Secretary & Secret Baby

Secretary & Secret Baby
Pecah seribu


__ADS_3

"Tu-tuan Alex!" Reni dan beberapa pria berseragam hitam menundukkan kepalanya sesaat setelah sosok tinggi berwajah tampan berdiri tegak di sisi sofa Lily.


Reni dan semua orang tahu perbedaan anak kembar Dhyrga Miller.


Alex menyukai pakaian kasual dan gaya rambut disisir berdiri, terkesan lebih seperti anak motor.


Sedang Axel lebih menyukai pakaian kasual yang simple untuk bepergian. Terlebih gaya rambut Axel biasa-biasa saja, elegan tapi menawan.


"Tinggal kan dia di sini!" Titah Alex.


"Ta-tapi, ..." Reni tergagap, jujur saja bukan Alex Tuan mereka melainkan orang lain.


Alex mengibaskan tangannya. "Angel urusan ku, kalian pergi atau, ..."


Segera Reni mengangguk. "Baik, kami segera pergi." Reni dan rekan lainnya tak pikir lama untuk ngeluyur satu persatu.


Gagal sudah usaha mereka malam ini. Rupanya Lily mendapatkan perlindungan dari salah satu pewaris tahta Millers-Corpora.


Alex mengalihkan perhatian pada sekujur tubuh Lily, terpejam wajah cantik Lily yang lugu bak tanpa dosa, ini wajah yang sama seperti saat pertama kali Alex mengenal wanita itu.


Alex membuka jaket jeans miliknya, ia lantas menutup bagian paha ke bawah Lily sebelum ia duduk bersandar di sisi kepala Lily.


Alex menghela napas kuat. Karenanya lah Lily lagi-lagi mengalami hal menakutkan seperti ini.


Seandainya saja sahabat kecilnya 'Dave' tidak memberi tahu dirinya soal rencana jahat Angel, mungkin Lily sudah dibawa ke kamar hotel untuk diserahkan pada pria hidung belang.


Seperti ancamannya kemarin, rupanya Angel benar-benar nekad untuk mengacaukan hidup Lily.


Alex tak tahu harus bagaimana, satu sisi Angel wanita idaman yang masih sangat ia cintai, sedang Lily ibu dari putrinya.


Lily akan lebih hancur jika harus tidur bersama pria brengsek untuk yang ke dua kalinya.


Termenung, Alex menyingkirkan sejumput rambut di sebagian wajah Lily. Cantik, lugu, alami. "Maaf, sudah menempatkan mu di posisi yang serba sulit." Gumamnya.


...🎬🎬🎬🎬🎬...


...Visual Dave Myles, Abang kandung Angel yang dikenal sebagai Mafia kelas kakap, kekayaannya hampir tak terhingga jumlahnya. FYI, Dave tokoh utama di nopel on Going istri 30 trilliun....



"Kita pulang saja ke Britania raya!" Dave menatap tegas wajah berlinangan air mata adiknya.


Dave tahu pelik nya hubungan Angel dan Alex, tentu dari Alex sendiri yang mengaku secara terang-terangan.


Dave dan Alex sahabat baik. Alex tak segan menceritakan semua kisahnya saat Alex sendiri tak mampu menyelesaikan masalah.


Dari antek-anteknya, Dave dengan cepat mendengar rencana Angel. Dan yah, Dave tak menyetujui pemikiran kekanak-kanakan Angel.


"Sudahi kegilaan mu, pulang with me!" Kata Dave kembali membujuk.


"Angel mau Alex, Older!" Gadis itu berteriak histeris. Baru saja ia mau mencelakai Lily, Dave sudah lebih dulu memberi tahu Alex.

__ADS_1


"Dia sudah menghamili perempuan lain, kamu sudah gila?" Dave tak kalah memekik.


"But, I love him so much!" Angel terisak, selama berhubungan dengan Alex, Angel mendapatkan perlakuan yang sangat baik, rasanya sulit menerima untuk pergi dari Alex.


"Kamu lupa gimana dendamnya Reynolds sama kita, setelah Mommy kita, merebut Daddy dari Mommy Rey?" Bentak Dave.


"So, cukup, jangan sampai terulang lagi. Now, kita pulang, masih banyak laki-laki di luar sana yang mau hidup with you!" Kata Dave kembali.


"Older." Angel bersimpuh memeluk betis kakak laki-laki nya, ia menghiba. "Please, wanita itu tidak lebih kuat dariku." Katanya.


Dave berjongkok, ia seka buliran bening yang mengalir di pipi Angel. "Lupakan Alex. Jangan gunakan kekuasaan ku lagi hanya untuk memerangi kaum lemah. Kamu adikku yang manis. Stop berbuat gila seperti ini." Tuturnya.


Angel menggeleng. Tentu saja ucapan Dave tak membuatnya puas. Seharusnya, Dave membelanya bukan malah membela Alex dan Lily.


...🎬🎬🎬🎬🎬...


Detik detik malam pun berlalu, masih di dalam ruangan VVIP restoran fine dining, Alex sengaja menjaga Lily yang masih tertidur pulas di atas sofa.


Satu persatu lampu di sekitar sudah dimatikan, hanya menyisakan satu lampu di ruangan itu saja.


Sejenak Alex mengingat kembali, dahulu ia pun tidur di ruangan yang sama bersama Lily.


Alex sengaja tak pulang meski restoran sudah ditutup. Bersama uang-uang miliknya, Alex memiliki akses untuk melakukan apa pun, termasuk menyewa tempat ini sampai pagi.


Hingga embun dan fajar menjemput, Lily yang sedari tadi tak ada pergerakan, kini terasa menggeliat.


Alex terdiam dengan pandangan lurus ke depan.


Belum sepenuhnya tersadar, perlahan ia membuka mata, sesekali berkedip demi membulatkan pandangannya.


Beredar sang netra, lalu, "Sudah bangun?"


"Alex!" Lily berjingkrak terkejut sesaat setelah menyadari, laki-laki tampan yang berada di sisinya tidak lain tidak bukan adalah ayah Livia.


"Kamu!"


Duduk, Lily mendengar pandangan sekali lagi. Rupanya ia masih berada di dalam restoran mewah.


Sejak kapan ia tertidur? Bagaimana dengan Livia malam tadi? Dan apa yang Alex lakukan di sini?


"Kamu ngapain?"


"Menjaga ibu putriku." Santai Alex berucap. Semalaman pria itu tak tidur, Alex memiliki insomnia setelah pulang ke Indonesia.


"Aku harus pulang." Lily bergumam, ia lantas meraih tas kecil untuk di bawanya.


Restoran ini masih sepi, yah, memang belum dibuka kembali. Alex mengikuti langkah kaki Lily. Dan wanita itu melangkah lebih cepat lagi.


Di depan pintu sana, Miko membukakan pintu untuk Lily. Meski sedikitpun Lily tak peduli pada semua pria ini, Lily tetap keluar dari pintu yang sudah disediakan.


"Aku antar." Alex meraih tangan Lily, lalu diseret ke arah mobilnya.

__ADS_1


Lily meronta. "Lepas Lex, aku mau pulang sendiri. Cukup kamu bermain-main dengan ku!" Ketusnya.


Lily paham sekarang, jadi rupanya malam tadi Alex yang menjebaknya. Pantas saja setelah minum, Lily menjadi sangat mengantuk.


Apa pun yang terjadi malam tadi, Lily tak peduli, terpenting adalah Lily bisa pulang dan harus segera kabur dari kekonyolan ini.


"Lepas!"


"Aku antar atau kau tahu akibatnya!" Alex mengancam ketus. "Livia ada bersama ku, kalau kau mau membangkang, dia akan hidup bersama ku selamanya!"


Lily tak berdaya jika sudah menyangkut tentang Livia. "Jadi kamu menculik Livia ku?"


"Ikut aku, biar aku antar kamu sampai ke apartemen, atau aku benar-benar menculik putriku sendiri!" Kata Alex.


Lily meredup tatapan. "Kamu jahat Lex."


Alex membuka pintu mobil, lalu memaksa Lily hingga masuk dan duduk di jok penumpang bagian depan. Alex sendiri yang mengemudi kendaraannya.


Perlahan mobil melaju. Tak ada percakapan setelah itu. Lily diam saja dengan ketegangan yang ia rasakan. Livia dalam cengkeraman orang berpunya. Ini semua juga salahnya.


"Kenapa aku harus bekerja di perusahaan Millers-Corpora? Kenapa aku harus menjadi sekretaris pribadi Pak Axel?" Lily membatin pilu.


Kkkiiiikk...


Lamunan Lily membuyar berantakan. Secara mendadak, Alex menginjak pedal rem demi menahan laju mobilnya.


"Kamu gila Lex!" Lily berteriak, barusan kening mereka hampir terbentur dasbor mobil karena dorongannya.


"Axel!” Alex mendongak. Di depan sana, rupanya mobil sport milik Axel lah yang teronggok menghalangi kendaraan mereka.


"P-pak Axel." Menyadari siapa pria bengis yang mencegah jalan mereka, sontak jantung Lily berdegup kencang, Lily merasa Axel salah paham padanya.


"Xel." Alex berkerut kening.


Axel turun dari mobil dengan ekspresi wajah yang begitu dingin. Terlebih, Axel juga menenteng tongkat besi di tangannya.


"Xel! Stop main-main!" Alex hanya bergumam sendiri sambil menatap mendekatnya tubuh Axel.


Crakkk... Tak pelak, Axel benar-benar mengayunkan tongkat besi ke arah kaca jendela mobil Alex.


Spontan Alex dan Lily menutupi wajahnya dengan sebelah lengan.


Klenting....


Bengis, Axel membuang serampangan tongkat besi miliknya lalu berjalan kembali memasuki mobil sport berwarna putih.


"Pak Axel!" Gegas Lily keluar dari mobil, ia berlari menuju mobil Axel. Entah lah, Lily merasa Axel harus mendengar penjelasan darinya.


"Pak Axel, ..." Lily terhenyak menatap berlalunya mobil Axel.


Sedang Alex sendiri, ia tertegun melihat betapa gusarnya Lily pasca kemarahan saudaranya.

__ADS_1


Uaaahhh dua bab, aku khilaf 😫


__ADS_2