
Sudah seminggu berlalu dan Baxter hanya dapat melihat putranya dari jauh.
Pria itu belum siap untuk bertemu dengan putranya dan menjawab setiap pertanyaan yang akan di lontarkan oleh sang anak.
Dan setiap harinya Baxter selalu mengantar Angelina ke sekolahnya hanya agar dapat melihat Alex.
Baxter juga lebih sering berada di mansion untuk menemani putrinya.
Seperti biasanya juga Aubriella akan mengantarkan putranya ke sekolah dan akan menjemputnya jika tidak sedang sibuk.
Proses kerjasama bisnisnya dengan Aubriella juga berjalan dengan lancar dan tak ada kendal.
Dan akhirnya wanita yang masih berstatus sebagai istrinya itu mau berbicara dengannya tanpa paksaan, walau hanya sebagai sikap profesional saja.
*
*
*
Dan siang harinya Baxter kembali menjemput anak perempuannya.
Dan kali ini pria itu melihat Alex yang keluar dari gedung sekolah lebih dulu, namun Baxter belum melihat tanda - tanda Angelina akan keluar.
Dia melihat Alex yang sepertinya menunggu jemputan di taman bermain sekolahnya.
Saat akan turun dari mobilnya, tiba - tiba ponsel Baxter berbunyi.
Dengan segera pria itu pun mengangkatnya.
"Ada apa?" tanya Baxter pada si penelpon.
__ADS_1
"Aku sudah mendapatkannya," sahut seorang pria yang ada di sebrang telepon.
"Aku akan kesana. Jangan sampai wanita itu kabur dan menyadari semuanya," kata Baxter.
"Baiklah," sahut orang tersebut dan langsung mengakhiri panggilannya.
Setelah telepon itu terputus Baxter keluar dari mobil dan menghampiri sang putra yang duduk sendirian.
"Kau sedang menunggu jemputan mu?" tanya Baxter berdiri di depan Alex sambil menundukkan sedikit tubuhnya.
Alex mendongakkan kepalanya melihat pria yang berdiri di depannya.
Anak kecil itu belum menjawab pertanyaan Baxter dan masih melihat Baxter, menelisiknya dari atas sampai bawah.
"Daddy?" ujar Alex setelah keterdiamannya cukup lama.
"Kau mengenalku?" tanya Baxter.
"Tentu saja. Mommy selalu memperlihatkan fotomu dan aku adalah anakmu, itu yang di katakan mommy," jawab Alex dengan senyum yang muncul di bibir kecilnya.
Alex beranjak dari duduknya dan memeluk Baxter, walau hanya sampai di bawah pinggangnya.
"Kenapa daddy baru menemui ku sekarang? Apa daddy tidak sayang aku dan mommy?" ujar Alex yang kini suaranya terdengar parau di pendengaran Baxter.
Baxter mengusap rambut tebal putranya dan berjongkok di hadapan Alex guna menyamakan tingginya dengan anak itu.
"Tidak, daddy sangat menyayangimu dan mommy. Bukankah mommy sedang menghukum daddy? Maka dari itu daddy belum bisa bertemu dengan kalian" kata Baxter mengusap pipi sang putra.
"Kau tumbuh dengan baik," ucap Baxter.
"Karna mommy merawatku dengan sangat baik," sahut Alex.
__ADS_1
"Daddy sekarang sudah bertemu denganku, apa mommy sudah tidak marah lagi dengan daddy?" tanya Alex dengan polosnya.
"Mommy masih marah pada daddy. Tapi hanya sedikit," sahut Baxter.
Kini Alex memeluk leher Baxter dan menyembunyikan wajah kecilnya di sela - sela bahu dan leher Baxter.
"Apa setelah ini kita akan tinggal bersama lagi?" tanya Alex.
"Hmm, tentu saja," sahut Baxter.
"Aku sangat merindukan daddy, selama ini aku hanya melihat wajah daddy dari foto yang di berikan oleh mommy," ucap Alex dengan jujur.
"Mommy masih menyimpan foto daddy?" tanya Baxter yang sedikit terkejut.
Baxter pikir Aubriella hanya menceritakan tentang dirinya saja pada Alex, dia tak menyangka jika wanita itu juga masih menyimpan fotonya.
"Hmm, mommy selalu melihat foto daddy sebelum tidur, dan akan menangis," ucap Alex.
Alex memang sering menemukan jika sang ibu akan menangis sambil melihat foto Baxter.
Sementara itu di kedua sisi yang berlawanan ada Angelina dan juga Aubriella yang melihat Baxter tengah berbicara dengan Alex.
"Kenapa Alex memeluk daddy?" gumam Angelina dengan suara khas anak - anaknya.
Sementara Aubriella menatap keduanya dengan pandangan was - was dan takut.
Kedua perempuan berbeda usia itu berjalan bersamaan menuju ke arah Baxter dan juga Alex.
"Alex,"
"Daddy,"
__ADS_1
Panggil keduanya secara bersamaan pada dua orang pria berbeda usia, namun dengan wajah yang mirip.
Alex melepaskan pelukannya pada sang ayah, dan membuat mereka menatap kedua perempuan yang kini sedang melihat kearah mereka.