
Di pertengahan jalan menuju garut pukul 02.15 dini hari.
“Cindy, lo tidur”, ucap Armand.
“Enggak Mand, kenapa?”, jawab Cindy.
“Kenapa enggak tidur”, tanya Armand.
“Lagi mikirin sesuatu yang menurut gue nyaman”, jawab Cindy.
“Coba cerita”, ucap Armand.
“Armand, gue jujur ya. Gue ngerasa kalau kita pernah dekat entah kapan itu gue enggak bisa ingat jelas, ribuan bintang di atas yang buat gue berpikir bahwa gue pernah di posisi ini. Gue nyaman dengan suara nyanyi lo, gue nyaman dengan bicara lo, gue nyaman, tatapan lo dan semua hal tentang lo. Armand atau ada yang lo tutupi dari gue? Gue yakin ini bukan kebetulan”, ucap Cindy.
“Cindy, gue minta maaf kalau menurut lo gue menutupi semua. Gue mau ajak lo ke Gunung Cikuray, untuk melihat senja. Ingat kan?”, ucap Armand.
“Lo kenapa enggak jawab pertanyaan gue, bahkan semua orang yang menurut gue mereka tau”, ucap Cindy.
“Lo mau dengar gue nyanyi enggak? Biar lo bisa tidur”, ucap Armand.
“Tapi enggak ada gitarnya”, jawab Cindy.
“Ada handphone untuk karaoke hehe”, jawab Armand.
Aku ingin berjalan bersamamu
dalam hujan dan malam gelap
tapi aku tak bisa melihat matamu
Aku ingin berdua denganmu
di antara daun gugur
aku ingin berdua denganmu
tapi aku hanya melihat keresahanmu
Payung Teduh – Resah
Akhirnya Cindy terlelap tidur dan sampai di kota Garut pukul 09.00 WIB
Hari Jumat, 24 Maret 2016
“Cindy, bangun udah sampai Garut nih”, ucap Armand membangunkan.
“Garut ya?”, tanya Cindy.
“Iya, bangun. Kita harus turun”, ucap Armand.
“Mata lo merah Mand, lo enggak tidur”, tanya Cindy.
“Enggak, gue jagain lo”, ucap Armand.
“Yuk, gue bantu turun pakai tangga ini”, ucap Armand lagi.
“Tangganya lo bawa?”, tanya Cindy.
“Iya buat lo”, ucap Armand.
Armand segera menuju basecamp untuk mendaftarkan diri, melengkapi berkas yang dibutuhkan. Sarapan dan istirahat. Setelah sholat dzuhur mulai mendaki.
“Cindy kita sarapan dulu ya”, ucap Armand.
“Iya Mand, sebelum sarapan gue mau mandi dong ada kamar mandi enggak sih”, tanya Cindy.
“Ada, yaudah sana lo mandi. Nanti langsung sarapan ya, oiya Cindy berhubung gue semalam belum tidur. Sehabis sarapan gue mau tidur ya. Sholat dzuhur selesai kita berangkat mendaki”, ucap Armand.
“Iya Mand terserah lo”, jawab Cindy.
Setelah mandi dan sarapan Cindy berjalan menyusuri kampung melihat-melihat keadaan sampai akhirnya bertemu dengan tim SAR.
“Teh Cindy?”, panggil Mang Umar.
“Iya Mang saya Cindy, maaf sebelumnya apa kita pernah ketemu?”, tanya Cindy.
“Atuh maaf Neng apa Neng lupa?”, tanya Mang Umar.
“Lupa?”, tanya Cindy heran.
“2 tahun lalu Neng Cindy pernah ke sini dan Neng Cindy pernah terpeleset jatuh hingga masuk jurang. Beruntungnya Neng selamat hanya luka benturan kepala, mungkin Neng Cindy tidak ingat karena benturan itu?”, ucap Mang Umar.
“Saya pernah kecelakaan di sini Mang? Maksudnya di gunung ini, maaf ya Mang saya tidak ingat apa-apa. Bisa tolong diceritakan kejadiannya?”, tanya Cindy.
“2 tahun lalu, tepat yang pasti saya tidak ingat Neng, waktu itu ada yang melakukan pendakian sekitar 6 orang 2 perempuan dan 4 laki-laki. Keadaannya sedang hujan dan kabutnya sangat tebal hingga membuat jalur pendaki menjadi sangat licin, entah bagaimana Neng Cindy terpeleset dan masuk jurang. 4 teman Neng Cindy turun mencari sinyal dan menghubungi kami tim SAR untuk menemukan Neng Cindy, kami sempat kesusahan mencari Neng Cindy karena cuaca tersebut, namun ada 1 laki-laki yang memohon untuk tetap mencari Neng Cindy dan laki-laki itu yakin Neng Cindy dalam keadaan baik-baik saja, yaa kami sebagai tim SAR hanya membantu. Hampir 5 jam loh Neng kami mencarimu menunggu cuaca stabil, akhirnya Neng Cindy kami temukan dalam keadaan pingsan dan banyak darah yang keluar dari kepala Neng Cindy, mungkin karena benturan sesuatu. Setelah itu kami membawa Neng Cindy ke rumah sakit”, ucap Mang Umar.
“Apa laki-laki ini termasuk Mang?”, tanya Cindy menunjukkan foto Armand.
“Iya Neng benar, dia laki-laki yang sangat yakin Neng Cindy baik-baik saja”, jawab Mang Umar.
Belum sempat mengucapkan terima kasih Cindy merasakan sakit kepala yang sangat hebat lebih hebat dari biasanya, Cindy berpikir apa gue hilang ingatan. Dan Armand adalah laki-laki yang gue kenal.
“Neng, kamu enggak apa-apa?”, tanya Mang Umar.
“Saya enggak apa-apa Mang, pusing sekali kepala saya. Bisa tolong antar saya ke basecamp”, ucap Cindy.
“Mari Neng saya bantu, maaf ya saya memapah Neng Cindy”, jawab Mang Umar.
“Iya Mang enggak apa-apa”, jawab Cindy.
“Neng Cindy sama siapa ke sini lagi?”, tanya Mang Umar.
“Bersama laki-laki yang saya tunjukkan fotonya tadi Mang, tapi saya mohon jangan bangunkan dia karena semalam dia tidak tidur”, jawab Cindy.
“Iya atuh Neng, semoga tidak terjadi hal sama ya Neng”, ucap Mang Umar.
“Iya mang”, jawab Cindy.
Sesampainya di basecamp, Cindy mencari obat yang sudah ia siapkan kemarin untuk dibawanya. Setelah meminum obatnya Cindy merasa tenang.
Waktu menunjukkan pukul 13.10 WIB Cindy membangunkan Armand dan bersiap untuk melakukan pendakian. Cindy tidak menceritakan apapun ke Armand, ia hanya ingin memastikan semuanya sendiri.
“Armand, bangun sudah jam 13.10 katanya kita akan mendaki”, ucap Cindy membangunkan.
“Armand... Armand bangun”, ucapnya lagi.
“Iya.. iya Cin udah waktunya ya?”, tanya Armand.
__ADS_1
“Iya bangun, cepat lo mandi, sholat dan makan siang. Kita langsung mendaki”, ucap Cindy.
“Lo kayanya semangat ya Cin”, jawab Armand.
“Iya, gue mau lihat senja tepat waktu”, jawab Cindy.
“Oke tunggu ya”, jawab Armand.
~ Di Sekolah ~
“Ren, kayanya Cindy enggak masuk lagi deh”, ucap Tia.
“Iya Ti, kenapa lagi ya anak itu? Apa kesiangan lagi”, tanya Rena.
“Ini sih udah jam 13.10 bukan siang lagi Rena”, jawab Tia.
“Bukan gitu maksud gue”, jawab Rena.
“Tau ah”, jawab Tia.
“Lah ko lo yang kesal”, jawab Rena.
“Tia hanya tertawa”
“Eh aneh lo, ketawa sendiri”, ucap Rena.
" Atau Cindy pergi lagi sama Armand " ucap Rena lagi
" Ah gak mungkin lah, masa bolos lagi " ucap Tia
" Sumpah ya gue kesal banget sama Cindy " ucap Rena
" Belum tentu sama Armand kan Ren " ucap Tia
" Yaudah yuk kita pastikan gimana? " ucap Rena
" Pastikan gimana " ucap Tia
" Kita datang ke kelas Armand " ucap Rena
" Segitunya Ren " ucap Tia
" Terserah lo mau ikut atau enggak " ucap Rena
" Tia hanya mengangkat alisnya "
~ Di Kelas 12 IPS 1 ~
“Tra, ingat rencana gue kan”, ucap Kiki berbisik.
“Ingat Ki, aman deh pokoknya”, jawab Putra.
“Oke, Justin enggak curiga kan”, tanya Kiki.
“Enggak Ki”, jawab Putra.
“Lo udah telepon Yola?”, tanya Putra.
“Aman Tra”, jawab Kiki.
~ Di Kelas 12 Mia 1 ~
“Yola, gue mau Sabtu ini lo lakuin rencana gue. Lo harus datang di kamar no 108 jam 21.00 yang udah gue booking buat lo dan Armand, gue mau berjalan lancar bagaimanapun caranya lo harus bujuk Armand mau datang ke kamar 108 dan skandal sama lo, ingat ya Yola kalau lo enggak ngelakuin, video skandal lo akan gue sebar”, teks Justin.
“Oke Yola, kamera CCTV akan gue pasang. Dan lo akan aman gue pastikan itu, lo bujuk Armand untuk tetap datang ke kamar itu dan lo bicarakan jujur di kamar. Lo siap Yol?”, tanya Kiki setelah terima teks.
“Siap Ki, gue tanggung semua risikonya”, jawab Yola.
~ Dirumah Lolita ~
" Litaaaaaa... gue turut berduka cita ya " ucap Ayu dan Carline memeluk
" Iyaa guys, thanksyou so much " ucap Lolita
" Kok lo gak sedih sih " ucap Carline
" Pertanyaan lo gak perlu gue jawab " ucap Lolita
" Lo kenapa Lita " tanya Ayu
" Biar jadi secret gue aja " ucap Lolita
" Kalau nanti lo mau cerita, gue siap buat dengar " ucap Carline
" Uuu... Thanks for everything " ucap Lolita
" Nyokap lo sedih banget kayanya " ucap Ayu
" Yaa gitu deh " ucap Lolita
" Udah gak usah bahas ini deh " ucap Lolita
Pemakaman papa sambung Lolita
~ Di Gunung ~
“Gimana bagus kan gunungnya? Gue rasa lo akan suka ini”, ucap Armand.
“Iya Mand, sepertinya gue punya kenangan banyak ya di sini”, jawab Cindy.
“Ingat yang di Prau ya?”, tanya Armand.
“Enggak Mand, tadi gue ketemu tim SAR dan tim SAR itu menceritakan semuanya 2 tahun lalu ada perempuan yang kecelakaan akibat hujan dan kabut tebal, tapi tim SAR enggak cerita perempuan itu siapa”, ucap Cindy.
“Ya, banyaklah pasti mungkin tim SAR-nya lupa”, jawab Cindy.
“2 tahun lalu lo pernah ke sini Mand?”, tanya Cindy.
“Pernah sama tim gue dulu”, jawab Armand.
“Termasuk gue?”, tanya Cindy.
“Armand hanya diam”
“Kenapa diam Mand”, tanya Cindy.
“Gue enggak mau buat kepala lo sakit lagi Cin”, jawab Armand.
__ADS_1
“Gue enggak akan kenapa-kenapa tenang aja Armand, lo mau jujur sama gue?”, tanya Cindy.
“Oh ya Cin, lo mau lihat spot senja terbaik versi gue kan? Nanti tempat camp kita akan lihat itu”, ucap Armand mengalihkan.
Sesampainya di tempat camp, ramai sekali banyak yang melakukan pendakian. Setidaknya mereka tidak sendiri. Cindy melihat senja, tampak manis. Cindy tersenyum berusaha mengingat semuanya. Armand hanya mengelus lembut rambut Cindy dengan penuh rasa sayang.
“Armand, kita sampai kapan di sini?”, tanya Cindy.
“Besok pagi kita harus udah turun Cin karena gue juga ada job di caffe. enggak apa-apa kan?”, tanya Armand.
“Oke enggak apa-apa”, jawab Cindy.
“Udah cukup puas belum lihat senjanya”, tanya Armand.
“Ya lumayan untuk mengobati kerinduan pada seseorang tapi entah siapa orangnya”, ucap Cindy.
“Aneh lo”, jawab Armand.
“Armand kali ini gue yang masak untuk makan malam ya”, ucap Cindy.
“Boleh kalau lo bisa, jadi gue tidur di tenda nih”, jawab Armand.
“Ya terserah lo sih Mand”, jawab Cindy.
Malam Sabtu yang cukup dingin, ditambah bintang di langit menatap bumi. Indah, Cindy ingat pernah melalui ini. Secara perlahan ingatan Cindy pulih kembali.
“Mand, lihat deh. Bintangnya bagus ya terang pula”,ucap Cindy.
“Iya, indah seperti lo Cin”, jawab Armand.
“Cindy hanya tersenyum”
“Mand, karaoke lagi dong gue mau lagu Banda Niera ya”, ucap Cindy.
“Oke, untuk lo akan gue lakuin”, jawab Armand.
Yang.. yang patah tumbuh
yang hilang berganti
yang hancur lebur akan terobati
yang sia-sia akan jadi makna
yang terus berulang suatu saat henti
yang pernah jatuh kan berdiri lagi
yang patah tumbuh, yang hilang berganti
“Armand, terima kasih ya. Gue nyaman sama lo”, ucap Cindy.
“Armand hanya tersenyum”
“Udah cukup belum dengar suara gue atau lihat bintangnya”, tanya Armand.
“Udah”, jawab Cindy singkat.
“Kita tidur ya”, jawab Armand.
“Good night Armand”, ucap Cindy.
“Good night Cindy”, jawab Armand.
Sabtu, 25 Maret pukul 07.00
“Morning Cindy, tumben udah bangun duluan lo”, ucap Armand.
“Morning Mand, nih sarapan buat lo”, jawab Cindy.
“Oiya Mand, gue udah packing, habis lo sarapan kita turun ya”, tanya Cindy.
“Lo udah sarapan belum”, tanya Armand.
“Udah dong, oiya Mand lo sarapan dulu ya. Gue mau keliling”, ucap Cindy.
“Sama gue aja Cin”, ucap Armand.
“Cuaca cerah ko Mand, gue akan hati-hati”, jawab Cindy.
“Oke, hati-hati Cin”, jawab Armand
Pukul 10.00 WIB
Mereka bergegas turun karena harus tiba di Jakarta pukul 18.00 bagaimana pun caranya. Armand harus datang ke caffe pukul 20.00 dan malamnya menemui ibu di rumah sakit. Sesampainya di basecamp pukul 13.00 Armand menyelesaikan urusan dengan petugas basecamp, dan langsung mencari kendaraan arah Jakarta. Tiba di Jakarta tepat waktu, Armand bergegas mengantarkan Cindy pulang dan Armand bergegas menuju caffe. Sesampainya di rumah. Cindy banyak bertanya kepada Bi Jainab apa yang terjadi 2 tahun belakangan ini.
“Bi.. Bi Cindy pulang”, teriaknya.
“Ya Non, tunggu sebentar”, jawab Bi Jainab.
“Bi, tolong angkat tas saya ya, hari ini melelahkan”, jawab Cindy.
“Oiya Bi satu lagi, ada banyak hal yang mau Cindy tanyakan”, ucap Cindy.
“Bibi tunggu di meja makan ya Non”, ucap Bi Jainab.
“Iya Bi, terima kasih.”
~ Makan Malam ~
“Bi, 2 tahun belakangan banyak kejadian yang enggak bisa Cindy ingat apa Bibi tau?”, tanya Cindy.
“Ah enggak ada Non”, jawab Bi Jainab.
“Terus ini obat apa Bi? Setiap Cindy mau ingat atau merasakan sesuatu kepala Cindy sakit setelah minum obat ini Cindy jadi tenang”, tanya Cindy.
“Itu hanya obat sakit kepala biasa Non”, jawab Bi Jainab.
“Tolong jujur sama Cindy Bi”, ucap Cindy.
“Bagaimana ya Non, bibi takut salah dan dimarahi Ibu ”, jawab Bi Jainab.
“Cindy janji enggak akan buat Bi Jainab kena marah sama mama deh”, ucap Cindy
“Benar ya Non”, jawab Bi Jainab.
“Iya Bi janjiii”, ucap Cindy meyakinkan.
__ADS_1
“2 tahun belakangan ini, Non Cindy hilang ingatan setelah kecelakaan naik gunung bersama Armand, Ibu marah sampai akhirnya memutuskan pindah rumah dan sekolah Non Cindy. Armand enggak boleh menemui Non Cindy lagi, tapi kemarin bibi lihat non bertemu Armand. Bibi enggak cerita ke Ibu karena takut Ibu marah. Intinya Ibu mau Non Cindy enggak ingat lagi tentang 2 tahun belakangan ini ”, ucap bibi.
Seketika kepala Cindy terasa sangat berat. Yang membuat Cindy pingsan, bibi panik sampai panggil dokter ke rumah tapi tidak beri tahu Ibu Cindy, takut semua menjadi berantakan.