Second Marriage With My Wife

Second Marriage With My Wife
Bab 15


__ADS_3

Lima Tahun Kemudian.


"Mom," panggil bocah lak-laki pada sang ibu.


"Tetaplah disini, mommy akan keluar sebentar untuk mengantar kakek buyut," kata seorang wanita dengan suara lembutnya.


"Tapi, aku ingin ikut," ujar anak itu.


"Alex tunggu disini saja bersama aunty Kyra dan Sierra," ucap wanita itu.


"Kak, aku titip Alex sebentar," ujar wanita itu pada wanita lainnya.


"Hmm ... Mereka pasti sudah menunggumu," sahut Kyra.


"Kami disini bersamamu, Riella," ucap Kyra sambil memeluk Aubriella.


Setelah mendengar kabar dari sang kakak jika kakeknya masuk rumah sakit, Aubriella memutuskan untuk kembali ke Amerika bersama putranya.


Aubriella tiba di Amerika tengah malam dan langsung menemui sang kakek di rumah sakit.


Tapi, siapa sangka setelah bertemu dan melihat cucunya, keesokan paginya Abraham Harriet sudah menghembuskan nafas terakhirnya.


Dan hal itu menjadi pukulan terberat bagi Aubriella setelah dia kehilangan kedua orang tuanya.


"Mommy tidak akan lama dna hanya sebentar saja," ucap Aubriella pada sang putra.


Aubriella memakai dress berwarna hitam dan juga kaca mata hitam untuk menutupi matanya yang sembab karna menangis.


Wanita cantik itu keluar dari mansion megah sang kakek dan menuju halaman depan, dimana semua orang sudah berkumpul untuk mengantarkan kakeknya ke tempat peristirahatan terakhirnya.


Gavin memegang tangan sang adik dengan erat setelah Aubriella berdiri di sampingnya.


Aubriella membenarkan letak kaca matanya dan pandangannya fokus pada peti mati yang membawa sang kakek.


"Dimana Alex?" tanya Gavin.


"Bersama kak Kyra dan Sierra," jawab Aubriella.


Gavin dan Aubriella sudah sepakat untuk memakamkan kakek mereka di pemakaman keluarga bersama kedua orang tua mereka dan juga nenek mereka.


Mendiang Abraham Harriet akan di makamkan ala kemiliteran, mengingat semasa hidup beliau adalah seorang Mayor Jendral dan juga Menteri Pertahanan.


Aubriella masuk kedalam mobil milik Gavin dan mobil itu pun melaju bersama mobil-mobil lain yang mengikuti mereka ke pemakaman, suasana duka sangat terasa di kediaman itu.


Hingga tak berapa lama mobil yang membawa Abraham memasuki area pemakaman.

__ADS_1


Gavin dan Aubriella keluar dari dalam mobil dan menyaksikan proses pemakan keluarga mereka satu-satunya.


Aubriella tak bisa membendung air matanya lagi saat melihat peti mati itu di masukan kedalam tanah.


Proses pemakaman sudah selesai. Tapi, Gavin dan Aubriella masih tetap berada di sana dan belum beranjak sedikit pun.


Pandangan Aubriella teralihkan saat melihat seseorang yang sudah hampir tujuh tahun tak ia lihat.


Aubriella memegang tangan sang kakak dengan erat seolah memberitahu bahwa dia ingin pergi.


Dan kini pandangan Gavin pun berpusat pada seorang pria yang ada di hadapan mereka, bersama kedua orang tuanya dan juga seorang wanita yang berdiri di samping pria itu.


"Ayo ... Kita pulang," bisik Gavin sambil merangkul bahu adiknya.


Dengan tubuh lemas Aubriella berjalan menuju kearah mobil.


Mobil yang membawa Aubriella kini sudah pergi meninggalkan area pemakaman.


*


*


Silas menepuk bahu putranya.


"Ayo kita juga pergi, orang yang ingin kau temui juga sudah pergi," ucap Silas pada putranya.


Sara yang berdiri di samping Baxter berniat menyentuh tangan pria itu dan membujuknya untuk pulang.


"Angelina menunggumu di rumah," ucap Sara.


Tapi, Baxter langsung menepis tangan itu dan menatapnya dengan tajam.


"Jangan pernah menyentuhku," ujar Baxter sinis.


"Jika kalian ingin pergi, pergilah ... Aku masih ingin berada disini," ucap Baxter dingin.


Baxter berjalan mendekat kearah gundukan itu.


"Lebih baik kita pulang, biarkan Baxter disini," ujar Silas dan meninggalkan pemakaman itu di ikuti oleh Elizabeth dan juga Sara.


"Maaf, karna sudah membuat kakek kecewa padaku dan membuatnya membenciku. Aku janji, aku akan memperbaiki semuanya dan membuatnya kembali padaku," ujar Baxter pada gundukan itu setelah semua orang pergi.


"Semoga kakek tenang disana," ujarnya.


Setelah mengatakan itu, Baxter pun menuju ke mobilnya yang terparkir tak jauh dari pemakaman.

__ADS_1


Dia masuk kedalam mobil dan duduk di kursi kemudi.


Baxter tak kunjung menghidupkan mesin mobilnya dan masih berdiam diri disana.


"Aku akan membawamu kembali padaku, Riella," gumam Baxter.


Baxter pun menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.


*


*


"Kau baik-baik saja?" tanya Gavin.


"Hmm, aku baik-baik saja. Aku hanya tak menyangka akan bertemu dengannya secepat ini," jawab Aubriella.


"Jika kau sudah memutuskan untuk menetap disini, maka kau harus siap bertemu dengannya kapan pun," sahut Gavin.


"Kau akan menetap disini atau di Kanada?" tanya Gavin.


"Aku masih belum tahu," jawab Aubriella.


Aubriella melihat sang kakak yang duduk di sampingnya.


"Kau yakin kematian kakek tak ada campur tangan orang lain?" tanya Aubriella.


"Aku yakin. Karna aku sendiri yang sudah menyelidikinya, semua murni karna kesehatan kakek dan juga faktor usia," jawab Gavin.


"Kakek juga sudah pensiun dari pemerintahan dan keterlibatan orang lain kemungkinan kecil," lanjutnya.


"Kau tenang saja, jika aku menemukan hal yang janggal sedikit saja, aku akan langsung menyelidikinya," ujar Gavin menenangkan sang adik.


"Hanya kau dan Alex yang aku punya sekarang," ucap Aubriella dengan lirih.


"Masih ada Kyra dan Sierra, jangan lupakan itu," timpal Gavin.


"Hmm ... Aku masih tak menyangka kau akan menikahi-nya," ujar Aubriella.


"Aku juga tak menyangka akan jatuh cinta padanya," sahut Gavin tersenyum kecil.


Mobil yang membawa Gavin dan Aubriella memasuki mansion megah milik sang kakek.


Di depan pintu utama mansion sudah menunggu Kyra dan juga sang putri cantiknya, dan jangan lupakan si tampan Alex yang menunggu kedatangan sang ibu.


"Kenapa kalian disini?" tanya Gavin pada Kyra.

__ADS_1


"Alex ingin menunggu Riella disini," jawab Kyra.


"Ayo kita masuk kedalam," ujar Aubriella sambil menggandeng tangan putranya.


__ADS_2