
"Aku ingin pulang sekarang," ujar Aubriella yang bahkan belum menyentuh makanannya.
"Kenapa terburu-buru? kau bahkan belum memakan makananmu," kata Marvolo.
Aubriella sudah terlihat gusar karna pertemuannya dengan Baxter, dia ingin cepat-cepat pulang ke rumah.
"A-aku sedikit tidak enak badan," kilah Aubriella.
"Benarkah?" tanya Marvolo dan di angguki oleh Aubriella.
"Kalau begitu aku akan mengantarmu pulang," ucapnya.
"Tidak perlu, lagi pula aku membawa mobil sendiri," cegah Aubriella dan menolak Marvolo untuk mengantarkannya pulang.
"Aku takut terjadi sesuatu denganmu, karna kau merasa kurang enak badan," ujar Marvolo yang masih kukuh untuk mengantar Aubriella.
"Aku bisa menahannya, lagi pula jarak rumahku dari restoran ini dekat," seru Aubriella.
Lantas Aubriella beranjak bangun dari duduknya dan mengambil clutch-nya.
"Kalau begitu saya permisi, maaf karna saya makan malam anda terganggu," ucap Aubriella yang masih bersikap sopan dan sedikit menundukkan kepala sebagai permintaan maaf.
Aubriella segera meninggalkan restoran itu dan menuju mobilnya.
Marvolo, pria itu? tentu saja menyusul Aubriella, dia merasa ada yang di sembunyikan oleh Aubriella, mengingat saat datang tadi Aubriella terlihat baik-baik saja.
Saat Aubriella akan membuka pintu mobilnya, namun ada yang memegang tangannya dan menahan pintu mobil itu agar tidak terbuka.
Aubriella pun berbalik dan melihat siapa yang sudah memegang tangannya.
"Ada apa?" tanya Aubriella.
"Kau bohong, kau tak sedang tidak enak badan. Saat datang tadi kau terlihat baik-baik saja, apa karna ingin menghindar dariku?" ucap Marvolo.
__ADS_1
"Apa maksud anda? Ini tidak ada hubungannya dengan anda, saya benar-benar sedang tidak enak badan dan ingin pulang," kata Aubriella.
"Bisa tolong lepaskan tangan anda dari saya?" pinta Aubriella karna Marvolo memegang tangannya dengan sedikit kuat.
Marvolo tidak menggubris perkataan Aubriella dan masih memegang tangan wanita itu.
"Kau selalu menghindariku, Aubriella. Padahal aku mendekatimu karna aku benar-benar menyukaimu, apakah sesulit itu untukmu?" ujar Marvolo.
"Kita baru mengenal selama satu minggu dan itu pun karna urusan pekerjaan. Saya tidak pernah mencampur adukan urusan pekerjaan dengan urusan pribadi, jadi maaf saya tidak bisa menerima perasaan anda, kita hanya sebatas partner kerja tidak lebih," kata Aubriella yang sudah sedikit muak dengan pria di hadapannya ini yang selalu mencoba untuk mendekatinya.
"Dengan alasan apa kau menolakku?" tanya Marvolo yang kini menatap tajam Aubriella.
"Karna aku tak ingin menjalin hubungan dengan siapapun," jawab Aubriella.
"Dan sekarang lepaskan tanganku," pungkas Aubriella menyentak tangannya dengan keras.
"Seharunya kau beruntung karna aku mau denganmu," ucap Marvolo.
Seketika Aubriella menatap tajam Marvolo.
Plakk ...
Dan seketika saja tangan Aubriella melayangkan tamparannya pada Marvolo.
"Memang kenapa kalau aku janda? Memang kenapa kalau aku sudah memiliki anak? Itu semua tidak ada hubungannya sama sekali dengan anda tuan Marvolo yang terhormat," kata Aubriella.
Marvolo menatap tajam Aubriella dan tangannya mulai mencengkram leher Aubriella dengan kuat, hingga membuat wanita itu kesulitan bernapas.
"Beraninya kau menamparku," geram Marvolo.
Aubriella tak merasa takut sama sekali dengan Marvolo, dia hanya merasa kesulitan bernapas.
"Seharusnya kau bangga karna aku mau menjadikanmu kekasihku, tapi sayang kau selalu menolaknya," ucap Marvolo yang membanggakan dirinya.
__ADS_1
Aubriella tak tinggal diam, dia menendang area vital milik Marvolo dengan lututnya yan bebas.
Cengkraman tangan Marvolo pun terlepas karna merasakan nyeri di organ vitalnya.
"****** sialan," geram Marvolo memaki Aubriella.
Setelah cengkraman itu terlepas Aubriella berbas masuk kedalam mobilnya, dia menurunkan sedikit kata mobilnya untuk melihat Marvolo yang masih memegangi miliknya.
"Ku berdoa semoga tak ada yang mau denganmu, bahkan janda sekali pun," ujar Aubriella.
Aubriella mengacungkan jari tengahnya pada Marvolo dan menjalankan mobilnya.
"Dia pikir dia siapa? Apakah da sehebat itu hingga semua wanita harus tunduk dan mau dengannya," gumam Aubriella yang terus mengeluarkan gerutu nya.
Aubriella memegangi lehernya yang masih terasa sakit karna cengkraman Marvolo.
*
*
Tak lama kemudian mobil yang di kendarai oleh Aubriella memasuki pekarangan rumahnya.
Aubriella keluar dari mobil dan berjalan masuk kedalam rumah sambil menghubungi asistennya, Liam.
"Putuskan kontrak kerjasama kita dengan perusahaan Marvolo," kata Aubriella setelah Liam mengangkat panggilan teleponnya.
"Memang ada apa nona? Bukankah perusahaan itu tidak ada masalah?" tanya Liam.
"Bukan perusahaannya, tetapi orangnya yang memiliki masalah denganku. Lakukan saja apa yang aku minta," kata Aubriella.
"Baiklah nona, akan saya lakukan," sahut Liam meski dia merasa bingung dengan atasannya.
Baru kali ini Aubriella mencampur adukan urusan pribadi dan bisnis.
__ADS_1
"Semoga aku tak bertemu lagi dengan pria bajingan itu," gumam Aubriella dan masuk kedalam rumahnya.