Second Marriage With My Wife

Second Marriage With My Wife
Bab 12


__ADS_3

Setelah menempuh penerbangan lebih dari delapan jam, akhirnya Aubriella sampai di Bandara Zurich.


Setelah sampai di Zurich Aubriella masih harus menempuh dua jam perjalanan lagi untuk sampai ke tempat asal mendiang sang nenek.


"Nona, apa anda ingin istirahat dulu disini?" tanya bibi Betty.


"Tidak bibi, kita lanjutkan saja. Aku akan istirahat jika sudah sampai," jawab Aubriella.


Selama tinggal di Swiss, Aubriella akan menempati rumah mendiang neneknya yang sudah di renovasi oleh Abraham.


"Kalau begitu, apa nona ingin makan sesuatu? Nona hanya makan sedikit saat di pesawat tadi," ujar bibi Betty yang terlihat khawatir.


"Belikan aku roti saja bibi," sahut Aubriella.


"Bibi!" Aubriella memanggil bibi Betty dengan suara pelan.


"Iya nona," sahut bibi Betty.


"Bisakah kita kerumah sakit sebentar," ujar Aubriella.


"Tentu saja nona," ucap bibi Betty.


Bibi Betty berbicara pada supir yang sudah di siapkan oleh Aiden dan memintanya untuk mengantar mereka ke rumah sakit terdekat.


Hingga tak berapa lama, mereka pun sampai di salah satu rumah sakit yang masih ada di Zurich.


Aubriella ke luar dari dalam mobil di bantu oleh bibi Betty.


"Aku bisa sendiri bibi," ujar Aubriella.


"Tapi, wajah anda sangat pucat dan terlihat lemah," pungkas bibi Betty.


Aubriella menyuruh sang supir untuk menunggu mereka di parkiran, sedangkan Aubriella memasuki rumah sakit itu dengan di temani oleh bibi Betty.


"Ada yang bisa kami bantu," ujar seorang perawat yang bertugas di meja resepsionis dengan ramah.


"Aku ingin memeriksakan kehamilanku," jawab Aubriella.


"Kalau begitu anda bisa mengisi formulir ini dulu," kata perawat wanita itu sambil menyerahkan selembar kertas pada Aubriella.


Aubriella pun mengisi data dirinya di kertas tersebut.


"Mm ... Permisi, apa aku boleh minta tolong sesuatu," ujar Aubriella dengan ragu-ragu.


"Tentu saja," jawab perawat itu yang masih bersikap ramah.


"Kalau ada yang mencari namaku disini, tolong jangan beritahu siapapun. Tanpa terkecuali," ujar Aubriella.


Perawat itu pun tersenyum pada Aubriella.


"Anda tenang saja, kerahasiaan data diri pasien adalah prioritas utama kami," ucap perawat tersebut.


"Terima kasih," sahut Aubriella.


Aubriella menyerahkan formulir itu setelah dia mengisinya.


"Anda tinggal berjalanan lurus, setelah itu belok kiri," kata perawat tersebut.

__ADS_1


Dengan ditemani oleh bibi Betty, Aubriella pun berjalan kearah ruangan dokter kandungan yang akan memeriksanya.


Setelah namanya di panggil Aubriella pun masuk kedalam ruangan itu sendirian.


"Silahkan duduk," ujar dokter wanita itu dengan ramah.


"Apa yang anda keluhkan?" tanya dokter tersebut.


"Saya hanya ingin memeriksakan kandungan saya. Saya baru mengetahuinya kemarin jika saya hamil dan saya baru saja menempuh penerbangan jauh dari Washington kemari," jawab Aubriella.


"Silahkan berbaring di sana," ujar dokter tersebut sampai menunjuk kearah tempat brankar rumah sakit.


Aubriella merebahkan dirinya di sana.


"Saya akan memeriksa anda dulu," ucap dokter tersebut yang memeriksa denyut nadi Aubriella menggunakan stetoskopnya.


Dokter tersebut juga memeriksa tekanan darah Aubriella.


"Tekanan darah anda sangat rendah, anda juga kekurangan cukup banyak cairan. Saya sarankan agar anda di infus di sini dulu untuk malam ini," ujar dokter tersebut.


Dokter itu pun menaikan selimut sebatas pinggang Aubriella, dan menaikan dress yang di kenakan Aubriella hingga menampakan perut Aubriella.


Setelah mengoleskan gel pada perut Aubriella, dokter itu pun mulai memeriksa kandungan Aubriella.


"Beruntung kandungan anda sangat sehat, dan usianya sudah memasuki enam minggu. Sebenarnya usia itu sangat rawan dan seharusnya anda jangan dulu melakukan penerbangan jauh," jelas dokter tersebut.


Dokter itupun mengarahkan pandangan Aubriella agar dapat melihat janinnya.


"Apakah saya bisa memiliki foto hasil USG-nya?" tanya Aubriella.


"Tentu saja, saya akan mencetaknya untuk anda," sahut dokter tersebut.


"Terima kasih dokter," ucap Aubriella dengan ramah.


Aubriella keluar dari ruangan dokter itu dan mengikuti seorang perawat yang akan mengantarkannya ke ruang rawat inap.


"Apa saya harus memberitahu tuan tentang masalah ini?" tanya bibi Betty.


"Tidak perlu. Biar aku saja yang akan memberitahu mereka," jawab Aubriella.


Setelah sampai di kamar inapnya, Aubriella membaringkan dirinya di ranjang rumah sakit, seorang perawat mulai menyuntiknya dan memasangkan selang infus di lengannya.


"Terima kasih," ujar Aubriella.


"Sama-sama, beristirahatlah. Karna itu akan membuat anda dan bayi anda lebih tenang," sahut perawat tersebut dan meninggalkan kamar inap Aubriella.


Ponsel Aubriella berbunyi dan itu adalah panggilan dari sang kakak.


"Kau sudah sampai?" tanya Gavin di seberang telepon.


"Sudah," jawab Aubriella.


"Sekarang kau dimana?" tanya Gavin.


"Di rumah sakit, tadi aku berniat untuk memeriksakan kandunganku. Tapi, dokter menyarankan agar aku dirawat semalam disini karna kekurangan cairan," jelas Aubriella.


"Kakak akan secepatnya datang kesana," ujar Gavin.

__ADS_1


"Oh ya ... Kakak juga sudah mengganti nomer ponselmu," katanya.


Aubriella tak menggubris perkataan kakaknya.


"Istirahatlah, kakak akan meminta teman kakak untuk memindahkan Meggy kesana," ujar Gavin.


"Tak perlu kak, disini juga masih banyak dokter yang akan membantuku," cegah Aubriella.


"Kau yakin?" tanya Gavin.


"Mm ... Aku hanya tak ingin merepotkannya," ujar Aubriella.


"Baiklah," pasrah Gavin.


Setelah cukup lama mengobrol akhirnya Aubriella memutuskan panggilan teleponnya.


Bibi Betty masuk kedalam kamar inap Aubriella setelah membelikan makanan untuk nona-nya.


"Bibi sudah membelikan makanan untuk nona," ucap bibi Betty.


Aubriella bangun dari tidurnya dan menerima suapan demi suapan dari bibi Betty.


Setelah menghabiskan makanan dan meminum obatnya Aubriella pun tertidur karna saking lelahnya.


*


*


"Owhhhh ..." Baxter terlihat meringis merasakan pegal dan sakit di lehernya.


Dia menyentuh lehernya, bekas dimana Gavin membiusnya.


Pria itu bangun dari tidurnya dan melihat sang ayah yang berada di hadapannya.


"Dimana aku?" tanya Baxter.


"Di kamarmu, Gavin memulangkan-mu dengan keadaan dirimu yang tak sadarkan diri," jawab Silas


"Sial ..." Baxter mengeluarkan umpatannya.


Tangannya mencengkram sprei dengan wajah marah.


"Sudah daddy bilang, percuma kau kesana. Mereka tak akan memberikan Riella padamu lagi setelah apa yang kau perbuat," ujar Silas.


"Untuk sekarang fokuslah pada anakmu, kau bahkan belum melihatnya sama sekali sejak di lahir," lanjutnya.


Baxter tak menggubris perkataan sang ayah.


"Tinggalkan aku sediri dad. Aku hanya ingin sendiri," ucap Baxter dingin.


Silas menghembuskan napasnya dengan kasar melihat sikap keras kepala Baxter.


Sudah bisa di pastikan jika putranya itu akan kembali ke stelan awal saat belum bertemu dengan Aubriella.


"Daddy akan bicara pada tuan Abraham mengenai masalah ini," ujar Silas sebelum keluar dari kamar Baxter.


Lagi-lagi Baxter mengeluarkan umpatannya, pria itu kini menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian istrinya.

__ADS_1


"Maafkan aku honey, aku berjanji akan membawamu kembali padaku dan aku tak akan melepaskan mu lagi," ujarnya penuh tekad.


__ADS_2