Second Marriage With My Wife

Second Marriage With My Wife
Bab 10


__ADS_3

"Bagaimana hasilnya?" tanya Silas pada dokter yang datang menghampiri mereka.


Setelah anak yang di lahirkan oleh Sara berhasil di keluarkan melalui operasi cesar, Silas langsung saja memerintah dokter untuk melakukan tes DNA antara putranya dan anak Sara.


"99,9% cocok, itu terbukti jika anak nyonya Sara adalah anak tuan Baxter," ujar dokter tersebut.


"Tidak mungkin," ucap Baxter masih saja tak percaya.


Baxter mencengkram kerah dokter tersebut dan menatapnya tajam.


"Aku ingin tes-nya di lakukan ulang, itu pasti bohong,"


BUGHH ...


"Sadarlah Baxter dan terimalah kenyataannya," ujar Silas marah dan memukul putranya.


"Jadilah pria yang bertanggung jawab, daddy tidak pernah mengajarimu untuk menjadi seorang pengecut. Sekarang sudah terbukti jika itu adalah anakmu," ujar Silas dengan napas yang bergemuruh menahan kesal pada putranya.


Baxter menatap ayahnya dengan pandangan tajam dan dinginnya.


"Aku hanya akan bertanggung jawab pada anaknya. Tapi, tidak dengan ibunya, dan jangan pernah memaksaku," ujarnya dan berlalu pergi begitu saja.


Silas terus saja memanggil-manggil nama putranya. Tapi, Baxter sama sekali tidak memperdulikannya.


"Jangan terlalu memaksa-nya dad. Sudah untung kakak mau bertanggung jawab pada anaknya," ujar Meggy.


"Dan pastinya kau sudah tahu kan? Kalau Riella pergi," ucapnya.


"Aubriella pergi?" tanya Elizabeth dengan wajah terkejutnya.


Meggy melihat wajah kedua orang tuanya dengan pandangan datar.


"Jangan memperumit-nya dengan memaksa kakakku untuk menikahi wanita itu,"


Setelah mengatakan itu Meggy langsung pergi dari hadapan semua orang.


"Cepat atau lambat pasti tuan Abraham akan menemui ku," ujarnya.


Baxter mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju mansionnya.


Setelah memarkirkan mobilnya dengan sembarangan, Baxter langsung keluar dari mobil dan berlari masuk kedalam mansionnya.


"Honey! Aku pulang," ucap Baxter dengan suara yang sedikit mengeras.


"HONEY ..." teriak Baxter.


Karna tidak ada jawaban, Baxter menaiki anak tangga dan berlari menuju kamarnya.


Dia membuka pintu itu dengan senyuman yang terukir di wajahnya.


"Honey ..." panggilnya, tapi masih tak ada sahutan dari orang yang di panggilnya.

__ADS_1


"Aubriella!" Baxter membuka pintu kamar mandi, tapi tidak ada siapapun di dalamnya.


Dia membuka walk in closet dan hasilnya sama, dia melihat baju-baju istrinya yang masih berada di tempatnya.


"Dia pasti di taman belakang," gumamnya.


Baxter keluar dari kamar dan berjalan cepat menuju taman belakang.


"Apa kau melihat istriku?" tanya Baxter pada seorang pelayan.


Pelayan itu terlihat gugup dan takut untuk menjawab pertanyaan tuannya.


"Aku tanya, apa kau melihat istriku?" ulang Baxter.


"I-itu tuan ... Mm, tuan besar Abraham dan tuan Gavin membawa nona Riella," ujarnya dengan gugup.


Bahkan tangan pelayan itu sudah dingin dan berkeringat karna takut menjadi sasaran kemarahan majikannya.


Baxter menatap tajam pada pelayan itu. "Kau bilang apa tadi?"


"Istrimu memang di bawa pergi oleh kakek dan juga kakaknya," timpal Meggy yang muncul di ambang pintu.


"Kau harusnya merenungi kesalahanmu kak, kau membuat kesalahan dan menyembunyikan ini darinya. Dia butuh waktu untuk sendiri dan menenangkan dirinya. Jadi, biarkan dia sendiri dulu," ucap Meggy.


"Dia istriku dan selamanya dia harus berada di sampingku, aku tidak akan pernah membiarkannya pergi dariku," ujar Baxter.


"Sadarlah kak. Ini semua juga terjadi karna dirimu," ucap Meggy menyadarkan kakaknya.


"Lalu kau akan membiarkan dia tinggal disini bersama dengan wanita yang merupakan ibu dari anakmu, begitu?" maki Meggy yang mulai kesal dengan sikap keras kepala kakaknya.


"Daddy tidak akan pernah membiarkan wanita itu tinggal di luaran sana, dia pasti akan membuat wanita itu tinggal disini bersama anaknya," ujar Meggy.


"Lalu, kau akan membuat perasaan Aubriella semakin hancur? Sadarlah kak, istri mana yang mau tinggal satu rumah dengan wanita yang merupakan ibu dari anak suaminya sendiri," lanjutnya.


"Biarkan Riella sendiri dulu, dia membutuhkan waktu dan jika sudah waktunya dia pasti akan kembali padamu,"


"Tapi aku tidak bisa jauh dari istriku, aku akan tetap menemuinya dan membawanya pulang. Kalau perlu aku akan membuat satu mansion lagi untuk kita tinggali berdua," ujar Baxter seolah tuli dengan semua yang barusan di jelaskan oleh sang adik dengan panjang lebar.


"Percuma aku menjelaskan padamu, sampai mulutku berbusa pun kau akan tetap keras kepala," tutur Meggy yang sudah lelah pada kakaknya.


"Lakukan semua yang kau inginkan kak," lanjutnya dan pergi meninggalkan Baxter.


Baxter merogoh saku celananya dan menghubungi seseorang.


Dia juga beberapa kali menghubungi Gavin, kakak dari istrinya. Tapi, tidak ada satu pun panggilannya yang di angkat.


"Shitt!" umpat Baxter.


"Maafkan aku Riella,", gumamnya dengan pandangan sendunya.


"Bagaimana pun caranya aku akan membawamu pulang denganku," tekadnya.

__ADS_1


Selagi menunggu orang suruhannya, Baxter berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Dia membuka pintu kamarnya dan pandangannya langsung tertuju pada foto pernikahan dirinya bersama Aubriella.


"Ini semua karna kesalahanku," gumamnya lagi.


Ponselnya berbunyi dan itu adalah panggilan dari orang suruhannya.


"Semuanya sudah siap tuan," ucap suara dari seberang telepon.


Baxter langsung mengakhiri panggilannya dan berjalan keluar dari kamar, pria tampan itu berjalan dengan cepat menuju halaman samping mansionnya.


Disana, dia melihat sebuah helikopter yang sudah di siapkan oleh anak buahnya.


"Kau mau kemana Baxter?" tanya sebuah suara bariton dari belakang Baxter.


"Menjemput istriku," jawabnya dengan dingin tanpa berbalik sedikit pun.


"Biar daddy yang berbicara pada tuan Abraham dan menjelaskan semuanya," ujar Silas.


"Tidak perlu dad! Aku yang akan menjelaskan semuanya, ini masalah keluargaku dan ini rumah tanggaku. Jadi, biar aku yang meyelesaikannya dan membawa pulang Riella," pungkas Baxter.


Baxter berjalan mendekat kearah helikopter itu tanpa mendengar perkataan ayahnya.


Baxter mulai naik dan masuk kedalam helikopter.


Seorang pilot yang merupakan salah satu teman Baxter mulai menerbangkan helikopter itu setelah mendapat perintah dari Baxter.


****


"Istirahatlah, besok kakak akan membawamu kerumah sakit," ujar Gavin pada adiknya.


"Apa ada sesuatu yang kau inginkan?" tanya Gavin sebelum meninggalkan kamar Aubriella.


"Tidak ada! Aku hanya ingin tidur, rasanya sangat lelah," ujar Aubriella.


"Are you oke? Apa kita ke rumah sakit sekarang?" ujar Gavin yang merasa khawatir.


"Tidak! Besok saja, aku hanya ingin tidur sebentar," jawabnya.


"Bangunkan aku saat jam makan malam," ujar Aubriella.


"Mm ..."


Aubriella masuk kedalam kamarnya dan menguncinya dari dalam.


Dia bersandar di balik pintu dan tiba-tiba saja air matanya mengalir keluar membasahi pipinya.


Aubriella mengusap air matanya dengan kasar dan berjalan kearah ranjang, dia merebahkan tubuhnya disana dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


Aubriella menutup matanya, tapi air matanya selalu saja keluar.

__ADS_1


Isakan-isakan kecil mulai terdengar di balik selimut tebal itu.


__ADS_2