Second Marriage With My Wife

Second Marriage With My Wife
Bab 6


__ADS_3

Dan kini Aubriella dan Baxter sudah ada di dalam pesawat pribadi milik Baxter. dan sejak masuk kedalam pesawat yang Aubriella lakukan hanya tidur.


"Honey, apa kau tidak bosan tidur terus," ucap Baxter tepat di telinga sang istri.


"Tidak, aku rasanya sangat mengantuk. Mungkin itu karna aku kurang tidur semalam dan juga rasanya badanku sangat sakit," jawab Aubriella.


"Mau aku pijat?" tawar Baxter.


"Tidak perlu, aku hanya ingin tidur saja ... Bangunkan aku jika kita sudah sampai," ucap Aubriella dan kembali memejamkan matanya.


"Kalau begitu, aku akan menemanimu saja disini," kata Baxter dan memeluk istrinya dari belakang.


"Mm ..." gumam Aubriella di sela-sela tidurnya.


Hingga tiga jam kemudian pesawat pribadi yang membawa Baxter dan Aubriella sudah sampai di Bandar Udara Internasional Pearson Toronto.


Mereka berdua sampai jam tujuh malam waktu Kanada, Baxter beberapa kali membangunkan sang istri hingga Aubriella menggeliat dari tidurnya.


"Apa kita sudah sampai?" tanyanya dengan mata yang masih mengantuk.


"Mm ..." jawab Baxter.


"Jam berapa sekarang?" tanyanya lagi.


"Jam tujuh malam waktu Toronto," jawab Baxter.


"Ayo bangun, jemputan kita sudah menunggu dari tadi," ucap Baxter dan membantu Aubriella untuk bangun dari tidurnya.


Dengan sangat malas Aubriella pun terpaksa bangun.


"Bax ... Aku bisa berjalan sendiri," ucap Aubriella karna Baxter memapahnya berjalan.


"Aku takut kau akan tersandung karna masih mengantuk," goda Baxter.


Aubriella mencebik karna Baxter selalu saj menggodanya setiap saat dan setiap waktu dan tanpa kenal tempat.


Sementara itu beberapa pramugari yang berada di belakang mereka terlihat tersenyum melihat keromantisan Baxter pada istri tercintanya.


Baxter dan Aubriella pun memasuki mobil yang sudah di siapkan oleh anak buah Baxter.


Sepanjang perjalanan Aubriella terus saja memegangi dadanya yang kian berdegup lebih cepat.


"Ada apa? Kenapa dari tadi kau selalu memegangi dadamu? Apa ada yang sakit atau kau merasakan sesuatu yang di enak?" tanya Baxter dengan wajah yang kentara sangat khawatir.


"Tidak apa-apa ... Aku hanya merasa sesuatu yang kurang baik akan terjadi," ucap Aubriella.

__ADS_1


"Itu mungkin hanya perasaanmu saja ... Atau kau terlalu lama tidur dan bermimpi buruk?" ucap Baxter.


"Mungkin saja," ujar Aubriella dan memalingkan kepalanya kearah kaca mobil.


Baxter memegangi tangan Aubriella seolah-olah memberikan ketenangan agar istrinya tidak lagi merasa cemas.


Mobil yang membawa mereka pun mulai membelah jalanan kota Toronto yang cukup ramai jika di malam hari.


"Kau ingin membeli sesuatu sebelum kita sampai di mansion?" tanya Baxter melihat istrinya yang seketika menjadi diam.


"Tidak! Aku hanya ingin cepat pulang saja," jawab Aubriella.


"Baiklah ..." patuh Baxter dan mengecup tangan sang istri yang ada di genggamannya.


Setelah menghabiskan setengah jam di perjalanan akhirnya mobil yang membawa mereka pun sampai di sebuah bangunan mewah dengan pagar hitam besar yang terbuka otomatis.


Mobil itu masuk hingga ke pekarangan mansion milik Baxter, mansion yang khusus dibangun setelah dia menikah dan sebagai kado pernikahan mereka yang ke empat bulan waktu itu.


Baxter keluar terlebih dahulu dan membukakan pintu mobil tempat sang istri duduk.


Mereka berjalanan beriringan dengan tangan Baxter yang tidak pernah lepas dari Aubriella.


Aubriella memperhatikan wajah orang-orang yang ada di sekelilingnya yang terlihat sangat aneh.


Saat Baxter akan membuka pintu besar itu, ternyata pintunya sudah lebih dulu di buka dari dalam.


"Tuan besar dan nyonya besar sedang menunggu anda di ruang keluarga," ucap pelayan tersebut dan menyingkir gun memberi jalan pada Baxter dan Aubriella.


"Daddy dan mommy ada disini?" tanya Baxter dengan bingung.


"Kenapa tidak ada yang memberitahuku," ucapnya dan membawa Aubriella menuju ruang keluarga.


Disana di ruang keluarga, Aubriella dapat melihat seorang wanita yang sedang menangis sambil memeluk ibu mertuanya, tangisan wanita itu terdengar pilu dan menyayat hati Aubriella.


Silas yang melihat kedatangan anaknya pun lantas berdiri dari duduknya dan berjalan cepat menghampiri putranya.


BUGHHH ...


BUGHHH ...


Dan tanpa di duga, Silas baru saja memukul dan meninju putranya. Aubriella yang berdiri tepat di samping suaminya pun lantas dibuat terkejut.


Dia dengan sigap membantu Baxter berdiri dan melihat wajahnya yang mengeluarkan darah di ujung bibirnya.


"Pria macam apa kau Baxter? Daddy tidak pernah mengajarimu untuk menjadi lelaki yang tidak bertanggung jawab," maki Silas dengan lantang.

__ADS_1


Aubriella yang akan berbicara pun di buat bungkam saat mendengar perkataan selanjutnya dark ayah mertuanya.


"KAU ... Kau tega membiarkan wanita yang sedang mengandung anakmu tinggal sendirian begitu saja, apalagi di masa kehamilannya yang sedang hamil tua seperti ini," ujar Silas.


Seketika Aubriella melepaskan tangannya yang semula memegang lengan suaminya.


Baxter melihat perubahan raut wajah dari istrinya setelah mendengar penuturan dari ayahnya.


"Apa yang baru daddy bicarakan?" kilah Baxter.


"Kau masih ingin menyangkalnya Baxter? KAU LIHAT? Wanita yang sedang menangis di pelukan ibumu, apa kau mengenal wanita itu ... Wanita yang sedang mengandung anakmu," ucap Silas sambil menunjuk wanita yang sedari tadi menangis.


Pandangan Aubriella sontak saja tertuju pada wanita yang pertama kali dilihatnya saat memasuki ruang keluarga.


Baxter juga mengikuti arah tangan sang ayah, seketika tangannya terkepal melihat wanita itu ada disini.


"Kau mengingatnya?" ejek sang ayah.


"Kau menyembunyikan masalah ini dari kami selama sembilan bulan, dan menyembunyikan keberadaan wanita itu," ujarnya lagi dengan nada marah.


"Aku sudah melakukan tanggung jawabku memberikannya uang setiap bulan sampai anak itu lahir, dan aku juga tidak yakin jika anak yang dia kandung adalah anakku ... Bisa saja itu adalah anak orang lain, dan aku akan membuktikannya saat anak itu lahir," ucap Baxter yang akhirnya membuka suaranya.


"Kau masih bisa menyangkalnya Baxter?" Silas terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tidak percaya dengan yang baru saja keluar dari mulut putranya.


Sementara Aubriella menutup mulutnya dan menahan tangisannya.


Meggy yang merupakan adik Baxter mencoba untuk menenangkan sahabatnya itu.


"Anda masih tidak mengakuinya tuan? Apa anda sudah lupa jika sepuluh bulan yang lalu saat anda datang ke sebuah pesta di Paris dan anda mabuk, lalu anda membawa saya dengan paksa," ujar wanita itu yang kini sudah ada di hadapan Baxter.


"Bahkan sejak anda tahu bahwa saya sedang mengandung, anda hanya menemui saya satu kali ... Apa anda tidak pernah berpikir bagaimana saya menjalani hidup saya selama ini, apa di dalam diri anda tidak ada sedikit saja rasa ingin tahu bagaimana perkembangan anak anda? Apakah dia sehat atau tidak? Apakah dia menyusahkan ibunya atau tidak?" ucap wanita itu diiringi dengan isakan pilu.


Aubriella yang tidak ingin mendengar lagi pembicaraan itu pun lantas langsung berlari kearah anak tangga dan memasuki kamar lain.


"Kau harus bertanggung jawab pada Sara, Baxter ..." ucap sang ibu.


"Kau harus menikahinya, jika terbukti anak yang dia kandung adalah anakmu," tegas Silas.


"NO ... Aku tidak akan pernah menikahinya," tolak Baxter mentah-mentah.


"Jika anak yang dia kandung memang terbukti anakku. Maka, aku hanya akan bertanggung jawab pada anaknya saja tidak dengan wanita ini," ujar Baxter yang tak kalah tegas.


"Dan mau bagaimana pun istriku hanya akan ada satu, yaitu Aubriella!" lanjutnya dengan tegas.


"Kalau begitu, Sara akan tinggal disini bersamamu sampai dia melahirkan dan melakukan tes DNA," tutur Silas.

__ADS_1


"TIDAK! Aku tidak akan membiarkannya tinggal satu rumah dengan istriku," tolak Baxter.


"Kau tidak bisa menolaknya Baxter! Biar mommy yang berbicara pada Riella," ucap Elizabeth, ibu Baxter.


__ADS_2