
Aubriella masuk kedalam kamar tamu yang jauh dari kamarnya, dia mengunci pintunya.
Tubuh Aubriella luruh ke lantai, dia menekuk lututnya dan menyembunyikan kepalanya disana sambil menangis.
'Inikah ketakutan yang aku rasakan sejak kemarin,' batin Aubriella.
Setelah perdebatan itu Baxter akhirnya pergi meninggalkan orang tua, adik dan juga wanita yang mengaku hamil anaknya.
Pria itu ingin menyusul istrinya dan menjelaskan semuanya.
"Bagaimana aku harus menjelaskan masalah ini pada tuan Abraham," ujar Silas merasa frustasi.
"Kalau dia sampai tahu masalah ini, dia pasti akan membawa Aubriella pergi," ujarnya sambil mengusap kasar wajahnya.
"Dan masalah ini akan semakin pelik," lanjutnya.
"Apa kita sembunyikan saja masalah ini?" usul Elizabeth.
"Itu tidak mungkin, cepat atau lambat tuan Abraham pasti akan tahu," jawab Silas.
Sara, wanita yang mengaku hamil anak Baxter itu hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Maaf ... Ini semua karna kesalahanku, andai saja aku tidak datang kesini dan tetap diam di rumah sampai aku melahirkan ini semua tidak akan terjadi pada kalian," ucap dengan pelan dan isakan kecil.
Meggy melihat wanita itu dan perut besarnya, entah apa yang ada di pikiran wanita itu hingga menatap Sara seolah sedang menelisik sesuatu.
"Ini semua memang karna kesalahanmu, andai saja kau tidak datang kemari semua masalah ini tidak akan muncul," kesal Meggy.
"MEGGY!" bentak Silas.
"Jangan menyalahkan orang lain atas kesalahan yang di perbuat oleh kakakmu, jika saja kakakmu tidak melakukan hal yang ceroboh ini semua juga tidak akan terjadi," ujarnya menatap tajam putrinya.
Karna tidak tahan melihat wanita itu yang sedari tadi menangis akhirnya Meggy pergi dari hadapan tiga orang tersebut.
Sementara itu, Baxter membuka pintu kamarnya. Namun, dia tidak menemukan keberadaan sang istri di sana, dia membuka kamar mandi dan walk in closet tapi tidak ada tanda-tanda Aubriella berada disana.
Akhirnya Baxter keluar dari kamar dan mencari ke seluruh kamar, dia membuka pintu kamar itu satu persatu. Tapi, tetap tidak menemukan Aubriella.
Dadanya mulai bergemuruh merasakan ketakutan yang melanda dirinya.
Hingga tiba-lah dia di pintu paling ujung, Baxter mencoba untuk membukanya. Namun, pintu itu di kunci dari dalam.
Dia tahu pasti istrinya ada di dalam sana, Baxter terus mengetuk-ngetuk pintu dan berharap Aubriella mau membukanya.
"Honey bukalah, ayo kita bicara di kamar kita ... Aku akan menjelaskan semuanya dan menjawab setiap pertanyaan yang keluar dari mulutmu," ucap Baxter.
"Atau kau ingin memukulku dan melampiaskan semua kemarahan mu padaku? Aku akan menerimanya dengan senang hati," ujar Baxter dengan nada suara yang terdengar lirih.
"Honey ..." panggil Baxter.
"Kau tahukan? Kalau aku sangat sangat mencintaimu? Aku tidak akan mungkin mengkhianatimu," ujarnya.
__ADS_1
Tok ...
Tok ...
Tok ...
"Keluarlah dan bicara padaku, aku tidak suka kau mendiamkan aku seperti ini,"
Sementara itu di dalam kamar, Aubriella masih terus menangis, bahkan tangisannya semakin pilu saat mendengar suara suaminya.
Dia tidak ingin melihat wajah Baxter untuk sekarang.
Aubriella berdiri dan berjalan kearah ranjang, dia merebahkan tubuhnya dan menutup seluruh tubuh dengan selimut.
Untuk sekarang dia hanya ingin tidur dan melupakan semuanya, berharap saat bangun besok semuanya adalah mimpi.
Sedangkan Baxter masih saja terus berusaha mengetuk pintu itu dengan harapan sang istri akan membukanya.
"Honey. Jika kau tidak mau membuka pintunya, aku akan mendobrak pintu ini," ujar Baxter yang sudah tidak tahan lagi.
Saat Baxter akan mendobrak pintu itu, tiba-tiba Meggy datang dan menepuk punggung kakaknya.
"Biarkan dia sendiri dulu kak," ujar Meggy.
"Dia membutuhkan waktu untuk mencerna semua yang terjadi hari ini. Jika kau memaksanya, itu akan membuatnya semakin sedih saat melihatmu," ujarnya lagi.
"Tapi, aku hanya ingin berbicara dengannya dan menjelaskan semua yang terjadi padanya," ucap Baxter.
"Ada saatnya kau bisa bicara dengannya. Tapi, bukan sekarang," ucap Meggy.
"Ayo, aku antar kau ke kamarmu," ujar Meggy dan mengajak kakaknya berjalan kearah kamar milik Baxter.
Di pertengahan jalan mereka berpapasan dengan Sara yang di antar oleh seorang pelayan.
Wanita itu, wanita hanya bisa menundukkan kepalanya tanpa berani menatap wajah Baxter dan Meggy yang menatapnya tajam.
"Kau boleh pergi Meg. Aku bisa sendiri," ucap Baxter dan berjalan sendiri menuju kamarnya dengan lesu.
"Jangan pernah menggangu kakak dan kakak iparku selama kau tinggal disini," bisik Meggy tepat di telinga Sara.
"Sa-saya mengerti nona," jawab Sara dengan suara gemetar.
Setelah itu Meggy berjalan pergi meninggalkan Sara begitu saja.
"Mari nona," ucap pelayan itu pada Sara.
Sebenarnya pelayan itu enggan untuk mengantar Sara. Karna ulah Sara-lah kekacauan di rumah ini terjadi.
"Ini kamar anda," ujar pelayan tersebut setelah sampai di depan pintu kamar yang akan di tempati oleh Sara selama dia tinggal di mansion milik Baxter.
****
__ADS_1
Pagi menjelang, terlihat Aubriella yang terbangun dari tidurnya.
Beberapa kali wanita itu mengerjapkan kelopak matanya.
Semalaman dia sulit tidur dan baru tertidur pukul tiga dini hari.
Aubriella berjalan kearah pintu dan membuka kuncinya, dan kebetulan ada seorang pelayan yang melewati kamar itu.
"Permisi," ucap Aubriella pada pelayan tersebut.
"Iya nona? Nona membutuhkan sesuatu?" tanya pelayan itu dengan wajah khawatir karna melihat mata Aubriella yang bengkak dan wajah pucat.
"Bisa kau bantu aku? Tolong bawakan pakaianku ke kamar ini," ucap Aubriella.
"Baik nona, Apa saya perlu membawa sarapan anda kesini? Wajah anda sangat pucat," ujar pelayan tersebut.
"Tidak perlu, cukup bawakan pakaian saja," ujar Aubriella dan kembali menutup pintu itu.
"Apakah aku harus bilang pada tuan muda?" gumam pelayan tersebut.
"Bilang apa?" tanya Baxter yang sudah ada di samping pelayan tersebut.
Dan seketika mendengar suara datar dari Baxter membuat pelayan itu pun terkejut.
"I-itu tuan ..."
"Itu apa?" tanya Baxter.
"Tadi nona membuka pintunya dan menyuruh saya untuk mengambil beberapa pakaiannya, Wajah nona juga terlihat pucat. Tapi, saat saya menawarinya sarapan, nona tidak mau," jawab pelayan itu sambil menundukkan kepalanya.
"Bawa saja pakaiannya kemari dan juga bawakan sarapan kemari. Satu lagi, bawakan kunci cadangan kamar ini," ujar Baxter.
"Baik tuan," ucap pelayan itu dengan patuh dan segera melakukan tugasnya.
Tok ...
Tok ...
Tok ...
"Honey ... Ini aku, ayo kita sarapan," ucap Baxter masih dengan usahanya.
"Kau baru makan kemarin saat kita pulang dari Malibu," ujarnya lagi.
"Kau ingin makan di luar? Aku akan membawamu kemana pun kau mau," ucap Baxter.
"Oh ya ... Atau kau ingin berkunjung ke makam daddy dan mommy-mu? Bukankah kemarin kau bilang ingin kesana? Aku akan menemanimu," ucap Baxter. Namun, hasilnya tetap sama.
Dari balik pintu Aubriella dapat mendengar suara suaminya yang terus-terusan membujuk dirinya.
Untuk kali ini saja dia tidak ingin menangis, sekuat tenaga Aubriella menahan isak tangisnya hingga membuat dadanya sakit dan sesak.
__ADS_1