
"Aku sangat lapar, bisakah kita mampir sebentar untuk makan?" ucap Alex dengan suara pelan sambil menarik ujung lengan yang di kenakan oleh Lizia.
Lizia terlihat ragu-ragu untuk menyetujui keinginan Alex, pasalnya wanita itu sudah di perintahkan untuk langsung membawanya pulang.
Alex menatap Lizia dengan lekat agar wanita itu menurutinya.
"Kalau begitu, saya akan menelpon tuan Julius dulu untuk memberitahunya pada nona Riella," ucap Lizia.
Alex pun menganggukkan kepalanya dan kembali melihat kearah depan.
Karna merasa kasihan dan tak tega akhirnya Lizia pun menelpon Julius, dan kebetulan sekali Julius masih bersama dengan Aubriella.
Setelah berbicara dengan Aubriella dan Aubriella memberikannya izin, Lizia pun mengakhiri panggilannya.
"Kita akan mampir sebentar untuk makan. Tapi, kata ibu anda hanya sebentar setelah itu kita pulang," ucap Lizia dengan lembut.
"Iya," sahut Alex.
Lizia memberitahu sang supir taksi untuk mengantarkannya ke tempat makan yang diinginkan oleh Alex.
Tapi, tiba-tiba taksi yang mereka naiki ada yang menabrak dari belakang.
BRUKK ...
Suara benturan itu cukup keras hingga membuat mereka hampir terpental kedepan, dan untungnya mereka memakai sabuk pengaman, di tambah Lizia yang memeluk erat tubuh kecil Alex agar tak terbentur dengan kursi yang ada di depan.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya sang supir taksi itu dengan khawatir.
"Kami tidak apa-apa paman," sahut Lizia setelah memastikan keadaan Alex yang baik-baik saja.
"Tunggu disini sebentar, oke?" ucap Lizia pada Alex.
"Iya," sahut Alex.
Lizia dan supir taksi pun keluar dari dalam mobil dan melihat kerusakan yang di akibatkan oleh benturan tadi.
Kini pandangan Lizia tertuju pada mobil mewah berwarna hitam yang depannya sudah penyok.
Lizia menghampiri mobil itu dan menggebrak mobil itu dengan cukup keras.
BRAKK ...
Seorang pria yang sepertinya pemilik mobil keluar dari dalam mobil.
"Hey!! Apa kau tidak bisa berkendara dengan benar? Kau hampir saja mencelakai orang yang ada di depanmu," marah Lizia.
"Kau pikir jalan ini milikmu? HAH!!" maki Lizia dengan emosi.
__ADS_1
"Kalian yang menghalangi jalanku, dan kalian terlalu pelan," ujar pria itu yang tak mau di salahkan.
Lizia menatap tak habis pikir pada pria yang ada di depannya, dia berkacak pinggang dan menatap tajam pada pria itu.
"Apa kau baru saja menyalahkan kami? Hey tuan ... Kau yang menabrak kami, tapi kau malah menyalahkan kami? Apa kau baru saja terkena amnesia karna benturan tadi? Kau jelas-jelas ada di belakang kami dan menabrak taksi itu," ucap Lizia.
"Apa kau tahu di dalam taksi itu ada anak kecil," lanjutnya.
"Apa kau sudah selesai berbicaranya? Kau tidak lihat, mobilku juga rusak dan itu karna kalian menghalangi jalanku," ujar pria itu yang masih tak mau menerima kesalahannya.
"Kau benar-benar menyebalkan tuan," cibir Lizia.
"Nona, sudahlah biarkan saja," ujar supir taksi itu dengan pasrah.
"Tidak bisa paman, pria seperti ini harus di beri pelajaran," kesal Lizia.
"Kakak," panggil Alex yang muncul dari balik jendela taksi.
"Kuharap kau mendapat balasannya tuan sombong," ujar Lizia mengeluarkan semua sumpah serapahnya pada pria tersebut.
Lizia dan supir taksi itu pun kembali masuk kedalam mobil dan meninggalkan pria itu.
"Mommy akan menggantinya nanti, aku akan bilang pada mommy," ucap Alex dengan tetap tenang.
"Tenang saja, mommy tidak akan memarahi kakak," lanjut Alex.
Lizia memutuskan untuk mengantarkan bocah itu kerumahnya.
*
*
Aubriella dan Julius baru saja menyelesaikan meeting di sebuah restoran.
Mereka berniat untuk pulang, sebelum akhirnya ada seseorang yang memanggil nama Aubriella.
"Riella?" panggil seorang wanita sambil menepuk bahu Aubriella.
"Meggy?" ujar Aubriella setelah melihat wanita tersebut.
"Kau kemana saja? Kenapa kau tidak menghubungiku? Kakakmu bahkan tidak jadi memindahkan aku, dan kau malah menghilang tak ada kabar," ujar Meggy sambil memeluk Aubriella.
"Maaf, aku yang menyuruh kak Gavin untuk tak jadi memindahkan mu," ucap Aubriella.
"Aku hanya ingin sendiri dan menenangkan diriku," lanjutnya.
"Aku turut berduka cita atas meninggalnya kakek Abraham. Maaf aku tidak bisa datang untuk melihatnya," ucap Meggy.
__ADS_1
"Tak apa," sahut Aubriella.
Aubriella melihat kearah Julius. "Julius, kau bisa kembali ke perusahaan lebih dulu,"
"Baik nona," sahut Julius.
"Duduklah," ucap Aubriella setelah Julius pergi.
"Kau bekerja sekarang?" tanya Meggy.
"Iya, aku bekerja di perusahaan cabang keluarga," jawab Aubriella.
"Aku senang melihatmu baik-baik saja," ujar Meggy.
"Bagaimana dengan keponakanku?" tanya Meggy.
"Dia baik-baik saja, dia tumbuh dengan baik," jawab Aubriella tersenyum senang.
"Bisakah kau tak mengatakan pada keluargamu jika aku sudah punya anak," ujar Aubriella ragu.
"Hmm, aku tak akan mengatakannya," sahut Meggy.
"Terima kasih," ucap Aubriella.
"Jadi, siapa nama keponakanku?" tanya Meggy antusias.
"Alexander Ronan Theron," jawab Aubriella.
"Dia laki-laki?" tanya Meggy dan di angguki oleh Aubriella.
"Tapi, kenapa kau menaruh nama kakak di belakang namanya?" heran Meggy.
Aubriella ingin menyembunyikan anaknya, tapi dia malah menaruh nama belakang ayah dari anaknya.
"Agar dia tahu kalau dia masih memiliki ayah, dan bagaimanapun Baxter adalah ayahnya. Dan untuk itu biar waktu yang menentukan," sahut Aubriella.
"Dengan kau menaruh nama belakang keluargaku akan membuat mereka tahu," ujar Meggy.
"Cepat atau lambat dia juga akan tahu, dia akan tahu dengan sendirinya jika dia memiliki anak dariku, itu hukuman untuknya," ujar Aubriella.
"Aku jadi ingin bertemu dengan keponakanku," ucap Meggy.
"Jika kau tak sibuk datanglah ke rumahku dan kau bisa melihatnya," ujar Aubriella.
Aubriella memberikan nomer ponsel dan alamat rumahnya pada Meggy.
Dan obrolan itu pun berlanjut cukup lama, sampai akhirnya Meggy harus pergi dan kembali ke rumah sakit.
__ADS_1