
Aubriella masuk kedalam ruang kerjanya setelah wanita itu sampai di perusahaannya.
Aubriella mendudukan dirinya di kursi pimpinan dan mulai mengerjakan tugasnya, setelah melihat beberapa berkas yang ada di meja kerjanya.
Tok ...
Tok ...
"Masuk," sahut Aubriella.
Julius masuk kedalam setelah mendapat izin dari sang pemilik ruangan
Aubriella mengalihkan pandangannya dari berkas-berkas pada Julius.
Dia menumpu kedua tangannya di atas meja dan menangkup dagunya.
"Kau sudah melakukan apa yang aku perintahkan?" tanya Aubriella.
"Sudah, nona. Dan tuan Marvolo meminta ganti rugi karna kita membatalkan kontrak secara sepihak," jawab Julius.
"Lakukan saja, kita tidak semiskin itu hingga tak bisa membayarnya bukan?" ujar Aubriella dengan santai.
"Dan tuan Gavin juga sudah tahu hal ini," kata Julius.
"Hmm, tidak masalah," sahut Aubriella.
"Buatkan janji temu dengan perusahaan tuan Baxter besok," kata Aubriella.
"Anda yakin?" tanya Julius memastikan.
"Hmm," sahut Aubriella.
"Kalau begitu saya akan menghubungi asisten tuan Baxter," ujar Julius.
Julius keluar dari ruangan Aubriella untuk menghubungi asisten dari Baxter.
Sementara Aubriella tak melanjutkan lagi pekerjaannya dan malah berdiam diri sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
"Aku merindukanmu, kakek," kata Aubriella menatap bingkai foto yang ada di atas meja kerjanya.
Aubriella mengusap bingkai itu dan memandangnya dengan lekat.
"Apa yang harus aku lakukan? haruskah aku egois dan mengabaikan keinginan Alex," gumam Aubriella.
*
*
*
Sementara itu di sebuah ruangan Baxter juga sedang mengerjakan pekerjaan kantornya.
__ADS_1
Hingga ada seseorang yang membuka pintu ruangan Baxter dan masuk begitu saja tanpa permisi.
Terlihat seorang pria berjalan mendekat kearah Baxter dan mendudukan bokongnya di kursi yang ada di hadapan Baxter.
Pria itu mengeluarkan sebuah amplop coklat dan memberikannya pada Baxter.
"Kau pasti akan senang dengan berita yang aku dapatkan," kata pria dengan wajah tengilnya itu.
"Berita apa? Dulu, saat aku menyuruhmu untuk mencari keberadaan Riella tidak ada satu pun kabar baik yang kau berikan padaku," sahut Baxter dengan tangan yang membuka amplop coklat itu.
Baxter mengeluarkan sebuah foto yang ada di dalamnya dan memicingkan matanya.
"Apa ini?" tanya Baxter.
"Kau masih bertanya? Tentu saja itu sebuah foto, kau tidak lihat siapa yang ada di dalam foto itu," jawab pria tersebut.
"Kau pikir aku bodoh, Dominic. Tentu saja aku tahu ini foto dan maksudku untuk apa kau menyuruhku untuk melihat foto masa kecilku sendiri," kata Baxter.
Pria yang bernama Dominic itu pun tertawa mendengar perkataan Baxter.
"Itu bukan fotomu, foto itu di ambil kemarin saat aku mengintai seseorang," sahut Dominic.
Mata tajam Baxter kembali meneliti foto tersebut dan terdapat banyak perbedaan di mulai dari tempat dan pakaian yang di kenakan nya.
"Coba tebak siapa anak itu?" goda Dominic yang masih sempat-sempatnya untuk bercanda.
Baxter menatap Dominic dengan tajam.
"Dia anakmu, lihatlah wajahnya sangat mirip denganmu," kata Dominic.
"Jangan bercanda kau," ancam Baxter.
"Oh come on, dude. Untuk apa aku bercanda denganmu mengenai hal ini," sahut Dominic.
"Kau ingin tahu siapa ibunya?" tanya Dominic.
"Di dalam masih ada satu foto lagi, aku mengambil dengan susah payah, kau tahu?" lanjutnya.
Tanpa menunggu terlalu lama, Baxter pun mengambil satu foto lagi yang ada di dalam amplop tersebut.
Pria itu hanya diam dengan ekspresi yang tidak bisa di jelaskan.
"Kau dapat foto ini dari mana?" tanya Baxter sambil memperlihatkan foto seorang wanita yang tengah bersama anak laki-laki.
"Saat dia akan mengantar anaknya sekolah," jawab Dominic.
"Aku tak sengaja bertemu dengannya dan adikmu di restoran, lalu aku mengikuti mereka berdua. Setelah itu aku mulai menyelidiki lagi mengenai Aubriella, karna selama dia pergi aku juga sibuk dengan perusahaan ku," ucap Dominic.
"Berapa usianya?" tanya Baxter sambil memandangi foto itu.
"Enam tahun," jawab Dominic.
__ADS_1
"Aku pikir adikmu tahu mengenai kehamilan Aubriella, mengingat dia adalah seorang dokter kandungan," ucap Dominic.
"Di dalam amplop itu juga terdapat alamat rumahnya, dan menurut informasi yang aku tahu dia sedang mencari pengasuh untuk putranya," ucapnya lagi.
Baxter menatap kearah Dominic dengan mata tajamnya dan mendekatkan tubuhnya kearah meja.
"Aku ingin kau menyelidiki sesuatu lagi untukku," kata Baxter.
"Apa?" sahut Dominic.
"Cari tahu tentang kehamilan Sara delapan tahun lalu," ujar Baxter.
"Kau curiga karna anak yang di kandung Sara sangat mirip dengan Aubriella?" tebak Dominic dan di angguki oleh Baxter.
"Hmm, aku merasa ada yang tidak beres. Mana mungkin anak yang di kandung Sara bisa begitu mirip dengan Aubriella di bandingkan dengan ibunya sendiri," sahut Baxter.
"Cari tahu juga mengenai dokter yang melakukan metode bayi tabung padaku dan Aubriella, dokter itu rekomendasi dari ayahku, dan selidiki juga mengenai wanita tua itu," kata Baxter.
"Maksudmu ibumu?" tanya Dominic.
"Dia bukan ibuku, dia hanya istri kedua ayahku dan wanita yang mengurus Meggy," kata Baxter.
"Belakangan ini wanita tua itu terlalu dekat dengan Sara, apalagi setelah kepergian Aubriella," sambungnya.
"Kehidupan rumah tanggamu sungguh membuat aku pusing, dan untungnya aku belum menikah," ucap Dominic.
"Lakukan saja tugasmu," kata Baxter.
"Oke ... Oke, tapi setelah aku kembali dari Rusia, pria tua itu menyuruh aku untuk pulang dan entah apa yang akan dia bicarakan denganku," kata Dominic dengan wajah malasnya.
"Mungkin dia akan memberikan semua hartanya padamu," sahut Baxter datar.
"Dan membuat anak-anaknya yang lain mengincar nyawaku, begitu?" timpal Dominic yang masih tetap santai.
"Lagi pula tanpa harta darinya aku masih bisa bertahan hidup, buktinya aku memliki usahaku sendiri dan rumah di mana-mana, jadi aku tak akan menjadi gelandangan karna harus berebut harta dengan anak-anak haramnya itu," kata Dominic menyombongkan dirinya.
"Jika kau ingin menyombongkan dirimu, jangan di hadapanku, lakukanlah di depan ayahmu dan saudaramu," pungkas Baxter dengan sindiran di akhir kalimatnya.
"Ckk ..." decak Dominic.
"Jika tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan, pergilah," usir Baxter secara terang-terangan.
"Tanpa kau suruh pun aku akan pergi," sahut Dominic.
Dominic beranjak dari kursi yang di duduki nya dan berjalan berjalan kearah pintu, keluar dari ruangan Baxter.
Setelah Dominic pergi, Baxter kembali menatap foto yang terdapat wajah Aubriella.
"Kau menyembunyikannya dariku, Riella," gumam Baxter.
"Aku berjanji akan mengembalikan semuanya seperti semula, dan aku tidak akan melepaskan mu dan anak kita," ujarnya.
__ADS_1