Second Marriage With My Wife

Second Marriage With My Wife
Bab 36


__ADS_3

Satu jam kemudian Aubriella dan Angelina keluar dari ruang laboratorium dengan di temani oleh satu perawat.


Aubriella keluar sambil menggandeng tangan mungil Angelina.


Baxter yang menyadari itu pun bergegas menghampiri Angelina dan juga Aubriella.


Pria tampan itu berjongkok guna menyamakan tingginya dengan tinggi tubuh sang putri.


"Angel baik-baik saja?" tanya Baxter dengan nada suara lembut.


"Angel baik-baik saja, tadi dokter mengambil darah Angel dan juga aunty Riella," jawab Angelina.


"Apa angel merasa sakit?" tanya Baxter lagi.


"Tidak, aunty Riella selalu memegang tangan Angel agar Angel tidak menangis saat melihat jarum suntik," jawab Angelina.


"Mommy tidak apa-apa?" tanya Alex pada sang ibu.


"Mommy baik-baik saja, sayang," jawab Aubriella memperlihatkan senyuman-nya yang tenang.


"Apakah ini sudah selesai?" tanya Aubriella pada Baxter.


Baxter kembali berdiri dan melihat kearah wanita yang masih berstatus sebagai istrinya itu.


"Hmm," jawab Baxter.


"Ayo kita pulang, Alex," ucap Aubriella dan menggandeng tangan putranya.


"Biar aku mengantar kalian," kata Baxter mencekal lengan Aubriella.


"Kami akan pulang naik taksi," ujar Aubriella.


Sementara itu Meggy dan Steven yang juga masih berada di sana hanya bisa melihat mereka saja tanpa mau untuk ikut campur.


"Aku juga harus pergi. Masih ada pasien yang harus aku cek," pungkas Meggy beranjak dari tempat duduknya.


"Bye kak, bye Riella ..." ujar Meggy dan langsung melesat pergi dari hadapan kakaknya.


"Mom," panggil Alex.


"Ada apa sayang?" sahut Aubriella.

__ADS_1


"Kita pulang dengan daddy saja. Bukankah mobil mommy di tinggal di sekolahku?" ucap Alex.


"Kita bisa naik taksi sayang, Jalan rumah kita tidak searah," kata Aubriella.


"Tapi, aku ingin pulang dengan daddy," ujar Alex..


"Ayo, boy. Daddy akan mengantarmu, biarkan saja mommy-mu naik taksi sediri," kata Baxter.


Baxter melepaskan cekalan tangannya dari tangan Aubriella dan memegang tangan kecil putranya.


Baxter melangkahkan kakinya meninggalkan Aubriella sendiri.


"Dad, bagaimana dengan mommy?" tanya Alex.


"Mommy-mu akan menyusul, boy," jawab Baxter.


"Daddy?" panggil Angelina.


"Yes, honey," sahut Baxter.


"Kenapa Alex memanggil daddy dengan sebutan daddy juga?" tanya Angelina.


"Karena aku adalah saudaramu," jawab Alex.


Hidup tanpa sosok ayah menjadikan Alex lebih dewasa dari pada anak-anak seusianya.


Walau di dalam hati kecilnya sangat menginginkan kehadiran sang ayah, namun dia tak ingin membuat mommy-nya sedih.


"Saudara?" bingung Angelina.


"Iya, Alex adalah saudara Angel. Dia adik Angel," timpal Baxter.


Sementara itu di belakang mereka, Aubriella tampak mengikuti ketiga orang yang ada di depannya.


"Bisa bisanya dia melakukan sesuatu sesuka hatinya," gerutu Aubriella.


"Dad, bisakah aku yang menjadi kakaknya? Aku tidak mau menjadi adiknya," kata Alex.


"Tak bisa," sahut Baxter sambil tertawa.


"Dia bahkan masih bisa tertawa," gumam Aubriella.

__ADS_1


*


*


Baxter membukakan mobil untuk kedua anaknya dan saat akan menutupnya lagi Aubriella mencegahnya.


"Mommy, mommy duduk di depan saja. Temani daddy," kata Alex saat Aubriella akan masuk kedalam mobil.


"Duduklah di depan," kata Baxter.


"Aku di belakang saja," ujar Aubriella.


"Disini sudah tak muat, mom," kata Alex yang duduk lebih ke sisi dekat ibunya.


"Oh God ..." jengah Aubriella dan terpaksa harus duduk di depan bersama dengan Baxter.


Baxter mengedipkan sebelah matanya dan mengacungkan jempol pada putranya.


Baxter mengitari mobil dan masuk kedalam mobil.


"Boy, kau ingin langsung pulang atau jalan jalan dulu?" tanya Baxter.


"Langsung pulang saja," sahut Aubriella.


"Daddy tak bertanya padaku?" ujar Angelina.


Baxter menyunggingkan bibirnya saat mendengar nada protes dari putrinya.


"Apa Angelina ingin jalan jalan?" tanya Baxter.


"Hmm, Angelina ingin pergi jalan jalan, membeli ice cream dan mainan," jawan Angelina.


"Tapi, mommy tak pernah mengajak Angelina pergi keluar untuk jalam jalan. Daddy juga selalu sibuk dengan pekerjaan," ujarnya lagi dengan nada suara yang terdengar lirih.


Gadis kecil itu menundukkan kepalanya dengan tangan yang saling meremas.


"Baiklah, kalau begitu ayo kita jalan jalan keluar," sahut Aubriella.


Entah kenapa Aubriella merasa tidak tega saat melihat dan mendengar perkataan Angelina.


Baxter melihat kearah Aubriella dan tersenyum lembut.

__ADS_1


Senyum yang dulu sering Aubriella lihat saat mereka bersama, senyum yang hanya di tujukan untuknya seorang.


__ADS_2