Secretary & Secret Baby

Secretary & Secret Baby
Shanshan is Livia


__ADS_3

^^^Di California Amerika.^^^


Setelah siang tadi menjadi kurir, malam ini Alex mengenakan t-shirt putih ketat dengan lengan yang terlingkis, celana hitam panjang, sepatu sneaker putih khas seragam sebuah bar.


Alex harus menjalani hidup layaknya pemuda miskin yang apa pun serba sendiri. Semua ini demi kepercayaan dan pengampunan Dhyrga Miller.


Alex memasuki ruangan VVIP yang mana saat masuk ke dalam sana seketika suara bising di luar teredam, hanya ada suara televisi dan percakapan di ruangan itu saja.


Alex mendekati meja bartender, dan fasilitas khusus ini hanya ada di dalam ruangan ekslusif saja. Dengan ke dua tangan handalnya Alex membuat racikan cocktail teruntuk para tamu ekslusif.


Di dalam sana sudah ada sekumpulan tamu elit, bukan anak-anak remaja perempuan melainkan tante-tante istri pejabat yang kesepian.


Satu di antara mereka tersenyum menatap Alex. Dari bawah hingga atas ia menyisir dengan pandangan menginginkan.


"Hay, ..." Wanita itu mendekat dan berdiri di depan meja bartender.


Alex menjawab dengan tersenyum. Sudah sangat biasa Alex menemui wanita seperti ini, ujungnya hanya minta one-night-stand.


"Is she Shanshan's mother?" Apa dia ibunya Shanshan? Beberapa wanita lainnya justru sibuk dengan berita talk show yang sedang berlangsung di London.


"Right." Benar. Satu ibu lainnya mengangguk. Di atas sofa ke tiga wanita itu cukup serius menonton televisi di sudut tempat.


"She is very pretty." Dia sangat cantik. Timpal satunya.


Alex tetap melanjutkan pekerjaannya sembari menyimak percakapan para tamu. Sedang satu tamu genit masih berdiri menatapnya seksama.


"But, Shanshan doesn't look like her mother, so where did Shanshan's father? Tapi Shanshan tidak terlihat mirip ibunya, jadi ke mana ayahnya? Wanita bergaun Hitam menyeletuk.


"Divorce, maybe." Bercerai, mungkin. Sambil menyemburkan asap rokok miliknya, wanita paruh baya itu mengangkat kedua bahu.


"Poor Shanshan. In fact, his mother has a beautiful Asian face." Kasihan, padahal ibunya memiliki wajah Asia yang cantik.


Mendengar kata Asia, Alex menjadi penasaran dengan wanita yang sedang dibicarakan oleh para tamu barnya. Hingga Alex berani melenggang ke arah layar.


"I'm a single parent. And Shanshan is the only one I have." Saya orang tua tunggal. Dan Shanshan satu-satunya yang ku miliki.


Crakkk...


Gelas dan botol di tangan Alex meleset hingga terjatuh ke lantai.


"Hey, are you okay Baby?" Tegur wanita di depannya.


Alex yang penasaran, pria itu sedikit menggeser kakinya demi mendekati televisi.


"Lily." Kali ini Alex betul-betul terkesiap, wajah cantik oriental yang ada di layar televisi, dia tidak lain dan tidak bukan adalah Lilyana.


Ada Shanshan yang duduk di sisi Lily, dan mereka datang ke acara talk show untuk menjawab sejumlah pertanyaan penasaran para penggemar yang diwakili oleh host.


"Shanshan, Livia?" Sebelumnya Alex hanya melihat wajah Shanshan yang memang dirasa sangat mirip putrinya, dan rupanya bukan mirip melainkan benar-benar Livia.


"Are you okay, Baby?" Wanita yang sedari tadi menatapnya, kini berani menyentuh dada bidangnya bahkan meraba sesuatu yang terlarang.

__ADS_1


Berwajah kaget Alex menoleh, ia tatap tamu genitnya masih dengan kebingungan yang menggelayuti. "Hmm."


"Let's drink with me." Mari minum dengan ku. Bujuk wanita itu berbisik. Memang cantik, tapi Alex tidak suka berkencan dengan wanita yang lebih tua.


"Mmh, I'm sorry, ..."


Sebisa mungkin Alex menolak dengan sopan, pelan-pelan ia menyingkirkan tangan nakal wanita itu dari miliknya, bagaimana pun dia hanya pelayan di sini.


Wanita itu menggeleng. "Don't reject me." Jangan tolak aku.


Tunggu dulu, setelah mengingat Lily dan Livia, Alex menjadi berubah pikiran, ia mungkin perlu bantuan wanita ini seperti meminjam ponsel contohnya, sebab Dhyrga benar-benar melarangnya menghubungi siapa pun termasuk Angel dan keluarganya.


"Please, don't reject me." Ku mohon, jangan tolak aku. Hiba wanita itu, Alex mengernyit tapi mungkin wanita ini sudah terlalu gatal melihatnya.


Alex mengangguk. "Ok, but lend me a cell phone. Oke, tapi pinjami aku ponsel. Pintanya bernegosiasi.


Wanita itu terkekeh. "No problem." Segera dikeluarkannya gawai pipih dari dalam tas clutch lalu menyodorkannya pada Alex.


"All for you." Senyum menggoda wanita itu.


"Thanks." Alex tersenyum kecil. "Wait a minute, I have to call my sister." Tunggu sebentar, aku harus menelepon saudara ku.


"Don't be long." Jangan lama-lama.


Membawa serta ponsel milik tamu barnya, Alex menepi ke dalam toilet. Yah, Cheryl harus tahu dan mendengar siapa Shanshan sebenarnya.


...๐ŸŽฌ๐ŸŽฌ๐ŸŽฌ๐ŸŽฌ๐ŸŽฌ...


Di lain tempat. Hanya mengenakan handuk kimono, baru saja Cheryl keluar dari kamar mandi, bunyi ponsel membuat wanita itu segera mendatangi meja riasnya.


Sebuah nomor tak dikenal tertera di layar. Meski demikian Cheryl tetap mengangkat, siapa tahu saja calon klien baru.


๐Ÿ“ž "Kak."


"Alex." Dada Cheryl menghangat, suara adik laki-laki yang dia rindukan kini terdengar.


๐Ÿ“ž "Hmm."


Senyum Cheryl mekar. "Gimana kabar mu? Kamu baik?" Tanyanya.


๐Ÿ“ž "Aku baik."


"Syukurlah." Cheryl bernapas lega.


๐Ÿ“ž "Kakak sudah tahu belum?"


"Apa?" Kali ini Cheryl tahu, bahwa ada berita yang ingin Alex sampaikan.


๐Ÿ“ž "Shanshan, pemain film Baby Or Doll, is Livia."


"What?" Mendelik Cheryl memekik. Tentu saja berita ini mengejutkan baginya, baru kemarin Cheryl dan anak suaminya menonton film yang dibintangi oleh Shanshan.

__ADS_1


๐Ÿ“ž "Baru saja Lilyana mendatangi talk show di salah satu stasiun televisi London. Dan ternyata dia ibu Shanshan." Suara Alex terdengar tertekan.


"Jadi mereka mengubah identitas?"


๐Ÿ“ž "Yah."


Cheryl terdiam cukup lama demi mengingat kembali wajah cantik Shanshan dan Livia, jika dipikir lagi mereka benar-benar mirip.


"Kamu tunggu dulu, aku harus kasih kabar ini ke semua orang." Kata Cheryl kemudian.


๐Ÿ“ž "Hmm."


Baru saja Cheryl ingin mengakhiri panggilan, ia lantas teringat sesuatu. "Kamu perlu sesuatu? Uang kamu cukup?" Tanyanya peduli.


๐Ÿ“ž "Itu tidak masalah. Aku bisa mengurus diriku sendiri."


Cheryl tersenyum lega. "Baiklah, kamu harus sering-sering telepon Kakak, sekarang Kakak tutup dulu."


๐Ÿ“ž "Yah."


Cheryl memutuskan sambungan telepon, kemudian segera keluar dari kamar miliknya.


"Axel!" Cheryl berteriak, kakinya menapaki satu persatu anak tangga, berita ini harus sekali Axel dengar. "Axel!"


"Iya." Cheryl menoleh ke sumber sahutan.


Rupanya lelaki itu sedang menikmati waktu santai di sofa ruang tengah. Seperti biasa, setiap liburan musim dingin mereka di Britania raya.


Cheryl bermuka antusias. "Kamu tahu, Shanshan, ..."


"Is Livia." Potong Axel.


"Hah?" Kerutan kening tertampil di dahi Cheryl. "Kamu sudah dengar beritanya?"


Axel mengangguk.


Cheryl terkekeh. "Terus ngapain masih di sini? Kenapa enggak jemput Lily? Kamu nggak kasihan mereka sendiri di negara ini? Dan ternyata mereka berdua harus sama- sama bekerja." Ketusnya.


Cheryl ingat betul bagaimana sulitnya dia dan Badai hidup di negara asing tanpa dukungan siapa-siapa.


Axel menghela pelan. "Tanpa sepengetahuan Lily. Aku sudah suruh banyak orang mengawasi dan menjaga mereka, di mana pun mereka tinggal, mereka tidak akan mengalami kesulitan. Setidaknya tugas ku sebagai Om Livia selesai." Jawabannya enteng.


"Tunggu." Cheryl kembali mengernyit. "Jangan bilang kamu sudah tahu identitas mereka dari awal?" Cecarnya.


Axel terkekeh. "Dia mengubah identitas demi menjauhi ku, aku bisa apa selain melihat dari kejauhan saja? Wanita hebat seperti Lily tidak membutuhkan laki-laki." Ujarnya.


Cheryl terkesiap. "Lama-lama kamu mirip Badai, bilang cinta tapi sungkan berusaha!"


Teriakan Cheryl membuat Queen dan Dhyrga mendatangi mereka. "Ada apa ini?" Bingung mereka.


"Nggak Alex, nggak Axel, semua adikku nggak ada yang becus jadi laki-laki!" Cheryl merutuki kedua adiknya.

__ADS_1


__ADS_2