Secretary & Secret Baby

Secretary & Secret Baby
Tidak menyerah


__ADS_3

Uang Alex yang Lily pakai untuk biaya kehamilan dan menganggur sudah ia kembalikan meski harus berhutang pada Mitha.


Kendati hanya tiga set perhiasan saja, tapi nominal yang tertera cukup besar. Gaji Lily selama empat bulan kerja saja belum cukup menutup jika tidak dibantu uang Mitha.


Tadinya Lily berpikir, jika Alex tak mau bertanggung jawab dengan menikah, setidaknya uang akan membantunya.


Saat membeli emas-emas itu Lily memang sengaja menghitung biaya pengeluaran menganggur selama satu tahun ke depan plus biaya persalinan.


Sebab dalam masa hamil tidak mungkin Lily bekerja sementara dirinya saja mengalami mual muntah selama hampir delapan bulan.


Setelah cukup dengan ancaman Axel, hari ini Lily tetap meneguhkan hati untuk kembali bekerja. Sesuai perintah Axel, pagi ini Lily berangkat ngantor sendiri.


Lily cantik dengan busana formal berwarna hitam miliknya, rambut lurusnya sedikit bervolume saat terurai indah. Untuk riasan wajah Lily sudah terbiasa dengan dandanannya.


Meski tak pernah mengenakan sepatu heels, beruntung Lily sudah memiliki tinggi badan yang ideal untuk ukuran perempuan.


Semakin banyak mengenal dunia luar semakin pula Lily belajar menghargai diri sendiri, seperti kata Axel dua bulan lalu.



Ting....


Langkah Lily masuk ke dalam lift ekslusif yang terbuka. Baru saja tubuhnya berputar, seseorang dengan pakaian kasual memasuki lift tersebut.


Ting....


Kembali lift tertutup. Lily memindai sekujur tubuh pemuda tampan itu. Bukan Axel melainkan Alex yang berdiri menyeringai menatapnya.


Lily begitu tajam menatap ke dalam bola mata biru milik Alex. Rasa benci yang teramat dalam membuat Lily tak lagi respect pada pemuda itu.


"Masih punya nyali datang ke sini kamu hmm?" Alex mendekat bahkan meletakan telapak tangannya pada permukaan dinding lift demi membelenggu tubuh ramping Lily.


Lily mendongak, ia mencoba tegar meski kedekatan mereka cukup tipis. "Aku masih punya kontrak kerja, dan lagi saudara mu sendiri yang mencegah ku pergi dari Millers-Corpora." Katanya.


Tak ada ketakutan, keragu-raguan, gemetar, atau pun ekspresi gagap Lily seperti yang dahulu sering Alex dapati.

__ADS_1


Terkekeh, Alex menyeringai. "Jadi kamu sudah merasa cantik rupanya. Jangan pernah berpikir kecantikan mu ini, bisa menggaet adikku. Percaya diri sekali kau ini hmm?"


Lily tersenyum kecil. "Sayangnya Pak Axel tidak memandang wanita dari penampilan luarnya. Bagaimana pun penampilan ku, aku rasa dia akan tetap respect padaku."


Sontak Alex melurut tatapan tidak bersahabat sesaat setelah mendengar kalimat menyebalkan dari bibir tipis Lilyana Bachir.


"Tidak semua laki-laki peduli dengan penampilan luar. Karena ada beberapa pria yang dikaruniai pandangan berkelas seperti Pak Axel."


Brakkk...


Kembali Alex menghentakkan punggung Lily pada permukaan dinding lift. "Beraninya bicara seperti itu padaku?" Ketusnya.


Lily terkekeh samar. "Aku bosan menjadi lemah. Karena ternyata perempuan lemah hanya ada di bawah kaki laki-laki brengsek."


"Lily!" Alex merangkum kedua rahang wanita itu dengan sebelah tangan. Wajahnya mendekat penuh amarah. Secara tidak langsung, Lily mengatainya brengsek dan tidak berkelas.


"Aku sudah mengembalikan uang-uang mu, bukankah itu berarti sudah tidak ada lagi urusan di antara kita berdua?"


Alex mengikis jarak setipis mungkin. "Kau pikir aku akan diam saja saat kau mencoba mendekati adikku? Bahkan memanipulasi keluarga ku, begitu?"


Alex kehilangan fokus setelah netra birunya tak sengaja turun ke bawah. Dari atas, belahan dada Lily terlihat sempurna.


Blouse hitam menerawang yang dipadukan dengan dalaman sejenis kemben membuat keseksian Lily terlihat.


Sekejap Alex mengingat kembali bagaimana wanita itu melenguh, bagaimana ekspresi sensual wanita itu saat mengerang di atas pangkuannya, bahkan saat wanita itu memanjakan gairahnya dengan gaya-gaya amatir.


Pikiran kotor Alex datang lagi. Ia lantas mendekati telinga Lily. "Dari pada menggoda adikku yang masih polos. Lebih baik menjadi istri simpanan ku." Bisiknya.


Lily tergelak seketika. "Istri simpanan? Kamu mau menikahi kekasih mu secara bangga, dan aku istri simpanan, begitu?"


Lily mendongak oleh cengkraman tangan Alex di tengkuknya.


"Kamu lupa, satu malam itu kau ku buat melayang dengan permainan ku. Kita bisa melakukan itu setiap hari, jangan takut, aku juga akan memberikan banyak uang padamu, bahkan lebih dari gaji tahunan mu di sini."


"Lepaskan Axel, dia tidak seharusnya berhubungan dengan wanita seperti mu, ingat lagi, kita sudah pernah merasakan nikmatnya satu malam bersama, apa kau tega memberi barang bekas padanya?"

__ADS_1


Mendengar kata-kata sarkas Alex, kebencian Lily bertambah seratus tingkat dari sebelumnya. Alangkah rendahnya Alex memandang dirinya.


Lily mendorong tubuh Alex hingga terlepas. Tatapan datar menandakan bahwa ia sudah begitu bencinya. "Jangan harap bisa menyentuh Lily yang sekarang Tuan muda."


Sekilas Alex terkekeh sumbang. Seperti tak mau peduli pada kata warning dari Lily, ia kembali mendekatkan wajahnya. "Kamu yakin tidak menginginkan ku?" Bisiknya.


Lily menarik sudut bibirnya. "Dulu, saat kamu tertidur di sisiku, aku sempat tersenyum merasakan debaran jantung mu. Dan malam itu juga aku sempat berpikir, akan memberikan segalanya padamu."


Alex terdiam, mencerna uraian kata miris Lily.


"Lalu, pagi hari saat aku terbangun. Seketika itu juga aku mengutuk keras perbuatan ku malam itu. Bukankah lebih baik aku mati membeku dengan sisa kehormatan yang ku miliki Lex?"


Alex tergagu, kenapa ucapan Lily seolah datang dari dalam lubuk hati? Kenapa baru saja, ia merasakan sentakan yang cukup keras di bagian hatinya?


Lily tepuk dada Alex. "Sudah cukup kau merendahkan aku Lex, now, anggap Lilyana si gadis beasiswa cupu tidak pernah ada di masa lalu mu," Lirihnya berkaca-kaca.


"Begitu pun dengan ku. Akan aku buang semua memori menyakitkan tentang mu." Tambahnya.


"Mari jangan saling usik kehidupan masing-masing." Imbuhnya lagi.


"Keberadaan ku di sini hanya untuk bekerja, dan kau, hiduplah dengan cara mu, jalani kehidupan seperti biasanya bersama kekasih cantik mu juga kehidupan kaya raya mu."


Lily tersenyum kecil. "Mulai lah melupakan, apa yang terjadi di antara kita 17 bulan yang lalu." Katanya.


"Kamu yakin mampu?" Alex meraih tengkuk Lily sebelum mendekat lebih tipis lagi. "Kita lihat siapa yang akan menyerah?"


Plakk....


Alex berpaling mendapati tamparan dari tangan lembut Lily.


Ternyata ucapan Mitha benar, jika Tuan muda sombong seperti Alex dibiarkan hidup tenang, maka akan semakin semena-mena dengan kekuasaannya.


Lalu untuk apa Lily pergi dari sini? Bukankah Lily tidak boleh menyerah pada pria brengsek yang tidak seharusnya menang?


"Sudah kubilang jangan pernah berpikir untuk menyentuh Lily yang sekarang. Berani menggertak ku sekali lagi saja, kita lihat siapa yang akan hancur setelah ini?" Kendati bertitian air mata, Lily mencetuskan ancaman itu.

__ADS_1


__ADS_2