Sebuah Rasa (Berganti)

Sebuah Rasa (Berganti)
23 Pacarku Yang Populer


__ADS_3

Aline menginjakkan kaki nya di sebuah rumah mewah. Ya walaupun tak semewah mansion tempat tinggalnya, tapi terlihat bahwa rumah itu juga merupakan milik orang kalangan atas.


Seorang pengawal terlihat menyambut kedatangan nya menuntun langkah nya untuk masuk ke sebuah ruangan di sudut kanan rumah itu.


Di dalam ruangan itu aline melihat seseorang duduk menunduk serius dengan berkas yang ada di atas meja di hadapan nya, orang itu menghentikan kegiatan nya ketika pengawal nya mulai bersuara.


" Permisi Tuan, tamu anda sudah tiba. " Ucap sang pengawal.


laki-laki itu mendongakkan kepalanya memandang sang pengawal lalu mengalihkan tatapan nya pada Aline.


" Baik kau bisa meninggalkan kami. " Ucapnya kemudian seraya mengibaskan tangan nya mengisyaratkan agar sang pengawal keluar.


" Baik Tuan. " Sang pengawal lalu mengangguk hormat dan berlalu meninggal kan Aline dan Heri berdua saja.


" Silahkan Nona Aline, silahkan duduk. " Heri berdiri dari duduknya lalu berjalan ke arah sofa meminta Aline mengikutinya dengan sopan.


Aline menuruti Heri, mendudukkan dirinya di sofa. Sehingga kini mereka duduk berhadapan.


" Apa yang ingin anda minum Nona? " Heri mencoba bersikap seramah mungkin.


" Tidak usah repot-repot, aku sudah minum tadi. Kita langsung saja! " Tolak aline secara lugas.


" Tidak usah sungkan Nona, anda baru pertama kali berkunjung. Tentu saya ingin menjamu anda walaupun hanya minuman. Bagaimana dengan jus jeruk? dingin?. " ucap Heri seraya menunjukkan senyum terbaik nya.


" Tentu saja, aku akan meminum apa saja yang di hidangkan. Terimakasih! " Aline membalas dengan kalimat yang lebih bersahabat dari sebelum nya.


" Baiklah. " Laki-laki itu kini mengankat sebuah telpon yang terletak di samping kirinya. " Bawakan segelas jus jeruk dingin dan secangkir kopi ke ruangan ku. " Tugasnya berbicara dengan seseorang melalui telpon itu.


Setelah meletakkan kembali gagang telpon ke tempatnya semula, dia kembali menatap Aline.


" Apa ada yang bisa saya lakukan untuk anda Nona? mengapa tiba-tiba sekali berkunjung ke gubuk sederhana ku. " Merendah agar bisa mendapatkan simpatik gadis di hadapan nya ini.


" Anda jelas sudah tau tujuan saya kan? " Aline menyeringai.


" Bagaimana saya mengerti maksud anda Nona? anda bahkan belum mengatakan apa-apa? maafkan kebodohan saya ini Nona, tapi bisakan anda menjelaskan kepada saya? " Heri berusaha menjilat apa yang bisa dia jilati saat ini.


" Baiklah, anda jelas sangat kenal dengan Berlian Putri Leksmana kan? putri tunggal Tuan Hadi Leksmana? anda bahkan mengambil alih mension mereka saat ini? " Alien berkata dengan lugas tidak merasa harus melayani basa-basi pria di hadapan nya.

__ADS_1


Obrolan mereka berhenti ketika seseorang masuk mengantar kan dua gelas minuman yang tadi Heri pesan.


" Silahkan di minum Nona. " Heri meraih cangkir di hadapan nya, menyeruput pelan kopi panas nya tanpa meniup nya terlebih dahulu. " Mansion ini adalah milik perusahaan Leksmana Grup Nona. Saya mengambil alih mansion ini karena saat ini saya adalah Presdir Leksmana Grup. " Jawabnya santai.


" Oh ya? tapi tuan Heri Wibowo anda bahkan tidak menyandang nama Leksmana di belakang nama anda. Jadi bagaimana mungkin perusahaan Leksmana Grup jatuh ke tangan anda? padahal provit dan perkembangan perusahaan itu tidak lah buruk sehingga tidak akan menumbuhkan kemungkinan Tuan Hadi Leksmana menjualnya. Kecuali anda mengambilnya dengan cara curang. " Aline tersenyum secerah matahari memandang intens kearah Heri.


" Hahahahaha " Heri tergelak mendengar penuturan Aline " Wah tidak salah lagi anda memang putri Tuan Charles! Anda sangat pintar Nona. "


" Tentu saja aku adalah satu-satunya pewaris VN corp. tentu aku pintar. "


" Baiklah apa yang bisa saya lakukan untuk anda Nona? " Tidak mau berbasa-basi lagi.


Seringai licik muncul di bibir Aline. Kau bukan lawanku Lian.


********


Gedung Universitas Nusantara keesokan harinya.


Yoga terlihat sudah berdiri di depan sebuah papan nama besar bertuliskan Fakultas Ekonomi dan bisnis celingak celinguk menunggu seseorang. Senyum terbit di wajahnya yang tampan ketika seorang gadis muncul dari kejauhan.


" Sayang. " Sapa antusias, saat Lian sudah berdiri di hadapan nya.


" Ka-kamu ngapain disini? " Lian bertanya dengan gusar.


" Aku? mau kuliah, kita kan sekelas sayang! " Yoga merasa heran dengan pertanyaan Lian yang seakan terkejut melihat kehadiran nya disana.


" Ma-maksud aku kamu ngapain berdiri disini? " Lian meluruskan maksud dari pertanyaan nya tadi.


" Ooooh aku nungguin kamu lah. Emang gak boleh? " Yoga memandang Lian dengan tatapan menyelidik.


" Bukan gitu sayang, tapi gimana kalau temen-temen pada curiga terus gosipin kita? " Lian celingak celinguk memandang sekelilingnya.


" Ya emang kenapa? jadi kamu maunya kita backstreet gitu? " Yoga mengernyit tidak suka mendengar ucapan Lian.


" Bukan gitu sayang. Aku takutnya kamu malu kalau ketahuan. "


" Enggaklah!! ngapain malu? eh kamu udah sarapan sayang? "

__ADS_1


" Udah tadi dirumah. "


" Kamu mau nemenin aku makan di kantin gak? tadi aku gak sempet sarapan soalnya aku buru-buru berangkat biar bisa nunggu kamu kayak gini. " Yoga menyengir lebar menunjukkan deretan giginya yang putih.


" E- eh tapi...." Kata-kata Lian terhenti saat Yoga sudah menyeret tangan nya terlebih dahulu.


" Udah ayo ah temenin aku, aku laper. " Ucapnya tanpa rasa bersalah.


Lian pun membungkan mengikuti langkah yoga yang menggandeng tangan nya menuju kantin. Menyadari tatapan aneh dari beberapa orang yang pagi itu terlihat sudah berdatangan ke kampus Lian menjadi cemas. Namun Yoga tampak cuek dan terus berjalan keraha kantin.


Sesampainya di kantin Lian di buat semakin tak karuan karena menjumpai kantin sudah agak ramai dengan kehadiran para mahasiswa kampus yang sedang sarapan atau hanya sekedar nongkrong menghabiskan waktu menunggu jam perkuliahan di mulai sambil menikmati beberapa cemilan atau minuman yang tersedia disana. Lian meghentikan langkah nya, membuat Yoga menolehkan kepala memandangnya.


" Ada apa? " Tanya yoga heran


" Rame sayang. "


" Ya namanya juga kantin sayang. Udah ah ayok!! " Yoga kembali menarik tangan Lian yang mau tidak mau mengikuti nya memilih tempat duduk di pojok dan mendudukan Lian disana.


Segerobolan mahasiswi yang melihat kehadiran Yoga dan Lian dengan bergandengan tangan pun terlihat terkejut dan mulai berbisik-bisik.


" Sayang. " Lian memandang kearah Yoga khawatir.


" Apa sih sayang? santai aja kalik. Kamu tunggu sini ya? aku pesen makan dulu. " Yoga beranjak meninggalkan meja Lian hendak memesan makanan.


" Aduuuuhh ******!! mereka pada ngeliatin aku lagi. " Lian bergumam sendiri, merasa risih dengan pandangan semua orang di kantin yang saat ini tengah tertuju kepadanya.


Yoga memang seorang idola kampus. Banyak sekali penggemar Yoga di kampus mereka. Mulai dari teman-teman satu fakultas mereka sampai para gadis dari fakusltas lain. Yoga yang merupakan kapten tim basket bahkan memiliki fans club di kampus itu yang beranggotakan banyak sekali gadis- gadis kampus mereka yang menggilainya.


Aduuu belum lagi nanti kalau aline tau, huuuuft banyak banget sih rintangan nya buat bisa sama kamu Yo. Lian menghela napas panjang.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2