Second Marriage With My Wife

Second Marriage With My Wife
Bab 8


__ADS_3

Baxter membuka pintu kamar yang di tempati oleh istrinya, dia masuk kedalam kamar yang gelap tanpa ada penerang itu, bahkan gorden dan jendelanya pun tidak di bukanya.


Baxter memberi perintah pada pelayan yang datang padanya untuk membuka gorden dan jendela.


"Honey ..." panggil Baxter yang berjalan kearah ranjang.


Tapi, tidak ada tanggapan apapun dari sang istri.


Aubriella dapat merasakan lengan kekar Baxter yang memeluk tubuhnya.


"Maafkan aku," kata Baxter dengan nada lirih.


"Aku bersalah padamu, kau boleh menghukum-ku," ucap Baxter.


"Anak itu belum lahir dan itu masih belum terbukti jika anak yang di kandung wanita itu adalah anakku," ujarnya lagi.


Baxter terus saja berbicara, meski pun tidak ada jawaban dari Aubriella sama sekali.


Lagi dan lagi, air mata Aubriella mengalir membasahi pipinya yang pucat.


"Maafkan aku ... Seandainya aku mengatakan ini sejak awal padamu," ujar Baxter.


"Tapi, aku takut ... Aku takut kau akan meninggalkan aku dan membenciku," lanjutnya.


'Tapi, sekarang kau menyakiti perasaanku,' batin Aubriella.


Sekuat tenaga Aubriella menahan tangisannya agar tidak mengeluarkan suara.


"Aku membawa sarapan untukmu ... Makanlah, kau belum makan sejak kita kembali semalam," ucapnya.


"Aku tak ingin kau sakit,"


"Setelah kau makan, kau bisa memarahi aku sepuas-mu. Kau bahkan bisa memukul dan meninju-ku, aku lebih suka istriku yang banyak bicara padaku dari pada harus mendiamkan aku," ucap Baxter masih dengan usahanya.


Dari arah pintu. Meggy berdiri disana, mendengar setiap kata yang keluar dari mulut kakaknya, dan bagaimana usahanya untuk membujuk istrinya.


"Kak?" panggil Meggy.


Baxter mengalihkan pandangannya pada sang adik yang berada di ambang pintu.


"Biar aku saja yang bicara pada Riella," ucap Meggy dan berjalan menghampiri sang kakak.


"Keluar-lah kak. Mungkin dia belum mau melihatmu," ucap Meggy.


Baxter menatap punggung istrinya yang tertutup selimut dengan nanar.


"Akan aku pastikan dia menghabiskan sarapannya," ujar Meggy.


Dengan sangat terpaksa dan berat hati, Baxter pun meninggalkan sang istri bersama dengan adiknya.


Meggy berjalan kearah pintu dan mengunci pintu itu setelah sang kakak keluar.


"Bangunlah. Sekarang hanya ada aku disini," ucap Meggy dengan lembut.


Aubriella membuka selimut yang menutupi tubuhnya.

__ADS_1


Meggy dapat melihat wajah pucat Aubriella dan juga mata sembabnya.


"Mandilah dulu, kau sangat mengerikan ..." ucap Meggy bermaksud untuk mencairkan suasana. Tapi, hasilnya nihil.


Aubriella bangun dari ranjang dan mengambil pakaian gantinya yang tadi di bawakan pelayan.


Dia berjalan kearah kamar mandi dan mandi dengan cepat. Tidak sampai 15 menit Aubriella sudah keluar dari dalam kamar mandi dengan pakaian lengkap.


"Kemarilah, aku akan memeriksa mu," ujar Meggy dan mengeluarkan alat kedokterannya.


Aubriella tidak mengatakan apapun dan mengikuti semua yang di ucapkan oleh sahabatnya.


Aubriella mulai merebahkan dirinya di atas ranjang dan membiarkan Meggy memeriksa tubuhnya yang lemah.


"Denyut nadi mu sangat lemah, kau kekurangan cukup banyak cairan, dan aku harus menginfusmu," ujar Meggy.


Lalu stetoskop milik Meggy terarah ke perut rata milik Aubriella.


"Wait!" ujar Meggy memastikan lagi yang baru saja di dengarnya.


"Ada apa?" tanya Aubriella dengan pelan.


"Kapan terakhir kali kau datang bulan?" tanya Meggy.


"Aku tidak ingat. Mungkin sudah lebih dari sebulan yang lalu," jawab Aubriella.


"Kita harus memastikannya," ucap Meggy merogok tas kerjanya dan mendapatkan apa yang dia cari.


"Untungnya aku selalu membawa ini,"


"Ini pakailah," ujar Meggy dan menyerahkan sebuah testpack pada Aubriella.


"Sudah pakai saja, kita akan tahu hasilnya setelah kau memakainya," ujar Meggy dan mendorong punggung Aubriella untuk masuk kedalam kamar mandi.


Aubriella menghembuskan napasnya dengan berat dan mencoba testpack tersebut.


Setelah lebih dari satu menit menunggu. Akhirnya, Aubriella melihat hasilnya.


Dia menutup mulutnya dan air mata kembali keluar dari mata indahnya.


Dia tidak langsung keluar dan masih mencerna apa yang baru saja dilihatnya.


Karna terlalu lama berada di kamar mandi, Meggy pun mengetuk pintu itu.


Tok ...


Tok ...


"Apakah sudah selesai? Bagaimana hasilnya?" ujar Meggy dengan suara yang sedikit keras.


Aubriella membuka pintu kamar mandi dan menyerahkan hasil testpack itu pada Meggy.


"Sudah kuduga," ujar Meggy setelah melihat hasilnya.


"Duduklah dan makan sarapanmu. Kau harus mengisi perutmu sekarang," ucap Meggy.

__ADS_1


"Datanglah kerumah sakit, aku akan memeriksanya lebih detail," lanjutnya.


"Aku harus memberitahukan kabar bahagia ini pada kakak dan yang lainnya," ucap Meggy.


Aubriella menahan tangan Meggy yang akan beranjak dari ranjang, dan menggeleng-gelengkan kepalanya pada Meggy.


"Jangan!" cegah Aubriella.


"Tapi kenapa?" bingung Meggy.


"Wanita itu masih disini, dan bagaimana jika anak yang di kandungnya adalah anak Baxter," ucap Aubriella.


"Kakak sudah bilang pada mommy dan daddy, jika nanti anak itu terbukti adalah anaknya, dia hanya akan bertanggung jawab pada anaknya saja ... Tidak dengan ibunya," tutur Meggy.


"Itu sama saja dengan dia tidak menghargai wanita. Bagaimana jika aku yang berada di posisi wanita itu, anak yang aku kandung dan aku lahirkan di ambil begitu saja? Biarkan Baxter mempertanggung jawabkan atas semua perbuatannya," jelas Aubriella.


"Lalu bagaimana denganmu?" pungkas Meggy.


"Aku? Aku hanya ingin menenangkan diriku dan tidak terbebani dengan masalah yang ada,"


Aubriella mengusap perutnya yang masih rata dan memperlihatkan senyumannya.


"Aku hanya ingin anakku tumbuh dengan sehat tanpa harus merasakan masalah yang di hadapi kedua orang tuanya, aku ingin dia tumbuh dengan baik. Setidaknya aku masih punya sebagian dari Baxter di dalam tubuhku," ucap Aubriella.


"Kau begitu mencintai kakak-ku?" tanya Meggy.


"Tentu saja ... Sebesar apapun rasa kecewaku pada Baxter, aku tetap mencintainya," ujar Aubriella.


"Lalu sekarang apa yang ingin kau lakukan?" tanya Meggy.


"Hubungi kakak-ku dan suruh dia kemari untuk menjemput ku," jawab Aubriella.


"Bukankah, masalahnya akan semakin pelik jika keluargamu tahu?" ujar Meggy.


"Cepat atau lambat mereka juga akan tahu, akan lebih baik mereka tahu sekarang dariku ... Ini juga sebagai hukuman untuk Baxter yang sudah menodai pernikahan kami dengan kecerobohannya," tutur Aubriella.


"Aku memang mencintainya. Tapi, aku tidak bisa menerima sebuah pengkhianatan, dia sudah menutupi masalah ini dariku, aku bukan wanita lemah yang harus terus menangisi suamiku yang menghamili wanita lain," lanjutnya.


"Untuk sekarang aku hanya ingin menenangkan diriku sampai aku melahirkan, jauh dari Baxter sepertinya lebih baik dari pada harus melihat wajahnya. Dan mungkin juga ini keinginan anakku yang tidak ingin melihat wajah daddy-nya," pungkas Aubriella.


"Baiklah," pasrah Meggy dan mengikuti kemauan sahabatnya itu.


Dia mulai menghubungi nomer ponsel kakak Aubriella dan berbicara pada pria itu.


Sementara Aubriella tengah memakan sarapannya dengan lahap.


"Aku sudah selesai berbicara dengan kak Gavin dan dia akan langsung terbang kemari bersama kakekmu," ucap Meggy.


"Lalu bagaimana dengan kakakku?" tanya Meggy.


"Biarkan dia mendapat kemarahan dari kakak dan juga kakekku," jawab Aubriella dengan tenang.


"Sepertinya anakmu sangat kejam pada ayahnya. Tadi kau menangis-nangis dengan wajah sembab, dan sekarang kau sangat menyeramkan," tutur Meggy.


Aubriella tersenyum sambil mengelus perutnya. "Mungkin dia merasakan jika ibunya tengah kecewa pada ayahnya," sahut Aubriella.

__ADS_1


"Setelah dia lahir, pasti dia akan lebih sayang padamu dari pada ke ayahnya," ujar Meggy.


"Itu harus,"


__ADS_2