Secret Trip And You

Secret Trip And You
Eps 2 #Mendaki Gunung Prau


__ADS_3

“Kamis, 16 Maret 2016 ”


Sesampainya mereka pukul 22.30 dan langsung bertemu dengan Pak Darsomo membicarakan hal apa saja yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan selama melakukan hiking, Pak Darsomo juga tidak sendiri namun dengan 4 temannya. Kami pun beristirahat terlebih dahulu.


Esok harinya


“Jumat, 17 Maret 2016 "


Sebelum melakukan hiking kita dibekali beberapa wejangan yang super-super panjang dan kami berdoa bersama, kami bersiap untuk melakukan hiking melalui jalur resmi yaitu Patak Banteng. Selama di perjalanan banyak kejadian yang menegangkan, pasalnya gue (Cindy) seperti mendengar sesuatu teriakan di telinga dengan volume yang cukup kencang, gue terkejut sampai akhirnya gue terpeleset.


“Auwww ” teriak Cindy.


“Cindy, lo kenapa bisa kepleset gitu ” ucap Rena.


“Kenapa Nak? Hati-hati Nak jalannya jangan bengong ” ucap Pak Darsomo sambil


memapah Cindy.


“Duh.... maaf ya Pak, jadi ngerepotin. Tadi saya tiba-tiba seperti mendengar suara di telinga yang buat saya jadi terkejut ” jawab Cindy merintih kesakitan.


“Coba sini Nak kakinya bapak periksa ” ucap Pak Slamet.


“Cindy.. kenapa?? Terkilir ya? ” ucap Tia yang datang menghampiri.


“Gue enggak apa-apa Ti, cuma kepleset aja tadi ” jawab Cindy.


" Kakinya cuma terkilir, nggak terlalu parah ” ucap Pak Slamet yang pijat kaki Cindy.


“Memangnya kamu dengar apa Nak? Sampai terkejut seperti itu ” tanya Pak Darsomo.


“Tapi kembali lagi seperti yang saya beri-arahan, tak perlu menceritakan apapun selama kita masih berada di tempat ini, untuk menjaga etika kita terhadap alam. ” imbuh Pak Darsomo.


“Iya Pak, saya paham terima kasih sudah memberikan peringatan dan arahan ” jawab Cindy.


“Yuk.. kita lanjut perjalanan Pak, kalo semua udah aman ” ucap Tia.


Sesampainya di pos 2 dan menuju ke pos 3 yang jalurnya sedikit terjal dan lebih menanjak serta banyak akar-akar pohon, target dari Pak Darsomo harus sampai di pos 3 pukul 16.00 WIB,


untuk menyiapkan segala rupa, seperti mendirikan tenda, mencari air dan masakan untuk makan malam.


“Maaf anak-anak kita harus sampai di pos 3 untuk mendirikan tenda sebisa mungkin pukul


16.00 ya karena waktu kita udah nggak banyak lagi ” ucap Pak Darsomo.


“Ya.. benar anak-anak, kalian harus kuat ya. Sebentar lagi kira-kira 2 jam lah kita sampai di pos 3”, ucap Pak Angga.


“Oke Pak... tapi boleh nggak sih istirahat lagi, saya capek... 10 menit aja " ucap Rena.


“Kan ngeluh lo Ren...” ucap Cindy.


“Nggak ngeluh Cindy... tapi gue capek mau duduk dulu ” jawab Rena.


“Ya.. silahkan istirahat karena jika dipaksa pun nggak baik untuk kita ” jawab Darsomo.


“Terima kasih Pak sudah bela saya ” jawab Rena meledek Cindy.

__ADS_1


“Saya tidak membela siapa-siapa Nak ” jawab Pak Darsomo.


“Hahaha pede banget lagian Rena, siapa juga yang bela lo ”jawab Cindy meledek dan tertawa.


“Anyway Bapak sudah berapa lama menjadi Mapala? sela Tia bertanya.


“Saya sejak kuliah, seangkatan dengan Papamu. Dulu papamu itu idola Mapala loh Ti..” jawab Pak Darsomo.


“Waduh sudah lama sekali ya.. sudah berapa banyak gunung yang sudah Bapak kunjungi? Lagi pula Papa saya biasa aja ah Pak tidak ada kerennya sama sekali, kenapa bisa menjadi idola di Mapala?”, jawab Tia heran.


“Papa lo keren tau Ti.. lo nggak nyadar ya? Gue aja nyadar ” ucap Rena.


“Jangan coba-coba lo untuk jadi pelakor ya Ren!! ” jawab Tia meledek.


“Kalo boleh mah Ti.. lo jadi anak tiri gue nanti hahaha ” jawab Rena meledek.


“Hus! Bicaranya yang sopan dong, kalian ini kan lagi di alam liar ” sambung Cindy.


“Biar Bapak yang menjelaskan ya.. jadi Papa Tia ini yang mendirikan Mapala di kampus kita dulu, dan Papa Tia bisa melakukan hiking selama 1 minggu untuk beberapa gunung loh!! ” jawab Pak Angga.


“Wah... keren Ti Papa lo, wajar aja jadi idola di Mapalanya ” sambung Rena.


“Rena.... udah kita lagi dimana ini jangan macem-macem ” ucap Cindy lagi.


“Cindy! udah deh kaki lo tuh belum sembuh total jadi jangan berisik ” jawab Rena meledek.


“Ihh sumpah ya Ren rasanya pengen gue acak-acak tuh rambut lo!! ” ucap Tia.


“Ya Ti.. serbu Rena!! Jangan kasih ampun, nanti kalo kita udah turun acak-acak rambutnya (hahaha) ” ucap Cindy gregetan dan sambil tertawa.


“Ih Pak Bagus bisa bicara juga ya ternyata, habis dari tadi diem aja, hehe bercanda ya Pak ” ucap Rena.


“Bapak itu dijuluki bad-boy dulu, yuk sambil jalan ” jawab Pak Bagus.


“Hah... bad-boy? Macam Bapak gini? Ngadi-ngadi aja Bapak nih hehe ” jawab Rena.


“Rena.. bisa diem gak lo! ” ucap Cindy.


“Cindy.. marah-marah mulu deh lo!! ” jawab Rena meledek.


“Udah fokus sama medan tanjakan, kalau kalian banyak mengeluarkan energi bicara kapan sampai di pos 3-nya ” sambung Pak Angga.


Sudah hampir 1 jam dalam perjalanan waktu menunjukkan pukul 15.30 dan lagi ada kejadian yang buat kita semua panik, tiba-tiba Rena hilang.


“Eh Rena mana ” ucap Cindy.


“Oya.. Rena mana Pak, apa ada yang liat Rena kemana ” jawab Tia.


“Bukannya tadi Rena tepat di belakang kamu Nak Cindy? Dan yang paling belakang kan ada Pak Bagus ” jawab Pak Darsomo


“Ya.. memang tadi dia tepat di depan saya dan di belakangnya Nak Cindy, saya juga heran kenapa bisa tiba-tiba nggak ada.. ” jawab Pak Bagus.


“Ih gimana dong... ”ucap Cindy panik.


“Rena... Rena...!! ”teriakan Cindy memanggil Rena.

__ADS_1


“Ren... lo dimana ” disusul teriakan Tia.


“Rena..... jangan bikin panik kita semua ” ucap Cindy mata yang berkaca-kaca.


“Kita berpencar, saya dengan Tia, Bagus dan Pak Slamet ke arah barat. Sedangkan Cindy, Angga dan Pak Dani ke arah selatan, titik kumpulnya di sini ya.. coba tolong cek HT-nya masing-masing ” Pak Darsomo memberi arahan.


“Test.. test ” serentak melakukannya.


“Mulai berpencar...”


Mereka berpencar mencari Rena dengan cara membagi tim.. padahal Rena sedang asyik mengobrol dengan seseorang yang 1 sekolah dengannya.


“Hei... Lo Armand kan, yang sekolah di SMA 3 Jakarta? Bukannya lo ini anak indie ya? Kok bisa larinya ke gunung? ” sapa Rena.


“Hai.. maaf lo siapa ya? Ya gue Armand tapi gue nggak pernah lihat lo ” jawab Armand.


“Ya iyalah jelas, gimana lo mau liat atau kenal gue.. lo ini kan super sibuk sama dunia lo, yang jutek, plus irit sama suara dan bodo amat sama cewek ” jawab Rena meledek.


“Oke.. kalo gitu kenalin, gue Armand ” (berjabat tangan dengan Rena)


“Gue Rena anak kelas MIA 12 ” jawab Rena


“Oh ternyata lo anak kelas MIA 12 lo sama siapa ke sini? Sendiri? ” jawab Armand.


“Astaga!! Tadi gue sama temen-temen gue, kok mereka nggak keliatan ya sekarang.. ya ampun Armand temen gue pada kemana ini.. ” ucap Rena ketakutan.


“Udah tenang lo nggak usah takut, gue juga sama temen-temen gue kok cuman gue jalannya duluan


sedangkan temen gue masih ada di belakang ” ucap Armand


“Kalau gitu lo mau temenin gue cari temen gue nggak? Atau enggak gue gabung deh sama lo”, jawab Rena.


“Boleh aja kalau lo nggak risih nantinya karena temen gue semuanya cowok ” jawab Armand.


“Ganteng-ganteng nggak? Haha ” jawab Rena sambil tertawa dan meledek.


“Anyway teman lo nggak nyariin lo ya? Kasian amat ” ucap Armand.


“Yakin sih gue di cariin tapi kan sudah jauh juga pasti ” jawab Rena tenang.


“Emang lo nggak ada alat komunikasi kaya HT gitu atau alat lainnya? ” tanya Armand.


“Ya ampun, astaga Armand untung lo ingetin gue. sempat dikasih kayak telepon gitu sih tapi gue nggak ngerti cara pakainya ” jawab Rena sambil geledah tas carrier-nya.


“Mana sini, gue lihat kayak apa ” jawab Armand.


“Sebentar, lagi dicari alatnya, gue simpan di bagian apa yaaaa ” jawab Rena panik.


“Coba di bagian depan atau sisi kanan dan kiri tas lo ” jawab Armand.


“Oh ya.... Ini dia ketemu, nih lo lihat. Gue nggak ngerti ini apa ” jawab Rena senang.


“Astaga!! Ini namanya HT Rena, alat komunikasi tanpa kuota pakainya sinyal ” jawab Armand terkejut.


“Loh!! Hp biasakan juga butuh sinyal Armand, bukan cuma kuota aja ” jawab Rena polos.

__ADS_1


Alat HT yang dibawa oleh Rena mulai diaktifkan Armand, sempat terdengar suara namun tidak jelas, setelah beberapa menit akhirnya HT mulai berfungsi dengan jelas.


__ADS_2