Second Marriage With My Wife

Second Marriage With My Wife
Bab 13


__ADS_3

Satu Tahun Kemudian.


"Bibi, tolong jaga Alex sebentar. Aku ingin melihat apa yang di lakukan Kyra," kata seorang wanita cantik yang baru saja menyusui anaknya.


"Baik nona," sahut wanita yang sudah muda lagi itu.


"Ohh ... Lihatlah bibir kecilnya yang bergerak-gerak itu," ucapnya gemas.


Sebelum meninggalkan sang anak wanita itu menyempatkan untuk mencium pipi tembem putranya


Cup ...


Wanita cantik itu keluar dari kamar dan berjalan kearah beranda depan rumahnya.


"Kyra apa yang sedang kau lakukan?" tanya wanita sambil bersedekap dada.


"Aku sedang melihat bunga-bunga anda yang baru saja datang," jawab wanita yang di panggil Kyra itu.


"Masuklah kedalam, bukankah kau belum sarapan," ujar wanita dengan mata zamrud itu.


"Sebentar lagi nona Riella," sabut Kyra.


"Kau bisa menatanya lagi setelah makan," ujarnya.


Lalu pandangan wanita itu tertuju pada sebuah mobil mewah yang memasuki pekarangan rumahnya.


Terlihat sesosok pria tampan keluar dari dalam mobil dan berjalan menghampirinya.


"Kakak!" teriaknya girang.


"I miss you," ucapnya memeluk sang kakak.


"I miss you too," jawabnya.


"Maaf baru bisa menemui-mu sekarang," kata pria itu setelah pelukan mereka terlepas.


"Tidak apa-apa, lagi pula aku disini juga tidak sendirian," ucapnya.


"Ahh ya, Kyra perkenalkan ini kakakku. Namanya Gavin," ujar wanita itu.


Kyra memberikan senyum terbaiknya dan mengulurkan tangannya.


"Ah maaf, tangan saya kotor," pungkas Kyra dan mengurungkan niatnya untuk berjabat tangan.


"Nona Aubriella banyak bercerita tentang anda pada saya," ujar Kyra seramah mungkin.


"Mm ..." Gavin hanya memberikan gumaman sebagai jawaban.


"Dimana keponakan tampanku?" tanya Gavin pada sang adik.


"Di kamarnya, dia baru saja tidur. Bibi Betty sedang menjaganya," jawab Aubriella.


"Kau sudah makan kak?" tanya Aubriella.


"Nona, aku akan kedalam dulu untuk menyiapkan sarapannya," kata Kyra dan mendapat anggukkan dari Aubriella.


"Aku baru melihatnya, kau menampung dia disini?" tanya Gavin.

__ADS_1


"Aku beru bertemu dengannya dua bulan yang lalu, dia kabur dari ayahnya yang akan menikahkannya dengan pria yang sudah memiliki empat orang istri. Aku hanya membantunya saja dan dia dia juga membantuku untuk mengurus Alex," jawab Aubriella.


"Jangan terlibat apapun dengan masalah orang lain, apalagi jika itu membahayakan-mu, di tambah kau baru mengenalnya," nasihat Gavin.


"Sejauh yang aku lihat Kyra gadis yang baik, dia banyak membantuku disini. Aku hanya memberinya makan dan tempat tinggal saja," tutur Aubriella.


"Lalu, kenapa kakak datang kemari mendadak dan tidak memberitahuku?" tanyanya.


Saat Gavin akan menjawab Aubriella lebih dulu menyelanya.


"Biar ku tebak, kau baru saja putus dari pacarmu dan melarikan diri kemari," ejek Aubriella.


"Kalau sudah tahu kenapa bertanya," sinis Gavin.


"Berhentilah bermain-main dengan wanita kak. Carilah istri yang akan selalu menemanimu hingga tua," nasihat Aubriella.


"Jika saja mommy masih ada, mungkin dia juga akan mengatakan hal seperti itu padamu," lanjutnya.


"Aku tidak sedang bermain-main, aku hanya belum menemukan yang cocok," timpal Gavin.


"Masuklah, aku tahu kau belum makan," ujar Aubriella dan berjalan masuk lebih dulu.


Gavin mengikuti sang adik masuk kedalam rumah peninggalan mendiang sang nenek.


"Tak banyak yang berubah disini," ujar Gavin sambil melihat ke sekeliling rumah.


Lalu, pandangan Gavin tertuju pada foto sang adik bersama anaknya.


"Dia sudah besar sekarang," kata Gavin fokus pada foto itu.


Gavin masih ingat saat terakhir kali dia ke Swiss untuk menemani adiknya melahirkan dan itu sudah empat bulan yang lalu.


"Dia sangat kuat menyusu, dan selalu bangun tengah malam karna lapar," sahut Aubriella.


"Aku masih ingat saat pertama kali tangan kecil itu memegang tanganku dengan erat," ujar Gavin.


"Apa kau kesulitan selama berada disini?" tanya Gavin dan menatap sang adik yang ada di sampingnya.


"Tidak. Karna ada bibi Betty dan Kyra yang membantuku," jawab Aubriella sambil memperlihatkan senyumannya.


"Kau tak ingin tahu kabar tentangnya?" tanya Gavin sambil melihat foto bayi kecil itu.


"Tidak! Aku hanya selalu berdoa agar dia selalu bahagia dengan kehidupannya sekarang," jawab Aubriella.


"Aku sudah cukup bahagia dengan kehidupanku sekarang," sambungnya.


"Kuharap dia bisa melupakanku dan memulai kehidupan yang baru bersama keluarga barunya,"


'Dia bahkan masih mencarimu kemana-mana sampai sekarang,' batin Gavin menatap sekilas adiknya.


"Nona, makanannya sudah siap," panggil Kyra.


"Ayo kak ... Kau harus mencoba masakan Kyra, dia sangat pandai memasak," ujar Aubriella membanggakan Kyra di hadapan Gavin.


"Duduklah Kyra, kau juga belum makan kan?" ujar Aubriella dan memaksa Kyra untuk duduk.


"Kau tak makan?" tanya Gavin pada adiknya.

__ADS_1


"Aku sudah makan sejak Alex belum bangun," sahut Aubriella.


"Tuan, anda tak boleh membuang-buang makanan. Anda harus memakan habis semuanya," tegur Kyra yang melihat Gavin menyingkirkan wortel dan juga brokoli.


Sementara Aubriella hanya melihat dua orang yang makan itu sambil menahan senyumnya.


"Kakakku tak suka dengan sayuran Kyra," ujar Aubriella.


"Kenapa tidak suka? Sayuran itu baik untuk tubuh kita," sahut Kyra.


"Kalau begitu kau saja yang makan," kata Gavin dingin dan memindahkan sayuran itu ke piring Kyra.


"Kalian sangat manis," goda Aubriella.


Dan kedua orang itu pun langsung diam dan kembali melanjutkan makannya dengan tenang.


*


*


Toronto, Kanada


"Kau baru pulang?" tanya seorang wanita yang sedang mengambil minum.


Pria itu tak menjawab pertanyaan wanita tersebut dan berlalu begitu saja menaiki anak tangga menuju kamarnya.


"Angelina demam, dan dia terus memanggil-manggil daddy-nya," ujar wanita itu dengan suara yang sedikit keras.


Pria itu pun menghentikan langkahnya di pertengahan tangga dan kembali melanjutkan jalannya.


Pria tampan itu memasuki kamar yang pintunya bercat pink.


Dia berjalan kearah ranjang yang berukuran cukup besar dan melihat gadis kecil yang sedang tertidur dengan damainya.


Pria itu mengusap pipi chubby putrinya dan menciumnya sebelum keluar dari kamarnya.


Di ambang pintu pria itu berpapasan dengan wanita yang ditemuinya tadi.


"Sampai kapan kau akan mengabaikan aku Baxter?" ucap wanita itu dengan lirih.


"Kau hanya menerima anakmu. Tapi, kau tak pernah menerima ibu dari anakmu, aku harus apa agar kau mau melihatku? Sekali saja, lihat aku," ujarnya menatap sendu pada Baxter.


Sementara Baxter hanya menatap datar pada wanita itu, tak ada ekspresi yang di tunjukan Baxter pada wanita di depannya.


"Mau sampai kapan kau akan mengharapkan Aubriella. Dia sudah pergi, dia sudah meninggalkanmu!" kata Sara dengan suara yang sedikit keras di akhir kalimatnya.


"Jangan pernah menyebut namanya dengan mulutmu, jika kau ingin berteriak jangan di depan kamar anakku," ujar Baxter dingin.


Baxter berjalan begitu saja menuruni anak tangga dan masuk kedalam ruang kerjanya.


Baxter mendekat kearah meja kerjanya dan mendapati sebuah surat.


Dia membuka surat itu, dan membacanya.


"Sialan ..." umpatnya dan langsung merobek surat itu.


"Sampai mati pun aku tak akan pernah menceraikan mu, Aubriella," kata Baxter penuh penekanan.

__ADS_1


__ADS_2