Second Marriage With My Wife

Second Marriage With My Wife
Bab 19


__ADS_3

Sudah seminggu Aubriella tinggal di Toronto dan menempati rumah barunya bersama sang anak.


Alex juga sudah mulai masuk sekolah dan menjalani hari-harinya seperi anak seusianya.


Setiap jam makan siang Aubriella akan menyempatkan waktunya untuk menjemput sang anak dari sekolahnya, dan setelah itu dia akan kembali lagi ke perusahaan.


Tapi untuk hari ini Aubriella tak bisa untuk menjemput sang putra.


"Julius?" panggil Aubriella pada asistennya.


"Bisakah kau menyuruh seseorang untuk menjemput putraku di sekolahnya? Aku tak bisa menjemputnya hari ini karna kita akan ada meeting dengan klien," ujar Aubriella.


"Kalau begitu saya akan menyuruh Lizia untuk menjemput anak anda," ucap Julius.


"Lizia?" ulang Aubriella menyatukan alisnya.


"Sekretaris anda yang baru, dia baru masuk kerja kemarin," jawab Julius.


"Baiklah. Tapi, apa dia bisa di percaya? Mengingat dia baru masuk kemarin," ucap Aubriella sedikit ragu dengan usul Julius.


"Saya sudah memeriksa datanya sebelum di terima disini, dan semuanya bersih tak ada hal yang mencurigakan," sahut Julius.


"Baiklah, nanti aku akan mengirim foto putraku ke ponselmu, agar nanti dia tidak salah menjemput, dan aku juga nanti akan menelpon gurunya," ujar Aubriella.


Julius pamit undur diri dari ruangan Aubriella dan berjalan menghampiri Lizia yang berada di meja kerjanya.


Julius dan Lizia bekerja di satu ruangan yang sama, itu semua agar memudahkan Julius untuk mengajari Lizia.


"Lizia ..." panggil Julius.


"Iya tuan," sahut Lizia yang langsung berdiri setelah mendengar namanya di panggil.


"Kau jemput-lah anak nona Riella di sekolahnya, aku akan mengirimkan fotonya padamu," ujar Julius.


"Baik tuan," jawabnya dengan patuh dan sedikit menundukkan kepalanya.


"Jangan membuat kesalahan," ucap Julius.


"Saya mengerti tuan," jawab Lizia lagi.

__ADS_1


Julius mulai mengirimkan foto anak Aubriella ke ponsel milik Lizia.


Lizia melihat foto anak laki-laki tampan di ponselnya dan melihatnya dengan teliti.


"Wajahnya seperti tak asing ..." gumamnya dengan pelan.


"Kau bilang apa barusan?" tanya Julius yang merasa jika Lizia mengatakan sesuatu.


"Tidak ada tuan," kilahnya dengan cepat.


"Lebih baik kau pergi sekarang, karna sebentar lagi jam pulang sekolah," perintah Julius.


Setelah mendapat alamat dan nama sekolah tempat Alex belajar, Lizia pun bergegas melakukan tugasnya.


*


*


"Daddy dengar Riella memimpin perusahaan cabang keluarganya yang ada disini, apa kau sudah mendengarnya?" tanya Silas yang datang ke perusahaan untuk melihat putranya.


Sementara itu Baxter hanya menjawab pertanyaan sang ayah dengan gumaman saja.


Dam kini pandangan Baxter tertuju pada ayahnya yang duduk tepat di hadapannya.


"Aku akan menemuinya nanti, tidak sekarang. Mungkin dia belum siap untuk bertemu denganku," ujar Baxter dingin.


"Kau semakin dingin saja, bahkan dengan ayahmu sendiri?" ujar Silas.


Tapi Baxter tak menanggapi perkataan ayahnya mengenai sifatnya yang berubah.


"Bahkan saat belum bertemu dengan Riella kau tak sedingin sekarang," katanya lagi.


"Daddy kesini hanya ingin mengomentari sikapku?" ujar Baxter.


"Tidak, aku hanya ingin melihatmu saja dan memastikan perusahaan baik-baik saja atau tidak," jawab Silas dengan santainya.


"Tenang saja, aku tak akan membuatnya bangkrut," sahut Baxter.


Silas terlihat tertawa mendengar jawaban sang putra.

__ADS_1


Silas akui selama empat tahun ini perusahaan milik keluarganya semakin maju dan berkembang pesat ditangan Baxter, sang putra.


Bahkan Baxter memperluas usahanya di berbagai sektor dan memperluas jangkauan bisnisnya ke berbagai negara, dan sekarang perusahaan mereka menjadi salah satu perusahaan yang dapat di perhitungkan di dunia bisnis. Dan itu semua berkat tangan dingin dan kegigihan Baxter.


Silas beranjak berdiri dari duduknya.


"Pulanglah, Angelina selalu menanyakan-mu karna aku tak pernah pulang ke mansion," ucap Silas.


"Ah ... Melihat Angelina membuatku mengingat seseorang. Bukankah mereka mirip?" tanya Silas pada sang putra sebelum berjalan keluar dari ruang kerja Baxter.


Setelah ayahnya pergi, Baxter menghentikan kegiatannya dan menata foto yang berada di atas meja kerja.


Pria itu terlihat menghembuskan napasnya dengan berat, dia menyandarkan punggungnya di kuris kebesarannya dan memejamkan matanya.


*


*


"Siapa kau?" tanya Alex pada wanita yang ada di hadapannya.


"Dia yang akan mengantarmu pulang, ibumu tadi menelpon bu guru dan bilang kalau dia tak bisa menjemputmu," ucap guru sekolah Alex dengan lembut.


Sementara Lizia hanya bisa tersenyum saja melihat bocah laki-laki berusia enam tahun yang sedang melihatnya penuh curiga.


"Bolehkah saya telepon mommy, Miss?" tanya Alex.


Dan akhirnya bocah laki-laki itu berbicara dengan sang ibu menggunakan ponsel gurunya, dan Aubriella pun menjelaskan semuanya.


"Terima kasih, Miss," ucap Alex dengan span dan mengembalikan ponsel gurunya.


"Jadi, siapa namamu?" tanya Alex.


"Lizia Petrova," sahut Lizia memberikan senyumannya.


Alex terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Baiklah, ayo kita pulang," ucap Alex.


Lizia dan ALex berjalan kearah taksi yang menunggu mereka sejak tadi.

__ADS_1


Karna Lizia adalah seorang pendatang maka dia tak memiliki mobil dan hanya tinggal di apartement kecil.


__ADS_2