
Lian mendongakkan kepalanya memandang gedung tinggi di depannya dengan perasaan campur aduk. Setelah menarik nafas panjang, Lian melangkahkan kakinya masuk kedalam gedung itu.
Sesampainya di meja resepsionis, seorang resepsionis menyambutnya, masih merupakan resepsionis yang lama saat dulu perusahaan di pimpin Hadi Leksmana. Wanita itu terlihat terkejut dengan kedatangan Lian kesana, dia sangat mengenal Lian karena dulu Lian sering kesana untuk mengunjungi ayahnya.
" Selamat Siang Nona! Ada yang bisa saya bantu? " Ucapnya berusaha menetralkan kecanggungan nya.
" Siang!! Aku ingin bertemu dengan Bapak Heri!! "
" Apakah anda sudah membuat janji Nona? "
" Belum!! Tapi katakan saja kalau aku ingin menemuinya!! "
" Baiklah Nona! Saya akan menghubungi sekretaris beliau dulu. Silahkan menunggu disana. " Ujar sang resepsionis sambil menunjuk sofa yang berderet rapi.
" Hem. " Balas Lian singkat, namun dia sama sekali tidak bergerak dari posisinya saat ini. Memandang lekat resepsionis wanita itu.
Pegawai itu merasa canggung dengan sikap dan tatapan Lian yang terus tertuju padanya, namun akhirnya dia memutuskan untuk tak menghiraukan hal itu . Lalu menghubungi seseorang melalui telpon.
" Selamat siang Nona! Ada Nona Lian disini ingin menemui Presdir! " Menunggu beberapa Saat. " Baik Nona! Terimakasih. " Wanita itu meletakkan gagang telpon ke tempatnya semula.
Lalu mengalihkan pandangan nya kepada Lian. " Presdir akan menemui anda Nona! Mari saya antar. " Ucapnya.
" Tidak perlu. Kemana saya harus pergi? apa dia juga masih di Ruangan Papa saya? " Ucap Lian.
Pegawai itu menelan salivanya kuat, saat mendengar ucapan Lian.
" I-iya Nona! " Jawabnya terbata-bata.
" Baiklah. Terimakasih! Aku akan mengingat sikapmu yang tetap ramah ini. " Lian langsung menuju Lift dan menuju lantai atas.
Resepsionis itu terus memandang Lian hingga gadis itu menghilang di balik pintu lift yang tertutup.
" Saya juga akan terus mengingat kebaikan Tuan Hadi Leksmana Nona! " Gumamnya.
~
Ketika tiba di Lantai tempat Ruangan Presdir Leksmana Group berada Lian sudah di sambut oleh seorang wanita cantik tepat ketika dia keluar dari lift.
" Selamat Siang Nona! Silahkan, Presdir sudah menunggu anda! " Ucap wanita yang Lian yakini sebagai sekretaris Heri itu, berusaha ramah. Walau wajah sinis nya masih terlihat jelas.
__ADS_1
Wanita itu lalu membawa Lian menuju Ruangan Presdir. Mengetuk dan membukakan pintu untuk Lian.
" Maaf pak, Nona Lian sudah disini! " Ucapnya pada laki-laki yang sedang menyilangkan kakinya di sebuah sofa besar dengan mata terpejam.
Mendengar itu Heri membuka matanya, lalu menggerakkan jarinya. Memberi tanda pada asistant nya untuk keluar. Wanita cantik itu membungkukkan badan lalu segera keluar meninggalkan Lian. Kini hanya tersisa mereka berdua di Ruangan itu.
" Duduklah!! " Ucap Heri tanpa memandang kearah Lian sedikitpun.
" Bukan kah sebenarnya Gedung ini milik ku! Bahkan sofa itu? Apakah tidak terlalu kurang ajar seseorang yang hanya menumpang bersikap seolah-olah pemilik yang sebenarnya? " Lian tersenyum sinis.
" Hm!! Katakan apapun yang kau mau katakan! tidak akan ada yang percaya padamu. Ada apa kau mencari ku ke kantorku? " Heri memainkan kuku-kuku tangan nya. Bersikap acuh tak acuh.
" Hahahaha... Orang-orang tidak tau malu! Tutup mulutmu! Jangan menyebut kerja keras Papaku sebagai milikmu! " Lian
" Aku tau kau sangat shock dan tidak terima dengan kehancuran keluarga mu! Tapi bisakah kendalikan dirimu? Jangan berhalusinasi. " Heri
" Aku yang berhalusinasi atau kau yang berbohong? Kau sangat tau itu pecundang!! Walaupun semua orang tidak tau tapi kau dan aku tau yang sebenarnya. Jadi jangan ber acting di depanku!! Baiklah!! Lupakan saja!!! Anggap saja aku mengijinkan mu memakai dan menikmati milikku untuk sementara waktu. Bagaimana lagi, ya kan? Kau tidak bisa mendapatkan nya sendiri jadi yah hanya bisa MENCURI milik orang lain! Kau tau itu juga sebuah bakat Paman?? "
" Anak kecil.... Apa kau mau ku tunjukkan bagaimana jadinya jika kau melawan ku sekarang? Kau bukan tandingan ku jadi....."
" Tidak!!! Kau yang bukan tandinganku Paman! apalagi tandingan Papaku! Kau hanya seorang Pecundang culas, makanya hanya bisa bermain licik dan menjadi musuh dalam selimut. Kau bahkan tidak berani terang-terangan? Jadi siapa yang bukan lawan untuk siapa Paman? Baiklah nikmatilah semua sekarang Paman!! Tapi ingat suatu hari aku akan kembali untuk menghancurkan mu!! Aku Bersumpah!!!! " Setelah mengatakan apa yang ingin di katakan nya, Lian segera keluar dari sana dan membanting pintu dengan keras.
Namun di depan Gedung lantai satu sudah banyak sekali wartawan yang menunggunya. Lian berhenti sejenak, memperhatikan kerumunan itu. Kobaran api terlihat jelas di mata coklat nya kini.
Gadis itu kembali melangkahkan kakinya dengan mantap, seakan tak peduli dengan kerumunan wartawan yang memang sengaja menunggu nya. Melihat kemunculan Lian para wartawan langsung menyerbu kearah nya dan mengarahkan semua kamera kepada gadis itu.
" Nona Lian!! "
" Nona Lian tunggu dulu! "
" Nona apa kau ingin mengkonfirmasi berita yang beredar? "
" Nona Lian, tolong statement nya! " Para wartawan melemparkan banyak sekali pertanyaan ke arah Lian.
" Tenanglah!!! " Lian berbicara dengan lantang kearah kerumunan wartawan itu. " Aku tidak akan lari!! Jadi tenanglah! Apa yang ingin kalian tau?? " Sambung gadis itu lagi.
" Ehem. " Para wartawan yang tadi sempat terkejut pun kembali bersikap normal dan jauh lebih santai. " Baiklah Nona! Apakah anda sudah melihat artikel dan berita-berita tentang keluarga anda hari ini? " Tanya salah seorang diantara mereka.
" Sudah! " Jawab Lian singkat.
__ADS_1
" Lalu bagaimana tanggapan anda Nona? " Tanya salah seoarng yang lain.
" Saya terkejut! " Lian
" Apa yang membuat anda terkejut? Apakah karena selama ini anda berusaha menyembunyikan semua? tapi bocor? " Wartawan
" Iya, itu benar. " Jawaban Lian kembali membuat mereka semua terkejut.
" Kenapa anda merahasiakan ini Nona? Dan apakah Tuan Heri juga membantu merahasiakan ini? " Wartawan
" Aku tidak tau! Semenjak kematian Papaku aku tidak bertemu lagi dengan Heri, kecuali hari ini. " Lian
" Apa benar sekarang Nona tinggal di Rumah kecil dan sempit di daerah K? " Wartawan
" Iya! " Lian
" Apa alasan anda menolak untuk tinggal di Rumah yang di sediakan Perusahaan? Atau tinggal dengan Paman anda? Wartawan
Kali ini Lian tersenyum mendengar ucapan wartawan.
" Kenapa ucapan mu seakan telah di konsep oleh seseorang? Dan apakah kalian punya bukti kalau aku menolak tinggal di Rumah yang di sediakan oleh Perusahaan Papaku sendiri? Siapa yang mengatakan itu padamu? Apakah itu tertulis di artikel juga? aku belum melihatnya! " Ucap Lian.
" Sa-saya mendengarnya dari seorang informan Nona! Apakah itu tidak benar? " Wartawan itu terlihat sedikit terkejut namun dia segera menetralkan ekspresinya kembali.
" Itu tidak benar!! Tidak ada yang menawarkan kepada saya untuk tinggal di Rumah yang di sediakan perusahaan. Kalaupun ada saya pasti tidak akan menolak, toh itu memang hak saya. " Ujar Lian.
" Lalu apa alasan nya sampai anda bisa tinggal di rumah sempit itu Nona? " Wartawan
" Karena saya tidak punya tempat tinggal lain! Dan mama saya mengatakan saya bisa tinggal disitu dalam suratnya! " Lian.
" Surat? surat apa itu Nona? Dan bagaiman dengan mansion mewah milik keluarga anda? " Wartawan
" Mama saya meninggalkan sebuah surat untuk saya sebelum beliau wafat! Dan untuk mansion, mereka mengusir saya mengatakan kalau mansion itu sudah bukan milik keluarga saya. Dan bisa dilihat juga sekarang siapa yang tinggal disana! Semoga masyarakat cukup cerdas untuk menghubungkan semua kebenaran nya! "
.
.
.
__ADS_1
.