Secret Trip And You

Secret Trip And You
Eps 9 #Mission Scret Trip


__ADS_3

sesampainya di dalam kamar Cindy merasakan pusing yang begitu hebat, keadaan rumah Cindy sepi hanya ada BiBi Jainab.


“Bi.. tolong Bi, Cindy pusing banget kepalanya”, teriakan rintih Cindy.


“Yaa Non, ada apaa? Non pusing lagi?”, tanya Bi Jainab dan memapah Cindy ke arah kamarnya.


“Non.. bentar ya bibi ambilkan obat dulu”, ucap Bi Jainab lagi.


Cindy sudah berbaring lemas di tempat tidurnya. Dan ia menanyakan apa yang terjadi dengannya belakangan ini karena semenjak Armand menyentuh tangan Cindy, ia merasakan getaran yang tak asing di hatinya.


Rabu, 22 Maret 2016


Cindy masuk sekolah seperti biasanya, sedikit murung dan telat masuk gerbang sekolah beberapa menit. ia tidak diizinkan masuk oleh Pak Satpam. kemudian disusul oleh Armand di belakangnya.


“Yahh.. Pak saya mau masuk masa enggak boleh. Saya udah rapi gini”, ucap Cindy.


“Maaf Nak Cindy ini peraturan yang harus ditaati”, jawab Pak Satpam.


“Loh.. Nak Armand telat juga?”, tanya Pak Satpam.


Cindy menoleh ke arah Armand, ia tak sadar bahwa yang berada di sampingnya itu adalah Armand. Sudah sangat dipastikan bahwa mereka berdua tak akan bisa masuk sekolah, Cindy semakin murung. Armand melihat wajahnya. Menarik tangan Cindy dan mengajaknya naik vespa keliling Jakarta.


“Iya Pak. Bolehkan saya dan teman saya masuk kelas”, ucap Armand.


“Maaf Nak sekali lagi”, jawab Pak Satpam.


“Cin, ayo ikut gue”, ucap Armand menarik tangan Cindy.


“Mau ke mana Mand, gue mau masuk kelas”, jawab Cindy datar.


“Percuma, enggak akan bisa. Mau lewat mana? Loncat pagar atau ada jalan rahasia? Kaya di film-film gitu?”, ucap Armand.


“Tapi kita mau ke mana Mand”, jawab Cindy bertanya.


“Udah yuk, naik vespa gue. Emang enggak sekeren mobil Justin si”, jawab Armand.


~ Di Kelas 12 MIA ~


“Ti.. Cindy mana ko enggak ada di bangkunya”, ucap Rena menepuk pundak Tia.


“Coba gue telepon ya, bisa aja dia telat atau lagi di toilet”, jawab Tia berbisik.


“Udah jam berapa sekarang, enggak mungkin banget Cindy telat sampai selama ini”, jawab Rena.


“Enggak aktif nomornya Ren, gimana dong”, jawab Tia.


“Baik anak-anak sekarang buka buku Kimianya halaman 17 kerjakan hari ini ya, dan selesaikan sebelum ganti pelajaran, untuk contoh masih ingatkan?”, perintah Ibu Zeni.


“Renaa, di mana Cindy?”, ucap Bu Zeni.


“Saya juga kurang tahu Bu, Tia telepon Cindy nomornya enggak aktif”, jawab Rena.


“Nanti tolong dihubungi lagi ya Tia, takut terjadi sesuatu”, jawab Ibu Zeni.


“Ya Bu..”, jawab Tia.


~ Di Vespa ~


“Armand, kita enggak apa-apa pergi begini di jam anak sekolah, kita pakai baju sekolah loh”, ucap Cindy.


“Lo mau ganti baju dulu enggak? Gue anter pulang buat ganti baju”, jawab Armand.


“Enggak usah deh, gue takut nyokap udah pulang ke rumah”, jawab Cindy.


“Atau mau beli baju aja, biar lo nyaman”, tanya Armand.


“Boleh sih.. gue ada tempat toko baju yang bagus tapi enggak terlalu mahal hehe”, jawab Cindy.


“Yaudah lo tunjukkin aja arahnya ya”, jawab Armand.


Cindy belum sama sekali menunjukkan arah jalan ke toko tersebut tetapi Armand sudah melewatinya.


“Armand lo tau tujuan gue?”, tanya Cindy.


“Enggak tahu gue, lagian lo diam aja dari tadi”, jawab Armand.


“Tapi ini arahnya benar Mand”, jawab Cindy.


“Oh yaudah bagus deh kalo benar, jadi gue enggak perlu puter-puter balik hehe”, jawab Armand.


~ Di Kelas 12 IPS 1 ~


Justin masih mengingat kejadian kemaren. Rupanya ia ingin balas dendam kepada Armand, selain mengalahkannya di pertandingan MMA kemarin dan mengalahkannya di pertengahan jalan di depan perempuan.


“Tra, gue mau balas dendam sama Armand”, ucap Justin berbisik.


“Balas dendam gimana maksudnya”, jawab Putra.


“Gue mau nantangin Armand MMA beberapa hari lagi. Tapi lo harus lakuin sesuatu buat gue. Dan Kiki enggak boleh tahu tentang ini”, jawab Justin.


“Kenapa, lo takut?”, jawab Putra meledek.


“Lo enggak perlu tahu kenapanya”, jawab Justin.


Jam pelajaran pertama telah usai. Tia, Rena pergi ke arah UKS untuk mencari Cindy, mungkin saja Cindy berada di UKS atau di tempat lainnya. Di koridor Tia dan Rena bertemu dengan Yola. ia hanya melirik dan menundukkan kepala.


“Hai Yola..”, sapa Tia.


“Hai..”, jawab Yola pelan dan menundukkan kepala.


“Lo kenapa Yol?”, tanya Tia.


“Gue enggak apa-apa, Cuma mau ke UKS aja”, jawab Yola datar.


“Udah ayo Tia, cari Cindy”, sela Rena.


“Sorry ya Yola kita duluan”, jawab Tia.


“Yola hanya tersenyum”


Dari ujung koridor terlihat Justin beserta 2 temannya, dengan mimik wajah yang kesal. Justin menghampiri Yola dan memarahinya tanpa berpikir bawa Yola ini perempuan.

__ADS_1


“Yola..!!”, teriak Justin dari ujung koridor.


Yola menoleh dan lebih cepat masuk ke dalam ruangan UKS karena Yola tidak ingin bertemu dengan Justin. Tetapi Justin tetap ingin menemui Yola.


“Yola.. keluar lo”, ucap Justin.


“Gue enggak mau ketemu sama lo”, jawab Yola.


“Lo mau gue sebarin masalah hidup lo”, jawab Justin mengancam.


“Lo masih berhubungan sama Yola?”, tanya Kiki.


“Enggak! Tapi gue lagi ada perlu sama Yola”, jawab Justin.


“Yola.. keluar cepat, gue janji deh enggak akan bully lo”, perintah Justin.


“Gue enggak sudi Justin. Lo punya telinga kan”, jawab Yola kesal.


“Dasar cewe cupu”, ucap Putra.


“Tra! Jaga mulut lo”, sela Kiki.


“Mending lo berdua pergi deh biar gue yang ngomong berdua sama Yola”, jawab Justin.


“Tra ikut gue sekarang”, ucap Kiki.


“Gue pinjem Putra dulu Tin”, ucap Kiki lagi.


“Bawa aja sana gue lagi enggak butuh juga”, jawab Justin.


“Yola.. ayolah keluar, gue butuh bantuan lo”, ucap Justin.


“Lo bisa ngomong di depan pintu tanpa tatap wajah sama gue”, jawab Yola.


“Gue enggak mau orang lain tahu Yol, cepat sini keluar. Gue perlu ngomong sama lo”, bujukan Justin.


“Oke pulang sekolah gue tunggu di kantin, Cuma lo dan gue enggak boleh ada 2 teman lo itu”, jawab Yola.


~ Di Vespa ~


“Armand”, ucap Cindy.


“Ya Cindy ada apa”, jawab Armand.


“Kita sebentar lagi sampai toko”, jawab Cindy.


“Iya tau ko”, jawab Armand singkat.


“Lo mau beli baju juga?”, tanya Cindy.


“Enggak, gue kan pake jaket. Jadi aman”, jawab Armand.


“Oiya Armand, kemarin sehabis kita makan gue naik angkut-an. Sampai rumah kepala gue pusing banget, kaya ingat sesuatu tapi enggak bisa”, ucap Cindy.


“Sekarang lo masih pusing enggak?”, tanya Armand.


“Udah enggak sih. Tapi kenapa ya, kalo gue dekat sama lo rasanya kaya aman aja gitu”, jawab Cindy.


“Bukan gitu maksud gue Mand, kaya sesuatu yang susah buat dijelasin”, jawab Cindy.


“Cin, itu tokonya kan”, jawab Armand mengalihkan.


“Iya Mand, lo ikut ke dalam atau tunggu luar”, jawab Cindy.


“Gue tunggu luar aja, jagain vespa”, jawab Armand.


“Haha emang vespa lo kenapa? Takut hilang? Vespa jelek aja hehe”, jawab Cindy meledek.


“Emang jelek si vespanya, tapi punya banyak cerita Cin”, jawab Armand menatap mata Cindy dalam.


“Yaudah gue masuk dulu ya”, jawab Cindy.


“Armand hanya tersenyum manis”


~ Di Koridor ~


“Ren.. Justin ada masalah apa sama Yola? Sampai segitunya pengen ketemu”, ucap Tia.


“Gue enggak tahu, pacaran kali Ti. Terus sekarang lagi berantem”, jawab Rena.


“Ya kali ya, gue harus kasih tahu Cindy nih”, jawab Tia.


“Buat apa?”, tanya Rena.


“Buat ngasih tahu kalo Justin sama Yola pacaran”, jawab Tia.


“Astaga Tia.. itu cuma persepsi gue doang”, jawab Rena.


“Masuk kelas aja Ti.. kayanya emang Cindy enggak


masuk sekolah, mungkin sakit. Nanti pulang sekolah kita ke rumahnya ya”, ucap Rena lagi.


Rena dan Tia kembali ke dalam kelas karena mereka sadar bahwa Cindy tidak masuk sekolah. Rasanya tidak mungkin jika Cindy telat datang ke sekolah tetapi tidak masuk kelas. Di pertengahan jalan. Rena, Tia bertemu dengan Ibu Zeni. Tak sengaja teman Lolita mendengar dari sisi tembok, setelah Ibu Zeni pergi Carline dan Ayu menghampiri Rena dan Tia.


“Dari mana kalian”, tanya Ibu Zeni.


“Habis dari UKS dan tempat lain bu cari Cindy, mungkin aja tadi Cindy ke UKS. Tapi sudah cari ke mana pun Cindy enggak ada Bu”, jawab Rena.


“Sudah kamu telepon belum”, tanya Ibu Zeni.


“Sudah Bu, masih tidak aktif nomornya”, jawab Tia.


“Oiya apa kalian sudah dengar dari Cindy, bahwa ibu ingin mendaftarkan kalian olimpiade dan hadiahnya beasiswa ke Jepang. Ibu rasa kalian akan ikut serta kan”, tanya Ibu Zeni.


“Ya Bu, Cindy sudah menceritakannya kemarin. Tetapi kami enggak minat Bu”, jawab Rena.


“Minat ko Bu”, sela Tia.


Sontak Rena menginjak kaki Tia karena mendengar jawaban Tia yang tidak sejalan.


“Loh memangnya kenapa Rena kamu tidak setuju?

__ADS_1


Bukannya ini peluang bagus untuk kalian”, tanya Ibu Zeni.


“Enggak apa-apa Bu, saya hanya tidak minat saja”, jawab Rena.


“Lantas Tia inginkan ikut serta olimpiade?”, tanya Ibu Zeni.


“E.... Enggak Bu, tadi cuma keceplosan saja”, jawab Tia gugup.


“Kalian ada masalah dengan Cindy? Rasanya tidak mungkin sekali kalian menolak tawaran yang sangat besar ini atau Cindy sudah bicara bahwa olimpiade menunggu


suntikan dana dari keluarga Lolita?”, tanya Ibu Zeni.


“Yaa, salah satunya itu Bu. Karena kemaren kami


sempat ada masalah dengan Lolita”, jawab Rena.


~ Di Sisi Tembok ~


“Carline, sini deh. Ko gue denger Lolita dibahas Ibu Zeni ya?”, tanya Ayu.


“Ada masalah apa lagi dia”, tanya Carline.


“Yang gue denger tadi, olimpiade dan suntikan dana dari keluarga Lolita. Berita bagus nih buat laporan ke Lolita”, jawab Ayu.


“Jangan, kita pastikan dulu apa permasalahannya”, jawab Carline.


“Ini udah pasti Line permasalahannya, tunggu apalagi”, jawab Ayu.


Terserah lo deh. Tapi kalau salah informasi gue


enggak ikut campur ya”, jawab Carline.


Di Koridor ~


“Ibu janji akan selesaikan permasalahan kalian dengan Lolita agar kalian bisa ikut olimpiade ini. Kesempatan besar loh Rena, Tia”, jawab Ibu Zeni.


“Kalo Tia sih ikutin Cindy dan Rena Bu. Kalau di antara kita enggak dapat beasiswa kan enggak asyik juga karena temannya hilang satu hehe”, jawab Tia.


“Yasudah Bu, kita pamit mau masuk kelas”, ucap Rena.


“Tolong dipikirkan lagi ya Rena, ibu tunggu jawaban kalian”, jawab Ibu Zeni.


“Baik Bu..”, jawab Rena, Tia serentak.


Setelah Rena, Tia berlalu meninggalkan Ibu Zeni. Ayu, Carline menghampirinya.


“Tia Rena.. ada yang mau gue bicarakan”, ucap Ayu.


“Ada apa? Gue enggak mau cari masalah sama kalian”, jawab Rena.


“Lo takut?”, jawab Ayu.


“Ada yang lebih penting dari pada harus ngeladenin lo bicara”, jawab Tia.


“Gue denger semua ko”, jawab Ayu.


“Gue enggak peduli apa yang lo denger tadi”, jawab Rena.


“Lo butuh beasiswa kan? Ngaku lo, eh tapi syaratnya harus dapat suntikan dana dulu dari keluarga Lolita ya, malu-maluin banget si lo”, jawab Ayu ketus.


“Mending lo ngaca deh, punya kaca gak”, tanya Tia.


“Udah lah Yu, ngapain si ngurusin mereka, enggak penting tau”, sela Carline.


“Ayo Ti kita masuk kelas anggap aja yang bicara tadi enggak ada”, sela Rena menarik tangan Tia.


“Ye.. awas lo ya, gue sampaikan berita ini ke Lolita”, jawab Ayu.


“Ayu! enggak penting bahas ini”, sela Carline.


“Lo kenapa ya Lin? Bela mereka mulu”, jawab Ayu.


“Gue enggak bela mereka, lo aja yang udah keterlaluan. Lagian biarin aja kali kalo mereka dapat beasiswa karena mereka pintar”, jawab Carline.


“Enggak ngerti lagi gue sama lo Lin”, jawab Ayu


Carline berlalu meninggalkan Ayu.


~ Di Toko ~


“Armand, gue udah selesai pilih baju. Gimana menurut lo cantik enggak gue”, ucap Cindy mengejutkan.


“Bisa enggak, jangan mengejutkan begitu”, jawab


Armand sontak terkejut.


“Maaf.. abis lo gue perhatiin dari dalam toko bengong aja. Kaya ada yang lagi dipikirin gitu”, jawab Cindy.


“Lo cantik Cin, sedari dulu”, Benak Armand.


“Lo kenapa Mand? Bisa ko cerita sama gue”, jawab Cindy.


“Cindy waktu kita enggak banyak, lebih baik kita berangkat sekarang”, jawab Armand mengalihkan.


Ya oke..”, jawab Cindy dan menaiki vespa milik Armand.


Tujuan pertama dari Armand adalah toko outdoor yang sering ia kunjungi sebelum kecelakaan itu menimpa seseorang. Kedua akan mengajak Cindy ke caffe tempat Armand menyanyi bersama temannya. Ketiga Armand akan mengajak Cindy ke Blok M tempat pertama kalinya Armand bertemu dengan seseorang dan yang terakhir, Armand mengajaknya ke suatu dermaga dan menyebrangi laut hingga berhenti di suatu pulau.


“Cindy.. lo cukup diam dan pegangan yang erat karena jadwal kita hari ini sangat padat. Gue minta lo jangan bawel oke”, ucap Armand.


“Haa.. apa Mand? Makan ikan bawal”, jawab Cindy.


“Lo enggak pernah berubah, tetap menjadi Cindy yang manis”, benak Armand.


“Armand lo bicara apa sih ko malah diam”, jawab Cindy mendekatkan telinganya.


“Gue minta lo jangan bawel. Cukup diam dan kita akan sampai tujuan dengan selamat”, jawab Armand.


“Kalau gue enggak boleh bawel, gue boleh tidur di pundak lo enggak? Gue ngantuk hehe”, ucap Cindy.


“Boleh, dan peluk gue supaya lo enggak jatuh”, jawab Armand.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, Cindy memeluk erat Armand. Armand hanya berharap bahwa suatu saat akan datang keajaiban. Karena bagaimanapun cerita ini belum berakhir. Ia hanya tersenyum dan mengingat kenangan yang pernah ia lalui dulu. Dan andai kejadian itu tidak menimpanya, semua akan baik-baik saja sampai sekarang.


__ADS_2