
Aubriella keluar dari dalam kamar setelah seharian itu dia mengurung dirinya.
Wanita cantik itu menuruni anak tangga dan berjalan menuju kearah dapur. Disana, Aubriella dapat melihat seorang wanita yang tengah duduk di mini bar dengan sebuah ice cream di hadapannya.
"Nona!" ujar Sara yang merasa terkejut karna kedatangan Aubriella. Sontak saja Sara langsung berdiri dari duduknya dan itu membuat perut besarnya kesakitan karna pergerakan yang mendadak dan tiba-tiba.
"Argh ..."ringis-nya tertahan.
"Duduklah lagi," ujar Aubriella dengan suara dinginnya.
"Nona, saya hanya ingin minta maaf soal kemarin, seharusnya saya tidak datang kesini," ucap Sara dengan suara tertahan menahan sakit.
"Sudah aku bilang duduk saja. Aku tidak mau di salahkan jika sampai kau melahirkan sekarang," ujar Aubriella dengan nada suara yang terdengar kejam.
"Ada apa ini?" sahut Elizabeth yang datang dari arah kamarnya berada.
"Riella? Kau sudah makan?" tanya Elizabeth saat melihat keberadaan Aubriella.
"Sudah mom," jawab Aubriella.
"Riella, mommy hanya ingin bicara soa--"
"ARGHHH ..." jerit Sara kesakitan dan sontak saja itu membuat Aubriella dan Elizabeth terkejut.
"Sara ada apa?" tanya Elizabeth dengan panik dan menghampiri Sara.
"Pe-perutku sakit, aunty ..."jawab Sara terbata-bata.
"Ada apa?" tanya Silas yang juga datang karna mendengar teriakan seseorang.
"Aku tidak tahu. Tapi, sepertinya Sara akan melahirkan," jawab Elizabeth dengan wajah paniknya.
"Honey?" panggil Baxter pada Aubriella.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Baxter dengan raut wajah khawatirnya.
Baxter juga ikut menyusul sang ayah setelah mendengar jeritan kesakitan seseorang dan dia pikir itu adalah suara istrinya.
"Baxter apa yang kau lakukan? Cepat bawa Sara ke rumah sakit," teriak Elizabeth.
"Kenapa harus aku? Mommy tinggal menyuruh sopir untuk membawanya," sahut Baxter tak senang.
"Dia akan melahirkan anakmu," sambung Elizabeth.
Sementara Sara terus saja meringis sambil mencengkram pakaian yang di kenakan oleh Elizabeth.
"Itu belum terbukti mom. Karna aku belum melakukan tes DNA," ujar Baxter.
"Maka dari itu kau harus membawanya agar kau bisa tes DNA," timpal Elizabeth.
"I-ini sangat SAKIT ..." teriak Sara di akhir kalimatnya.
"Bawalah dia kerumah sakit," ujar Aubriella pada akhirnya.
"Tapi honey--"
"Dia akan segera melahirkan anakmu," potong Aubriella.
"Belum tentu itu adalah anakku," sangkal Baxter.
"Maka dari itu, buktikan padaku. Bawa dia kerumah sakit," ujar Aubriella.
Wanita itu berjalan begitu saja menaiki anak tangga meninggalkan keempat orang itu.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka jika Aubriella memiliki sifat seperti itu. Dia bahkan tidak merasakan panik sedikit pun pada Sara," ujar Elizabeth menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Untuk apa Aubriella khawatir pada orang yang sudah merusak rumah tangganya," timpal Meggy dari arah halaman samping.
"MEGGY!" bentak sang ayah.
"Bukan saatnya untuk saling menyalahkan berdebat," ucap Silas.
"Baxter, cepat bawa Sara ke rumah sakit," lanjutnya memerintah sang putra.
"Baxter! Tunggu apa lagi? CEPAT!" ujar Silas tegas.
Baxter menggeram rendah dan dengan sangat terpaksa dia membawa Sara ke rumah sakit dengan diikuti oleh Silas dan juga Elizabeth.
Sementara itu Meggy naik ke lantai dua, dimana kamar Aubriella berada.
Dari atas balkon, Aubriella melihat Baxter yang menggendong Sara masuk kedalam mobil milik pria itu.
Pandangan mereka sempat beradu, sebelum akhirnya Aubriella kembali masuk dan menutup pintu balkon kamar mereka.
"Kapan kakakku akan datang?" tanya Aubriella saat melihat Meggy ada di dalam kamarnya.
"Mungkin sebentar lagi, kau sudah membereskan semua pakaianmu?" tanya Meggy.
"Tidak ada yang harus aku bawa dari sini," jawab Aubriella dengan pandangan yang melihat kearah foto pernikahannya dengan Baxter.
"Sampai kapan kau akan menenangkan dirimu?" tanya Meggy.
"Sampai aku melahirkan," jawab Aubriella.
"Lalu, bagaimana jika yang di kandung wanita itu adalah anak kakakku?"
"Maka aku tidak akan kembali," jawab Aubriella.
"Bagaimana pun Baxter harus tetap bertanggung jawab pada anak dan ibunya Meg. Aku tidak mau anakku memiliki ayah yang tidak bisa bertanggung jawab dengan apa yang sudah dia perbuat," ujar Aubriella.
Saat mereka sedang berbicara tiba-tiba pintu kamar Aubriella di ketuk dari luar.
Tok ...
Tok ...
Tok ...
"Nona, di ruang tamu ada tuan besar Abraham dan tuan Gavin," ujar seseorang di balik pintu.
"Mereka sudah datang," ujar Meggy.
Aubriella pun keluar dari kamarnya diikuti oleh Meggy di sampingnya.
Dengan cepat Aubriella menuruni anak tangga untuk menghampiri kakek dan juga kakaknya.
"Grandpa!" teriak Aubriella dan langsung memeluk sang kakek.
"Aku merindukanmu," ucapnya.
"Maafkan grandpa Ella ... Maaf," ujar Abraham memeluk erat cucunya.
"Tidak, ini bukan salah grandpa," tutur Aubriella.
"Kau baik-baik saja?" tanya Gavin pada adiknya.
"Mm ..." gumam Aubriella menganggukkan kepalanya di dalam pelukan sang kakek.
__ADS_1
Abraham melepaskan pelukannya dan melihat wajah cucunya yang sedikit pucat.
"Wajahmu sedikit pucat," ujar Abraham.
"Ini ... Bawa obatmu, setelah sampai disana segera periksakan ke rumah sakit," ucap Meggy.
"Rumah sakit? Kau sakit?" tanya Gavin dan Abraham dengan wajah khawatirnya.
"Tidak, dia hanya sedang hamil," timpal Meggy.
"Kau hamil? Oh God ..." pungkas Gavin.
"Sialan ... Aku akan membuat pria tengik itu tidak bisa bertemu denganmu lagi," marah Abraham.
"Ayo, Ella ... Kita tidak perlu harus berlama-lama berada disini," ujar Abraham.
"Aku akan membicarakan masalah ini dengan Silas," lanjutnya lagi.
"Aku akan meminta pihak rumah sakit dimana kau bekerja sekarang untuk memindahkan mu agar bisa memantau Aubriella," ujar Gavin.
"Aku juga akan mengawasimu agar kau tidak berbicara apapun pada Baxter," lanjutnya dan menyusul kakek dan juga adiknya menuju taman belakang dimana helikopternya berada.
"Nona, kenapa anda membiarkan tuan besar Abraham membawa nona Riella?" tanya seorang pelayan.
"Biarkan saja, akan lebih baik Riella ikut dengan mereka dari pada berada disini," jawab Meggy.
"Tapi, kalau tuan sampai marah?" ujar pelayan tesebut dengan takut.
"Itu resiko atas semua perbuatannya, dia harus bisa merasakan bagaimana rasa kehilangan," ucap Meggy dan berjalan keluar dari mansion milik sang kakak.
Gadis itu mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit dimana keluarganya berada.
"Aku ingin lihat, drama seperti apa yang akan muncul," monolog Meggy.
Sementara itu di rumah sakit kedua orang tua Baxter sedang harap-harap cemas menunggu Sara melahirkan.
Ponsel Silas berbunyi dan itu adalah nomer dari penjaga mansion putranya.
"Ada apa?" tanya Silas.
"Tuan besar Abraham dan tuan Gavin membawa nona Riella pergi," jawabnya dari sebrang telepon.
Seketika saja mata Silas tertuju pada putranya yang sedang duduk dengan wajah dingin dan pandangan datarnya.
"Baiklah ..." ujar Silas dan menutup panggilan teleponnya.
"Kau harus menikahi Sara jika anak yang dilahirkannya adalah anakmu," ujar Elizabeth pada Baxter.
"Sudah aku bilang, aku tidak akan pernah menikahinya ... Mau bagaimana pun istriku hanya ada akan satu," tutur Baxter dengan dingin.
Sudah lebih dari dua jam mereka menunggu, tapi proses persalinan belum juga selesai.
Dari arah lain Meggy datang dan dengan santainya dia mendudukan dirinya disamping kakak.
Dia melihat ekspresi yang berbeda dari ketiga orang itu.
Meggy melihat wajah sang ayah yang terlihat khawatir. 'Pasti daddy sudah tahu,' batinnya.
Meggy tidak mengeluarkan sepatah katapun dah hanya diam saja sembari memperhatikan ketiga orang itu.
"Kau bilang kau tidak mau kemari?" ujar Elizabeth pada putrinya.
"Aku berubah pikiran, aku datang kesini hanya ingin melihat hasilnya saja," jawab Meggy.
__ADS_1