
Setelah menempuh penerbangan selama tujuh jam dari Kanada ke Washington, akhirnya Baxter mendaratkan helikopter miliknya di landasan helipad yang berada di taman belakang sebuah mansion mewah.
Dan sontak saja kejadian itu membuat semua penjaga yang terdiri dari beberapa tentara berhamburan menuju halaman belakang.
Beberapa dari mereka bahkan menodongkan senjatanya pada Baxter.
"Turunkan senjata kalian," titah seorang pria dengan badan besar yang merupakan atasan mereka.
"Ada urusan apa anda datang kemari?" tanya-nya pada Baxter yang baru saja turun dari helikopternya.
"Aku ingin bertemu dengan tuan Abraham," jawabnya.
"Maaf ... Tapi, ini sudah malam dan pak mentri tidak menerima kunjungan apapun," ujar pria yang sudah tidak muda lagi itu.
"Aku kesini bukan untuk urusan pekerjaaan," Baxter.
"Ada apa ini?" tanya seorang pria tua yang muncul dari dalam mansion.
"Ada apa kau kemari?" tanya-naya pada Baxter.
"Aku ingin membawa istriku pulang," jawab Baxter tak kalah tegas.
"Kau mencari istrimu disini? Dia tidak ada disni," sahut pria tua itu yang tidak lain adalah Abraham Harriet, kakek dari Aubriella.
"Ini masalahku. Jadi biarkan aku menyelesaikan rumah tanggaku sendiri," ujar Baxter.
"Jadi, aku memohon dengan sangat padamu kakek, kembalikan Aubriella padaku," ucap Baxter.
Abraham berdecak dengan masih memperlihatkan kewibawaannya.
"Sudah aku bilang, jika Aubriella tidak ada disini. Mau kau mencarinya sampai besok pun kau tidak akan menemukannya disini," sahut Abraham.
"Aku menyesal menyerahkan cucu berhargaku padamu, jika pada akhirnya kau akan menyakiti perasaannya,"
"Aku membesarkannya dengan penuh kasih sayang tanpa menyakitinya sedikitpun. Tapi kau, kau menyakitinya dan melukai perasaannya. Lalu kau pikir aku mau menyerahkannya lagi padamu?" ucap Abraham yang menahan kekesalannya.
"Pergilah dari sini. Karna kau tidak akan menemukannya disini," ujarnya lagi dan berjalan masuk.
"Aku tidak akan pergi sebelum kakek memberitahu dimana istriku," teriak Baxter.
"Itu terserah kau. Karna aku tidak akan berbaik hati padamu," ucap Abraham
Abraham tak menggubris perkataan Baxter dan tetap berjalan masuk kedalam mansionnya.
"Tuan," ujar pria yang merupakan asisten Abraham.
"Biarkan saja, terserah dia mau melakukan apa," jawab Abraham.
"Dan hubungi Gavin, suruh dia membawa Aubriella pergi jauh," lanjutnya dan berjalan masuk.
Sementara itu Baxter masih berdiri di tempatnya tanpa bergeser sedikit pun.
"Sebaiknya kita pergi dari sini, tuan Abraham tidak mungkin menyembunyikan cucunya disini," ucap sang pilot yang merupakan teman Baxter.
Baxter memutar otaknya dan berpikir dengan dimana lagi tempat yang mungkin istrinya datangi.
"Kita pergi ke rumah Gavin," ujar Baxter.
Helikopter itu pun kembali terbang membawa Baxter ke tempat tujuan.
Sementara itu disisi lain, Gavin sedang bersiap untuk memindahkan adiknya.
"Pergilah Ella," ujar Gavin.
"Tapi kenapa kak?" tanya Aubriella dengan bingung.
"Baxter sedang kemari untuk membawamu pulang," jawab Gavin.
"Pergilah ke tempat nenek. Bukankah kau sangat ingin kesana? Disana sangat indah dan menyenangkan, bagus untuk kehamilanmu. Bibi Betty akan menemanimu selama disana, aku dan kakek juga akan mengunjungimu," tutur Gavin sambil menangkup kedua pipinya.
__ADS_1
"Aku dan kakek akan selalu melindungi mu, kami tidak akan membiarkan seseorang menyakitimu," jelas Gavin.
"Pukul dia untukku," ujar Aubriella tiba-tiba.
"Itu keinginan anakku," lanjutnya sambil mengusap perut ratanya.
Gavin menyunggingkan senyum miringnya dan mengacak-ngacak rambut adiknya.
"Baiklah," sahut Gavin.
"Sekarang pergilah. Mungkin sebentar lagi dia akan datang," ujarnya.
"Kakak?" panggil Aubriella.
"Ada apa?" tanya Gavin.
"Kau sudah tahu apa hasilnya? Kau pasti mencari tahunya," ujar Aubriella.
"Kau yakin ingin tahu?" tanya Gavin memastikan.
Aubriella menganggukkan kepalanya dan menatap sang kakak dengan serius.
Sebelum menjawab, Gavin menghembuskan nafasnya dengan berat.
"Anak itu adalah anak Baxter," jawab Gavin.
Ada rasa sesak di hati Aubriella saat sang kakak mengatakannya, rasanya sangat sakit dan ingin membuat air mata Aubriella keluar jika saja dia tak menahannya.
"Sudah kuduga," ucap Aubriella.
"Kau baik-baik saja?" tanya Gavin khawatir.
Aubriella tersenyum getir saat mendengar pertanyaan kakaknya.
"Tidak ada seorang istri yang baik-baik saja setelah mendengar berita yang menyakiti perasaannya," jawab Aubriella.
"Hati-hatilah, aku dan kakek akan mengunjungimu setelah masalah ini beres," ucap Gavin dan di angguki oleh Aubriella.
Setelah berpelukan dan berpamitan pada sang kakak, Aubriella berjalan masuk kedalam mobil yang sudah di siapkan.
"Jaga dia untukku bi," ucap Gavin pada pelayan yang sudah lama mengabdi pada keluarganya.
"Kau jangan khawatir, aku pasti akan menjaga nona Ella dengan baik," sahut bibi Betty.
Bibi Betty masuk kedalam mobil dan duduk di samping Aubriella.
Aubriella melambaikan tangannya pada Gavin setelah mobil itu melaju pergi.
Aubriella menyandarkan kepalanya pada bahu bibi Betty.
"Aku lelah bibi," ucap Aubriella lirih.
Bibi Betty mengusap lengan Aubriella dan menepuk-nepuk nya.
"Kalau begitu tidurlah, akan bibi bangunkan jika kita sudah sampai bandara," ujar bibi Betty.
Aubriella memejamkan matanya dan merasakan usapan lembut di lengannya.
Bibi Betty memandang sendu pada Aubriella.
Bibi Betty sudah mengabdi pada keluarga Aubriella sejak Gavin masih di dalam kandungan, sedari mereka kecil dia lah yang membantu ibu Aubriella untuk mengurus kedua anaknya.
Saat mobil Aubriella sedang menuju ke bandara, helikopter milik Baxter sudah mendarat di helipad milik Gavin.
Baxter turun dari helikopter dan berjalan masuk menuju mansion milik Gavin.
"Honey!" teriak Baxter.
"Tuan, anda tidak boleh masuk," cegah kepala pengawal di kediaman Gavin.
__ADS_1
"Minggir! Aku ingin bertemu dengan istriku," marah Baxter.
Dia sudah tidak bisa menahan amarah dan kekesalannya lagi, dia masih bisa bersikap sopan pada Abrahan karna dia lebih tua dari Baxter.
Tapi tidak dengan Gavin, Baxter akan melakukan cara apapun untuk membawa istrinya pulang.
"Gavin!" teriak Baxter.
"Berhentilah berteriak di rumah orang," sahut Gavin dan berjalan menghampiri Baxter.
"Dimana istriku?" tanya-nya.
"Dia tidak ada disini," jawabnya masih dengan wajah santainya.
"Kau ingin membawanya pulang?" tebak Gavin.
"Tapi percuma kau mencarinya disini, dia tidak ada disini," lanjutnya.
"Jangan berbohong padaku, kau pasti menyembunyikannya," marah Baxter.
"Kalau iya memang kenapa? Aku tidak akan membiarkan adikku tinggal bersama pria sepertimu,"
"Aku menyesal menyetujui perkataan kakek untuk menjodohkan-mu dengannya," ujarnya lagi menatap tajam Baxter.
"Sekarang kembalilah, kau tak akan menemukannya disini. Dia juga sudah tahu jika bayi itu adalah anakmu,"
"Selamat kau sudah menjadi seorang ayah," ejek Gavin dengan senyum meremehkannya.
"Sialan ..."
BUGH ...
Baxter meninju wajah Gavin karna sedari tadi menahan amarahnya.
Gavin menyentuh sudut bibirnya yang sedikit berdarah dan menatap tajam Baxter penuh permusuhan.
BUGGGG ...
Dan dengan cepat Gavin membalas Baxter dengan menonjok wajahnya.
"Kau pikir aku takut padamu? Itu untuk rasa sakit adikku," marah Gavin.
"Jangan pernah kemari lagi. Karna dia tidak ada disini, aku yang akan mengurus surat perceraian kalian," ujar Gavin.
"Kau tak bisa melakukan itu padaku dan Aubriella, kau tak akan pernah bisa memisahkan kami,"
Baxter menghampiri Gavin dan mencengkram kerah baju Gavin.
BUGHHH ..
BUGGG ...
Karna terlalu emosi membuat Baxter kembali memukul Gavin.
Orang-orang yang merupakan anak buah Gavin dan penjaga rumah Gavin langsung memisahkan Baxter dan menjauhkannya dari Gavin.
"Lepaskan aku, SIALAN ... Aku hanya ingin bertemu dengan istriku," teriak Baxter.
Dia menghajar dua penjaga yang memegangnya dan kembali menghampiri Gavin.
Gavin menyuruh salah satu anak buahnya yang berada di belakang Baxter untuk melakukan tugasnya lewat tatapan matanya.
Slupp ...
Sebuah jarum suntik mendarat tepat di leher Baxter, hingga membuat pandangannya mengabur dan ambruk begitu saja.
"Bawa dia kembali ke tempat asalnya," ujar Gavin pada pilot yang membawa helikopter Baxter.
Gavin menyuruh anak buahnya untuk memasukan Baxter kedalam helikopternya.
__ADS_1