
"Berapa lama kakak akan berada disini?" tanya Aubriella.
"Tak akan lama. Karna lusa aku harus kembali, banyak pekerjaan yang harus kakak selesaikan," jawab Gavin.
"Bagaimana keadaan grandpa?" tanya Aubriella.
"Grandpa baik-baik saja, dia sangat sehat. Tadinya grandpa ingin ikut kemari, namun sayang pekerjaannya tak bisa di tinggal begitu saja," sahut Gavin.
"Kenapa grandpa tidak pensiun saja? Aku kasihan melihat grandpa yang terlalu sibuk dengan urusan pemerintahan dan mengabaikan kesehatannya," ujar Aubriella.
"Itu sudah menjadi tugas grandpa, apalagi grandpa sangat mencintai pekerjaannya," sahut Gavin.
"Tapi aku tetap tak suka. Kakak tahu sendiri kan? Jika daddy--"
"Cukup Riella! Jangan membahas yang sudah terjadi, dan itu sebabnya aku tak mengikuti jejak grandpa dan daddy," potong Gavin yang tidak ingin mendengar mengenai insiden yang menewaskan keda orang tuanya.
"Aku mengerti. Aku hanya takut jika terjadi sesuatu dengan grandpa," pungkas Aubriella dengan pandangan sendunya.
"Aku tahu. Kakak janji, kakak akan melindungi grandpa dan tak akan ada satu orang pun yang berani mencelakainya," janji Gavin.
"Nona, tuan Alex menangis," panggil bibi Betty dari arah kamar Aubriella.
"Sebentar kak, aku akan melihat Alex sebentar dan membawanya kemari," ucap Aubriella dan mendapat anggukkan dari Gavin.
Aubriella masuk kedalam kamarnya dan melihat jika putranya sedang menangis di dalam gendongan bibi Betty.
"Biar aku saja bi," ujar Aubriella dan mengambil alih Alex.
Aubriella menggendong putranya dan membawanya keluar dari kamar untuk menghampiri kakaknya.
"Aku ingin menggendongnya," kata Gavin.
Aubriella memberikan Alex pada sang kakak, dan seketika tangisan Alex berhenti.
"Mungkin dia tahu jika pamannya datang kesini," ujar Aubriella di sertai dengan senyuman.
"Aku tak percaya jika semakin besar wajahnya semakin mirip Baxter," celetuk Gavin.
Aubriella menyunggingkan senyum masamnya dan melihat kearah sang putra.
"Karna dia adalah anak Baxter, aku memiliki separuh dari dirinya disini," ujar Aubriella sambil mengusap pipi gembul Alex.
"Jika kau pulang nanti, bawalah Kyra bersamamu kak," ujar Aubriella mengalihkan pembicaraan tentang Baxter.
"Kenapa aku harus membawanya?" tanya Gavin heran.
"Jika dia ikut denganmu, dia bisa memiliki pekerjaan dan pengalaman hidup. Sedangkan disini, dia hanya menemaniku saja dan hanya membantuku merawat Alex, aku hanya bisa memberikannya tempat tinggal dan makan tanpa menggajinya," jawab Aubriella.
"Kalau begitu biar aku yang menggaji-nya," sahut Gavin.
"Akan lebih baik dia ikut denganmu, aku takut jika ayahnya masih mencarinya. Apalagi mereka masih tinggal di satu negara yang sama," pungkas Aubriella.
"Lalu, bagaimana denganmu?" tanya Gavin.
"Masih ada bibi Betty yang akan membantuku," jawab Aubriella.
"Dia gadis yang sangat cekatan dan cepat belajar, dia juga pandai memasak. Kau bisa memperkerjakannya di mansion-mu," lanjutnya.
__ADS_1
"Baiklah. Tapi, kalau dia merepotkan-ku, aku akan memulangkannya kembali kemari," sahut Gavin.
Aubriella tertawa mendengar perkataan kakaknya.
"Terima kasih kak," ujar Aubriella.
"Aku akan membicarakan masalah ini dengannya nanti," pungkasnya.
"Kau tak ingin ikut aku pulang?" tanya Gavin.
"Belum saatnya, aku masih betah berada disini," jawab Aubriella.
"Aku masih ingin menikmati udara dan suasana disini, sebelum nanti kembali ke kota yang padat," lanjutnya tersenyum pada sang kakak.
"Terima kasih karna selalu ada untukku kak," ucap Aubriella.
Gavin menyerahkan Alex pada Aubriella, dan pria itu terlihat merangkul bahu adik kesayangannya.
"Kau adikku dan kau adalah keluargaku, aku akan selalu berada di sampingmu, mendukung setiap keputusan yang akan kau ambil dalam hidupmu. Aku tak akan membiarkan siapa saja untuk menyakitimu," sahut Gavin.
"Dan aku juga akan melindunginya dari orang jahat," lanjutnya.
"Istirahatlah kak, kau pasti lelah setelah menempuh perjalanan jauh," tutur Aubriella.
Gavin berjalan kearah kamar yang sering dia tempati jika sedang mengunjungi adiknya.
Sedangkan Aubriella berjalan kearah beranda dengan Alex yang masih ada di gendongannya.
"Kyra ..." panggil Aubriella.
"Iya nona?" sahut Kyra yang melihat kearah Aubriella.
"Kalau begitu, saya akan mencuci tangan saya dulu nona," ujar Kyra.
Kyra berjalan kearah keran air yang ada di dekat beranda rumahnya.
Setelah selesai Kyra duduk di kursi di samping Aubriella, mata Kyra tampak fokus memandangi bayi kecil yang ada di gendongan Aubriella.
"Dia sangat manis," gemas Kyra pada Alex.
"Kyra!" ujar Aubriella.
"Iya nona?" sahut Kyra.
"Begini ... Kakakku akan kembali lusa ke Amerika, aku sudah berbicara padanya untuk membawamu," tutur Aubriella.
"Tapi nona--"
"Ikutlah dengannya ke Amerika, kau bisa bekerja dengannya dan memulai kehidupan barumu disana, kau tak akan takut lagi jika nanti ayahmu mencarimu ..." potong Aubriella saat Kyra akan bicara.
"Bagaimana dengan anda?" tanya Kyra yang merasa khawatir.
"Masih ada bibi Betty yang akan membantu dan menemaniku disini, kau jangan khawatir. Setelah waktunya tiba nanti, aku dan Alex akan pulang ke Amerika," jawab Aubriella memberikan senyuman tulusnya.
"Kakakku akan memberikan pekerjaan padamu sesuai bidangmu," ujar Aubriella.
"Baiklah," pasrah Kyra.
__ADS_1
"Saya pasti akan merindukan tuan kecil ini," ujar Kyra sambil mencolek pipi gembul Alex.
"Kau akan pergi lusa dan masih ada waktu untuk bermain dengan Alex," sahut Aubriella terkekeh.
*
*
*
Sementara itu di belahan bumi lain, Baxter baru saja keluar dari kamarnya.
"Kau akan pergi ke kantor?" tanya Elizabeth.
"Mm ..." gumam Baxter dingin.
"Mommy dengar dari Sara jika Angelina demam," ujar Elizabeth.
"Ya, Meggy akan kemari sebentar lagi untuk memeriksanya," sahut Baxter dingin.
"Jangan terlalu dingin pada Sara, sesekali kau juga harus memperhatikannya," nasihat Elizabeth.
"Siapa dia hingga aku harus memperhatikannya? Seharusnya dia bersyukur karna aku mau menampungnya disini," ujar Baxter dengan sinis.
"Kak?" panggil seorang wanita yang mengalihkan atensi Baxter.
"Kau sudah datang? Masuklah," ujar Baxter menyuruh Meggy untuk masuk ke kamar anaknya.
Meggy masuk kedalam kamar Angelina diikuti oleh Baxter dan Elizabeth, dan melihat Sara juga ada disana.
Meggy mulai memeriksa Angelina.
"Dia demam dan juga kulitnya mengalami kemerahan," ujar Meggy.
"Kapan dia mengalami ini?" tanya Meggy pada Sara.
Karna wanita itulah yang selau bersama Angelina setiap hari.
"Dua jam setelah makan malam, dia juga beberapa kali mengalami diare," sahut Sara.
"Kenapa kau tak langsung membawanya kerumah sakit dan malah menunggu sampai kakakku pulang," kesal Meggy.
"Apa yang dia makan saat makan malam?" tanya Meggy.
"Makanan seperti biasanya. Tapi, aku menambahkan telur, karna itu bagus untuk anak-anak," jawab Sara.
"Kak mungkin Angelina alergi telur. Sebaiknya di bawa kerumah sakit saja untuk pemeriksaan lebih lanjut," ujar Meggy pada sang kakak.
"Alergi telur?" gumam Baxter terdiam di tempatnya seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Kak ..." panggil Meggy sekali lagi.
Baxter tersadar dari lamunannya dan langsung menggendong putrinya yang sejak tadi meringis.
Saat melewati Sara, Baxter menatap wanita itu dengan tajam seolah-olah ingin mengulitinya.
"Jika terjadi sesuatu pada anakku, aku tak akan membuat hidupmu tenang," kata Baxter.
__ADS_1
Baxter membawa Angelina keluar dari kamarnya dengan diikuti oleh Meggy daru belakang.
"Kau sangat ceroboh Sara," runtuk Elizabeth pada Sara setelah semua orang keluar.