
^^^Yang nunggu Chika Sandy di judul Musuh Kecil Om Shan silahkan follow akun NT kooh yah, biar bisa dapet notifikasinya pas judul itu tayang...^^^
Sorry telat update, biasa real life menghambat...🤧 Hokeeyy tanpa banyak cingcong, cokodot...
...🎬🎬🎬🎬🎬...
Salju turun tipis-tipis, Lily sengaja menutup semua gorden agar tak melihat suasana di luar. Kenangan kelam bersama Alex kembali teringat, Lily masih sering mengalami sesak napas saat memory itu kembali singgah.
Barusan Alex pergi membawa dua benda yang selama ini dia simpan dengan baik. Alex bilang dirinya terlalu egois.
Yah, Lily sadar Lily egois, meski kehadirannya di dunia ini sempat ditolak, tetap saja Livia tak seharusnya dia kuasai seorang diri, Livia juga perlu tahu siapa ayah biologisnya.
"Maaf," mengusap lembut pipi Livia yang tertidur pulas, Lily menitihkan air mata.
"Maaf Mama terlalu egois, Mama terlalu sibuk dengan ketakutan Mama sendiri." Ujarnya lirih.
...🎬🎬🎬🎬🎬...
Biar kesunyian malam berlalu digantikan semangat siang yang menggebu
Livia dan Lily sudah rapi dengan busana musim dingin. Rencananya sebelum melakukan syuting film berikutnya Livia sudah bisa menikmati liburan.
Sky tour di Los Angeles California pun menjadi tempat yang akan mereka tuju. Tim Lily dan Livia telah siap dengan masing-masing tasnya.
"Yeay, salju." Livia bersorak dan terlihat bahagia.
Lily menggendong anak itu melewati lobby hotel hingga ke parkiran diiringi banyak kru yang juga ingin berlibur. "Kita main sky sama-sama, siap?" Tanyanya.
"Siap!" Antus Livia. "Oiya, coklat dari Uncle tadi malam itu dibawa kan? Shanshan mau makan coklatnya." Cadelnya.
"Dibawa." Angguk Lily. Seketika ia meredup ekspresi, rupanya Livia masih ingat dengan kedatangan Alex semalam.
Dua mobil Van besar sudah siap membawa tim Lily yang sebanyak belasan orang.
"Kakak, ..." Asisten Lily bernama Erina memanggil. Erina direkrut dari panti asuhan Kasih bunda, Lily sengaja merekrut banyak adik-adiknya untuk bekerjasama dengan Livia.
"Iya." Tengok Lily.
Erina menunjuk ke arah restoran yang terletak di sisi hotel tersebut. "Itu Nyonya Britney bukan?"
Di balik kaca transparan, Britney terlihat dari kejauhan mata memandang. "Benar." Lily mengangguk.
Dia sendiri tak tahu ternyata Britney masih berasa di sekitaran hotel ini, seharusnya Britney pulang sedari malam tadi.
"Apa kita perlu mengajaknya juga?" Tawar Erina.
"Tunggu." Lily mengernyit.
Di depan sana, rupanya Britney tak sendiri, ada seorang pria tinggi tegak yang barusan datang menyalaminya.
__ADS_1
"Axel?" Celetukan spontan dari bibir Lily, saat wajah tampan lelaki itu menampak. "Axel atau Alex?"
"Rudolf." Lily sempat bingung, tapi kemudian seseorang yang sangat familiar juga duduk di sisi Axel.
Alex tak mungkin bersama Rudolf. Asisten Alex bukan lah Rudolf. "Ngapain mereka?"
"Siapa yang Kakak maksud?" Tegur Erina.
"Emmh." Lily menatap Erina kemudian memindahkan Livia pada gendongan gadis berusia 19 tahun itu. "Kamu bawa Shanshan ke mobil, kalian semua tunggu Kakak yah, Kakak mau ada urusan sebentar."
"Mama mau ke mana?" Tanya Livia.
"Ada urusan penting sayang. Shanshan sama Tante Erina dan yang lainnya dulu yah. Mama langsung dateng kalo sudah selesai." Kecup Lily.
"Ok." Livia mengangguk, segera Erina dan tim lainnya membawa serta Livia masuk ke dalam mobil.
Bersamaan dengan itu, Lily menggontai langkah menuju restoran di mana Axel dan Britney duduk berhadapan.
"Axel." Semakin dekat Lily semakin yakin bahwa yang duduk di sana adalah Axel. "Ada hubungan apa antara Britney dan Axel?
Lily dibuat penasaran, sebelah tangannya merogoh tas selempang miliknya, ia raih lalu memakai masker demi tak diketahui.
Celingukan, ia pun masuk ke dalam restoran mewah itu, beruntung ruangan yang dipakai Britney dan Axel bukan ruangan khusus.
Demi menyudahi rasa penasarannya, Lily berhenti di salah satu kursi paling dekat dengan meja Axel lalu duduk di sana.
Siap-siap dia pasang telinga lebar-lebar. Entah lah, rasanya Lily perlu tahu kenapa Axel dan Britney bertemu.
"I'm happy. And thank you for your cooperation so far." Aku ikut senang. Dan terima kasih atas kerjasamanya selama ini. Sahutan suara Axel.
"You're welcome sir. Thanks to you, I found an extraordinary little star." Sama-sama Tuan. Berkat Anda, aku menemukan bintang kecil yang luar biasa. Jawab Britney.
Percakapan demi percakapan Lily dengarkan, semakin lama Lily semakin paham apa hubungan di antara Britney dan Axel.
Rupanya tanpa sepengetahuan Lily, Axel sudah lama ikut andil dalam kepopuleran semungil Shanshan.
"Axel." Tak kuasa menahan diri, pada akhirnya Lily bangkit dan menampakkan wajahnya tepat di hadapan Axel, Rudolf dan Britney.
"Lily." Secara bersamaan Rudolf dan Axel menyeletuk kaget. Axel bilang apa, tidak seharusnya mereka bertemu di tempat terbuka seperti ini.
Namun, sehubungan dengan kesibukan Britney akhir-akhir ini pertemuan kali ini pun Britney sendiri yang mengatur tempatnya.
"Nirina?" Britney tersenyum, meski tidak begitu lebar seperti biasanya. Britney tahu ada something di antara Lily dan Axel.
"Jadi ini perbuatan mu Xel?" Lupa memberi panggilan Pak, Lily membentak mantan CEOnya.
Axel berdiri, tusukan mata Lily lumayan membuatnya bingung. "Maksudmu?"
"Jadi kamu yang buat Livia dijadikan peran utama?" Tukas Lily ketus.
__ADS_1
"Aku, ..." Axel paham sekarang, Lily pasti merasa kesuksesan yang dicapai Livia hanya fatamorgana.
"Kita bicara di tempat lain saja." Axel meraih pergelangan tangan Lily, membawanya ke tempat yang sepi dari kerumunan orang.
Di mana lagi? Selain kamar hotelnya?
Rudolf dan Britney hanya diam membiarkan urusan Lily dan Axel diselesaikan secara pribadi.
Sabar, Lily mengikuti langkah kaki Axel berayun. Keduanya menaiki lift untuk sampai di lantai atas.
Air mata di sudut netra Lily telah keluar tipis-tipis. Ia merasa gagal menjadi manager putrinya sendiri.
Tak ada percakapan selam mereka di perjalanan, Lily asyik bergumul dengan pikiran frustrasinya sendiri.
Sampai di kamar presidential suite miliknya, Axel berhenti langkah, kembali ia menoleh ke belakang dan menatap wajah Lilyana dari dekat.
Sejenak jantung Axel berdegup tak biasa karena rindu yang menyerbu, namun di lain sisi ada tatapan menghujam yang entah akan seperti apa ledakannya.
"Di sini saja kita bicara baik-baik." Axel memulai obrolan.
"Jadi kamu yang minta Shanshan menjadi pemeran utama Baby Or Doll?" Lily segera mencecar dengan pertanyaan yang tak mampu Axel jawab.
"Aku kira aku sudah berhasil sukses sendiri, ternyata ada koneksi mu juga di sini. Kenapa semuanya harus berhubungan dengan mu?"
Axel masih tak mampu menjawabnya.
"Alex, Miley, dan sekarang, Nona Britney juga ada hubungannya dengan mu!" Ketus Lily lagi.
Axel mengernyit. "Kamu merasa terganggu dengan keberadaan ku?"
"Tentu saja." Sergah Lily. "Aku hampir gila menyikapinya Xel! Kenapa aku sulit sekali lepas dari kalian semua?" Teriaknya histeris.
Kemarin Alex saja dipersilahkan masuk ke dalam kamar hotelnya, tapi pada Axel, Lily tega membentak. "Jadi apa mau mu?" Tanyanya.
"Cari kerjaan lain. Jangan terus mengikuti kami, biarkan aku dan Livia sendiri!" Kata Lily.
"Rudolf." Suara wanita terdengar dari arah kamar mandi membuat Lily dan Axel menoleh ke sumbernya.
"Eh, sorry." Wanita itu menutup mulutnya dengan kedua tangan, mata bulatnya seperti terkejut dengan pemandangan ini.
Tak hanya wanita itu saja, Lily lebih terkejut melihat sesama kaumnya berada di dalam kamar hotel milik Axel hanya dengan mengenakan handuk kimono saja.
"Dia siapa?" Tanpa melepas tatapan dari wanita itu, Lily bertanya lirih, suaranya terdengar bergetar, ia seperti Dejavu dengan peristiwa masa lampau.
Tak mendengar jawaban dari siapa pun, kembali Lily menatap Axel. "Siapa wanita itu Xel?"
"Kekasih ku." Jawab Axel.
"Xel!" Wanita yang berdiri di sudut sana berusaha ikut campur namun tak dilanjutkan setelah Axel kembali mengeluarkan suaranya.
__ADS_1
"Tidak perlu merasa terganggu dengan keberadaan ku, aku bekerjasama dengan Britney bukan karena mu, tapi karena aku melihat potensi Livia."
"Kamu lupa, aku pebisnis yang selalu memanfaatkan peluang, tidak lebih dari itu."