Second Marriage With My Wife

Second Marriage With My Wife
Bab 23


__ADS_3

"Apakah siang ini kita ada meeting?" tanya Aubriella pada Julius.


"Tidak nona," sahut Julius.


"Tapi, tadi sebelum anda datang, asisten tuan dari tuan Theron menghubungi saya," kata Julius.


Aubriella melihat ke arah Julius dengan pandangan bertanya.


"Untuk apa?" tanyanya.


"Beliau mengajukan sebuah kerjasama yang bisa di bilang sangat menguntungkan, banyak orang yang ingin kerjasama dengan perusahaan itu tapi tuan Theron selalu mempertimbangkannya. Namun kali ini beliau sendiri yang mengajukan kerjasama," jelas Julius.


"Atur waktu untukku bertemu dengan tuan Theron," kata Aubriella.


Aubriella tidak akan menyangkut pautkan urusan pekerjaan dan urusan pribadi, selagi itu menguntungkan perusahaannya maka dia akan bersikap profesional.


"Baik nona," sahut Julius.


"Apa masih ada lagi?" tanya Aubriella.


"Tuan Marvolo mengajak anda untuk makan siang bersama," ujar Julius.


"Bilang padanya jika aku sedang sibuk," ucap Aubriella.


"Lain kali jika itu bukan tentang pekerjaan tolak saja dengan alasan apapun," lanjutnya.


"Baik, nona," sahut Julius.


"Saat jam makan siang aku akan menjemput anakku, jadi jika ada yang mencariku bilang saja aku sedang keluar," kata Aubriella.


"Baik nona," sahut Julius.


Karna tidak ada yang akan di bicarakan lagi, Julius pun undur diri dan keluar dari ruangan Aubriella.


Dan Aubriella kembali di sibukkan dengan pekerjaannya sebelum nanti menjemput sang putra.


*


*


"Kau sudah menghubungi asistennya mengenai kerjasama yang kita berikan?" tanya Baxter yang sudah sampai di perusahaannya.


"Sudah tuan," jawab Peter, asisten Baxter.


Baxter menganggukkan kepalanya dan berjalan masuk ke dalam lift dengan diikuti oleh Peter di belakangnya.


"Buat kerjasama ini lebih menguntungkannya," kata Baxter.


"Baik tuan, saya mengerti," patuh Peter.


Ting ...


Pintu lift terbuka, Baxter keluar dari dalam lift dan berjalan menuju ruangannya.

__ADS_1


"Kau menerima berkas mengenai peralihan kekuasaan enam tahun lalu, bukan?" tanya Baxter setelah mereka masuk kedalam ruangan pria itu.


"Iya tuan," sahut Peter.


"Simpan surat itu dan jangan pernah berikan kepada siapapun kecuali aku atau Riella yang memintanya," kata Baxter.


Pria dengan sorot mata tajam itu mendudukan dirinya di kursi kebesarannya.


"Baik tuan," sahut Peter.


Ponsel Peter berbunyi tanda ada panggilan yang masuk.


"Siapa?" tanya Baxter.


"Asisten nona Riella," jawab Peter.


"Angkat saja," ujar Baxter.


Peter pun mengangkat panggilan itu dengan Baxter yang memperhatikannya.


"Bagaimana?" tanya Baxter setelah Peter selesai menerima telepon.


"Tuan Julius bilang, nona Riella akan membuat janji temu dengan kita," jawab Peter.


Baxter menyunggingkan sedikit ujung bibirnya.


"Atur waktu yang pas untuk aku bertemu dengannya," kata Baxter.


"Baik tuan," sahut Peter.


Peter pun pamit dan keluar dari ruangan Baxter, meninggalkan pria itu sendirian dengan beberapa pekerjaannya yang ada di atas meja.


"Kita akan segera bertemu, honey," gumam Baxter menyunggingkan senyum miringnya.


*


*


Sementara itu di sekolah, Alex baru saja keluar dari kelasnya karna jam istirahat telah tiba.


Bocah laki-laki tampan itu membawa bekal dari sang ibu menuju kantin sekolah.


"Kau membawa bekal?" tanya salah satu teman Alex.


"Iya, mommy-ku yang membuatnya sendiri," jawab Alex.


"Mommy-ku sangat pintar memasak, dia bisa membuat apapun yang aku inginkan," kata Alex dengan semangat.


"Wah ... Benarkah?" sahut temannya dengan wajah takjub.


"Lain kali mainlah ke rumahku," ujar Alex.


Alex dan satu temannya memilih tempat duduk yang tidak jauh dari pintu masuk kantin.

__ADS_1


Teman Alex pergi meninggalkan Alex untuk mengambil makanan yang memang sudah di siapkan di kantin yang sudah sesuai oleh arahan guru mereka.


Alex membuka bekalnya dan tak langsung memakannya, karna dia menunggu temannya tadi.


Saat Alex sedang fokus dengan sekitar yang ada di hadapannya tiba-tiba pendengarannya menangkap sesuatu yang yang jatuh.


Brukkk ...


Alex mengalihkan pandangannya dan melihat seorang anak perempuan terjatuh dengan makanan yang juga ikut tumpah ke lantai.


Bocah laki-laki itu beranjak dari tempatnya dan membantu gadis itu.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Alex.


"T-tidak apa-apa," sahut anak perempuan itu dengan terbata-bata.


"Ya ampun, Angelina! kau tidak apa-apa?" tanya seorang guru yang datang menghampiri anak kecil yang ternyata Angelina.


"Tidak apa-apa Miss, saya hanya tersandung tadi," jawab Angelina.


Guru itu membantu Angelina berdiri, sedangkan Alex hanya melihat Angelina dengan begitu lekat.


Angelina mengalihkan perhatiannya dan melihat ke arah Alex berdiri.


"Terima kasih karna sudah membantuku," ucap Angelina dengan senyuman yang menghiasi wajah manisnya.


"Mommy!" gumam Alex tanpa sadar saat melihat Angelina tersenyum padanya.


"Kau bicara apa---"


"Alex!!"


Perkataan Angelina terpotong oleh suara yang memanggil nama Alex.


Alex pamit pada Angelina dan pada guru yang yang barusan datang.


Bocah laki-laki itu kembali ke mejanya.


"Ada apa?" tanya teman Alex.


"Tidak ada apa-apa," sahut Alex.


Alex memakan makanannya dengan isi kepala yang terus tertuju pada Angelina.


Walaupun masih berusia enam tahun, tapi Alex sangat kritis dan juga peka terhadap lingkungan yang ada di sekitarnya.


Daya ingatnya mengenai sesuatu juga sangat tajam dan teliti.


"Kau mau mencoba makananku? Mommy-ku bilang kita harus berbagi" kata Alex.


Teman Alex pun menyicipi makanan itu.


"Ini enak, lebih enak dari buatan mommy-ku," kata anak itu dengan polosnya.

__ADS_1


Saat makan Alex tak terlalu suka mengobrol, jadi dia memakan makanannya dengan cepat.


__ADS_2