
Tujuan 1 toko outdoor.
“Cindy, bangun.. kita sudah sampai”, ucap Armand membangunkan Cindy.
“Ya.. sudah sampai ya”, jawabnya dengan suara yang masih mengantuk.
“Iya.. lo mau cuci wajah dulu enggak supaya enggak ngantuk lagi?”, jawab Armand.
“Boleh deh, anyway kita ngapain ke toko outdoor Mand?”, jawab Cindy.
“Kamar mandinya ada di dalam toko outdoor itu”, jawab Armand.
“Oh oke.. yaudah yuk kita masuk Mand”, jawab Cindy.
Sebenarnya Armand hanya ingin berada di rooftop toko outdoor, pasalnya dulu seseorang senang sekali duduk di tempat ini dan sambil menyeruput segelas ice coffe cappucino. Armand hanya tidak sanggup untuk mengungkapkannya lebih jelas.
“Armand.. lo di mana”, teriak Cindy.
“Bang.. liat Armand”, tanya Cindy kepada penjaga toko.
“Mba Cindy apa kabar? Mas Armand kan sedang di rooftop Mba”, jawab penjaga toko.
“Ko masnya kenal saya dan Armand? Apa Armand suka ke tempat ini”, jawab Cindy.
“Silakan Mba Cindy, Mas Armandnya sudah menunggu”, jawab penjaga toko.
Cindy berjalan menaiki tangga menuju rooftop untuk menemui Armand.
“Armand.. ko lo tinggalin gue, untung aja Mas penjaga toko kenal sama lo”, ucap Cindy.
“Habis lo lama sih”, jawab Armand singkat.
“Wah Armand, dari atas sini semuanya kelihatan ya. Lo suka ke tempat ini ya? Cuacanya juga enggak terlalu panas Mand, sepertinya gue juga akan suka ke tempat ini”, ucap Cindy.
“Mau ice coffe cappucino? Tanya Armand.
“Gue enggak suka kopi Mand”, jawab Cindy.
“Oke, gue pesan untuk gue sendiri ya”, jawab Armand.
“Ya silakan, emangnya enggak ada minuman lain selain kopi?”, jawab Cindy.
“Di sini hanya ada ice coffe cappucino”, jawab Armand.
“Kalau gitu gue enggak deh. Armand gue boleh ke sana gak”, tanya Cindy ke arah tanaman.
“Yaudah, hati-hati. Gue mau ke bawah bentar”, jawab Armand.
Cindy hanya menoleh dan tersenyum, ia fokus kepada tanaman tepat di depan matanya, sedangkan Armand turun ke bawah memesan ice coffe cappucino. Dan meminta ke penjaga toko outdoor untuk tidak berbicara apapun ke Cindy. Sekaligus memintanya antarkan untuk Cindy.
“Damar, gue minta lo jangan bicara apapun ke Cindy. Gue mau semuanya berjalan sebagaimana mestinya”, ucap Armand, di depan kasir.
“Apa enggak terlalu lama Mand buat dia?”, jawab Damar.
“Gue enggak mau buat dia terlalu beban”, jawab Armand.
“Oke Mand gue enggak akan sok kenal lagi deh sama Cindy, buat lo”, jawab Damar.
“Thanks Mar, kalau gitu gue mau ke rooftop”, jawab Armand.
Tidak lama Armand sampai di rooftop, kopi itu datang.
“Cindy.. itu kopi lo, gue mau lo coba”, ucap Armand dari tempat duduknya.
“Gue kan enggak suka kopi Mand”, jawab Cindy.
“Enggak apa-apa coba aja, lo pasti suka deh”, jawab Armand.
“Hemm”, jawab Cindy dan meraih kopi yang berada di atas meja.
“Ih.. ko enak sih”, ucap Cindy menikmati.
“Enak kan, enggak percaya sih”, jawab Armand.
“Boleh gue habiskan”, jawab Cindy.
“Boleh dong”, jawab Armand.
“Gue sana ya mau menikmati kopi dan melihat tanamannya”, jawab Cindy.
__ADS_1
Armand pun tersenyum...
Tiba-tiba ketika Cindy sedang asyik dan menikmati kopi tersebut, ia merasakan sesuatu yang buatnya merasa pusing dan suatu perasaan nyaman.
“Awww...”, teriak Cindy memegangi kepalanya.
“Cindy... lo kenapa”, sontak Armand mendekatinya dan meraihnya.
“Gue pusing Mand”, jawab Cindy.
“Mungkin karena lo belum terbiasa dengan kopi Cin”, jawab Armand.
“Kalau gitu kita ke tujuan ke-2 ya Cin, agar pusing lo hilang”, ucap Armand lagi.
“Tapi gue duduk dulu ya sebentar”, jawab Cindy.
Setelah Cindy duduk beberapa saat, mereka melanjutkan perjalanan ke-2 dan lagi Cindy hanya tertidur di pundak Armand karena masih merasa pusing. Tujuan ke-2 cafe tempat Armand menyanyi.
Tujuan 2 Caffe Binara.
“Cin.. lo masih pusing”, ucap Armand membangunkannya lagi.
“Masih sedikit”, jawab Cindy lirih.
“Yaudah masuk ke dalam cafe dulu, terus lo bisa duduk di sana”, jawab Armand.
“Iyah”, jawab Cindy singkat.
“Bisa jalan sendiri kan”, jawab Armand.
“Bisa ko, gue udah enggak apa-apa”, jawab Cindy.
Armand mencarikan tempat duduk yang kosong untuk Cindy, setelah Cindy duduk. Dan memesan teh manis hangat, Armand berjalan menuju panggung untuk menyanyikan sebuah lagu. Serta petikan gitar yang tak asing untuk Cindy.
“Lo di sini ya, habiskan tehnya. Gue mau nyanyi dulu biar pusing lo hilang, suara gue kan bagus Cin, gue yakin jadi obat untuk lo haha”, ucap Armand pede.
“Gue akui suara lo bagus Mand, tapi enggak usah terlalu pede juga bahwa lo akan jadi obat untuk gue haha”, jawab Cindy meledeknya.
“Dengerin suara gue dan lo harus menghayati itu”, ucap Armand berlalu.
Petikan gitar mulai terdengar, Armand dan beberapa teman band-nya memang sudah menyiapkan ini ketika ia ingin mengajak Cindy ke beberapa tempat. Jadi memang semua sudah diatur olehnya ketika waktunya tepat. Armand tahu bahwa Cindy akan telat datang ke sekolah karena ia membuntutinya. Dan memang sengaja datang terlambat setelah Cindy. Agar dapat menjalankannya dengan baik.
yang sia-sia akan jadi makna
yang terus berulang suatu saat henti
Banda Niera – Yang Patah Tumbuh Yang Hilang Berganti
Seketika Cindy menoleh ke arahnya setelah menghayati lagu tersebut. Cindy merasa ada yang mengganjal hatinya, kenapa Armand menyanyikan lagu ini lagi,di gunung pun begitu. Ada sesuatu yang membuat Cindy merasakan kerinduan. Namun tidak bisa dijelaskan.
“Kamu siapa Armand, kenapa semua ini tidak asing bagiku?”, benak Cindy dalam hati.
Selesai menyanyi Armand menghampiri Cindy.
“Cin.. ko bengong. Gimana masih pusing? Teh hangatnya habiskan, terus kita pergi lagi deh ucap Armand.
“Ternyata benar suara lo obat untuk gue, tapi jangan pede dulu. Mungkin dibantu teh manis hangat ini jadi semuanya seimbang jawab Cindy.
“Enggak usah malu untuk mengakuinya Cin hehe”, jawab Armand meledek.
“Mau ke mana lagi Mand?”, tanya Cindy.
“Ke suatu tempat lagi Cin, lo boleh ko tidur di pundak gue lagi”, jawab Armand.
“Enggak ah gue udah enggak apa-apa”, jawab Cindy.
“Oiya Armand... Lo kenapa kalo di sekolah bersikap dingin ke semua perempuan? Dan kenapa menyimpang sekali sekarang”, tanya Cindy
“Akan gue jawab, tapi kita ke tujuan selanjutnya ya”, jawab Armand.
“Kenapa sebentar di caffe ini Mand?”, tanya Cindy.
“Ya.. karena kerjaan gue udah selesai, kan gue penyanyi disini Cin”, jawab Armand.
“Terserah lo deh Mand”, jawab Cindy.
“Lo marah sama gue?”, tanya Armand.
“Kapan jalannya Mand ngobrol mulu”, jawab Cindy mengalihkan.
__ADS_1
“Yaudah yuk kita jalan”, jawab Armand.
~ Di Sekolah ~
Ayu mencoba menghubungi Lolita ingin segera memberi tahu kabar yang ia dengar tadi, menurut Ayu ini akan menjadi berita yang sangat bagus. Tapi tidak untuk Cindy, Rena dan Tia.
“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif cobalah beberapa saat lagi”, suara operator Ayu.
“Pake segala enggak aktif si nomornya. Gue teks aja kali ya”, benak Ayu.
Lolita, gue mau kasih info yang sangat bagus buat lo. Tadi gue dengar dari Ibu Zeni, kalau Tia Rena, Cindy dipilih mengikuti olimpiade Kimia dan hadiahnya beasiswa ke Jepang. Tapi syaratnya, sekolah tunggu suntikan dana dari orang tua lo. Lo kenapa nomor enggak aktif, lo aman kan Lita? (send)
Setelah Ayu mengirim teks, Carline mengejutkannya.
Ayu tidak sadar bahwa Carline sudah sedari tadi berada di belakangnya, Ayu terlihat panik.
“Habis teks apa ke Lita?”, tanya Carline.
“Gue enggak teks apa-apa”, jawab Ayu.
“Coba pinjam handphone lo”, jawab Carline.
“Enggak! Ngapain sih, ini kan privasi”, jawab Ayu gugup.
“Enggak usah panik gitu dong”, jawab Carline.
“Gue enggak panik, cuma terkejut aja lo ada di belakang gue, enggak sopan kan lihat-lihat privasi orang lain”, jawab Ayu.
“Gue enggak percaya kalau enggak ada apa-apa”, jawab Carline.
Bel pelajaran selanjutnya terdengar, Ayu mengalihkan pertanyaan Carline yang membuat ia semakin panik. Dipertengahan jalan Carline dan Ayu melihat Justin sedang berada di depan ruangan UKS.
“Lin, sudah bel kita masuk kelas aja, jam pelajaran ini kan guru killer gue enggak mau kena hukuman”, ucap Ayu.
“Bisa-bisanya lo ngalihin”, jawab Carline.
“Enggak Carline... salah paham deh lo, kan memang benar sudah bel pelajaran”, jawab Ayu sambil melangkah berjalan.
“Ayu.. Ayu”, ucap Carline.
“Apa lagi”, jawab Ayu.
“Justin mantan lo ngapain di depan ruangan UKS”, tanya Ayu.
“Please banget Ayu lo enggak capek ya urusin hidup orang aja”, jawab Carline.
“Emang lo enggak penasaran Justin ngapain di sana? tanya Ayu.
“Enggak, biasa aja”, jawab Carline.
“Gue sih penasaran”, jawab Ayu.
“Lo bilang takut dihukum kan kenapa masih kepo sama urusan orang lain. Ayo masuk ke kelas”, jawab Carline.
“Astaga Carlineeee...”, jawab Ayu terkejut.
Carline menuju kelas begitu juga dengan Ayu. Sedangkan Justin masih menunggu Yola untuk keluar dari ruangan UKS, meskipun Yola meminta bertemu di kantin usai pulang sekolah.
“Klek.. suara gagang pintu dibuka”
“Akhirnya lo keluar juga Yola”, ucap Justin.
“Lo ngapain masih di sini, gue bilang kan pulang sekolah dan itu di kantin”, jawab Yola.
“Gue mau minta maaf dulu sama lo”, jawab Justin.
“Minta maaf soal apa”, tanya Yola.
“Maaf gue udah buat hidup lo hancur”, jawab Justin merayunya.
“Untuk apa minta maaf? Enggak akan mengubah
apapun”, jawab Yola.
“Setidaknya gue enggak terus merasa bersalah”, jawab Justin.
“Lo perlu berubah bukan hanya minta maaf aja”, jawab Yola meninggalkan Justin.
“Gue tunggu di kantin nanti”, ucap Justin.
__ADS_1