberadaan Yoga dan Lian dari kejauhan. Aline berniat menghampiri mereka, namun langkahnya terhenti ketika melihat Yoga yang menyodorkan sendok berisi makanan ke depan mulut Lian. Apa? Yoga mau nyuapin dia? Ucapnya dalam hati. Tangan Aline sudah mengepal dengan erat sehingga kuku nya melukai telapak tangan nya.
Karena merasa tak sanggup menyaksikan pemandangan yang membuat dirinya ingin menjerit itu Aline secepatnya berbalik badan meninggalkan kantin itu.
__ADS_1
Sialan!!! Awas lu Lian.
Aline mengeluarkan Hp dari dalam tas nya, menekan nya berkali-kali. Gadis itu mengirim pesan pada seseorang.
Setelah selesai dengan Hp nya Aline meneruskan langkah kaki nya, memutuskan untuk menemui teman-teman nya yang lain dan berkumpul seperti biasa.
Dari kejauhan Aline sudah melihat bahwa Sahabat-sahabat tampan nya sudah berkumpul disana seperti kebiasaan mereka, minus Yoga tentunya.
" Oiiii Line. " Daniel memanggil ketika melihat Aline datang.
" Mana Yoha Line? " Sambung Steve ketika melihat Aline kembali seorang diri.
" Masih makan dikantin. " Sahut Aline dengan wajah datar, membuat Steve keheranan.
Gue pikir mau ada pertumpahan darah di kantin. Tapi kok kayaknya si Aline biasa aja! ada apa ya? Gumam Steve dalam hati.
" Jadi beneran ya? si Yoga makan di kantin bareng Lian? " Tanya Daniel kembali ke arah Aline.
" Hem. " Jawab Aline singkat.
" Jadi mereka jadian ya Steve? " Tiba-tiba saja Daniel melempar pertanyaan ke arah Steve, membuat Steve salah tingkah.
" Ya- ya mana gue tau. " Sahut Steve kemudian.
" Bukan nya kemarin lu ikut si Yoga cabut bareng Lian. Jadi lu pasti tau! " Daniel berkata menyelidik sambil menyipitkan matanya.
" Cih, dari dulu sok jual mahal! Giliran gue bilang mau deketin Lian, dia gerak cepet ngembat Lian duluan. Dasar munafik!! " Eky mengumpat kesal.
" Apa? Lu mau deketin Lian? " Aline mendelik tak percaya.
" Iya!! Tapi kan sekarang Yoga udah nyolong start. " Eky mendengus.
" Pada gila lu ya? Gak Yoga gak ellu, apa sih istimewanya dia?? " Aline bertanya gusar. Mengapa sahabat-sahabatnya memperebutkan Lian.
" Yeee Lian tuh cantik kalik!! " Seru Steve.
" Tuh Yoga sama Lian. " Tiba-tiba Daniel berkata sambil menunjuk Yoga dan Lian yang sedang berjalan bersama menuju kearah mereka dengan dagunya.
Mereka semua mengalihkan pandangan kearah yang di tunjuk oleh Daniel, terlihat Yoga berjalan sembari menggenggam erat tangan Lian yang berada tepat disebelahnya.
" Eh itu si Yoga sama Lian kok gandengan? mereka pacaran ya? " Ujar salah satu mahasiswa yang sedang berada di dekat mereka.
Aline mengepalkan tangan nya menyaksikan pemandangan itu, dia menatap tajam ke arah Lian seakan berkata " Lepaskan tangan mu. "
Sebenarnya Lian merasa tidak nyaman dengan perlakuan Yoga, bukan karena Lian tidak suka pada Yoga. Tapi Lian risih dengan pandangan tajam para mahasiswi yang sedari dari mengiringinya. Aduuuuuhhhh mereka semua kenapa gitu amat sih ngeliatnya? Cindy mana lagi, gak dateng-dateng. Ucap Lian dalam hati.
__ADS_1
" Hei bro!! Waduh pagi-pagi udah nempel aja kayak amplop sama perangko. " Daniel melontarkan godaan untuk Yoga.
" Emang masalah buat lu? " Timpal Yoga cuek.
Yoga mengacuhkan tatapan tajam Aline dan Eky padanya, dan dengan santainya membawa Lian duduk didekat nya bergabung dengan teman-teman nya seperti biasa. Hening tercipta diantara mereka semua, seakan canggung dan enggan untuk memulai pembicaraan. Saat mereka tengah larut dalam pikiran mereka masing-masing datanglah Cindy memecah keheningan diantara mereka dengan suara cemprengnya.
" Liaaannn, gue tungguin di depan di telpon-telpon taunya udah disini aja. " Ucap Cindy.
" Eh oh Cindy sorry itu tadi...."
" Gue yang pegang Hp dia, tadi gue yang matiin telpon lu. Biar lu gak gangguin! Gue sama Lian lagi pacaran tadi. " Yoga menyambar ucapan Lian, dengan tanpa merasa bersalah mengakui dosanya.
" Hadeeeehhh capek deh orang lagi kasmaran. " Cindy memutar bola matanya jengah.
" Hemm akhirnya sekarang ngakuin juga kalau suka sama Lian! " Ucap Eky dengan nada sinis berniat mengejek.
" Lu ada masalah? " Yoga sudah beralih menatap eky dengan pandangan tidak bersahabat.
" Ya lu pikir? kalau lu fair gue gak akan ada masalah. Ini ngomong nya aja jijik, risih tapi di embat! Mana pas gue bilang mau ngedeketin dia lagi. Munafik lu. " Eky menjawab tak kalah sengit.
" Hei....Apa-apa'an sih kalian? Masak gara-gara gini doang berantem? " Steve sudah berinisiatif menjadi penengah.
" Dasar pecundang lu. " Eky berkata seraya beranjak dari duduknya dan berlalu meninggalkan mereka semua.
" Eh sayang udah ah ngapain sih ribut! " Lian berkata kepada Yoga dengan suara pelan.
" Hmmm dasar sinting semuanya. " Aline yang sudah tidak tahan lagi memilih menyusul Eky meninggalkan tempat mereka berkumpul juga.
" Lah ngapa jadi pada bubar sih? " Pekik Steve kemudian.
" Huft....Kayaknya lu harus ngomong deh Yo sama Eky, jangan sampai cuma gara-gara masalah kayak gini lu ribut sama dia. Lu cukup akuin aja sama Eky tentang perasaan lu sama Lian dan hubungan kalian. Gue yakin dia bakalan ngerti kok! " Daniel berusaha membujuk Yoga.
" Liat nanti aja deh! " Ucap Yoga malas-malasan.
" Come on man!! Bener kata Daniel, Lu sama Eky harus bicara dari hati ke hati! Iya kan Lian? " Steve mengedipkan matanya kearah Lian.
" I-iya sayang. Nanti aku juga ngomong sama Eky, gimana? " Lian
" Iye deh nanti kita omongin lagi. Mendingan sekarang kita ke kelas deh bentar lagi Pak Fahri dateng pasti. " Yoge kemudia berdiri sembari menarik tangan Lian agar mengikutinya menuju kelas, diikuti oleh yang Lain.
.
.
.
__ADS_1
.