
"Bunda." Lily memeluk haru ibu asuhnya.
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih dua jam dari rumah utama Dhyrga Miller, Lily dan Mitha sampai pada rumah pribadi dari pemilik asli panti asuhan Kasih bunda.
Wanita bernama Rima mengurai jarak. Ia tersenyum menatap wajah cantik Lily yang semakin dewasa semakin pula mirip adiknya.
"Gimana kabar mu Ly?"
"Baik Bunda." Lily menundukkan wajah demi menyembunyikan air mata di pipinya.
Sebelumnya Lily dan Mitha memutuskan untuk mandiri dengan tinggal di kota yang lumayan jauh dari tempat Rima, namun pada akhirnya ia kembali ke sini.
Rumah sederhana yang dekorasinya masih sama seperti bertahun-tahun lalu. Di sisi tempat, juga ada yayasan panti asuhan Kasih bunda.
"Ini nangis kenapa?" Rima juga melihat, Lily membawa pulang bayi sembilan bulan.
Segera Lily meraih Livia dari stroller, lalu memperlihatkannya pada Rima.
"Maaf, Lily pulang cuma buat repotin Bunda lagi. Tapi Lily bingung harus ke mana lagi. Selain Mitha, di dunia ini Lily cuma punya Bunda sama Ayah."
"Tempat ini terbuka lebar untuk mu, apa lagi Livia cucu ku." Elusan lembut Rima berikan kepada Lily.
"Mulai sekarang Livia sama Bunda, kamu langsung masuk kerja, jangan pikirin gimana Livia, Bunda yang akan jaga." Imbuhnya.
"Terima kasih Nda." Lily tersenyum haru. Setelah lama ia tak kembali ke tempat ini, rupanya kasih sayang Rima tak memudar untuknya.
...🎬🎬🎬🎬🎬...
Satu Minggu berlalu. Pagi menyapa, dengan suasana yang cerah. Yah, meski tak secerah hati pemilik rumah besar itu.
Di kediaman keluarga Dhyrga Miller. Axel baru saja keluar dari kamar miliknya. Langkah gontai terayun hingga melewati meja makan klasik rumah tersebut.
Queen, Alex, dan Dhyrga sudah duduk rapi di atas masing-masing kursinya. Bukannya ikut nimbrung, Axel justru melanjutkan langkah acuhnya begitu saja.
"Axel." Queen memanggil, lalu dijawab dengan tolehan kepala putranya. "Kamu nggak sarapan?" Tanyanya.
Mata Axel melirik tajam wajah kembarannya. Betapa dia sangat membenci saat harus membayangkan, bagaimana cara Alex menyentuh Lily. "Aku tidak selera."
Menatap Axel, Alex membuka suara. "Mau sampai kapan kamu membenci ku?" Tanyanya.
Bukan Axel jika peduli, lelaki itu kembali melanjutkan langkah melewati seluruh keluarganya tanpa menjawab sepatah pun kata.
Bukannya menegur, Dhyrga justru meneguk kopi miliknya. Setelah terakhir kali Lily disidang, kedekatan di antara masing-masing anggota keluarga konglomerat ini menjadi renggang. Seperti tak ada lagi percakapan hangat.
__ADS_1
Alex mengusap wajah frustrasi. Hubungan yang sedari bayi mereka lalui, seolah retak hanya karena satu wanita saja.
"Alex juga tidak selera!" Alex meletakan sendok garpunya, baru saja ia bangkit, Dhyrga sudah lebih dulu menyeletuk.
"Mau ke mana?"
"Angel?" Cecar Queen menimpali.
Alex mengernyit. "Tentu saja. Angel masih kekasih Alex. Bagaimana pun, dia ke sini bersama Alex. Apa lagi dia di rumah sakit sekarang."
Klenting....
Seketika Queen melempar sendok garpunya hingga menggaduh.
"Pergi temui Angel, setelah itu jangan pulang lagi! Sudah cukup kamu bermain-main Lex, berani menemui gadis itu lagi, Mommy tidak akan segan mencabut semua fasilitas mu!"
"Mom!" Alex mendelik.
Dhyrga terkekeh. "Kamu salah Sayang, hukuman itu tidak akan berpengaruh apa-apa, bukankah Alex masih bisa numpang hidup dengan Angel?"
Alex menggeleng tak terima, sungguh sedikit pun Alex bukan lelaki yang mengandalkan harta dari wanitanya.
"Kekasih Alex salah satu dari anak konglomerat di Britania raya. Lepas dari kita, Alex tidak akan kelaparan." Tambah Dhyrga.
"Daddy." Alex menegur.
"Lily anak yatim piatu, Lex. Seharusnya kamu juga tahu, mendzolimi anak yatim piatu dosa besar! Teganya kamu menghamilinya, lalu, ..."
"Kenapa harus dibahas lagi, Mommy dengar sendiri, Lily menolak ku! Kurang apa Alex selama ini? Alex juga berusaha bertanggung jawab bahkan meminta maaf." Potong Alex.
"Kamu pikir cukup hanya dengan maaf? Sekarang lihat apa akibatnya! Livia harus hidup tanpa pengakuan!"
Alex setuju, karena sejatinya Alex pun tak tega melihat Livia besar tanpa kasih sayang seorang ayah.
Queen merentang kedua tangan. "Apa cara Mommy selalu salah mendidik anak-anak? Kenapa semuanya terlalu menyepelekan aturan aturan Mommy! Sebelumnya Cheryl, sekarang kamu,"
"Sudah, ..." Dhyrga mengelus lembut punggung mungil istrinya. "Sudah dari kemarin kamu merutuk hal yang sama."
Queen menatap suaminya. "Daddy lihat sendiri, Livia sangat lucu, Mommy takut Livia hidup berkekurangan, dan Alex seolah hanya memikirkan Angel saja." Lirihnya.
Alex hanya terdiam dengan sedikit menurunkan pandangannya. Mau apa lagi? Nyatanya, Lily mendapatkan perlindungan khusus dari Krystal.
...🎬🎬🎬🎬🎬...
__ADS_1
Matahari kian meninggi, cuaca pun cukup terik. Axel duduk di kursi kebesarannya dengan pandangan yang mengarah pada meja kosong Lily.
Bapak mau pesan kopi? Atau, ...
Hari ini kita ketemu sama klien dari Dubai, ...
Pak, saya takut tidur di kamar sebelah, hotel ini aura nya negatif, gimana kalo kita tidur bertiga di sini? ...
Oh ya ampun, Pak Axel, saya lupa bawa dokumennya, maaf, hehe, ...
Pak, ... ****Apa lagi****? ... Jangan lupa pamer gigi.
Ingatan manis tentang kebiasaan cengengesan Lily selalu berbolak-balik seperti kaset rusak yang tak mau berhenti berputar di kepalanya.
"Ekm Ekm." Dahaman Rudolf membuyarkan lamunan Axel.
Rudolf berdiri di sisi meja dengan kedua tangan yang meregangkan otot-ototnya.
"Sudah jam makan siang, Bos makan dulu gih."
"Aku tidak selera." Axel kembali fokus pada layar laptop miliknya.
"Bos puasa?" Rudolf memastikan, namun tak sedikitpun mendapatkan jawaban. "Ya sudah, aku duluan ke kantin." Pamitnya.
"Rudolf, ..." Axel menyeletuk, sesaat setelah asisten personalnya melengos.
"Hmm?" Toleh Rudolf.
"Aku mau rekaman CCTV dari apartemen Millers-Corpora di kawasan Great A. Bisa kan?"
"Hah?" Rudolf menautkan alisnya. Great A? Bukankah itu apartemen yang dulu Lily tinggali? "Buat apaan?"
"Aku mau cek siapa saja yang pernah datang ke penthouse. Kenapa memangnya, salah? Aneh?" Tukas Axel.
Rudolf menggeleng. "Enggak sih, kalo alasannya untuk keamanan sekitar penthouse, kecuali kalo alasan Bos karena pengen lihat wajah Lily. Itu baru aneh!"
"Ck!" Axel berdecak kesal.
"Hehe." Rudolf memperlihatkan sederet gigi putihnya.
"Oke-oke, nggak usah marah gitu. Nanti, setelah makan siang, aku minta langsung videonya. Sekarang, biarkan aku isi perut dulu." Rudolf pergi setelah mengatakan itu.
"Oh My God!" Sembari mengusap wajahnya, Axel merutuk pelan. Tapi jika dipikir lagi, kenapa pula dia meminta rekaman CCTV apartemen Lily tinggal?
__ADS_1
"Mungkin saja aku sudah gila!" Rutuknya lagi.
...🤧 MAAF sedikit, SUMPAH, dari kemarin perut kontraksi Mulu, boro-boro bisa nulis gess, insya Allah, secepatnya aku crazy up yak, ...