
Keesokan harinya Jumat, 24 Maret 2016 pukul 20.00 WIB.
Armand sudah menunggu di tepi jalan, menunggu Cindy keluar dari rumahnya karena Armand tidak ingin orang tuanya tahu bahwa Armand datang lagi di hidup Cindy. Tiba-tiba Ibu Cindy menelpon.
" Kringggg.... " suara telepon
" Hallo " ucap Cindy
" Hallo, Assalamualaikum sayang " ucap Ibunya
" Waalaikumsalam mah, tumben mah telepon " ucap Cindy panik
" Bagaimana Kabar kamu sekarang Nak? ucap Ibunya
" Baik ko mah, mama gimana disana? semua aman? " ucap Cindy
" Semua terkendali disini. Bibi bilang, kepalamu sakit lagi kemarin " ucap Ibunya
" Sekarang udah enggak kok mah " ucap Cindy
" Obatnya harus kamu bawa sayang, jangan buat mama khawatir " ucap Ibunya
" Iya mah, Oiya Cindy mauu.., hemm gak jadi deh " ucap Cindy terteguk
" Mau apa Nak, bicara saja " ucap Ibunya
" Kalau bilang mau pergi sama Armand. Pasti mama gak setuju, kemarin aja udah ngelarang " Benak Cindy
" Kok diam " ucap Ibunya
" Cindy mau belajar mah " ucap Cindy
" Oh yasudah, maaf mama ganggu ya " ucap Ibunya
" Engga kok mah " ucap cindy
" Selamat belajar ya Nak " ucap Ibunya
" Iya mah " ucap Cindy dan menutup teleponnya
" Hampir aja keceplosan. Bilang sama bibi gak ya mau pergi sama Armand, Kalau gak Bilang nanti khawatir, terus ngadu ke mama huft .. " benak Cindy
" Bi... " teriak Cindy
" Ya non ada apa " ucap Bi Jainab
" Gini bi, Cindy mau pergi 2 hari. Tapi tolong jangan bilang mama ya " ucap Cindy
" Mau kemana non, Bibi nanti dimarahi Ibu " ucap Bi jainab
" Cindy mau jalan-jalan Bi, bosen dirumah " ucap Cindy
" Tapi non, nanti Bibi dimarahi " ucap Bi Jainab
" Iya makanya biar gak dimarahi Bibi jangan bilang mama. Ya bi.. please " ucap Cindy
" Ya Bibi janji, tapi non bawa obat ya " ucap Bi jainab
" Iya deh, yaudah mana obatnya. Cindy mau langsung berangkat " ucap Cindy
" Tunggu sebentar non " ucap Bi Jainab
" Non, ini obatnya " ucap Bi Jainab mengulurkan obatnya
" Oke bi. Janji ya gak bicara sama mama apapun " ucap Cindy
" Siap Non " ucap Bi Jainab
~Menuju gerbang~
“Armand”, ucap Cindy memanggil.
“Akhirnya keluar juga lo”, jawab Armand.
“Kenapa lo enggak masuk aja dulu ke rumah gue”, jawab Cindy.
“Nyokap lo di mana Cin”, tanya Armand.
“Nyokap gue masih di luar kota”, jawab Cindy.
“Lo udah siap”, tanya Armand.
“Udah dong, tuh alatnya juga udah siap”, jawab Cindy.
“Bagus deh, yuk langsung jalan. Rena tahu kita pergi?”, tanya Armand.
“Enggak Mand, biar ini jadi rahasia gue”, jawab Cindy.
“Hemm.. oke”, jawab Armand singkat.
“Nanti kita ke Garut Jawa Barat ya Cin, dan enggak naik vespa ini”, ucap Armand.
“Garut? Lo mau bawa gue kabur ya”, tanya Cindy.
__ADS_1
“Hahaha enggak lah untuk apa gue bawa lo kabur”, tanya Armand tertawa.
“Kalau kita Enggak naik vespa lo terus berangkat pakai apa Mand?”, tanya Cindy.
“Naik mobil sayur arah Garut”, jawab Armand.
“Duh enggak ngerti deh gue sama lo. Ada yang mudah tapi lebih suka dipersulit”, jawab Cindy.
“Hehehe. Nanti lo akan tau sensasinya”, jawab Armand.
“Oiya Mand lo tahu gak”, tanya Cindy.
“Apa tuh”, jawab Armand.
“Keluarga Lolita mau menyuntikkan dana ke sekolah dan Tia ikut jadi kandidat olimpiade tapi Rena enggak mau. Akhirnya di ganti sama Jonatan deh”, ucap Cindy.
“Berita bagus yaa, Jonatan ketua OSIS?”, tanya Armand.
“Iya dong, jadi lo aman deh enggak perlu bantu gue”, jawab Cindy.
“Iya ya sesuatu..”, jawab Armand.
“Cindy hanya tertawa”
Sesampainya di pasar sayur Armand mencari mobil yang dapat ditumpanginya ke arah Garut.
“Ayo Cindy naik mobil truk yang sebelah sana”, ucap Armand.
“Maksudnya gimana? Kita ke Garut naik truk ini?”, tanya Cindy.
“Iyalah pake nanya lagi, yuk cepat nanti ditinggal loh”, jawab Armand.
“Gimana cara naiknya Armand, gue perempuan astagfirullah”, jawab Cindy bingung.
“Emang lo enggak inget lo pernah naik truk?”, tanya Armand.
“Enggak pernah Armand”, jawab Cindy.
“2 tahun lalu Cin?”, tanya Armand.
“Engga Armand, enggak percaya banget sih”, jawab Cindy.
“Iya oke oke”, jawab Armand.
“Sebentar ya, gue cariin tangga dulu. Lo di sini aja”, ucap Armand.
Ternyata benturan kepala akibat kecelakaan itu membuat Cindy benar-benar lupa semuanya.
“Nah nih dapet tangga, ayo cepat naik”, ucap Armand.
“Iya bawel”, jawab Armand.
~ Dirumah Lolita~
" Hei momi.. Lagi ngapain? " tanya Lolita
" Hei sayang, Ini momi lagi menunggu popi. Ada apa sayang, tumben keluar kamar " ucap Ibunya
" Iya nih moms, Lita bosan dikamar " ucap Lolita
" Sini duduk sama momi " ucap Lolita
" Oiya moms. Momi sayang banget ya sama popi " ucap Lolita sambil duduk di samping Ibunya
" Iya Lita momi sangat sayang pada popi. Popimu yang membuat mama sembuh dari luka yang dulu. Tumben kamu nanya kaya gitu " ucap Ibunya
" Iyaa, semoga aja popi tidak jahat ya momi, seperti selingkuh atau melakukan kejahatannya yang lain " ucap Lita
" Ah bicara apa kamu, popimu tidak akan melakukan hal seperti itu sayang " ucap Ibunya
" Kira-kira popi pulang jam berapa moms " tanya Lita
" Momi juga kurang tahu nih, hampir malam juga ya " ucap Ibunya menengok jam
" Tidur aja momi udah malam, nanti popi pasti pulang " ucap Lolita
" Kamu juga tidur ya sayang " ucap Ibunya
" Iya momi, eh tapi momi ada makanan ringan gak Lita laper nih " ucap Lolita
" Ada momi buat puding kesukaan popimu dan kamu " ucap Ibunya berlalu menuju kamarnya
" Oke moms " ucap Lolita menuju dapur
Lolita menaruh racun dalam puding kesukaan papa sambungnya itu. Racun yang ia beli tadi pagi, ia sudah sangat muak dengan tingkah papa sambungnya.
" Gue akan bunuh lo " benak Lolita mengaduk racun
" Gue akan berpenampilan se-sexy mungkin, agar laki-laki brengsek itu tergoda dan rencana gue berhasil. Maafin anakmu ya moms, Lita terpaksa " benak lolita lagi
~ Pukul 00.15 Wib ~
Papa sambung Lolita pulang dalam keadaan mabuk, namun tetap ingat janji Lolita padanya yang akan membuat dirinya bersenang-senang. Langsung menuju kamar Lolita dan ia sangat tidak sabar, mununjukkan mimik wajah akan haus kehangatan.
__ADS_1
" Litaaaa.. papa datang " ucap papanya membuka pintu kamar lolita
" Hei papa sayang, udah siap bersenang senang sama lita " ucap Lolita menggoda
" Hei sexy papa siap bersenang-senang dengan tubuhmu " ucap papa Lita bernada mabuk
" Papa mabuk " tanya Lolita
" Iyaaa, papa numpang ke kamar mandi kamu ya. Mau bersih-bersih badan, agar sama-sama menikmati " ucap papanya
" Perlu Lita bantu " ucap Lolita menggoda
" Tidak perlu, kamu siap-siap saja di ranjang " ucap papanya
" Oke papa ( brengsek ) dalam benaknya " ucap Lolita
Lolita menyiapkan kamera disudut kamar, ketika nanti terjadi hal yang membuatnya rugi ia mempunyai bukti. Dan puding itu harus berhasil membuatnya sekarat, apalagi kondisi mabuk ini akan mempermudah semuanya.
setelah beberapa lama papa sambung akhirnya keluar dari kamar mandi, Lolita sudah siap dengan yang direncanakan. Berharap Tuhan berkehendak dengannya malam ini
" Hei pah, sudah siap? sini mendekap " ucap Lolita
" Tubuhmu sexy memakai lingerie itu " ucap papanya mendelikkan mata
" Ya dong, ini aku beli tadi pagi. Khusus untuk papa " ucap Lolita
Papa sambung menghampiri dan membuka celana, sambil meraba bagian paha Lolita. Lolita menahan rasa takutnya demi membalas dendam.
" Ayo Lita buat papa bersenang-senang " ucap papanya diatas tubuh Lolita
Lolita mulai melakukan aksinya, yang akan membuat papa sambungnya bergairah. Ketika sampai dipuncak gairah, ia akan berhenti melakukan dan akan menawarkan puding beracun itu.
" Pah, makan puding buatan momi dulu ya. Katanya kesukaanmu " ucap Lolita
" Nanti saja Lita, papa sudah tidak sabar mencicipimu lagi " ucap papanya
" Makan ini dulu ya pah, yaa.. hitung-hitung menghargai momiku dulu sebelum kita menghianatinya " ucap Lolita merayu
" Oke deh, tapi habis papa makan puding kamu harus langsung buat papa bergairah lagi ya " ucap papanya mengusap dada Lolita.
Papa sambung memakan puding, Lolita hanya memperhatikan, setelah beberapa suap ia teguk tidak lama papa sambung mengalami batuk-batuk dan mengeluarkan busa dari dalam mulutnya. Lolita segera memakaikan baju milik papanya seperti habis pulang kerja, dan Lolita bergantu baju tidur. Lolita berpikir akan membawa papanya didepan pintu, seolah-olah busa yang papa sambung keluarkan itu adalah hasil mabuknya hari ini.
" Uhuk.. uhukkk " ucap papanya memegang leher
" Pah .. pah kenapa? " ucap Lolita berpura-pura
" Uhuk .. uhukk " keluar busa dari mulut papanya dan sudah bergeletak tidak bernapas.
~Didepan pintu rumah Lolita~
" Momi... momi, tolong popi " teriak Lolita
" Bi Siti...... " teriak Lolita
" Yaaa non " ucap Bi Siti berlari
" Astaghfirullah, bapak kenapa non " ucap Bi Siti
" Panggil momi bi sekarang " ucap Lolita
Bi Siti berlari kearah kamar Ibu Lolita. Dan memberitahu dengan bernada panik
" Bu.. Bu.. Bapak keluar busa di mulutnya " ucap Bi Siti
" Dimana Bi " ucap Ibu Lolita
" Didepan Bu " ucap Bi Siti
Berlari kedepan pintu.
" Yaampun popi..... " teriak Ibunya
" Popi masuk pintu habis itu popi batuk-batuk moms, keluar busa dari mulut popi dan popi tadi sedang mabuk " ucap Lolita menjelaskan
" Popi mabuk lagi ? " tanya ibunya
" Iya moms mabuk berat, Lita lagi nonton televisi tadi moms " ucap Lolita
" Bi tolong telepon ambulans " ucap Ibu Lolita
" Ya bu " ucap Bi Siti
" Moms, cek hidung nya " ucap Lolita
" Popi sudah tidak bernapas lagi sayang " ucap Ibu Lolita menangis
Lolita memeluk Ibunya yang menangis. Karena ia tahu itu adalah perbuatannya
" Bi... gausah telepon ambulans, popi sudah tidak bernapas " teriak Lolita
" Sudah moms, ikhlas ya " ucap Lolita mengelus punggung ibunya
" Bi bantu saya angkat popi kebangku itu, dan besok kita harus umumkan agar segera dimakamkan " ucap Lolita
__ADS_1
" Baik non " ucap Bi Siti membantu mengangkat tubuh papa sambung Lolita.